CAPTAIN BOGARA, I LOVE YOU: 7. Belanda vs Indonesia, Aku vs Kamu

“Biarkan dirimu dicintai oleh orang yang benar-benar mencintaimu, orang yang benar-benar peduli denganmu. Terlalu banyak waktu membuatmu kadang lupa dan buta dengan pencarianmu sendiri. Sudah waktunya untuk mengakhiri ini. Sudah waktunya membiarkan dirimu dicintai.”

Jumat, 7 Juni 2013 @19.00 WIB/20.00 WITA

Aku masih di kantor pukul 18.30 WIB. Padahal ini Jumat, yang berarti besok adalah akhir pekan. Kantor masih ramai karena ternyata malam ini ada pertandingan persahabatan antara timnas senior Indonesia dengan timnas Belanda di Gelora Bung Karno. 

Mas Aby, salah satu redakturku, heboh di depan TV memproyeksikan skor. Sebelumnya, mereka sempat menonton konferensi pers antara Pelatih Timnas Indonesia, Jackson F Tiago dengan Asisten Pelatih Timnas Senior Indonesia, Yeyen Tumena. Tiago berjanji bahwa timnas bisa menghadapi laga uji coba ini.

Awalnya aku berniat untuk nonton bareng mereka. Namun, karena pertandingan baru dimulai jam 8, aku pun memutuskan untuk menonton dari kosan saja. Usai pamit, aku sempatkan mampir di Rumah Makan Padang ‘Salero Rajo’ di samping kantorku. Setelah makanan kubungkus, aku yang hari itu membawa sepeda langsung pulang ke kosanku di Gang Sahiran. Tak lama, pesan whatsapp Rifki mengalihkan perhatianku.

“Tia, lagi ngapain? Sibuk?” tulisnya.

“Gak Ki, Tia sedikit lagi sampai kosan.”

Tak lama kemudian, ponselku berdering dan ternyata itu adalah panggilan Rifki.

“Halo Tia. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam Ki. Tia baru sampai di kosan. Ada apa Ki?”

“Tia, Rifki mau ngomong sesuatu dan mungkin sedikit lama.”

“Mmmm, boleh. Ngomong apa? Mau nanyain proyeksi skor Belanda – Indonesia malam ini? Hehehe.”

Kudengar Rifki tertawa ringan dari sana.

“Tia, Rifki mau ngomong serius. Selama kita kenal, mungkin Rifki kebanyakan bercanda. Tapi kali ini, Rifki mau ngomong lebih serius sama Tia.”

Keningku sedikit berkerut mendengar nada suara Rifki waktu itu. Dari depan pintu, aku berjalan sedikit ke depan, ke lapangan parkir mobil, untuk mendapatkan sinyal yang lebih bagus. Maklum, kosanku itu aneh, tidak ada sinyal ponsel di sana. Padahal, aku masih tinggal di Kota Jakarta lho.

“Ya Ki? Ngomong aja.”

“Mmm. Tia, kita memang baru kenal sebentar. Rifki kenal Tia dari papa, Mba Linda, trus kita chating. Kita juga sudah ketemuan kemarin ini, walaupun cuma sebentar.”

Kudengar Rifki memotong ucapannya. Aku yang mendengar penuturannya mendadak menjadi berdebar-debar, mencoba menebak perihal apa yang akan disampaikan Rifki padaku. Dengan sedikit terbata, Rifki melanjutkan kata-katanya.

“Tia. Kita sudah sama-sama dewasa. Rifki sudah 27, Tia juga sudah 26. Rasanya untuk membicarakan hal serius tentang sebuah hubungan, Rifki yakin Tia pun sudah tahu arahnya kemana. Rifki mau bilang, Rifki suka sama Tia. Tapi, suka Rifki ini beda. Suka Rifki ke Tia tidak sama dengan suka seorang laki-laki terhadap perempuan untuk sekadar pacaran. Rifki ingin serius sama Tia. Tia ngerti kan maksud Rifki?”

