A Note to Fairy: 12. Untold Story

“Cinta itu memiliki dua wajah, suka dan duka. Kesedihan itu bisa menjadi wajah dari kebahagiaan. Meski keduanya bertentangan, namun perbedaannya hanya setipis kertas. Terkadang, ada harga yang harus dibayarkan oleh kebahagiaan kepada kesedihan, pun sebaliknya. Begitulah hidup, terus bergerak hingga mencapai sebuah keseimbangan.”

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Daru masih belum meniup lilin ulang tahun ke-17 miliknya pada 17 Juni 2005 itu. Padahal, lilin-lilin itu telah menghiasi cake blackforest yang telah disiapkan ibunya di meja. Dengan sabar, dia menunggu kehadiran ayahnya, hingga tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk. Dari menerima kabar ayahnya mengalami kecelakaan saat menumpangi sebuah pesawat perintis menuju Samarinda, Kalimantan Tengah. 

Hartadi Prayoga, ayah Daru, adalah seorang direktur utama perusahaan industri pulp dan kertas, serta kayu bulat di Kalimantan Tengah. Hartadi juga memiliki sejumlah lahan konsesi untuk hutan tanaman industri di Kalimantan Timur. Sebagai pimpinan, Hartadi terbiasa bolak-balik Samarinda-Jakarta-Bogor dua kali sebulan.

Sang Ayah memimpikan Daru kuliah di Fakultas Kehutanan IPB, kampus dimana ayahnya juga meraih gelar sarjana dulu. Hutan tak sekadar tempat mengembangkan informasi genetik dan ilmu pengetahuan. Hutan juga memberikan kenyamanan bagi ruang hidup manusia, serta menopang perekonomian bangsa. Menjadi seorang rimbawan berarti harus bisa menyelaraskan semua kepentingan itu.

Demikian pandangan Sang Ayah yang pernah diutarakan kepada Daru. Ia menaruh harapan besar putranya itu bisa menjadi penerusnya, menjadi seorang pengusaha yang bergerak di sektor kehutanan, sekaligus menjadi pelindung bagi hutan itu sendiri. Dihari ulang tahunnya itu, Daru sebetulnya ingin mengabarkan ayahnya bahwa dia lulus sesuai harapan. Sayangnya, Sang Ayah tak bisa mendengarkannya langsung.

May Roza, ibu Daru, tampaknya tak kuat menerima kenyataan pahit tentang suaminya. Kondisi kesehatannya terus menurun. Bahkan, enam bulan kemudian, May akhirnya terpaksa dirawat di Rumah Sakit Jiwa dr H Marzoeki Mahdi (RSMM) Bogor akibat depresi berat.

Di rumah sakit itu, Daru pertama kalinya bertemu dengan Sila Mahenda Dara. Gadis itu usianya dua tahun di atas Daru. Saat itu, Daru menjadi mahasiswa tingkat pertama IPB. Sementara Sila merupakan mahasiswi tahun ketiga di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Daru bertemu Sila saat gadis itu tengah menjalani praktik kuliah. Mahasiswa yang mengambil profesi khusus dibidang Ilmu Kesehatan Jiwa UI ini memilih praktik di Bogor karena rumahnya juga berada di Kota Hujan itu.

“Selamat siang. Mas ini keluarga Ibu May?” tanya Sila tiba-tiba ketika Daru sedang menyuapkan makan siang untuk ibunya disalah satu sisi taman RSMM.

“Anda dokter?” Daru mencoba mengingat-ingat nama wanita muda berpakaian putih dan berkalung stetoskop yang kini menyapanya itu. Hingga akhirnya Daru yakin mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Sila tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Saya bukan dokter, mas. Maksudnya, belum jadi dokter. Saya Sila, mahasiswi Fakultas Kedokteran UI yang sedang praktik di rumah sakit ini,” keduanya kemudian berjabat tangan.

Senyum Sila waktu itu ternyata mampu menimbulkan pendar-pendar cahaya di hati Daru.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Desember 2005

Sila tengah berbincang dengan salah satu dokter di RSMM, tak jauh dari kamar ibu Daru dirawat. Keduanya terlihat tengah terlibat pembicaraan serius.

“Mengapa kamu memilih topik yang sesederhana itu? Kamu tidak tertarik mencari topik lain yang cakupannya lebih luas?” tanya Dokter Agung yang berperawakan tinggi, berambut putih merata, dan berkacamata bundar itu. Dokter Agung sekaligus menjadi penasihat (advisor) praktik Sila di RSMM.

“Saya ingin fokus cakupannya keluarga dan masyarakat Pak. Menurut saya, selama ini penderita gangguan kesehatan jiwa hanya bergantung pada penanganan berbasis rumah sakit. Padahal, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia semakin tinggi, namun tak diimbangi penambahan jumlah rumah sakit penampung. Inilah yang kemudian menyebabkan di beberapa daerah sering kita temui kejadian dimana pasien penderita gangguan jiwa lebih banyak dipasung dan dikurung daripada menjalani perawatan hingga penyembuhan di rumah sakit jiwa. Ada kesalahan merespon yang dilakukan masyarakat kita pada umumnya.” Sila memaparkan padangannya dan Dokter Agung mendengarkan dengan seksama.

