A Note to Fairy: 14. Ulang Tahun

Secangkir teh hangat baru saja diseduh Fairy sesampainya ia di rumah malam itu. Rumah sepi karena Ibu Ibeth bersama ketiga anaknya liburan ke Bandung sampai akhir minggu ini. Ponsel Fairy kemudian berbunyi, sebuah pesan baru masuk. Dia segera membaca pesan dari Genta.

@Genta: Syg, km udah d rmh? Aku OTW ksana, sbentar lg nyampe.

Fairy terheran membaca pesan Genta. Hatinya sedikit bertanya, masalah penting apa yang membuat Genta datang ke rumahnya di atas jam 10 malam? 

Fairy kemudian menyalakan televisi sambil menikmati teh hangatnya. Ketika minuman itu belum habis, sebuah suara ketukan pintu terdengar. Itu pasti Genta.

Pintu dibuka, Fairy melihat wajah Genta tersenyum sambil membawa bungkusan dan kotak berukuran sedang dan besar.

“Sayang? Kamu ngapain malam-malam begini mau ketemuan?” tanya Fairy sambil mengedipkan mata penuh tanda tanya.

“Aku mau jadi orang pertama yang ada di samping kamu dihari ulang tahun kamu. It’s gonna be your birthday honey, kamu lupa?” ujar Genta kegirangan.

Beberapa detik kemudian Fairy menepuk keningnya. “Ya ampuuuun, aku lupa sayang,” jawabnya tertawa kaget. Ia bahkan mengira Genta tengah berlelucon. Fairy baru tersadar bahwa dirinya saja lupa dengan hari ulang tahunnya karena kesibukan beberapa hari terakhir.

“I miss you,” Fairy langsung memeluk Genta.

“Ayo masuk,” ujarnya sambil menyunggingkan cengiran lebarnya. “Sudah berapa lama kita nggak ketemu ya? Tiga minggu mungkin. Maafin aku sayang,” Fairy masih terus menyalahkan diri.

Genta menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian membawa kotak yang berisi kue ulang tahun itu ke dapur, kemudian memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Dari belakang, Fairy hanya menonton apa yang dilakukan Genta.

Keduanya kemudian kembali ke ruang tamu. Fairy duduk di sofa kemudian melanjutkan tontonan televisinya yang sempat tertunda.

“Ulang tahun aku masih dua jam lagi sayang. Kamu istirahat aja dulu. Capek kan? Pasti dari kantor kamu langsung ke sini.”

Genta kemudian menyandarkan kepalanya ke pangkuan Fairy dengan manja. Fairy tersenyum melihat tingkah laku kekasihnya itu. “Hmm, seandainya saja aku bisa seperti ini selamanya,” ujar Genta dengan penuh ketenangan. “I miss you too.”

Fairy tersenyum. Ia membelai manja rambut Genta. Dengan jelas, dia bisa melihat setiap lekuk wajah Genta saat ini. Saat membelai rambut Genta, tangan kanan Fairy merasakan sebuah tonjolan tipis di ubun-ubun kepala Genta. Setelah diamati seksama, Fairy melihat sebuah tanda bekas luka di kulit kepala Genta. Tonjolan itu terlihat seperti sebuah bekas jahitan.

“Sayang, kamu pernah kecelakaan?” tanya Fairy ingin tahu.

Genta menghela napas dengan mata tetap terpejam. “Oh, bekas luka itu. Iya. dua tahun lalu. Aku kecelakaan sewaktu pulang ke Semarang. Kecelakaan yang cukup parah. Mama bilang aku koma dua minggu di rumah sakit. Bahkan, aku sempat hilang ingatan satu bulan.”

Mata Fairy sedikit membelalak. “Ya ampun, ini beneran?”

“Itu dulu sayang,” Genta mencubit manja pipi Fairy saat menengadah dan mendapati wajah terkejut kekasihnya.

“Sampai hilang ingatan? Masih bisa kambuh nggak?”

“Walaupun sekarang aku hilang ingatan. Kamu satu-satunya memori yang nggak bakal hilang dari ingatan aku,” goda Genta yang membuat wajah Fairy bersemu.

“Fay, sebetulnya ada banyak hal dari masa lalu aku yang perlu kamu ketahui.” Tiba-tiba suara Genta menjadi serius.

Fairy yang mendengarnya sempat fokus, namun karena malam itu adalah ulang tahunnya, gadis itu ingin menikmati kebahagiaan bersama kekasihnya. “”Dengar. Sayang, selama kamu mencintai aku, aku juga akan mencintai kamu dan masa lalu kamu. Aku ingin menghadapi hari ini dan esok bareng kamu.”

Mendengar penurutan Fairy, Genta tersenyum bahagia. Ia kembali memejamkan matanya. Fairy membiarkan lelakinya itu terlelap sejenak. Jam dinding di ruang tamu masih menunjukkan pukul 22.10 WIB, artinya masih beberapa jam lagi menjelang pukul 00.00 WIB.

Keduanya akhirnya sama-sama tertidur. Fairy menyusul Genta terlelap di sandaran kursi, masih di posisinya sekarang. Sementara televisi tetap menyala, bergantian menonton mereka berdua tertidur lelap.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Kamar Fairy sunyi. Yang terdengar hanyalah bunyi gerakan jari-jari mengetik di keyboard sebuah netbook. Fairy tengah memperbaharui kisah terbarunya di blognya, @Ceritaperi. Terkadang, gadis itu terdiam menatap layar. Ia membaca ulang apa yang telah diketiknya. Saat menemukan kesalahan, ia memperbaikinya. Lalu, gadis itu bersandar pada kursi sambil sesekali meregangkan tangan dan kakinya yang terasa mulai kaku sejak praktikum ‘Dendrologi’ tadi siang berakhir.

