Tarian Langit Layangan Janggan

Rare angon mengangkut layanngan pecukan ke lapangan Padang Galak

Suatu hari di Sabtu (4/7) pagi, jalanan utama menuju Sanur ramai oleh truk-truk sewaan yang mengangkut layang-layang berukuran raksasa. Truk ini berjalan cukup pelan supaya tak mengganggu arus lalu lintas di jalanan Bali yang cukup sibuk setiap akhir pekan tiba. Di belakang truk itu, Pande Yoga (18 tahun) dan lebih dari 80 orang temannya, para rare angon asal Banjar Pande, Renon, Denpasar mengendarai motor dengan riangnya mengiringi truk yang membawa layang-layang janggan kebanggaan mereka.

Layang-layang yang menelan biaya pembuatan hingga belasan juta rupiah itu berhenti di Lapangan Padang Galak. Yoga bercerita layang-layang tradisional di Bali bukan untuk diadu, melainkan cara masyarakat menyampaikan rasa syukur kepada para dewa atas berkah yang telah diberikan. Rasa syukur dan semangat gotong royong yang mendasari tradisi melayangan ini yang membuat para rare angon tak mempermasalahkan menang atau kalah dalam perlombaan. 

“Melayangan ini warisan leluhur untuk mempersatukan pemudanya supaya lebih kreatif dalam berkarya,” kata Yoga kepadaku.

Bermain layangan bukan hal baru bagi anak kedua dari tiga bersaudara ini. Yoga mengaku sudah bermain layangan sejak masih berusia TK. Itu berarti dirinya sudah puluhan kali mengikuti festival layang-layang tradisional di Bali. Pada 2004, Banjar Pande Renon bahkan menyabet juara umum kedua dalam lomba tahunan ini.

Pemuda yang baru saja lulus SMA ini mengatakan ada nilai moral yang terkandung dalam tradisi melayangan. Hal ini tecermin sejak proses pembuatannya, mulai dari mencari bambu, menghaluskannya, membuat kerangka untuk badan layangan janggan, menutup kerangka dengan kain peles warna-warni, membuat tapel (kepala) serta hiasan layang-layang, hingga mengadakan upacara dan doa bersama.

Masing-masing tahapan pembuatan layangan janggan ini dikerjakan oleh tim berbeda dan memakan waktu hingga tiga bulan. Pembuatan layangan janggan lebih lama dibandingkan layangan bebean dan pecukan yang bisa diselesaikan dalam waktu satu hingga dua pekan saja. Layangan raksasa di Bali ada juga yang dibuat dengan sistem knocked down sehingga bisa dibongkar pasang untuk memudahkan penyimpanan dan digunakan dalam perlombaan tahun berikutnya.

Menurut mitos yang berkembang di masyarakat Bali, Bumi ini ditopang oleh seekor kura-kura raksasa bernama Bernawang Nala dan dikelilingi oleh tubuh seekor naga bernama Naga Besuki yang kemudian diabadikan dalam bentuk layangan janggan. Ekor layangan janggan yang panjang juga identik dengan Anantha Boga, simbol dari Dewa Kemakmuran.

Sebelum berangkat ke Padang Galak, Yoga bercerita masyarakat banjarnya menggelar ritual doa bersama di depan taksu atau topeng naga di bagian kepala layangan janggan. Masyarakat tak lupa manaruh sesajen supaya layangan janggan ini bisa mengudara dengan mudah, serta menghindari kejadian-kejadian berbau mistis yang tak diinginkan. Taksu merupakan bagian paling sakral dari sebuah layanan janggan, sekaligus bagian paling mahal dalam proses pembuatannya karena berlapis emas.

Taksu yang akan dipasangkan ke kepala layangan janggan
Taksu yang akan dipasangkan ke kepala layangan janggan
Layangan Janggan, Sang Primadona
Layangan Janggan, Sang Primadona

Kebanyakan orang hanya mengenal layang-layang berbentuk segi empat dan diterbangkan oleh satu orang. Di Bali, pengunjung akan menjumpai hal berbeda. Banjar Pande Renon setidaknya mengerahkan 30 orang pemuda di lapangan untuk menerbangankan sebuah layangan janggan berukuran lebar 4,5 meter (m) dan panjang hingga 10 m ini dengan seutas tali nilon setebal lima milimeter. Jika ditambah ekor, panjang total layang-layang bisa mencapai 200 m. Bagian paling sulit, kata Yoga memastikan ekor janggan terbang meliuk dengan indahnya, bukan melilit di tali.

