A Note to Fairy: 1. Berlayar ke Pontianak

Juni 2007 @Tangkaran Himakova

Sekelompok mahasiswa baru saja selesai rapat anggota ketiga membahas rencana ekspedisi tahunan, Studi Konservasi Lingkungan (Surili) 2007 di Kalimantan Barat. Tepat pukul 23.00 WIB, pertemuan yang diikuti 50 orang anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata (Himakova) Institut Pertanian Bogor (IPB) itu berakhir.

Suasana tangkaran masih ramai, meski hampir tengah malam. Kantor sekretariat Himakova tepat berada di samping Laboratorium Konservasi Tumbuhan. Tempat ini tak pernah sepi setiap harinya. Beberapa mahasiswa bahkan rela menginap di sana sampai pagi. 

“Tim pendahulu berangkat satu minggu lebih cepat dari tim ekspedisi. Sesuai hasil rapat tadi, lu bakal nge-handle tim pendahulu. Lu siap kan, Dar?” tanya Argon yang saat itu menjabat sebagai ketua tim ekspedisi.

Daru yang masih asik membolak-balik catatannya mengangguk pelan.

“Tapi Gon, melibatkan dua cewek sebagai tim pendahulu apa gak bisa dibatalin? Ekspedisi di lapangan yang bakal makan waktu tiga minggu aja udah berat banget buat mereka. Gue khawatir, kalo Fay dan Mitha gabung satu minggu lebih cepat, fisik mereka bakal down di lapangan,” balas Daru.

“Sorry, gue nyela kalian berdua. Menurut gue, Fay itu kuat kok. Lu aja Dar yang terlalu khawatir,” Tia yang merupakan sekretaris Surili 2007 datang menghampiri Argon dan Daru sembari menyodorkan selembar surat dari sponsor.

Daru menoleh ke arah Tia dan menutup buku catatannya.

“Kalo gini gimana? Mitha berangkat, Fay diganti sama Wira atau Dira. Mitha kan anak KPG. Fisiknya udah terlatih keluar masuk gua dan medan berat.”

”Aku gak bakal jadi beban di tim,” Daru tak menyadari sedari tadi Fairy rupanya mendengar percakapan mereka.

Gadis itu muncul dari samping tangkaran. Argon dan Tia ikut kaget dengan kehadiran Fairy.

“Tuh, lu dengar sendiri dari orangnya. Gue gak mungkin salah rekomendasiin Fay buat berangkat bareng lu,” ujar Argon meyakinkan.

“Fay, kamu tahu kan? Tim pendahulu berangkat lebih cepat ke Pontianak naik kapal. Anggaran transportasi untuk mengangkut puluhan mahasiswa di ekspedisi kali ini bakal membengkak kalo semuanya naik pesawat. Kita bakal naik kapal tiga hari. Kamu yakin?” tanya Daru pada Fay.

“Aku udah pernah naik kapal ke Kalimantan, dulu pas SMP,” potong Fairy.

“Itu kan dulu. Kalo sekarang…”

“Kalo aku ikut, aku yakin bisa berkontribusi. Aku pernah tinggal di Pontianak. Setidaknya, aku bisa bantu kalian mencari penginapan murah, akses transportasi, dan komunikasi tim lebih terjamin,” potong Fairy.

Mendapati kerasnya hati Fairy, Daru pun menyerah.

“Kamu ini keras kepala. Ya sudah kalo gitu,” ucap Daru.

Thanks,” jawab Fairy tersenyum.

Fairy Nurulia, 18 tahun. Usianya masih terbilang muda sebagai mahasiswa semester lima di Fakultas Kehutanan IPB. Perawakan gadis berdarah campuran Minang dan Jawa ini tinggi, sekitar 163 cm. Rambutnya panjang, berponi, dan selalu diikat ekor kuda. Gadis yang akran disapa Fay ini sangat suka mengenakan pakaian dan pernak pernik serba hijau, membuatnya dijuluki the Greeny. Dia juga suka menulis dan cukup rutin memperbaharui blognya, Ceritaperi.

Fairy sedikit keras kepala, selalu berusaha mendapatkan apapun yang diinginkan. Sifatnya yang satu ini terkadang membuat jengkel teman-teman kampusnya. Meski keras, Fairy disenangi karena selalu bertanggung jawab dengan ucapannya.

