A Note to Fairy: 13. Jam Tangan Kenangan

Siang hari di kampus, Fairy mondar mandir tak sabar di depan tangga perpustakaan KSHE. Ia menunggu kedatangan Daru. Keduanya masih menjadi mahasiswa semester enam. Fairy dan Daru diwaktu itu mendapat tawaran Ibu Sesti Melani, dosen mereka, untuk menjadi asisten pendamping praktikum mata kuliah ‘Pendidikan Konservasi.’

Fairy mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nomor ketika suara motor Daru membuatnya sadar kemudian mengurungkan niatnya.

“Kamu telat lagi,” ujar Fairy.

“Sorry Fay, tadi aku dari rumah sakit, maaf.” 

“Kamu ketemu Sila lagi? Kamu gitu ya? Nggak bisa ngebedain mana yang lebih prioritas.”

“Udah stop, please. Aku nggak mau berdebat sekarang, nanti kita tambah telat. Ayo naik,” nada suara Daru sedikit lebih tinggi dari biasanya.

Masih dengan wajah emosi, Fairy akhirnya sudah berada di atas motor Daru. Pukul 11.30 WIB, di tengah teriknya matahari siang itu, keduanya berangkat ke Desa Tapos, di Kecamatan Tenjolaya.

Setelah 25 menit perjalanan, keduanya memasuki wilayah Cibatok, melewati Desa Cimayang, hingga mencapai Desa Tapos. Setelah total 45 menit perjalanan, Fairy dan Daru sampai di Balai Desa Tapos kemudian memarkir motornya. Awalnya, Fairy mengira balai desa itu adalah tujuan terakhir mereka. Ternyata tidak, keduanya masih harus menempuh jalan setapak yang mendaki hingga menurun selama 15 menit perjalanan.

Gagan, salah satu praktikan Fairy menyambut mereka di pintu masuk Kampung Tapos.

“Lokasinya di atas Kak,” kata Gagan menunjukkan arah dengan jari telunjuknya.

Fairy mencoba melihat ke sekelilingnya. Kampung Tapos dikelilingi oleh hutan yang menghijau.

“Kok sepertinya desa ini sudah berada di dalam kawasan Taman Nasional ya Gan?” tanya Fairy.

“Iya Kak. Menurut informasi, setelah dilakukan perluasan taman nasional, desa ini sebenarnya sudah berada di dalam kawasan terlarang. Namun, karena masyarakatnya sudah ada terlebih dahulu, maka sampai sekarang mereka relatif aman tinggal di desa ini,” ujar Gagan yang mengarahkan jalan keduanya menuju lokasi praktikum.

Setelah 15 menit berjalan kaki, mereka sampai di lokasi yang dimaksud. Gagan dan rekan-rekan sekelompoknya siap melakukan praktikum di sebuah bangunan darurat yang keadaannya sangat memprihatinkan. Namun Gagan menyebut bangunan darurat itu adalah gedung sekolah.

“Bangunan reot ini nggak layak disebut sekolah,” ujar Daru.

Gubuk itu terbuat dari anyaman bambu, hanya terdiri dari satu ruangan berlapis dinding bambu yang dibagian belakangnya sudah bolong. Gubuk itu berlantaikan tanah. bangku-bangku serta meja belajar di dalamnya sudah banyak yang patah.

“Wilujeung ibu, bapak,” sapa seorang bapak yang datang bersama Gagan. Gagan memperkenalkan Bapak Sapri, ketua RT setempat.

“Saya dengar sekolah ini bapak yang mendirikannya?” tanya Daru.

“Muhun, Pak. Nama sekolah ini SD Sinar Wangi. Sekolah ini hanya terdiri 30 orang siswa,” jelas Pak Sapri.

Di ruangan kelas itu, mereka duduk sambil menikmati suguhan teh manis dan singkong rebus. Sesekali terlihat beberapa orang anak yang mengintip dari luar sembari tersenyum. Dari dalam, Gagan dan beberapa rekannya terlihat melambaikan tangan membalas. Kemungkinan besar anak-anak itu adalah murid sekolah ini yang berarti murid Gagan dan teman-temannya.

“Gurunya ada berapa orang ya Pak?” tanya Daru.