Angin adalah unsur terpenting. Rare angon membutuhkan angin yang kencang untuk bisa menerbangan layang-layang raksasa mereka. Kali ini, layangan janggan Banjar Pande Renon harus mampu terbang dan bertahan di angkasa selama 15-20 menit sebab ini merupakan salah satu poin penilaian.

Rare angon Banjar Pande Renon mengenakan seragam hitam dengan udeng di kepala dan kain saput di tubuh mereka. Secara serentak mereka mengangkat layangan janggan ke lapangan. Begitu bendera tanda ‘mulai’ dikibarkan, kurang dari 10 menit, layangan itu sukses menari di langit Padang Galak. Sungguh pemandangan yang menakjubkan dan pesta bagi seluruh panca indera yang hadir di sana.

Rare angon dari Banjar Pande Renon, Denpasar
Rare angon dari Banjar Pande Renon, Denpasar

Pernah difilmkan

Saking eksotisnya janggan, dua orang sineas muda asal Bali, AA Yoka Sara dan AA Ngurah Adhi Ardhana pernah menuangkannya ke dalam sebuah film berjudul ‘Janggan Harvesting the Wind.’ Film yang bercerita tentang layangan tradisional Bali ini diputar perdana bertepatan dengan Hari Raya Galungan umat Hindu Bali pada 22 Mei 2014 lalu.

Film dokumenter berdurasi satu jam dan 18 menit itu ditayangkan secara khusus di Cineplex, Denpasar dan begitu dinikmati penonton dari berbagai usia. ‘Janggan Harvesting the Wind’ bercerita tentang evolusi layangan janggan mulai 1918 hingga 2012.

Cerita berawal dari rasa penasaran seorang mahasiswi Belanda bernama Petra Moerbeek yang melihat sebuah gambar layangan janggan yang fotonya diambil pada 1918. Foto itu milik leluhurnya dari Amsterdam yang pernah bertugas di Indonesia pada masa penjajahan kolonial.

Merasa tertarik, Moerbeek akhirnya memutuskan datang ke Bali dan bertemu sekelompok rare angon dan sesepuh yang memperkenalkan tradisi melayangan ini pertama kali. Mahasiswa 19 tahun itu bahkan ikut terlibat dalam proses pembuatan layangan raksasa yang memakan waktu hingga enam bulan ini.

Film ini begitu runut menceritakan pembuatan layang-layang tradisional Bali. Yoka Sora, sang kreator mengatakan film ini bukan hanya bertujuan mendidik penonton untuk memuji layangan ketika menari di udara, melainkan mengajak mereka mengetahui sejarah dan proses pembuatannya.

“Sejarah itu tak cuma bisa dilihat dari panjang dan warna-warni ekor janggan, tapi juga jejak-jejak falsafah di balik fenomena tradisi masyarakat Bali,” ujarnya.

Tak kalah pentingnya, ‘Janggan Harvesting the Wind’ ini berisi pesan semangat hidup gotong royong dan sikap pantang menyerah para rare angon dan janggannya. Mereka berjuang keras untuk bersahabat dengan tiupan angin kencang yang kadang tak ramah demi mengantar sang janggan mengudara ke angkasa.

Rare Angon, Terbanglah!

Sane mangkin jagi lomba layangan
Di Mertasari, Biaung, lan di Padang Galak
Saling asah, asih, asuh mejalan
Ngajak timpal-timpal sane makta layangan
Wenten layangan janggan, layangan bebean
Wenten masih layangan pecukan
Pakedek pakenyung menyama brata
Ajegang seni budaya Bali

Artinya:

Saat ini sedang ada lomba layangan
Di Mertasari, Biaung, dan Padang Galak
Berjalan dengan asah, asih, asuh
Mengajak teman-teman membawa layangan
Ada layangan janggan, layangan bebean
Ada juga layangan pecukan
Tertawa bersama layaknya keluarga
Melestarikan seni budaya Bali

Demikian petikan bait lagu ‘Melayangan’ karya Emoni, grup musik dari Bali yang memadukan instrumen modern dan tradisional. Ketika angin kencang, mentari bersinar terang di langit nan biru, hal paling seru untuk dilakukan adalah bermain layang-layang atau melayangan.

Tradisi melayangan sudah turun temurun di kalangan anak muda penghobi layang-layang atau lebih dikenal dengan sebutan rare angon di Pulau Dewata. Bagi rare angon, layangan tak sekadar benda mati tanpa nilai. Mereka percaya bahwa layangan itu memiliki tubuh, tulang, dan taksu atau roh penunggu.