Daru kembali menyalakan laptopnya, mendata segala hal terkait persiapan keberangkatan tim pendahulu minggu depan, khususnya daftar alat dan perlengkapan survei. Fairy datang menghampiri, duduk persis di samping Daru. Ia tersenyum melihat penampilan sahabatnya yang lumayan acak-acakan malam itu.

Daru mulai terlihat gondrong. Rambut halus bermunculan di kedua pipi dan dagunya. Kegiatan Daru sangat padat seminggu terakhir mengurus persiapan final eksternal tim, khususnya bolak balik Gedung Manggala Wana Bhakti, Kementerian Kehutanan, untuk mengurusi perizinan masuk kawasan konservasi. Daru juga intensif berkomunikasi dengan pihak Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) yang menjadi tujuan ekspedisi mereka.

“Kamu gak pulang? Udah jam 12,” ujar Daru pada Fairy sambil tetap berkonsentrasi pada ketikannya.

“Aku nemenin kamu aja di sini. Aku bisa bantu kamu apa?”

“Kamu pulang aja Fay. Besok pagi ada praktikum Manajemen Hutan. Aku mau nginap di tangkaran.”

Daru kemudian memanggil Mitha supaya mengajak Fairy pulang. Rumah kos keduanya kebetulan berdekatan. Mitha yang sempat tidur ayam terbangun mendengar panggilan Daru.

“Fay, ayo pulang. Gue udah ngantuk nih. Gue gak mau tidur di tangkaran,” Mitha kemudian menguap.

Fairy kemudian berdiri menghampiri Mitha.

“Oke deh, aku pulang aja. Sampai ketemu besok ya?”

Percakapan di tangkaran pun berakhir.

1 Juli 2007 @ Pelabuhan Tanjung Priok

Mobil Poe melaju mengantarkan tim pendahulu Himakova dari Kampus IPB Darmaga, Bogor. Mereka akhirnya sampai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara setelah empat jam perjalanan yang dibumbui macet juga hujan. Tim pendahulu yang beranggotakan Daru, Oji, Arif, Mitha, dan Fairy bergegas menaiki Kapal Motor (KM) Farina Nusantara yang akan berlayar membawa mereka ke Pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat.

“Hati-hati ya guys,” teriak Poe yang di parkiran pelabuhan.

Thanks, Poe. Sampai ketemu seminggu lagi di Pontianak,” balas Daru.

Daru dan teman-temannya menginap di kabin kelas II. Tempat tidurnya kecil, bertingkat. Tiga deret kasur paling bawah ditempati Oji, Arif, dan Daru. Mitha tidur di atas dipan kasur yang di bawahnya ada Oji, sedangkan Fairy tidur di atas dipan kasur yang di bawahnya ada Arif. Dipan kasur Daru, di bagian atasnya sengaja dibiarkan kosong untuk menaruh barang-barang tim.

Kapal mulai berlayar pukul 20.00 WIB. Dari kaca bulat di kabinnya, Fairy melihat KM Farina Nusantara bergerak menjauhi dermaga. Laut malam itu terasa cukup bersahabat. Hingga pukul 22.00 WIB, lampu-lampu di daratan masih terlihat dari kapal.

Fairy memandang ke bawah dari posisinya sekarang. Dia melihat Daru tertidur lelap di malam pertama pelayarannya. Laki-laki itu terlihat tenang sekali. Fairy bahkan rela melawan kantuknya sendiri agar tak melewatkan pemandangan indah itu.

Saat Daru membuat gerakan dalam tidurnya, seketika Fairy berhenti menatapnya. Gadis itu lalu membalikkan badannya berpura-pura tidur. Fairy takut jika Daru tersadar dan melihatnya belum tidur. Saat Daru berhenti membuat gerakan, Fairy kembali memandangi wajah pria yang sangat ia kagumi itu hingga pagi menjelang.

2 Juli 2007 @ KM Farina Nusantara

Sore itu hari kedua di KM Farina Nusantara. Sekitar pukul 16.00 WIB, Daru baru saja selesai menunaikan Shalat Ashar di mushala kapal. Saat kembali ke kabin, ia tak mendapati Fairy di tempat tidurnya.

Arif tengah berbaring di kasurnya sambil membaca komik One Piece yang sengaja dibawanya dari Bogor. Oji sepertinya tertidur lelap. Anak yang satu itu memang mempunyai jam tidur terbalik. Sejak aktif di Kelompok Pemerhati Herpetofauna. Oji terbiasa tak tidur malam. Oji seringkali melakukan penelitian dimalam hari, sedangkan siang hari menjadi waktu istirahatnya.