Fairy kemudian membuka laman Facebook dan Twitter, mencari nama pemilik akun NugrohoDaru_Prayoga. Status Daru masih sama dengan sehari sebelumnya saat Fairy mengecek terakhir kali.

“Semeru, akhirnya kutapaki,” demikian kalimatnya.

Fairy menghela napas panjang. Agaknya, ia akan melewati malam pergantian usianya sendiri. Meskipun, sehari sebelumnya gadis itu sudah memaksa Daru untuk pulang cepat supaya merayakan ulang tahunnya yang ke-19 bersama. Telunjuk Fairy langsung mengarahkan tombol kursor ke kolom silang di pojok kanan atas halaman blognya.

Fairy kemudian melirik ke pigura kayu yang membingkai sebuah foto di meja kamarnya. Fotonya dan Daru mengenakan seragam lapang Himakova. Fairy tersenyum melihat foto itu. Ia pun mengenang lagi masa-masa mereka berdua di kampus. Hmm, sayangnya Daru tak ada malam ini, batin Fairy.

Mata Fairy mulai terasa berat. Mungkin, sebaiknya dia mencoba beristirahat lebih dulu. Fairy lalu mematikan netbooknya, kemudian beranjak dari kursi, menghempaskan tubuhnya langsung di kasurnya yang empuk.
Keesokan paginya, terdengar suara berisik di luar kamar.

“Fay, Fay,” suara pintu diketuk terdengar.

“Iya, iya Teh, sebentar,” balas Fairy dengan suara yang masi berat.

Gadis itu kemudian berjalan menuju pintu. Suara ketukan pintu dan panggilan dari luar tak didengarnya lagi. Mungkin, mereka yang ada di luar sedang menunggu dibukakan pintu.

Cklek. Pintu kamar pun terbukan. Gadis itu terlonjak kaget bagai tersengat listrik tegangan tinggi.

“Happy birthday, Fay,” ujar Teh Lin, Jojo, dan Bayu. Mata mereka pun saling bertatapan.

“Daru? Kamu bilang kamu masih di Semeru kan?” ucap Fairy.

“Bukannya kamu yang maksa aku pulang?” Senyum Daru kemudian berubah menjadi tawa.

“Aku sebenarnya udah turun Semeru dua hari lalu, aku mampir dulu ke Jogja, ketemu kawan lama. Kemarin sore aku naik kereta pulang ke Bogor. Ini oleh-oleh dari Semeru buat kamu. Ini dari puncak tertinggi Jawa.”
Daru menyodorkan sebotol kecil batu kerikil berpita merah muda ke arah Fairy. Botol kaca transparan itu terdapat gambar kutilang disalah satu sisinya. Fairy memberikan senyuman termanisnya ketika menerima hadiah itu dari Daru.

“Wah, yang lain jadi nyamuk nih,” suara Bayu tiba-tiba menyela. Menyadari sedari tadi tak mengomentari kehadiran tiga orang sahabatnya, Fairy langsung menepuk keningnya.

“Teh Lin, Jojo, Bayu, terima kasih. I love you all,” kata Fairy membalas mereka dengan pelukan satu per satu.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

“Sayang, Fay,” Genta mengelus pipi Fairy, membangunkan gadisnya itu. Fairy terlihat berusaha membuka matanya lebih lebar. Namun, kedua matanya tak mau bekerja sama karena kantuk berat melanda.

“Fay, Fay, honey, wake up,” ujar Genta kedua kalinya.

Fairy akhirnya terbangun dan mendapati sebuah kue dengan lilin yang menyala tersaji di hadapannya. Saat melirik ke jam tangannya, Fairy menyadari dua menit lagi hari akan berganti.

Genta kemudian duduk di samping Fairy.

“Happy birthday, sayang,” kata Daru sambil mencium kedua pipi Fairy.

Resmi sudah hari itu Fairy berusia 23 tahun. Suara Genta terdengar bersemangat.

“Aku punya hadiah kecil buat kamu.” Genta kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus sebuah kertas kado berwarna oranye, warna kesukaan Fairy.

Fairy menerimanya dan membuka isinya. Ternyata Genta memberikan Fairy sebuah alat perekam (recorder) Sony keluaran terbaru. Fairy tampak antusias menerima hadiahnya itu.

“Terima kasih sayang,” ucapnya sambil kembali memeluk Genta.

Keduanya kemudian menikmati kue ulang tahunnya berdua. Fairy memandangi Genta. Ia menyadari tertawa dan bahagia yang ia rasakan saat ini tak lebih dari karena kehadiran Genta dihari ulang tahunnya. Apalagi, malam itu adalah pertemuan pertamanya dengan Genta setelah tiga minggu terakhir mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Sayang, besok kamu selesai liputan jam berapa?” tanya Genta sambil menyuapkan kue ketiganya ke mulut Fairy.

Fairy terlihat sedikit berpikir. “Besok itu Jumat, Sabtunya halaman ekonomi cuma ada dua. Mungkin jam enam sore aku sudah pulang. Kenapa Ta?”

“Nonton yuk? Di Penvill jam tujuh. Aku ada rapat di Kemang sampai sore. Gimana?”

“Bisa, bisa.”

“Oke deh Bu Wartawan, aku pulang dulu ya? Kamu istirahat. Jangan lupa, besok malam jam tujuh di XXI Penvill ya?” ujar Genta menyunggingkan senyuman.

“Siap! I’ll be there.” Fairy menggandeng lengan Genta dan mengantar kekasihnya itu sampai halaman depan rumah.

Usai mengecup kening Fairy, mobil Genta berlalu pergi. Ia melirik sekilas ke kaca spion mobilnya. Dilihatnya, Fairy berdiri sendirian dan tampak kian menjauh dari pandangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s