Rare angon mengangkut layangan ke Lapangan Padang Galak, Sanur
Rare angon dewasa mengangkut layangan ke Lapangan Padang Galak, Sanur
Rare angon anak-anak
Rare angon anak-anak

Melayangan berkaitan erat dengan cerita rakyat Bali dimana layangan merupakan manifestasi dari Dewa Rare Angon. Sang Dewa melindungi padi masyarakat dari serangan hama dan memberkatinya dengan hasil panen melimpah.

Rare angon sejatinya berarti anak gembala. Dulunya, anak-anak muda di Bali bermain layangan sembari menggembalakan ternak di sawah sebagai ucapan rasa syukur mereka kepada para dewa.

Anak-anak, kaum remaja, dewasa, hingga orang tua lebih dari satu abad lalu mengiringi kedatangan Sang Dewa dengan tiupan deruling hingga angin datang dan menerbangkan layangan mereka ke angkasa. Layang-layang nan berbagai bentuk itu seakan ikut serta menerbangkan doa dan ucapan terima kasih para rare angon ke angkasa bertemu para dewa. Seiring perkembangan zaman, masyarakat kini mengiringi permainan layang-layang dengan musik gamelan baleganjur, juga gamelan barong yang bertalu-talu.

Tradisi sejak zaman leluhur itu masih melekat di hati masyarakat Bali hingga saat ini. Sepekan pertama Juli 2015, Persatuan Layang-Layang Indonesia (Pelangi) Bali kembali menggelar Festival Layang-Layang Bali ke-37 di Kawasan Pantai Padang Galak, Sanur.

Juli-Oktober setiap tahunnya merupakan waktu terbaik untuk bermain layang-layang. Hal ini dikarenakan masyarakat Bali sudah selesai panen, memasuki musim kemarau, sehingga langit cerah dan disaat yang sama angin bertiup sangat kencang.

“Festival tahun ini diikuti peserta dari tujuh kabupaten dan kota di Bali dengan total 1.070 layang-layang,” kata Ketua Pelangi Bali, I Wayan Wirata.

Lomba tahunan ini dibagi menjadi empat kategori layang-layang, yaitu bebean, pecukan, janggan, dan kreasi. Ada satu kategori baru yang perdana dilombakan tahun ini, yaitu layangan janggan buntut karena cukup banyak penggemarnya.

Bebean adalah layangan berbentuk ikan. Ikan sama halnya dengan manusia dan makhluk hidup lainnya yang tak bisa lepas dari lima unsur penyusun kehidupan atau Panca Mahabutha, yaitu tanah (pertiwi), air (apah), api (teja), angin (bayu), dan akasa yang diterjemahkan sebagai alam tempat berkumpulnya kehidupan.

Pecukan adalah layangan berbentuk daun yang melengkung berbentuk oval atau huruf O dan merupakan manifestasi dari salah satu unsur Ulu Chandra, yaitu Windu dalam kepercayaan masyarakat Bali. Terakhir, janggan adalah jenis layangan yang berasosiasi dengan pecukan berekor naga. Ini merupakan jenis paling terkenal.

Warna layang-layang di Bali secara umum ada tiga, yaitu merah, hitam, dan putih. Ketiga warna ini memiliki filosofi tersendiri yang merupakan perwujudan proses kehidupan yang dilalui makhluk hidup, yaitu kelahiran (merah), kehidupan (putih), dan kematian (hitam).

Ketua Panitia Lomba Layang-Layang Bali ke-37, I Made Susila Patra mengatakan festival tahunan ini diharapkan melestarikan layang-layang tradisional dan seni budaya Bali, sehingga terwujud kreativitas serta inovasi baru. Aturan yang berlaku misalnya batas jarak layangan maksimal 15 mil dari bandara. Layang-layang hanya boleh diterbangkan setinggi 100-150 meter.

“Antusiasme peserta sangat tinggi. Mereka hanya dikenakan biaya pendaftaran Rp 150 ribu untuk peserta dewasa dan Rp 100 ribu untuk peserta anak-anak,” kata Patra.

Festival Layang-Layang Bali ke-37 oleh Pelangi Bali merupakan awal dari serangkaian lomba layang-layang di Pulau Dewata. Ada setidaknya 14 lomba serupa yang digelar di berbagai lokasi, seperti di Mertasari, Penatih, Ungasan, Tabanan, dan Belega. Puncaknya pada 23-25 Oktober mendatang akan digelar International Bali Kite Festival 2015 di Sanur. Jangan sampai ketinggalan ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s