Sasmitha yang ada di atas Oji terlihat bersenandung kecil mendengarkan lagu-lagu dari headset MP3 miliknya. Daru kemudian mencolek kaki Sasmitha. Gadis itu menoleh ke arahnya.

“Fay mana, Mith?” tanyanya.

Sasmitha membuka headset-nya.

“Perutnya mual. Katanya mau ke anjungan kapal cari angin, biar lega.”

“Sendirian”

“Tadi gue udah bilang mau nemenin dia. Tapi, Fay bilang dia mau sendiri, sekalian mau lihat sunset katanya,” Sasmitha kemudian menyalakan lagi musiknya.

Daru kemudian mengambil sebotol air mineral dan obat masuk angin sachet dari kotak P3K yang dibawanya. “Rif, gue ke anjungan atas nyusul Fay,” ujar Daru tiba-tiba.

Arif menurunkan komik yang sedari tadi menutupi kepalanya. Ia mengangguk saat melihat ke arah Daru.

Setelah menaiki beberapa tangga kapal menuju ke anjungan atas, Daru melewati lantai dekat cerobong asap (smokestack). Usai menaiki dua anak tangga berikutnya, ia sampai di lapangan atas kapal yang tepat berdekatan dengan anjungan. Di sana, banyak orang berkumpul sekadar menghirup udara segar, merokok, atau menikmati pemandangan laut.

Daru mencoba mencari sosok Fairy di antara mereka. Akhirnya, ia menemukan gadis itu duduk di sebuah pelataran bangku biru yang berada di sisi kiri lantai anjungan.

Fairy mengenakan baju merah panjang dan memakai jaket buntung berwarna abu-abu. Sebuah binokuler yang selalu menjadi sahabat setianya melingkar di lehernya. Fairy memangku tas eiger mininya yang berbentuk segi empat, tempatnya menaruh barang-barang berharga, seperti ponsel, dompet, dan kompas.

Gadis itu terlihat mematung. Kedua lengannya disandarkan pada pagar kapal, dagunya ditaruh di atas telapak tangannya. Matanya tertuju ke laut lepas, entah mengawasi apa di depan sana.

Daru memilih setia mengamati Fairy dari jarak yang cukup dekat, tiga meter di belakang gadis itu. Ia baru bereaksi ketika tak lama setelahnya, Fairy mengeluarkan kantung mabuk udara dari dalam tasnya. Gadis itu memperlihatkan gelagat ingin muntah.

Daru kemudian mempercepat langkahnya menghampiri Fairy. Ia kemudian mengelus tengkuk belakang leher Fairy. Gadis itu sempat kaget dan menoleh ke belakang. Reaksinya kemudian normal setelah mengetahui yang melakukan itu adalah Daru.

“Gelombang laut semalam cukup tinggi. Ombaknya terasa banget dari dalam kapal. Perut aku mual,” ujar Fairy.

“Nggak apa-apa, kalo kamu mau muntah, muntah aja,” sahut Daru.

Daru kemudian menyodorkan obat masuk angin cair ke arah Fairy. Gadis itu langsung meminumnya.

“Semalam kamu nggak tidur? Mungkin, itu juga yang menyebabkan kamu masuk angin.”

“Aku tidur nyenyak kok,” jawab Fairy berbohong.

Fairy memang tak tidur sama sekali. Semalam suntuk dia habiskan untuk memandangi wajah lelap pria yang kini tengah duduk di sampingnya.

Senja terlihat mulai memerah. Padahal, jam tangan Fairy masih menunjukkan pukul 17.00 WIB Fairy merebahkan kepalanya di bahu Daru. Angin laut sore berhembus menyejukkan saat menerpa wajah mereka. Dua sahabat itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Selama beberapa menit, keduanya diam tanpa kata.

“Dar?”

“Ya?”

“Kurasa aku jatuh cinta sama kamu.”

Fairy mencoba mengatur napas agar ia tak mati lemas seketika. Suasana senja itu sukses memancingnya mengungkapkan semua perasaan yang ia simpan selama 2,5 tahun terakhir untuk Daru. Ia sempat ingin kabur dari anjungan seketika itu juga, setelah menyadari apa yang baru saja diutarakannya.

