Menantang Pedasnya Ayam Betutu Men Tempeh

8741ee17b062651aa4dc599ebe79fe85

Minggu (22/6) dini hari aku dan mas menikmati menu sahur seperti biasa. Selesai makan mas bilang padaku dia ingin berbuka puasa di luar, sekaligus olah raga ke gym hari ini. Aku tanya, kenapa mas? Rupanya mas baru saja menemukan warung lontong kupang di Denpasar. Atas rekomendasi temannya, mas kembali bisa mencicipi lagi makanan kesukaannya itu. Hehehe. 

Begitu adzan maghrib di ponsel berbunyi, aku dan mas membatalkan puasa dengan segelas es cendol bandung yang kami beli di perjalanan. Mas menunaikan shalat maghrib di TTC Renon, kemudian kami teruskan perjalanan menuju warung lontong kupang yang dimaksud. Sayang disayang, warung itu ternyata tutup dihari Minggu. Setelah berdiskusi cukup panas (teh hangat kaliiii), aku dan mas akhirnya memutuskan untuk makan ayam betutu Men Tempeh di Krisna Gallery, Jalan Diponegoro, Denpasar.

Ini ketiga kalinya kami makan di sini. Pertama saat merayakan ulang tahun pernikahan. Kedua, ketika mengajak ayah dan Om Ris makan siang sewaktu mereka datang ke Bali. Ketiga, ya malam ini. Mas langsung memesan dua paket ayam betutu 1/2 ekor dan seporsi kerang.

Ayam betutu Men Tempeh ini punya segudang keistimewaan. Tak salah jika brand ini sering disebut pelopor masakan ayam betutu di Bali. Konon katanya, Men Tempeh diperkenalkan pada 1976 oleh pasangan suami istri Ni Wayan Tempeh dan suaminya, I Nyoman Suratna yang berasal dari Bangli, Gianyar. Mereka pertama kali menjual menu ini di Terminal Gilimanuk dan kini resepnya sudah turun temurun ke anak-anak dan teman-temannya.

Selain rasanya yang khas, harga jual menu betutu ini juga lumayan terjangkau. Bayangkan saja, dengan uang Rp 57 ribu, Anda sudah bisa merasakan paket setengah potong ayam betutu kuah, lengkap dengan nasi, kacang tanah sangrai, plecing kangkung, plus tauge, dan sambal matahnya.

Ayam betutu Men Tempeh emang ngangenin. Bumbunya terbilang pedas dan menggoyang lidah, namun memberi efek ketagihan. Kalo kata orang Sunda, rasanya ‘seuhah.’ Kalo kata orang minang, rasanya ‘sabana padeh.’ Pedasnya betutu Men Tempeh makin pol di lidah saat aku meneguk segelas teh tawar hangat. Tak heran jika si mas mandi keringat malam itu.

SONY DSC

Daging ayam kampung Men Tempeh sungguh empuk dan juara. Bumbu kuahnya meresap sampai ke tulang ayam, terbuat dari campuran kunyit, jahe, lengkuas, kencur, bawang, dan cabai. Hati-hati jangan sampai kamu tergoda untuk terus menyeruput kuahnya, jika tak ingin berakhir dengan mencret, sakit perut atau lambung bagi penderita maag. Hehehe. Tidak kuat pedas? Kamu cukup memesan ayam betutu goreng yang setengah ekornya dihargai Rp 50 ribu.

Ayam betutu Men Tempeh di Denpasar ini bisa juga menjadi one stop shopping loh! Selain mengisi perut, tempat ini dikelilingi dengan toko oleh-oleh, belanja baju, hingga tempat acara seremonial. Restoran betutunya sendiri super lega karena bisa menampung 200 orang. Jika berkunjung dimalam hari, pengunjung dihibur oleh penyanyi-penyanyi lokal.

Selamat membakar lidah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s