A Note to Fairy: 15. Tanpa ‘Bintang’

Daru bersama rekan setimnya tengah asik menikmati malam di tenda mereka. Lokasinya tak jauh dari Gua Salukkang Kalang, Makassar. Sudah seminggu mereka berada di hutan. Gua Salukkang Kalang berjarak sekitar 58 kilometer (KM) dari Makassar atau 1 KM dari Jalan Raya Poros Makassar – Bone. Mereka harus menempuh perjalanan darat dengan kondisi jalan aspal dan separuhnya mulus. Sisanya berupa jalan batu yang dipadatkan. Kendaraan mereka hanya bisa mengantarkan sampai jarak tertentu. Berikutnya, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan sekitar 30 menit dari Jalan Poros menuju gua tersebut.

Gua Salukkang Kalang tepatnya berada di Dusun Labya, Desa Kappang atau di dalam kawasan Cagar Alam Karaenta. Misi Daru dan timnya adalah eksplorasi dan pemetaan gua. Sebetulnya, lokasi tujuan Daru selama seminggu itu tak hanya ke Karaenta, tapi juga menunjungi gua-gua di desa lain, seperti Gua Mimpi dan Gua Batu di Desa Bantimurung, serta Gua Pattunuang di Desa Pattunuang. 

Gua Salukkang Kalang adalah gua terakhir dalam perjalanan mereka kali itu. Keesokan paginya, mereka akan kembali ke kantor pusat di Makassar. Kawasan sekitar gua itu dikelilingi pegunungan karst. Gua Salukkang Kalang terletak di ujung sungai yang membentuk lubang berukuran 1×2 m. Daru dan timnya harus memasuki gua pada awalnya dengan jalan jongkok.

Gua ini adalah yang terpanjang kedua di Indonesia. Mulut gua ini merupakan terusan sungai. Sebab, guanya berair. Pada musim kering, aliran airnya lambat, namun musim hujan menimbulkan arus yang deras. Ini sekaligus gua paling sulit yang dipetakan Daru, sebab pergerakan tubuh di dalamnya terbatas. Dari dan rekan-rekannya harus jalan jongkok selama 15 menit.

Sinar bewarna merah dan asap kecil yang timbul dari rokok yang dihisap Daru terlihat di tengah penerangan lampu minyak malam itu. Daru terlihat menyendiri, sekitar tiga meter dari tenda. Ia bersandar pada sebatang pohon ulin yang besar. Sedangkan tiga rekan lainnya terlihat menikmati kopi di cangkir-cangkir mereka sembari membicarakan berbagai hal, saling bertukar cerita.

Daru sudah tiga tahun di Bumi Celebes. Tiga bulan sebelumnya. Daru bersama timnya melakukan eksplorasi burung dan mamalia di Kawasan Leang Lonrong dan Panaikang. Ini adalah eksplorasi ke-12 sekaligus eksplorasi terakhirnya. Tak lama lagi, ia akan kembali ke Bogor.

Malam hari ini, setiap tahunnya, Daru selalu mengingat sosok Fairy. Beberapa menit lagi malam akan berganti menjadi 13 Mei 2010. Sejak 2001 hingga 2004, biasanya Daru selalu merayakan malam ini berdua dengan Fairy. Kini, tiga tahun sudah kedua sahabat itu absen merayakan hari ulang tahun mereka bersama.

“Happy birthday, Fay,” ujar Daru lirih.

Bagi Daru, Fairy adalah bintang kehidupannya. Sangat disayangkan, tiga tahun lalu keduanya berpisah dalam kondisi kurang baik. Bagi Daru, semuanya serba menggantung.

“Dia masih belum membaca note itu,” desis Daru malam itu.

“Siapa Dar? Baca apa?” sapa Alex memencar sunyi.

Alex membuka sandal jepitnya, kemudian menjadikan sandal itu sebagai alas duduk, tepat di samping Daru. Laki-laki itu kemudian menjadikan pohon yang sama yang digunakan Daru sebagai sandaran tubuhnya. Alex menyalakan rokoknya menemani Daru menyepi.

“Fairy, Lex. Dia sahabatku sejak kuliah. Beberapa tahun terakhir disisa masa studi, Fairy bilang dia mencintaiku. Sayangnya, aku belum bisa menyatakan hal yang sama padanya.”

“Lha, kenapa Dar? Kau sudah punya pacar waktu si Fairy itu bilang dia menyukaimu?” tanya Alex dengan logat khasnya.