“Hmm, hmm,” kataku berkomentar singkat sambil mengangguk, walaupun Rifki tak melihatku melakukannya.

“Rifki sudah pikirkan ini beberapa hari. Insya Allah, Rifki yakin Tia yang terbaik untuk Rifki. Rifki ingin serius sama Tia. Tia ngerti kan? Serius yang Rifki maksud? Rifki ingin serius dengan Tia, ke arah pernikahan. Rifki ingin Tia menjadi istri Rifki nanti. Sekarang, Rifki ingin tahu pendapat Tia bagaimana tentang kita?”

Aku terdiam sejenak. Ini adalah pertama kalinya seorang laki-laki berbicara seserius ini padaku. Kurasa jika Rifki mengatakannya langsung di hadapanku malam itu, aku akan langsung kabur.

“Ki. Ini pertama kalinya untuk Tia.”

“Rifki tahu Tia, ini juga pertama kalinya Rifki bilang kayak gini ke cewek. Tia tahu gak? Walaupun mama Rifki itu guru Bahasa Indonesia, tapi Rifki gak bisa merangkai kata-kata. Rifki langsung-langsung saja orangnya. Maaf, jika itu membuat Tia terkejut.”

“Rifki, Rifki udah yakin itu? Kita baru kenal sebulan, baru ketemu dua kali. Rifki juga belum kenal keluarga Tia. Tia juga belum kenal keluarga Rifki.”

“Rifki ingin menjalani dan melewatinya pelan-pelan Tia. Tia kan sudah kenal papa, cuma belum kenal mama, Gifan, Rara.”

“Ki. Rifki yakin sekali.”

“Tia. Ada orang yang memilih pacaran dulu, menjalani hubungan dulu beberapa lama, setahun dua tahun, baru mereka menikah. Ada juga orang yang memilih menikah dulu, dan menjalani tahapan selanjutnya setelah menikah. Nah, Rifki adalah yang kedua. Kalo ditanya apakah Rifki siap dan yakin dengan ini, jujur Rifki juga masih sangat banyak kurangnya. Tapi, jika menunggu kita siap, siap, lebih siap, dan lebih sempurna, kapan? Kita gak akan pernah tahu. Tapi insya Allah, Rifki sudah yakin menjalaninya dengan Tia.”

“Rifki, terima kasih untuk perasaan Rifki ke Tia. Untuk memulai hubungan sebagai ‘teman dekat’ atau istilahnya pacar, mungkin insya Allah Tia bisa mencobanya dengan Rifki. Tapi mohon maaf Ki, kalo untuk ke jenjang yang lebih serius, Tia belum ada jawabannya untuk Rifki sekarang. Rifki belum kenal keluarga Tia, lihatlah keluarga Tia dulu, kenalilah siapa Tia. Tia pelan-pelan juga akan berbaur dengan keluarga Rifki. Silakan Rifki sampaikan niat itu ke kedua orang tua Tia. Apapun pertimbangan ayah ibu Tia terhadap Rifki nanti, baru kita tahu jawabannya.”

“Tia, terima kasih. Jadi, Rifki diterima. Kita jadian?”

Aku memberikan senyum untuknya di seberang sana. Laki-laki yang begitu memesona yang pernah kutemui. Laki-laki yang dengan sopannya memberikan kedudukan tertinggi untuk seorang perempuan, menjadi istrinya.

“Iya. Kita jadian.”

“Alhamdulillah. Terima kasih Tia. Insya Allah, ke depannya kita jalani bersama. Mana kelingkingnya?”

Akupun memberikan kelingkingku untuk Rifki, meskipun tak saling bertautan, namun hati kami sudah menyatu sejak malam itu.

