Orang Minang Harusnya Pandai Dagang

Kerja sebagai jurnalis bagiku memberikan penghasilan cukup, namun percayalah, tak akan selamanya demikian. Mumpung masih hidup berdua, mumpung belum punya anak, tak ada salahnya mencoba berbisnis kecil-kecilan. Toh, aku juga orang minang. Banyak yang bilang kalo orang minang itu harusnya pandai berdagang.

Bekerja kantoran hanya memberikan kita satu kali gaji, tapi berdagang memberikan kita tiga kali gaji bahkan lebih. Tak heran jika Islam menganjurkan umatnya untuk berdagang. Suatu hari, Nabi SAW pernah ditanya sahabatnya perihal usaha yang baik untuk dikerjakan. “Usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab, pekerjaan seseorang dengan tangannya (jerih payahnya) dan tiap-tiap jual beli yang mabrur.” 

Puasa sebentar lagi. Kulihat teman-temanku sedang hobi banget berbisnis online. Ada yang jualan baju gamis, mukena bali, jins, peralatan sekolah, boneka, dll. Aku tiba- tiba tertarik melakukan hal yang sama karena terinspirasi dari mereka.

Lama aku berpikir, akhirnya ideku muncul hendak menjual pernak-pernik khas Bali. Aku pun menyampaikan ide ini pada mas. Alhamdulillah mas welcome banget selama pekerjaanku di kantor dan di rumah tidak terganggu, tak masalah untuknya.

Mas bilang, untuk tahap pertama ini tak perlu berinvestasi terlalu besar. Kami pun sepakat menentukan sasaran pasar adalah remaja di kampung halamanku, Pasaman Barat. Apalagi, aku sudah memiliki rumah baca ‘Milk Crown Asian’ di Jambak Jalur 4 yang alhamdulillah lumayan ramai didatangi pelajar, terutama ketika mereka mendapatkan tugas Bahasa Indonesia di sekolah. Hehehe. Aku pun setuju dan akhirnya kualokasikan Rp 1 juta dari gajiku bulan Mei 2015. Kami langsung ke Pasar Seni Guwang, dekat sekali dengan Pasar Sukawati yang super terkenal di Bali untuk membeli barang-barang yang akan dijual.

CYMERA_20150511_223821 CYMERA_20150511_225904 CYMERA_20150513_184842 CYMERA_20150513_185232 CYMERA_20150513_185410

Wisata belanja di Bali tak dipungkiri menyedot perhatian kalangan wisatawan mancanegara juga domestik. Adat istiadat dan kultur budaya yang unik menjadikan Bali kaya akan warisan seni, budaya, dan kerajinan tangannya.

Pasar Guwang tak seperti pasar-pasar lainnya. Semua yang dijual ini adalah oleh-oleh khas Bali. Aku pun membeli sejumlah kalung dan gelang bali, dompet jarik dan dompet daun lontar motif Bali, celana aladin corak Bali, baju dress bali, sandal bali, dan beberapa mukena bali.

Bermodalkan pe-de tingkat dewa, aku beranikan diri menjadi ‘Miss Tega’ dalam menawar barang-barang belanja di sana. Maklum, keluarga ibu hampir semuanya pedagang. Meski ibuku sendiri tidak mewarisi bakat kakak-kakaknya yang kini sudah sejahtera di Sintang, Kalimantan Barat sana, namun aku yakin aku bisa.

Aku menawar setengah dari harga yang ditawarkan pedagang padaku, bahkan di atas itu. Alhamdulillah dugaanku benar, rata-rata aku mendapatkan harga 40-50 persen lebih murah dari harga awal. Aku jadi teringat tawar menawar khas Sule dan Mang Saswi di NET TV. Hehehe.

Aku memberitahukan rencanaku ini pada ayah dan ibu, juga sepupuku yang kupanggil Titik Inan di Sintang. Titik mengizinkanku menaruh beberapa mukenah bali di tokonya. Hasilnya mengejutkan, baru saja sehari barang sampai di sana, 3 mukena baliku sudah laku terjual. Bahkan, tak cukup dari seminggu, aku kembali mengirimkan selusin mukena bali dewasa dan anak ke sana. Mungkin di daerah lain mukena bali sudah umum, namun karena aku menemukan rumah salah satu perancang mukena bali yang oke, motif-motif yang kudapatkan selalu up to date dan kesannya tak membosankan.

Bagaimana dengan ibu? 10 dari 11 mukena bali yang kukirimkan ke Pasaman Barat habis kurang dari seminggu. Aksesoris seperti sandal bali, kalung, gelang tak kalah membahagiakan hasilnya. Orientasinya ternyata sedikit berubah. Ibu bilang, mayoritas pembeli mukenaku adalah ibu-ibu. Ini karena satu kali ibu membawa contoh mukenaku ke acara pengajian yang rutin diikutinya setiap Rabu. Teman-teman ibuku begitu menyukai corak dan warnanya. Alhamdulillah, pikirku, semoga tren ini terus berlanjut.

Sempat terpikir olehku, seandainya aku memulai keberanian ini sejak 2011 lalu, mungkin aku sudah memiliki cukup penghasilan untuk masa depan saat ini. Bekerja di Jakarta sejak 2011, sebetulnya aku bisa mengakses Pasar Tanah Abang sesuka hatiku. Sayangnya, aku belum cukup berani saat itu. Meski demikian, tak ada kata terlambat, yuk mulai belajar berdagang. Mungkin ini beberapa tips yang bisa kubagi sebagai pedagang pemula.

Mulai dari yang kecil. Sangat bijaksana jika kita memulai sesuatu dari hal-hal kecil, kemudian membiarkan bisnis dagang itu berkembang besar di pasar. Dalam setiap usaha bisnis baru, ada saat dimana kesalahan dan kegagalan terjadi. Kita harus belajar bagaimana mengelola kesalahan itu tidak dibayar terlalu mahal. Buru-buru berinvestasi besar tentunya akan memperbesar nilai kesalahan.

Realistis dan fleksibel. Bisnis dagang harus mampu beradaptasi. Karena pasar begitu cepat berubah maka dinamis. Tetapan target keuntungan yang realistis dan mematok harga yang masih fleksibel bagi pembeli. Ada etika mengambil laba dalam Islam supaya tak terjerumus dalam riba.

Dalam pandangan Wahbah al-Zuhaili, Islam pada dasarnya tidak memiliki batasan atau standar yang jelas tentang laba atau keuntungan, sehingga pedagang bebas menentukan laba yang diinginkan dari suatu barang. Hanya saja, keuntungan yang berkah atau baik itu tidak melebihi sepertiga harga modal.

Dengarkan pelanggan. Pedagang kadang susah alias tak mau mendengar keluhan atau saran pelanggan. Mereka sering meremehkan pendapat orang lain. Kesuksesan jangka panjang membutuhkan kemampuan untuk mencerna pandangan orang lain, kemudian merealisasikannya.

Jadikan berdagang itu hobi. Segala sesuatu yang dilakukan karena kita menyukainya, insya Allah akan berujung sukses. Berdagang juga bisa menjadi hobi sehingga kita melakukannya dengan senang hati.

Sabar. Saran terakhir ini bukan hanya dariku, tapi Allah dan Rasulullah tentunya. Hehehe. Sabar dan tawakal adalah cara Allah menguji iman kita. Setelah berusaha, sisanya adalah berdoa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s