Alexander memang berasal dari Medan. Dia dua tahun lebih lama menjadi peneliti di Makassar dibandingkan Daru. Namun, tak sedikit pun logat bataknya berubah.

Daru menggeleng. “Saat Fairy pertama kali bilang dia mencintaiku di kapal, jujur, waktu itu aku belum yakin aku mencintainya Lex.”

Alex menghisap lagi rokoknya dan menghembuskan asapnya sampai mengenai wajah Daru.

“Kenapa kau ragu? Perempuan itu Dar, kalo misalnya berani bilang cinta duluan ke laki-laki, itu artinya dia punya cinta yang sangat besar yang tak sanggup lagi dia simpan. Aku yakin Fairy sudah lama berharap kau mempunyai perasaan yang sama terhadapnya, tapi kau diam-diam saja.”

Alex kemudian mematikan puntung rokoknya. “Apa udah nggak mungkin lagi kau mendapatkan hatinya Dar?” tanya Alex lagi.

“Fairy tak mau aku ke Makassar Lex. Sejak itu dia membenciku,” jawab Daru.

Daru kemudian meminum seteguk kopinya yang sudah dingin.

“Sehari sebelum aku berangkat ke Makassar, aku bertemu dengannya. Waktu itu, aku sangat berharap Fay mengerti dan mendukungku ke Makassar. Aku begitu ingin memintanya untuk menungguku, tiga tahun saja. Tapi, ucapanku pada akhirnya tak tersampaikan karena dia lebih dulu memintaku melupakannya. Katanya, dia butuh waktu. Aku hanya bisa menghormati keputusannya waktu itu.”

“Mengapa kau tak selesaikan ucapanmu itu?”

“Fay terlanjur berlalu pergi Lex. Dia gadis yang keras. Meskipun selama kuliah kami adalah sahabat dekat, aku tak mungkin bisa mematahkan semua keinginan dan ucapannya. Dia sangat keras. Itu juga yang membuatku tak mungkin menceritakan padanya semua tentang cerita sedih keluargaku. Aku takut jika dia memaksa masuk ke dalam rumitnya masalahku, ia akan terbebani. Apalagi, dia juga anak pertama di keluarganya. Tak mungkin aku membiarkan kuliahnya terganggu. Aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri,” Daru menunduk.

Alex kemudian merangkul pundak Daru, mencoba menegarkan sahabatnya itu. “Kalo kau berjodoh dengan dia, Tuhan Pasti pertemukan lagi kau sama dia. Aku yakin jodoh itu tidak akan tertukar Dar. Tuhan sedang menguji kekuatanmu kawan. Terus mengingat permasalahan hidup itu hanya menguras waktu kita. Sebagai laki-laki, kita harus menyelesaikan persoalan itu satu per satu. Biarkan permasalahan itu mencari jalan keluarnya sendiri. Tugas kita hanya berusaha,” ujarnya.

Malam sudah larut ketika Alex menyelesaikan ucapannya. Sekejap kemudian terdengar panggulan Farhan, Aci, dan Aksan memanggil untuk merapat. Alex dan Daru pun beranjak menghampiri ketiga sahabatnya.

“Mari kita istirahat. Kita harus bangun pagi karena besok sekitar pukul 18.00 WITA jemputan datang. Kita harus packing tenda dan semua perlengkapan sebelum jam tujuh. Lalu kita bisa lanjutkan berjalan kaki satu jam ke luar hutan,” kata Aksan yang menjadi ketua tim.

Alex menarik napas berat. “Wah, pagi sekali Bang Wisnu datang. Ayo lah, kalo begitu, kita istirahat,” jawab Alex. Satu per satu anggota tim memasuki tenda.

Suara kelelawar kecil (microchiroptera) yang terbang malam hari, kumbang, hingga serangga masih ramai. Jika didengarkan lebih seksama, maka kita dapat mendengar suara tarsius, mamalia kecil yang menjadi ikon Sulawesi. Sepintas, suaranya terdengar seperti suara bernada crit, crit, crit secara repetitif.

Tarsius aktif mencari makan pada malam hari. Dalam ilmu kehutanan, hewan ini termasuk kategori nokturnal atau 90 persen aktivitasnya dihabiskan pada malam hari. Makanan utamanya adalah serangga yang juga aktif pada malam hari. Selain serangga, tarsius juga melahap jenis-jenis reptilian kecil, serta burung berukuran kecil, misalnya burung kacamata (Zosterops sp.). Di dalam tenda, Daru dengan seksama mendengarkan suara itu. Matanya masih nyalang, pikirannya masih diliputi semua hal tentang Fairy.