“Sebetulnya sekolah ini berjalan tanpa guru tetap Pak. Tenaga guru yang mengajar masih didatangkan dari SD Tenjolaya yang berada di luar kampung ini. Terkadang, jika guru tersebut tak bisa hadir, saya yang menggantikannya. Setidaknya mengajarkan mereka matematika dan membaca Pak.”

Belakangan diketahui Bapak Sapri yang mempelopori sekolah ini sejak dua tahun lalu. Ia menaruh harapan besar bahwa secepatnya SD Sinar Wangi akan diwujudkan menjadi sekolah yang layak oleh pemerintahan daerah setempat.

Bapak Sapri prihatin akan kondisi warga dan anak-anak setempat yang tidak pandai membaca, berhitung, dan nyaris buta huruf. Oleh karenanya, didorong niat luhur, Bapak Sapri bersama warga sekitar begotong royong membuat sebuah bangunan sederhana yang akan dijadikan kelas sementara. Kelas itulah yang digunakan anak-anak setempat untuk belajar hingga saat ini.

Perjuangan Bapak Sapri menyiratkan bahwa pendidikan adalah tingkat paling fundamental yang diperlukan masyarakat Indonesia. Pendidikan anak bukanlah hal yang pantas dikorbankan hanya demi sebuah alasan, kemiskinan. Bapak Sapri tak sampai hati membiarkan anak-anak di kampungnya menjadi generasi yang hilang.

Dua jam berikutnya, Fairy dan Daru menyaksikan betapa lincahnya Gagan dan rekan-rekannya memberikan materi kepada 30 muridnya. SD Sinar Wangi menjadi tempat praktik mereka selama tiga bulan terakhir. Hari itu adalah puncak dari hari mengajar mereka.

Daru dan Fairy duduk berdua di bangku paling belakang dengan kertas penilaian di tangan mereka masing-masing. Daru dan Fairy akan menilai kelompok Gagan, mulai dari pemilihan lokasi praktikum, materi pengajaran, penyajian, hingga luaran akhir berupa pemahaman dari peserta didik.

Materi ‘Pendidikan Konservasi’ yang disajikan Gagan dan teman-temannya dilakukan di dalam dan luar kelas. Praktik lapangan yang mereka pilih adalah belajar membuat lubang serapan atau biopori. Berikutnya belajar memilah sampah, dan praktik daur ulang kertas atau recycle paper. Materi yang mereka sampaian dirancang melatih peserta didik secara sistematis ikut aktif dalam pemeliharaan dan pelestarian lingkungan. Pendekatan pembelajaran yang mereka gunakan adalah program ekstrakurikuler, seperti bimbingan dan pengajaran.

“Tema kegiatan mereka hari ini namanya apa Fay?” tanya Daru pada Fairy.

“Gado-Gado Konservasi Anak Negeri,” jawab Fairy lugas.

Daru mendengar nada suara Fairy lain dari biasanya. “Kamu masih marah sama aku?”

Tak sedikit pun Fairy menoleh pada Daru. Ia masih fokus pada lembaran kertas di hadapannya. Tak lama terdengar tepuk tangan pertanda materi mereka berakhir.

“Oke adik-adik, ada yang bisa menjawab pertanyaan Kakak? Apa itu perbedaan komponen biotik dan abiotik hutan?” Dieta, salah satu praktikan memberi pertanyaan.

Sebagian anak-anak di ruangan itu mengangkat tangannya. “Oke Sri, maju.”

“Komponen biotik itu artinya sesuatu yang hidup, misalnya satwa dan tumbuhan. Sedangkan komponen abiotik itu benda mati, seperti tanah, air , dan udara.”

“Hebat, Sri benar. Tepuk tangan untuk Sri,” ujar Dieta disambut seisi kelas. “Ada yang bisa menjelaskan lagi proses terjadinya banjir?”

Jumlah murid yang mengangkat tangan lebih sedikit dari sebelumnya. “Oke, Iman maju.” Panggil Dieta pada seorang murid laki-laki yang duduk paling depan.

“Banjir bisa terjadi jika hutan-hutan di hulu sudah gundul. Air hujan yang turun seharusnya diserap oleh pohon-pohon di hulu. Karena pohonnya sudah tidak ada lagi, maka air hujan tak bisa terserap dan akhirnya mengalir tanpa rem ke daerah hilir. Terjadilah banjir,” papar Iman.

