A Note to Fairy: 11. Sepiring Cinta di Seulawah

Sabtu malam ini adalah sepekan usia pacaran Genta dan Fairy dan ini sekaligus menjadi malam minggu pertama mereka berdua. Sepulang kerja, Genta langsung menjemput Fairy ke Suropati dan langsung membawa gadisnya itu menuju area kuliner Bendungan Hilir (Benhil). Restoran Seulawah menjadi pilihan Fairy untuk makan malam karena gadis itu sangat menyukai mi aceh. Di sana, aneka hidangan khas Aceh bisa mereka nikmati.

“Ada liputan seru apa Fay?” tanya mereka berdua ketika menikmati mi aceh special.

“Nggak banyak, biasa aja. Kamu sendiri Ta?”

“Aku dan dua orang temanku ke Bogor kemarin lusa. Ada pendampingan community development di Jasinga,” ujar Genta mengawali cerita dan berhenti sejenak untuk menyeruput jus jeruknya. 

“Pesertanya ada dari Papua, Ambon, juga Aceh. Banyak cerita seru perwakilan masing-masing daerah tentang pemberdayaan masyarakat hutan di wilayahnya. Aku sempat ngobrol dengan rekan-rekan dari Papua. Ada rimbawan alumnus Universitas Cendrawasih. Eh, semalam sampai rumah jam berapa?”

“Semalam akhirnya aku nggak jadi pulang Ta, kemalaman. Jadi aku nginap di rumah Nira aja. Dia teman sekantorku yang juga liputan di ekonomi. Maaf ya Ta? Aku semalam nggak ngabarin, kamu juga pasti udah tidur. Trus ceritanya paginya aku bangun, Nira masih tidur, tiba-tiba aku pengen sepedaan ke Komplek Deptan. Pulangnya, iseng-iseng aku jalan ke Ragunan. Aku sarapan nasi pecel di sana. Pas pulang, aku dimarahin Nira karena nggak ngajak dia.” Fairy tertawa mengakhiri ceritanya.

“Apa kabar Om Gajah, Paman Gorila, dan Sepupu Monyet kamu?” Genta tertawa seketika sambil meneruskan suapan makanannya.

Fairy melambaikan sendoknya ke arah Genta. “Dasar nakal! Kok om, paman, dan sepupu aku sama ama gajah, gorila, dan monyet sih?”

Tiba-tiba tangan Genta menghampiri wajah Fairy. Ia menghapus sudut bibir Fairy yang ternyata menyisakan sedikit noda bekas mi aceh yang sedang disantapnya. Fairy sedikit terperanjat. Ia merasa ada lonceng yang berdentang-dentang di hatinya. Persis seperti alarm kebakaran yang sering berbunyi tanpa sebab di kantornya.

Fairy merasa pasti Tuhan mengatur hidupnya sedemikian rupa sehingga bertemu dengan Genta. Fairy meyakinkah dirinya sendiri bahwa Genta cukup sempurna menjadi awal yang baru bagi hatinya.

“Thanks,” komentar Fairy singkat.

Genta tersenyum. “Di Bogor, dulu kamu kuliah dimana?” tanya Genta.

“IPB.”

“Oh ya? Fakultas apa?”

“Kehutanan,” jawab Fairy.

Genta terkejut dengan jawaban kekasihnya itu. Ia kemudian terdiam sejenak. Genta baru tersadar ketika Fairy menggoyangkan tangan ke arah wajahnya.

“Genta, kamu kenapa?”

“Eh, maaf. Kehutanan? Kok bisa nyasar jadi jurnalis? Aku pikir kamu kuliah di Komunikasi. IPB ada jurusan itu kan?”

“Life begins at the end of your comfort zone. Punya pekerjaan jadi jurnalis yang sama sekali jauh menyimpang dari ilmu yang aku pelajari dulu bikin aku semakin semangat buat buktiin kalo tanpa kuliah jurnalistik atau komunikasi sekali pun, aku tetap bisa unggul di pekerjaan ini,” ujar Fairy.

Genta tersenyum kagum kepada kekasihnya itu.

“Iya Fay. Tapi, apa kamu nggak minat kerja di Kementerian Kehutanan, staf ahli konservasi di perusahaan perkebunan besar atau industri kehutanan? Atau bekerja di NGO seperti aku?”

Fairy tersenyum. “Aku sempat diterima bekerja di beberapa NGO asing di Riau dan Kalimantan. Tapi, karena satu alasan, aku menolaknya sewaktu itu. Aku cuma ingin bekerja di Jabodetabek. Aku sempat kok nyobain ikut tes di Kementerian Kehutanan, tapi nggak lulus. Suatu hari, aku kirim lamaran ke Indonesia Daily. Waktu itu kupikir nggak ada salahnya aku ngelamar jadi reporter. Diwaktu yang sama, aku juga kirim lamaran ke International Animal Rescue (IAR) di Bogor.”