“Yang saya lihat, interaksi pasien dengan anggota keluarga terdekat secara intensif berkontribusi besar menurunkan angka penderita gangguan kesehatan jiwa di negara ini. Kepekaan sosial masyarakat perkotaan, khususnya Jakarta saat ini, menurut saya sudah kian tergerus. Saya bermaksud ingin membudayakan anggota keluarga untuk lebih peduli atas kesehatan jiwa anggota keluarganya. Tak cukup, mereka hanya menyerahkan keluarganya yang menderita gangguan jiwa ke rumah sakit jiwa dan membiarkan penyembuhannya begitu saja.”

“Kesibukan bekerja menjadi alasan utama. anggota keluarga terkadang lalai dengan keluarganya yang menderita gangguan jiwa. Di sisi lain, saya melihat untuk menurunkan angka penderita gangguan jiwa juga dapat menggunakan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas. Dimana, masyarakat di luar anggota keluarga diajak ikut mengambil peran penting dalam penyembuhan pasien. Masyarakat luas perlu diupgrade pengetahuannya mengenai gangguan kejiwaan. Input akhirnya, rumah sakit tak sekadar jadi solusi akhir penyembuhan pasien,” Dokter Agung mengangguk tanda mengerti.

Di tempat lain, Daru tengah mengebut sepeda motornya menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Wajahnya terlihat was-was dan panik. Kuliah dan praktikum Kimia Kayu diperpanjang 30 menit membuatnya sedikit terlambat mengunjungi ibunya.

Setahun berlalu. Tiga kali seminggu, setiap Rabu, Sabtu, dan Minggu, tak pernah dilewatkan Daru untuk menemani ibunya makan siang. Dihari lainnya, Bi Atun, pembantunya, akan bergantian menemani ibunya. Setiap hari, setelah menyiapkan sarapan pagi untuk Daru, maka Bi Atun akan menghabiskan kesehariannya di rumah sakit menemani majikannya.

Setelah memarkir motornya, Daru langsung berlari melewati pelataran RSMM yang mulai ramai. Di beberapa titik, dia melihat seorang suami sedang menyuapkan istrinya makan siang. Ada juga pasangan kakek nenek yang terlihat mengunjungi cucunya. Daru melintasi semua pemandangan itu sambil menenteng kotak makan siang yang sudah disiapkan Bi Atun.

Saat hampir mencapai pintu kamar ibunya, Daru memelankan langkah. Tepat di bagian pintu kamar, dia melihat ibunya duduk termenung menghadap ke jendela. Ibu Daru tersenyum manis. Namun, air mata tetap mengalir dari kedua bola matanya. Daru juga memperhatikan rambut ibunya sudah semakin panjang, beberapa helainya bahkan mulai memutih. Wajah wanita itu terlihat lebih tua dari usianya. Perlahan air mata menetes dari wajah Daru.

Daru kemudian merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang. Saat menoleh, ia melihat Sila tersenyum ke arahnya.

“Kamu telat. Hari ini, ibu kamu sudah makan siang.”

“Sudah makan? Bagaimana bisa?”

“Tadi aku yang suapin ibu,” jawab Sila.

Dahi Daru sedikit mengernyit. Ia awalnya tak percaya pada perkataan Sila. Pasalnya, selama ini, ibu Daru tak ingin disuapi siapapun kecuali oleh Daru dan Bi Atun. Sedangkan Bi Atun tak mungkin datang ke rumah sakit karena hari ini adalah jadwal kedatangan Daru.

“Ibu mau disuapi sama kamu?” Daru memasang lagi tampang wajah tak percaya.

Sila mengangguk bersemangat. “Iya, aku senang. Akhirnya Ibu May mau aku suapi.”

Sila kemudian ikut mengintip ibu Daru dari kaca kamar di depannya.

“Dar, sebaiknya kamu jangan temui ibu kamu dulu. Ibu kelihatannya sedang menikmati ketenangannya. Kita ke taman belakang yuk? Kamu nggak keberatan kalo jatah makan siang buat ibu kamu itu untukku saja?” tanya Sila sembari bertanya.

Daru tertawa kecil. Keduanya kemudian berjalan beriringan ke taman belakang rumah sakit. Pada salah satu bangku yang terbuat dari besi tipis, keduanya duduk bersebelahan. Sila menyunggingkan senyum saat membuka kotak makan siang itu. Bi Atun memasakkan menu ikan kakap asam manis kesukaan ibu Daru yang ternyata juga disukai Sila. Gadis itu menikmati makanannya dengan lahap.

“Entah sampai kapan aku bisa mendapati lagi ibuku yang dulu,” ujar Daru menatap kosong ke depan.

“Dar, doa dan kesabaran bisa mengalahkan segalanya. I’m sure, you will start all over again and smile.”