“Iman benar. Tepuk tangan lagi untuk Iman,” teriak Dieta.

Gagan kemudian maju ke tengah kelas. “Adik-adik, terima kasih atas kebersamaan dengan kakak-kakak di sini selama seminggu terakhir. kakak harap apa yang sudah kita praktikkan bisa terus adik-adik terapkan dalam keseharian adik-adik. Janji?”

“Janjiiiii,” sorak mereka bersama.

“Terima kasih. Oh ya, Kak Gagan dan semua kakak-kakak di sini juga sudah sepakat, sekali sebulan kami akan sempatkan lagi untuk berkunjung ke SD Sinar Wangi. Kita bisa tetap belajar bersama tentang materi-materi lingkungan yang baru. Adik-adik mau menerima kakak-kakak di sini?”

“Mauuu,” sorak mereka kembali.

“Oke, kalo begitu, kita akhiri kelas kita dengan ucapan?”

“Alhamdulillahirabbilalamin,” ucap mereka bersamaan. Satu per satu murid SD Sinar Wangi menyalami Gagan dan teman-temannya.

Praktikum lapang hari ini telah berakhir. Fairy dan Daru kemudian memberikan sekilas evaluasi atas kinerja Gagan dan teman-temannya.

“Dalam mekanisme pendidikan konservasi untuk level SD, metode bermain itu perlu diunggulkan. Manusia itu adalah homo ludens, artinya makhluk yang gemar bermain. Permainannya apa saja, asalkan menyenangkan dan ada unsur pesan pendidikan konservasi di dalamnya. Jika kalian perhatikan itu, saya rasa murid-murid kalian akan semakin banyak,” ujar Fairy.

Usai evaluasi, Dieta tiba-tiba menghampiri kedua asistem praktikumnya.

“Kak Fay, Kak Daru, ini ada kenang-kenangan dari kami semua.” Dieta kemudian menyodorkan dua buah kotak hadiah berukuran kecil.

Daru kemudian menerimanya. “Apa ini? Biar Kakak tebak, trap box?” Tebakan Daru membuat kedelapan mahasiswanya tertawa cukup puas.

“Boleh dibuka?” pertanyaan Daru disambut anggukan Dieta dan rekan-rekannya.

Daru dan Fairy membuka kotak itu bersamaan. Isinya masing-masing sebuah jam merek G-Shock berwarna hitam dan kembar.

“Wow, kalian tahu aja kita nggak ada jam tangan. Apa kami harus menerima ini?” Daru tersenyum.

“Mohon diterima ya Kak? Ini kenang-kenangan dari kami dan adik-adik. Mereka juga memilihkannya untuk Kak Fay dan Kak Daru. Hadiah ini tak seberapa kak. Jam tangan itu agar Kakak berdua ingat terus dengan adik-adik dari SD Sinar Wangi,” Gagan memandang penuh harap.

“Harusnya kalian nggak kasih jam tangan Gan, tapi ayam jago,” sela Fairy.

“Ayam jago? Untuk apa Kak?”

“Untuk ditaruh di kamar Kak Daru. Supaya Kak Daru bangun pagi dan nggak telat melulu kuliahnya,” sambung Fairy yang disambut tertawaan praktikan lainnya. Daru sedikit tersipu malu karena ucapan Fairy.

Apalagi, Gagan dan teman-temannya tertawa lepas juga. Agar tak berkepanjangan Daru langsung mencoba memakai jam itu di tangan kirinya. Saat ingin memakainya, Daru melihat ada ukiran di belakang jam itu.

“SW 07, maksudnya?”

“SW itu artinya Sinar Wangi Kak. Kalo 07, itu artinya 2007, tahun Kak Fay dan Kak Daru membimbing kami praktikum,” ujar Gagan.

“Terima kasih untuk kalian semua,” balas Daru.

Sepulangnya dari praktikum di Desa Tapos, Fairy dan Daru kembali ke kampus. Ibu Resti meminta bantuan keduanya untuk merapikan ruangan baru Sang Dosen. Ibu Resti baru saja pindah ruangan kerja. Koleksi bukunya yang menggunung agaknya membuat dosen itu kewalahan merapikannya sendiri.

“Bisa Bu, kami baru saja selesai dengan kelompok terakhir,” jawab Fairy di telepon.