Fairy merasakan gerakan bahu Daru naik turun. Pria itu menarik dan menghembuskan napasnya. Itu dirasakan Fairy ketika kepalanya masih bersandar di bahu Daru. Gadis itu kemudian mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap wajah Daru.
Daru masih terdiam merenungi pengakuan Fairy barusan.

“Fay, kurasa aku akan menganggap tak mendengar ucapanmu barusan” Daru menjawab dengan nada datar tanpa berpikir bawah ucapannya itu menyakiti lawan bicaranya.

Fairy tersentak mendengarkan reaksi sedingin itu dari Daru. Daru pun tak tahu betapa hati gadis yang duduk di sampingnya itu kini berdentum menyakitkan.

“Aku nggak bercanda. Aku nggak berniat main-main dengan perkataanku. Itu yang aku rasakan sama kamu,” suara Fairy terdengar bergetar seperti dadu yang sedang dikocok hebat.

“For now, I don’t even think I have time for those kind of feeling,” suara Daru dingin.

Fairy lalu membuang pandangannya ke depan.

“I see, aku bisa lihat kamu masih berharap Sila menerima cinta kamu kan?”

“It’s so complicated, Fay. Nggak ada hubungannya dengan Sila. Aku nggak memaksa kamu mengerti, tapi setidaknya kami bisa menghargai keputusanku.”

Fairy kembali terdiam. Daru kemudian mencoba mencairkan suasana.

“Fay, I like how things we are now. Aku mohon kita tetap seperti biasa. Saat ini, kita sedang mengemban amanat kampus. Please, sementara ini jangan membahas masalah apapun selain soal ekspedisi tahunan ini. Kamu udah janji nggak bakal merepotkan aku kan?” pinta Daru.

Tanpa mereka sadari, matahari telah hilang ditelan lautan. Fairy bangun dari posisi duduknya, menyandarkan kedua lengannya ke pagar, menikmati sisa-sisa sunset yang ternyata telah dilewatkannya begitu saja. Ia lalu berbalik menghadap Daru yang masih duduk terpaku.

“Entah lah Dar, setan apa yang memancingku barusan. Maafkan aku. Aku janji nggak akan menambah beban pikiran kamu selama ekspedisi ini,” jawab Fairy sambil kembali tersenyum.

Malam yang semakin gelap ternyata tak mampu menghalangi senyum gadis penuh semangat ini. Daru merasa energinya kembai dipompa penuh seketika saat mendapati Fairy mau memahami permintaannya.

“That’s Fairy,” sahutnya.

Besok adalah pelayaran terakhir mereka. Jika tak ada halangan berarti, KM Farina Nusantara akan berlabuh di Dermaga Pontianak sekitar pukul 19.00 WIB. Fairy terlelap tidur dengan headset MP3 dikedua telinganya. Pada malam kedua itu, ia tak kuat lagi menahan rasa kantuknya yang sudah teramat dalam. Lagu-lagu recycle MYMP mengalun menjadi teman pengantar tidurnya.

Don’t you know that I want to be more than just your friend
Holding hands is fine
But, I’ve got better things on my mind
You know it could happen if you’d only see me in a different light
Maybe when we finally get together
You will see that I was right
Say you love me
You know that it could be nice
If you’d only say you love me
Don’t treat me like I was ice

(Say You Love Me – MYMP)

Sepanjang malam, dari kasurnya di bawah, Daru mengamati wajah Fairy yang tidur lelap di kasur atas, tepat di atas Arif. Ia tak percaya apa yang baru saja ia dengarkan dari mulut sahabatnya sore tadi.

Daru terdiam mengamati wajah Fairy. Baru kali ini dia melihat wajah Fairy setenang itu. Wajah tidurnya kali ini benar-benar damai. Daru ingin menyentuhnya. Apa yang kamu pikirkan, Fay? Maafkan aku, Daru membatin.

Fairy kemudian terlihat mengubah posisi tidurnya, memunggungi Daru. Gadis itu berubah menjadi resah dalam tidurnya. Otak Daru bertanya-tanya, apakah dirinya juga yang menganggu ketenangan Fairy hingga ke dalam mimpi gadis itu? Wajah Daru perlahan menyusup ke dalam selimutnya, namun tetap dengan mata terbuka. Pikirannya menerawang entah kemana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s