CAPTAIN BOGARA, I LOVE YOU: 4. Papa Bogara dan Aku

Aku tidak pernah menyangka akan berkenalan dengan anak pembimbing luar skripsiku, Pak Indra Arinal. Sekitar 2009, aku melakukan penelitian untuk tugas akhir di Suaka Alam Marapi, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Pertama kali aku berkenalan dengan Pak Indra sekitar 2008 akhir.

Waktu itu, aku ditawari penelitian oleh seniorku di Fakultas Kehutanan (E’37), Kak Erlinda Cahya Kartika, yang juga staf di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat di Padang. Kak Linda, suatu hari, mengirimkan pesan padaku bahwa Pak Indra sedang ada di Bogor, tepatnya di Hotel Safari Cisarua. Itu adalah kesempatan bagus untukku bertemu beliau dan mengajukan diri untuk penelitian di wilayah kerjanya.

Aku lupa harinya, tapi sore itu aku seharusnya ikut praktikum di Departemen Hasil Hutan. Aku putuskan minta izin dan mengambil kelas pengganti dihari lain. Kusempatkan mengurus surat perizinan penelitian ke Tata Usaha kampusku di Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata IPB. Usai mengirimkan pesan singkat pada Pak Indra, beliau bersedia bertemu denganku di hotel itu sekitar pukul 16.30 sore seusainya rapat. 

Aku langsung naik angkot menuju Cisarua di tengah hujan lebat. Pakaianku setengah basah sesampainya di depan Taman Safari. Namanya juga demi gelar sarjana, sedikit basah-basahan tidak masalah. Di hotel itu, Pak Indra memintaku menunggu di Ruang Badak.

Itu pertama kalinya aku melihat sosok Pak Indra. Orangnya tidak banyak bicara, lebih banyak mengangguk ketika aku menyampaikan paparan singkat mengenai obyek penelitianku. Secara singkat pula, Pak Indra memberikan gambaran tentang Suaka Alam Marapi padaku. Wilayah konservasi yang masih mencari jati dirinya, apakah dia adalah Cagar Alam ataukah Suaka Margasatwa?

Tidak adanya status jelas untuk kawasan yang sebetulnya kaya dengan potensi wisata ini membuat pengelolaan Suaka Alam Marapi menjadi terhambat. Aku sempat mendengar harapan Pak Indra bahwa beliau ingin hasil penelitianku menjadi titik awal untuk rekomendasi penetapan status kawasan Marapi ke depannya.

Tanganku sedikit bergetar ketika menyerahkan selembar surat permohonan izin penelitian pada Pak Indra. Maklum, aku bertemu dengannya seorang diri. Sedangkan Kak Linda harus pergi untuk urusan penting lainnya.

[START CHAT]

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Waktu Muthe skripsi 2009, Rifki dimana?”

Rifki M Bogara:

“Hmm. Itu zaman pahit-pahitnya kerja Tia, jadi buruh disalah satu operator. Tapi asiknya ya aku kerja sambil jalan-jalan. Dulu, aku kerja untuk operator XL, Indosat, dan Esia. Jadi, kerjanya multioperator. Aku melamar kerja di perusahaan yang punya tiga anak usaha. Jadi engineer tiga perusahaan deh, tapi gajinya gak triple. Hehehe. Maklum, masih bau kencur dan belum berpengalaman saat itu.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Oooo. Orang yang sukses itu kan gak ada yang langsung enak diawal. Trus, ceritanya kamu ke Kupang gimana?”

Rifki M Bogara:

“Pertengahan 2009, aku kebetulan sedang ada tugas optimasi jaringan operator di Jember, dekat rumahku. Waktu itu ada lowongan di Telkomsel untuk penempatan Bali dan Nusa Tenggara. Aku ajukan lamaran dan alhamdulillah brojol dan lulus. Dari 2008 sampai 2010, aku sering keliling kota. Seminggu di Kota A, trus ke Kota B, begitu terus.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Seru banget. Kalo kamu punya peta Indonesia, mungkin disetiap pulau sudah ada kode RMB ya? Inisial nama kamu.”

Rifki M Bogara:

“Hahaha. RMB was here. Sampai sekarang, aku masih suka backpacker atau touring motor. Aku suka jalan kaki juga hingga berjam-jam untuk berkeliling pelosok. Kadang, kalo aku capek, aku naik angkot. Dengan begitu, kita bisa melihat bagaimana daerah itu, seperti apa masyarakatnya. Seru.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Seru. Kamu kaya pengalaman.”

Rifki M Bogara:

“Kadang aku kangen bisa traveling seperti dulu lagi.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

“Kamu pasti bisa seperti dulu lagi. Nanti jalan-jalannya sama keluarga kamu sendiri.”

Rifki M Bogara:

“Heee. Amin.”

Pada hari keenam pertemanan kami di Facebook, Rifki dan aku akhirnya baru saling bertukaran nomor ponsel. Kalo aku mengingat kejadian ini, aku suka tersenyum sendiri. Enam hari aku betah chat via Facebook, dan gak ada salah satu pun dari kami yang terpikir untuk saling meminta nomor ponsel masing-masing.

[START CHAT @09.56 WIB / 10.56 WITA on April 27, 2013]

Rifki M Bogara:

“Ini line ku, ada dinomor 0811383****. Id b0g4r4.”

Mutia ‘Muthe’ Ramadhani:

Nomor Rifki Muthe save ya? Ini nomorku 08521406****.”

Rifki M Bogara:

“Oke. Sippo. WA dan Line-ku pakai ID yang sama.”

Sejak itu, komunikasiku dengan Rifki semakin intensif. Kadang kami saling mengingatkan makan siang, shalat dzuhur, dan juga istirahat. Rifki jarang sekali menghubungiku lewat telepon. Kami lebih sering chat di whatsapp. Sama seperti teman-teman jejaring sosial lainnya, Rifki masih rajin menghampiriku di Facebook. Kadang dia muncul di beberapa update statusku. Rifki juga sempat mengirimkan ucapan selamat ulang tahun untukku pada 13 Mei 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s