Daru langsung memacu motornya kembali ke kampus. Sesampainya di Departemen KSHE, sekitar pukul 17.00 WIB, Fairy langsung meminta kunci kepada Bi Suma. Seluruh dosen sepertinya sudah meninggalkan ruangan kerjanya. Sesuai instruksi, Bi Suma membukakan pintu ruangan.

Ruangan Bu Resti dipenuhi kotak berisi buku dan koleksi diktat kuliah. Bahkan, diktat kuliah yang ditulis pada 1990an juga masih disimpannya. “Jadi, kita mulai dari mana?” tanya Daru.

“Mungkin dari buku-buku yang ada di sudut itu,” tunjuk Fairy ke salah satu sisi ruangan tempat sofa tamu di ruang kerja Bu Resti.

Daru mengikuti petunjuk Fairy. Ia membuka jaketnya dan menyisakan kaos hitam berlengan buntung. Saat melihat Daru, jantung Fairy kembali berdetak cepat. Dia buru-buru melintasi sahabatnya itu dan menjaga jarak keduanya.

Kotak-kotak besar berisi buku yang teronggok di sudut kiri mulai dibongkar Fairy. Selama beberapa saat, Daru memandangi gadis yang membelakanginya itu. Agaknya, Fairy sadar apa yang dilakukan Daru sekarang.

“Ada apa? Mengapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Fairy.

Daru sedikit terkejut dan mulai ikut merapikan tatanan diktat yang memenuhi meja kerja Bu Resti.

“Nggak ada apa-apa. Hanya saja, aku merasa kamu masih marah. Aku minta maaf atas kesalahan dan kelalaianku hari ini,” balasnya.

“Sudahlah Dar, nggak perlu dibahas lagi. Sebaiknya kita selesaikan pekerjaan ini sebelum jam delapan dan segera pulang,” ujar Fairy.

“Dar, bisakah tolong aku memindahkan buku-buku ini ke lemari?” pinta Fairy sambil menunjukkan arah lemari kecil di sebelah kanannya.

Daru kemudian berdiri mematung, “Fay.”

“Hmmm?” hanya gumaman yang keluar dari mulut Fairy.

Usai menyusun buku-buku ke salah satu sudut lemari itu, Daru kemudian berdiri sambil bersandar pada jendela di ruangan itu. Kedua tangan dimasukkannya ke saku celananya.

“Sila bulan depan menikah.”

Suara beberapa buku berjatuhan terdengar. Fairy menjatuhkannya tak sengaja karena kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia memandangi sahabat di hadapannya dengan tatapan mata penuh kasihan.

“Dar, kamu baik-baik aja kan?” Fairy langsung mengambil tempat duduk tepat di samping Daru. Tubuhnya ikut bersandar membelakangi jendela seperti posisi Daru saat ini.

“Hmmm,” Daru mengangguk lemah.

“Terima kasih kamu mau mendengar ceritaku,” imbuh Daru sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Tenanglah Dar. Kamu secepatnya akan melupakan kekecewaan ini,” Fairy memberikan setengah pelukan untuk menenangkan sahabatnya itu.

Daru membalas pelukan Fairy dengan tulus. Seolah ingin membagi beban yang dia rasakan saat ini. Keduanya tetap bergeming, beberapa saat kemudian mereka saling melepaskan pelukan. Kesunyian yang menyelimuti keduanya membuat Fairy sulit memosisikan dirinya saat itu. Sebab bagaimanapun dia juga menyukai Daru.

Fairy kemudian memberanikan diri menatap mata Daru yang masih kosong. Ia begitu takut tatapan luka itu terus bertahan dihari-hari Daru. Fairy akan sedih jika hal itu terjadi, disaat sahabat yang diam-diam dicintainya menyimpan gumpalan luka yang begitu besar.

“Ayo, kita selesaikan pekerjaan di ruangan ini. Setelah itu kita makan yuk?” Fairy langsung memulai kembali pekerjaannya yang tertunda tanpa menunggu jawaban dari Daru.

Petang sudah berganti malam. Buku-buku yang memenuhi ruangan Bu Resti hampir seluruhnya tersusun rapi di lemari. Fairy kemudian membuka satu lagi jendela di ruangan itu. Wajahnya berkeringat seolah pendingin ruangan itu tak mampu mengimbangi panasnya malam itu.