Keesokan pagi, seperti yang diarahkan, seluruh anggota terbangun pukul 05.00 WITA. Aksan sebagai ketua tim bertanggung jawab bangun terlebih dahulu. Ia lalu membangunkan seluruh anggota timnya. Sepuluh menit kemudian mereka menyelenggarakan Subuh berjamaah. Aksan mengimami Daru dan Farhan. Sedangkan Alex dan Aci masih di sungai terdekat membasuh muka.

Meski masih pukul 05.00 WITA, namun suasana sekitar Gua Salukkang Kalang sudah terlihat terang. Bangun pagi-pagi di tengah hutan menjadi satu kenikmatan tersendiri. Mereka menghirup udara segar yang tak tergantikan. Bagi Daru, menghadap yang Maha Kuasa di alam, sejatinya, mendatangkan satu kenyamanan sendiri di hatinya. Lafaz Al-Fatihah dikeraskan Aksan. Suaranya terdengar sangat merdu. Dua rakaat Subuh terakhir mereka dalam eksplorasi sepekan itu dilewati dengan khusyu.

Suara berbagai jenis burung berkicau menjadi sajian melodi pagi itu. Suara burung itu seakan berperang dengan nyanyian pelan. Alex terdengar membawakan lagu-lagu Dewa19, grup band kesukaannya.

Semua anggota sigap memberesi perlengkapan mereka. Alex melipati tenda bersama Farhan. Aci menyusun berbagai perlengkapan pengambilan data mereka, seperti senter, alat-alat pengukur, baju pelindung yang mereka kenakan ketika memasuki gua, helm, hingga headlamp. Semuanya disusun rapi ke dalam carrier.

Aksan membereskan tali temali yang digunakan untuk membangun tenda, dapur dan tempat peristirahatan dadakan mereka selama berada di dalam hutan. Sampah-sampah yang mereka hasilkan dari makanan dan minuman kaleng harus diangkut kembali keluar dari hutan. Bagi sampah yang memungkinkan untuk dibakar maka dapat dibakar. Namun, perapian harus dipastikan mati setelah sampah terbakar sempurna.

Daru terlihat menyalakan perapian kecil di kompor gas berbentuk laptop yang mereka bawa. Sembari anggota lain menyelesaikan pekerjaan masing-masing, ia membuatkan sarapan untuk keempat temannya, seperti kopi, dan potongan roti keju untuk mereka berlima.

“Teman-teman, sarapan dulu nih,” katanya.

“Makasih Dar,” ucap Aksan. Daru mengangguk. Kelimanya menikmati sarapan terakhir mereka.

Usai memastikan semua perlengkapan telah dipacking, Daru dan rekan-rekannya mulai menyandang carrier masing-masing. Aksan mengumpulkan seluruh anggotanya. Jam tangan mereka menunjukkan pukul 06.45 WITA, artinya pekerjaan mereka 15 menit lebih cepat dari yang direncanakan.

“Baiklah kawan-kawan sekalian, Alhamdulillah eksplorasi kita selama sepekan ini selesai dengan baik tanpa ada satu halangan apapun. Sebelum kita memulai perjalanan pulang, mari kita sama-sama berdoa, semoga kita kembali selamat sampai tujuan. Berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dimulai.”

Aksan memimpin doa, kelima anggota lainnya membentuk lingkaran sambil berdiri. Secara berurutan mereka berbaris kemudian melintasi jalan setapak. Daru berjalan setelah Aksan, disusul Aci, Farhan, dan terakhir Alex.

Satu jam berikutnya, Aksan dan rekan-rekannya melanjutkan berjalan kaki ke sebelah timur laut wilayah Pattunuang. Aksan memegang kompas dan selembar peta perjalanan yang mereka gunakan sedari awal. Hal serupa juga dilakukan Alex di barisan paling belakang. Itu untuk memastikan bahwa jalan yang diambil Aksan di depan sudah benar.

Medan yang mereka lewati berupa jalur melewati bukit dan batuan karst yang besar. Jalanan sedikit licin dan basah karena hari masih pagi. Embun masih melekat di bebatuan rimba Sulawesi. Pada beberapa bagian jalur, mereka melewati tanah yang relatif datar. Menurut informasi dari petuga sebelumnya, tanah datar itu merupakan bekas wilayah perkebunan penduduk, sebelum wilayah ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Aksan memimpin anggotanya sambil melewati berbagai vegetasi hutan. Mereka menemui jenis-jenis pepohonan, seperti jampu salok, kokosan monyet, ajuwara, sugi maniak, dan pohon gmelina atau jati putih yang mendominasi salah satu jalur hutan.

