CAPTAIN BOGARA, I LOVE YOU: 2. Captain Bogara

Dihari keempat pertemananku di dunia maya dengan Rifki, teman baruku itu mulai bercerita banyak padaku, tentang pekerjaannya, tentang perjalanannya di daerah-daerah NTT yang nyatanya memiliki banyak lokasi unik. Sejak awal pertemanan, aku sangat menyukai nama belakang pria yang satu ini, Bogara. Namanya unik, sama halnya dengan segudang cerita unik tentang NTT yang didongengkannya untukku.

[START CHAT @08.18 WIB / 09.18 WITA on April 26, 2013] 

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Bogara itu artinya apa Ki? Sejenis tumbuhan langka dan endemik? Atau ada arti lain? Muthe penasaran.”

Rifki M Bogara:

“Bogara itu (katanya sih, katanya lho ya), dulu, pas aku lahir, bokap lagi di Bogor. Jadi, aku diberi nama Bogara.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Ooo, unik ya? Bagus Ki, Bogara. Jadi, kamu kalo pulang kemana sih? Padang? Bogor? Atau Baluran?”

Rifki M Bogara:

“Kalo pulang, aku biasanya ke dua tempat. Pertama, ke Banyuwangi, karena orang tuaku lagi di sana. Kedua, ke Bekasi, adikku di sana. Kalo ke Padang? Aku jarang banget. Kangen banget sih. Terakhir ke Padang tahun 2008. Kangen jalan di mobil menuju Padang Panjang, lihat Ngarai Sianok, lihat Gunung Marapi. Desaku di bawah gunung itu. Hmm, sungguh indah.

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Banget, indah banget. Anak papa kayanya sesekali harus pulang ni. Hehehe. Rifki anak ke berapa?”

Rifki M Bogara:

“Hmm. Ayo tebak, atau udah tahu? Wkwkwk.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Muthe belum tahu. Makanya nanya. Tapi, kalo kamu minta aku nebak, hmmm, anak ke 1 atau 2. Hehehe.”

Rifki M Bogara:

“Menurut kamu, jawabannya 1 atau 2? Hehehe.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Anak Pak Indra ada berapa Ki? 2 atau 3? Hehehe.”

Rifki M Bogara:

“Wkwkwk. Cari kisi-kisi ya? Kayak ulangan anak SD aja.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Apa perlu Muthe SMS Bapak dulu buat tanyain hal ini? Soalnya, waktu buat skripsi, gak ada tugas buat bikin biodata pembimbing.”

Rifki M Bogara:

“Hahaha. Numero uno, Tia.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Satu? Oke. Me too. Aku juga anak pertama. Rifki, adik kamu ada berapa?”

Rifki M Bogara:

“Adik ada dua, Tia. Satu udah kerja, satu lagi sedang menyusun skripsi.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Oya? Muthe kalah deh, adik Muthe cuma satu. Dia juga sedang skripsi.”

Rifki M Bogara:

“Berarti Tia lahir ’89 yah?”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

Nope. Muthe kelahiran ’87 Ki. Kamu?”

Rifki M Bogara:

“Aku ’86. Angka mujarab.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Bang Rifkiiiii, gomenasai. Dari kemarin Muthe panggil nama aja. Hahaha.”

Rifki M Bogara:

“Biasa saja, gak apa-apa kok. Kamu bisa panggil Bogara juga. Kalo di rumah, aku dipanggil Cici.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Muthe suka nyebut Bogara. Nama belakang kamu unik.”

Rifki M Bogara:

“Ada juga yang panggil aku ‘Bog’ aja.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Bog? Hahaha. Kalo begitu, aku panggil Bang Bog (bacanya: Bengbob, kaya Spongebob). Hahaha. Aku panggil Rifki aja deh. Palingan didiskon jadi Ki.”

Rifki M Bogara:

“Gak apa-apa, apa saja boleh. Kalo Muthe, aku panggil Tia saja ya? Lebih familiar.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“No problem. If I can call you Bogara, then you can call me Tia.”

Rifki M Bogara:

“Oke. Sepakat.”

Ada hal baru sejak perkenalan dihari keempat ini. Rifki memutuskan memanggilku dengan Tia. Sebetulnya, aku tidak suka dipanggil Tia dengan orang yang baru kukenal. Nama Tia hanya panggilan khusus dari anggota keluarga dan orang-orang yang kusayang. Bahkan, dosen saja hanya memanggilku Mutia. Tapi, Rifki bilang nama Tia lebih bagus dibandingkan Muthe. Dia bersikeras memanggilku dengan ‘Tia.’ Meski demikian, disetiap chat kami, aku masih memanggil diriku sendiri dengan nama Muthe.

[START CHAT @10.59 WIB / 11.59 WITA on April 26, 2013]

Rifki M Bogara:

“Tia, aku mau ke lapangan, Kefa namanya.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Bogara, Kefa itu siapa? Teman kamu? Apa nama lapangan? Lapangan apa? Lapangan perang, lapangan tower Telkomsel, atau lapangan bola? Atau, kamu mau ‘kefa’ alias keliling fasar? Kefa siapa? Hehehe.”

Rifki M Bogara:

“Heee. Tia, Kefa itu nama daerah, 4 jam dari Kupang.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Empat jam? Naik mobil atau naik kapal? Wah, bakal melelahkan pastinya. Semangat kakaaak.”

Rifki M Bogara:

“Dengan oto (mobil).”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Ooo. Hati-hati di jalan ya Ki? Selamat berpetualang.”

[END CHAT]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s