“Hasilnya?”

Fairy menelan suapan mi acehnya kesekian kali, kemudian kembali menyambung ceritanya. “Aku jalani proses lamaran keduanya. Waktu itu aku berniat siapapun yang lebih dulu menerimaku, aku akan kerja di sana. And finally? Indonesia Daily menghubungiku lebih dulu., sekitar dua jam sebelum IAR juga mengabarkan bahwa aku diterima bekerja di sana. As my promised, aku pilih Jakarta.”

“Kamu ini milih kerjaan seperti ngocok dadu,” timpal Genta.

Fairy tertawa lepas mendengar ucapan Genta sekaligus melihat tampang serius di wajah kekasihnya itu. Sekitar pukul 21.30 WIB, keduanya meninggalkan Seulawah. Sayangnya, langkah keduanya malam itu terhenti oleh hujan dan mereka berdiri di teras restoran.

“Hujan Fay. Kamu tunggu di sini ya? Aku ke parkiran ambil mobil dulu.”

Fairy menggeleng, “Nggak apa-apa, kita ke parkiran bareng.”

“Nggak, kamu tunggu di sini aja. Nanti baju kamu basah, sebentar ya?”

“Nggak apa-apa, ayo,” Fairy langsung melangkah lebih dulu.

Genta yang awalnya terlihat ragu kemudian meraih tangan Fairy. Ia menggenggam erat tangan kekasihnya itu dan berlari kecil memimpin di depan. Fairy pun mengikuti tuntunan Genta menuju mobil yang terparkir 100 m dari Restoran Seulawah. Akhirnya, keduanya berada di dalam mobil, menyaksikan hujan yang semakin deras. Butiran airnya menutupi sempurna kaca mobil Genta.

“Fay, boleh aku tanya sesuatu?”

Fairy menoleh ke arah Genta. “Ya? Kamu mau tanya apa Ta?”

“Kejadian di Sabang waktu itu. Maaf Fay, mengapa aku berpikir jawabanmu sangat berat waktu itu? Kamu bertanya berapa banyak yang aku tahu tentang kamu. Aku ingin semuanya tahu tentang kamu, termasuk semua masa lalumu yang mungkin ke depannya sedikit banyaknya akan terbawa dalam hubungan kita. Aku ingin mengenal kamu lebih dekat. Mulai sekarang aku pun berjanj mencoba terbuka sama kamu.”

Fairy masih setia melihat butiran air hujan yang jatuh bergantian menimpa kaca mobil Genta. Suara lirih perlahan terdengar dari bibirnya.

“Sejak kuliah hingga lulus dan bekerja dulu aku punya sahabat, namanya Daru. Dia baik. he really treats me as someone important. But, that kindness, is it really true love? I wonder. Karena akhirnya dia memutuskan pergi ninggalin aku.”

Fairy menyandarkan kepalanya ke kursi mobil dan menghela napas pendek sebelum melanjutkan ceritanya.

“Posisiku ini lebih sulit dibandingkan mereka yang sudah lebih dari sekali menjalani hubungan cinta biasa. Aku nggak biasa jatuh cinta, nggak siap untuk sakit hati. Sejak pisah dengannya, I don’t care about love anymore. Saat aku memutukan menjalani hubungan kita, jujur, awalnya aku nggak yakin. I don’t want to go back to feeling that way.”

Genta kembali menggenggam tangan Fairy. “Next time, it maybe different, we never know. Jangan pernah lari lagi Fay. Let we move, together”

”Yes, but moving forward is not such an easy task Ta.”

“I will stay by your side. Promise. Aku akan bikin kamu bahagia, selama itu pula kamu bisa menggabungkan kesedihanmu dengan kebahagiaanku. Rasa sakit itu sedikit demi sedikit akan berkurang. Then, it’s fine for me.”

Tangan Genta meraih tangan Fairy. Ia menggenggam lalu mencium tangan lembut itu. Hujan beberapa menit lalu akhirnya berhenti. Seolah tak ingin terus menangis untuk Fairy. Kini, satu per satu bintang mulai berani menampakkan diri. Genta tersenyum memandang lekat Fairy yang merebahkan kepalanya di bahu kirinya. Genta menyentuh pipi Fairy yang hangat dengan lembut.

“Fay, kita pulang sekarang ya?”

“Iya,” gumaman pelan meluncur dari bibir Fairy. Hatinya terasa sangat hangat mendengar penuturan Genta tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s