Sesekali terdengar teriakan Alex dari belakang. “San, 15 derajat lagi ke kiri,” ujarnya.

Aksan kemudian berhenti sejenak dan mengukur kembali kompasnya. Ia kemudian mengangguk dan mengikuti arahan Alex. Terlihat, tim mereka sangat kompak. Tak ada candaan seperti saat mereka menghabiskan waktu istirahatnya di Bantimurung, atau Gua Salukkang Kalang. Semuanya berkonsentrasi menemukan jalan keluar persis di titik awal mereka masuk mengawali ekspedisi. Sesekali, Daru dan Farhan terdengar berbisik saat mata mereka menangkap sosok burung-burung unik yang mereka jumpai di hutan.

Setengah jam berjalan, langkah Aksan kemudian terhenti. Ia terkejut dengan suara ribut yang berasal dari pohon kokosan monyet yang berada sekitar tujuh meter di depannya. Aksan kemudian memberikan kode pelan-pelan kepada keempat rekannya. Alhasil, mereka pun berjalan mengendap-endap.

“Sepertinya ada kera hitam di depan,” ujar Aksan.

Mereka lalu berjalan pelan ke arah yang ditunjuk Aksan. Daru dan rekan-rekannya menyaksikan pemandangan yang sangat langka. Dua ekor kera hitan (Macaca maura) tengah asik bergelantungan di sebuah pohon besar. Kedua kera itu sepertinya berjenis kelamin jantan dan betina. Kera-kera tersebut kemudian meloncat pindah ke poon berikutnya. Tak lama kemudian, dua ekor burung berukuran cukup besar menghampiri pohon yang sebelumnya dipanjati si kera.

Daru memastikan kedua ekor burung itu jenis Kadalan Sulawesi (Phaenicophaeus calyorhynchus). Keduanya kemudian melahap semua serangga yang beterbangan akibat gerakan si kera menggoyang pohon. Pemandangan langka, simbiosis komensalisme yang unik.

“Itu Kadalan Sulawesi. Burung kadalan normalnya memiliki ukuran tubuh cukup besar, 51-53 cm. Paruhnya tebal berwarna kuning terang. Bagian depan tubuh burung ini kadru, ekornya berwarna biru kehitaman dan memanjang,” ujar Daru menerangkan kepada keempat rekannya.

“Lumayan besar burungnya ya bang?” kata Aci menimpali. Ia merupakan anggota tim termuda, masih 19 tahun.

Aci sebetulnya mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Ia sengaja mengikuti eksplorasi bersama tim Daru karena tengah menyelesaikan tugas praktiknya yang mengambil topik kawasan karst dan gua.

Daru mengangguk ke arah Aci dan mencoba menjelaskan.

“Iya. Kadalan sulawesi ini disebut juga Kadalan monyet dan merupakan jenis burung endemik Sulawesi. Perilakunya unik. Burung pemakan serangga ini selalu mengikuti kera-kera di hutan. Sebab burung ini mengambil manfaat dari kehadiran kera untuk menggoyang pohon yang membuat serangga-serangga di pohon akhirnya beterbangan. Nah, Kadalan monyet itu kemudian akan memakani serangga-serangga tersebut.”

Aksan melanjutkan langkahnya beberapa menit kemudian setelah sepasang burung itu terbang.

“Sedari kemarin kamu hafal banget soal burung Dar,” ujar Aksan sambil tetap memimpin tim di depan.

Daru tersenyum. “Sedikit San. Dulu banyak belajar dari sahabatku di kampus. Dia ahli banget soal ornitologi.”

Alex kemudian tertawa kecil di barisan belakang. “Bilang saja sahabat kau itu namanya Fay, Dar,” timpalnya.

Daru lalu ikut tertawa. “Iya Lex. Tahu aja kamu.”

“Aku cuma menebak,” potong Alex yang mengundang senyum Daru.

Satu jam telah mereka lalui. Aksan akhirnya menemukan anak sungai yang dangkal. Anak sungai itu menandakan 15 menit berikutnya mereka akan sampai di perbatasan hutan, tempat mobil jemputan mereka menunggu. Benar adanya, di depan sana, sebuah mobil jeep Strada sudah terparkir. Bang Wisnu terlihat menikmati rokoknya di luar mobil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s