“Dulu sewaktu aku masih enam tahun, aku dan ayah pernah kecelakaan mobil ketika mengantarkanku ke sekolah. Sebelum pingsan, aku sempat melihat tangan dan kaki ayah terluka parah. Namun dia terus merangkul tubuhku sekuat tenaga dan berlari mencari pertolongan ke rumah sakit terdekat. Sesaat sebelum operasi, untuk menghilangkan ketakutanku, ayah dan ibu berjanji akan selalu ada di sampingku ketika aku bangun tidur. So many times I want to see them when I open my eyes. Aku kangen mereka.”

“Dar, kematian itu cuma akhir dari sebuah raga, bukan akhir dari kenangan, semangat, dan cinta. Kamu bisa menciptakan lagi kenangan itu, karena kamu pantas untuk bahagia.”

Tanpa sadar, Daru menjatuhkan kepalanya ke bahu Sila. Gadis itu menatap kasihan laki-laki di sampingnya itu. Sejak itu, dihati kecil Sila timbul keinginan untuk menemani Daru menuju kesembuhan ibunya.

“Tadi kamu lupa tidur waktu jam praktikum ya? Baiklah, kali ini kamu boleh pinjam bahuku,” candaan Sila membuat Daru tersenyum tipis dalam pejaman matanya.

Musibah yang menimpa keluarga Daru membuat Sila setia menghabiskan waktu luangnya di RSMM. Sampai-sampai, ia memutuskan untuk mengambil topik skripsi yang membahas pendalaman peran keluarga terhadap proses penyembuhan pasien yang mengalami gangguan jiwa. Sila menjadikan ibu Daru sebagai salah satu bahan penelitiannya yang sangat penting. Sedikit banyaknya, Sila mengikuti perkembangan kejiwaan ibu Daru selama dua tahun terakhir.

@Fairy: Kutil, bsk jgn lupa bawain modul aku y?

Usai membaca pesan singkat Fairy di ponselnya itu, Daru tersenyum. Ia kemudian membalasnya.

@Daru: Modul yg mana?

@Fairy: Saking banyaknya modul aku yg gak km balikin, km jadi bingung gtu. Wkwkwk. Modul alat ukur nonoptik dan optic untuk mata kuliah pemetaan hutan, Til. Minggu lalu km bawa kabur modul itu pas di tangkaran. Km lg ngapain? Dimana? Sm siapa?

Daru menyeruput jus semangka pesanannya. Ia kini sedang berada di Pisa Café Resto, Kompleks Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Beberapa jam sebelumnya, Daru menerima pesan singkat dari Sila yang bersedia bertemu dengannya pukul 20,00 WIB. Pukul 16.00 WIB, Daru langsung memacu sepeda motor Honda CBR 250 R miliknya dari Bogor.

@Daru: Oh, yg bapuk itu grin emoticon Km bawel amat ky Bi Atun. Hehee. Aku lg di Citos, mau ketemu Sila. Aku mau ungkapin smw perasaan aku sm dia. Doain aku berhasil kali ini ya?

@Fairy: Ooo, sip, gudlakh!

‘Kutilang’ alias ‘Kutil’ adalah sapaan khusus untuk Daru yang hanya diucapkan oleh satu orang saja di Kampus IPB, namanya Fairy Nurulia. Fairy adalah sahabat Daru sejak ia menjadi mahasiswa semester pertama di Departemen KSHE IPB. Kedekatan keduanya berawal dari acara masa perkenalan mahasiswa yang disebut ‘Gebyar KSHE.’ Daru dan Fairy merupakan teman satu kelompok. Selain mereka berdua ada Sasmitha, Pemi, Boni, Panji, Ajay, dan Wira.

Fakultas Kehutanan IPB mendapatkan julukan ‘Sarang Penyamun.’ Sebab, isinya didominasi mahasiswa laki-laki. Kelompok Daru misalnya, dari delapan orang anggota, hanya dua orang perempuan, yaitu Fairy dan Sasmitha.

Julukan ‘Kutilang’ disematkan Fairy karena keduanya selama satu semester penuh menjadi teman kelompok untuk mata kuliah Ekologi Satwaliar. Dalam sebuah tugas inventarisasi itu, Fairy dan Daru melakukan pengamatan dan menghitung populasi burung kutilang di Kampus IPB Darmaga. Burung kutilang sendiri merupakan jenis hewan liar yang populasinya terbanyak di areal kampus. Di setiap sudut, jenis burung herbivora ini hampir selalu bisa dijumpai.

Mata Daru berulang kali melirik ke arah jam dinding yang terpampang di cafe bernuansa Italia itu. Daru sedikit bersabar menunggu karena Sila baru berangkat dari Kampus UI Depok sekitar pukul 19.00 WIB. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Daru menambah pesanan es krim dan gelato khas Pisa Cafe.

Sesuai janji, Sila datang tepat pada waktunya. Daru melihat gadis yang disukainya itu berjalan di seberang sana. Namun, Sila ternyata tak sendiri, ada lelaki bersamanya. Beberapa saat, Daru memandangi keduanya bergerak semakin dekat dan terlihat bergandengan tangan, serta memakai cincin yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s