@ Kosan Teh Ririn, 20.00 WIB/21.00 WITA

Aku mencoba menghubungi ibu setelah Rifki menutup ponselnya. Namun, kutahu ibu tak mengangkat telepon karena sedang maghrib dan isya di masjid. Saat kuhubungi ayah, ayah juga ternyata sedang ada acara bersama Om Ris. Ayah justru memintaku menghubungi ibu saja jika ada yang ingin diceritakan.

Alhasil, aku langsung memutar balik sepedaku ke kosan Teh Ririn yang jaraknya tak jauh dari gangku. Aku langsung menggedor pintu kosan bernomor 06 itu. Teh Ririn tak lama membuka pintu dan sangat terkejut melihatku begitu bersemangat mengetuk pintunya. Aku langsung menghambur ke pelukan sahabatku yang satu itu.

“Teteh, Teteh, Rifki bilang cinta ke Muthe, Teh. Teteh, Teteh.”

Teh Ririn tersenyum senang ke arahku.

“Bagus atuh. Selamat ya? Selamat, selamat. Akhirnya.”

Teh Ririn menarik tubuhku dan mendudukkanku di atas tempat tidurnya. Air mataku jatuh juga di sana. Teh Ririn tahu persis apa yang membuatku menangis, yaitu aku bisa jatuh cinta lagi, Allah membukakan kembali hatiku untuk seseorang yang kucintai. Empat tahun terakhir adalah masa-masa tersulit dalam hidupku untuk urusan hati serumit ini. Jatuh cinta itu pilihan. Meski mulut mengatakan bahwa kita mampu move on, namun jika hatimu belum menemukan pasangannya, maka apa yang terucap itu hanyalah penghibur di bibir saja. Hati tak akan pernah membuka untuk seorang yang tidak bisa kita cintai.

“Akhirnya Muthe, kamu bisa move on juga. Gitu dong. Teteh yakin, Rifki orang yang baik. Sebaik-baiknya lelaki adalah yang mencintai kita karena Allah dan ingin menikahi kita. Semoga langgeng ya?”

Sambil berbaring di kasur Teh Ririn, aku tersenyum bahagia. Tak lama kemudian, aku teringat Kak Linda.

Muthe:

“Kakaaaaak, Rifki bilang cinta ke Muthe.”

Linda Pluto:

“Alhamdulillah. Hehehe. Ikut senang. Udah, langsung jawab iya saja.”

Muthe:

“Panas dalam Muthe Kakak. Captain Bogara telepon Muthe.”

Linda Pluto:

“Hahaha. Trus, Muthe bilang apa?”

Muthe:

“Bismillah. Iya Kak. Muthe jawab iya.”

Linda Pluto:

“Alhamdulillah. Trus, kapan dia mau datang ke orang tua Muthe?”

Muthe:

“Rifki tadi udah singgung itu Kak. Tapi, berhubung di kantornya sedang ramai, jadi nanti kita lanjutin pembicaraannya. Yang jelas, malam ini Belanda VS Indonesia di RCTI. Kita mau nonton bareng, satu di Kupang, satunya di Jakarta. Hehehe.”

Linda Pluto:

“Hahaha. Ya sudah, sip.”

Muthe:

“Kak Linda, terima kasih udah ngenalin Rifi yang baik untuk Muthe. Kita harus makan satu gerobak sate Padang someday.”

Linda Pluto:

“Hehehe. Sama-sama The. Saya ikut senang juga. Nanti kalo Muthe ada kenal orang baik, boleh juga dikenalin ke saya.”

Muthe:

“Kak Linda, pastiiii. Yang jelas, doa Muthe gak pernah putus untuk Kak Linda. Peluk Kak Linda.”

Linda Pluto:

“Iya. Makasih ya? Salam buat Rifki. Mudah-mudahan nanti saya bisa datang pas nikahannya. Amin.”

Muthe:

“Ya Kak Lin, nanti Muthe sampaikan. Rifki lagi bakar-bakar ikan sama teman-temannya dan mau nonton bola. Insya Allah Kak Lin, semoga ini yang terbaik.”

Linda Pluto:

“Amin.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s