“Tanggal berapa sekarang Dar?” Fairy melihat ke langit dari balik jendela.

Daru masih asik melakukan check list terakhir daftar buku yang tersusun di lemari. “Tanggal 15 Fay,” jawabnya.

Senyum kecil mengambang di wajah Fairy. “Purnama. Malam ini bulan purnama Dar.”

Tak berapa lama, Daru datang menghampiri Fairy. Ia kemudian ikut mendongakkan kepalanya ke luar.

“Purnama ya? Padahal tadi sore langit mendung.” Daru kemudian melihat Fairy masih diam menikmati pemandangan malam itu.

“Hey, jangan melamun,” ujar Daru menyenggol lengan Fairy.

“Aku nggak melamun kok. Aku cuma senang bisa menikmati malam ini. Aku berpikir….”

“Berpikir apa Fay?” Daru langsung tak sabar mendengar lanjutan jawaban sahabatnya itu. Lagi-lagi, Daru menyenggol lengan Fairy lebih keras, membuat Fairy akhirnya menatap sejenak laki-laki di sampingnya dengan sedikit meringis gemas, kemudian kembali menatap langit.

“Aku berpikir, mengapa Tuhan masih meletakkan jutaan bintang di sekitar bulan. Bukankah satu cahaya bulan saja dari matahari sudah sangat cukup menerangi kita dimalam hari? Kamu tahu kenapa?”

“Kamu mulai puitis lagi Fay,” Daru menggaruk-garuk kepalanya. Namun, matanya masih saja setia menikmati pemandangan yang sama dengan Fairy.

“Jawabannya mungkin karena Tuhan ingin memberi pilihan-pilihan lain untuk kita.”

Kening Daru sedikit berkerut. Dia mengamati wajah Fairy di sisi kirinya. Fairy masih tak membalas tatapan Daru. “Aku nggak ngerti, maksud kamu?”

“Setiap orang punya impian besar Dar. Anggap bulan itu adalah impian terbesar kamu. Jika kamu harus memanahnya dari bumi saat ini, dan busur panahmu meleset, kemana larinya busur itu?”

“Mungkin saja menancap disalah satu bintang itu,” jawab Daru sedikit ragu.

“Yups. Ribuan bintang itu adalah pilihan-pilihan lain yang disediakan Tuhan untuk kamu Dar. Sama halnya dengan Sila, dia adalah bulan itu. Meski kamu gagal mendapatkannya, sebetulnya kamu tidak gagal. Tuhan hanya menyiapkan pilihan lain yang lebih baik untuk kamu. Bintang yang kamu panah tadi, mungkin saja adalah bintang yang lebih besar dan lebih berharga, hanya saja kamu belum menyadarinya.”

Daru tertawa pelan kemudian mengacak-acak rambut Fairy. Rasanya, dia seperti disentil halus oleh sahabatnya itu.

“Kamu ahlinya kalo membuat perumpamaan.”

“Kenapa kamu tertawa? Emang ada yang salah dari ucapanku?” Kedua mata mereka akhirnya bertemu.

Fairy menyadari Daru mulai menggodanya lagi. Tiba-tiba suara perut Daru terdengar pertanda lapar. Fairy langsung tertawa terbahak-bahak melihat Daru yang malu dengan kejadian barusan.

“Jam berapa sekarang?” tanya Fairy sambil tertawa.

Daru melihat jam tangan barunya. “Jam 20.30 WIB. Ayo ke Bara, aku lapar.”

Fairy mencoba menahan tertawanya. “Ya ampun. Kita kan belum makan dari siang. Pantas saja perut kamu bunyi Dar. Ayo kita pulang,” balas Fairy.

Daru masih saja mengomel sendirinya. “Apakah sekarang tanggal 13? Sejak tadi siang aku sial terus. Aku terlambat jemput kamu, cewek yang aku suka mau tunangan, dan sekarang aku kelaparan.”

“Sekarang tanggal 15 Dar. Tadi kan kamu yang kasih tahu aku. Kamu lupa?”

Usai menitipkan kunci ruangan Bu Sesti ke salah satu satpam yang berjaga saat itu, Daru kembali memacu motornya ke luar area kampus. Keduanya kemudian menikmati makan malam di Warung Bageur di Babakan Raya (Bara). Lokasinya tak jauh dari kos-kosan Fairy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s