A Note to Fairy: 16. Be Mine

Fairy bergegas menyelesaikan berita keduanya sore itu. Masih ada berita ketiga yang belum ditulisnya sebab, masih menunggu komentar salah satu direktur utama perbankan nasional yang baru bisa dihubungi sekitar pukul 16.00 WIB. Sedangkan deadline tulisan maksimal pukul 17.00 WIB sebelum dicetak.

Fairy terlihat gelisah mengetik di ruang wartawan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Setiap menit, ia melirik jam tangannya. Suasana di ruang wartawan BEI yang penuh dengan asap rokok ikut menambah ketidaknyamanan Fairy. Namun, ia seolah melupakan semua itu demi mengejar waktu. 

Jumat itu terasa sangat injury time untuknya. Fairy berjanji nonton bareng di bioskop XXI Pejaten Village bersama kekasihnya. Dua tiket film ‘The Pirates of The Caribbean IV: On Stranger Tides’ telah dikantongi Genta. Lokasi menontonnya itu pun tak jauh dari kantor Fairy.

Sudah tiga minggu pasangan itu tak menghabiskan akhir pekan bersama. Dua minggu sebelumnya, Fairy harus berakhir pekan di Medan, meliput rapat koordinasi pembangunan koridor Sumatra yang dipimpin Menteri Kehutanan. Seminggu sesudahnya, Fairy harus piket di kantor. Quality time mereka berdua sangat buruk. Beruntung dimalam ulang tahunnya, Genta menyempatkan datang ke tempat Fairy. Dalam hatinya, Fairy meniatkan minggu keempat kali ini ia tak boleh gagal bertemu Genta. Ia sangat bersyukur dianugerahi pacar yang sangat mengerti dengan profesinya.

Sekitar pukul 16.05 WIB, Fairy mengirimkan berita keduanya tentang proyeksi krisis ekonomi Eropa dan Amerika ke kantong berita Indonesia Daily. Ia bergegas keluar pers room sambil membawa secarik kertas catatan, pulpen, dan mengenakan headset di telinganya. Ia bermaksud menghubungi narasumber terakhirnya.

Tujuh menit wawancara via telepon, Fairy kembali masuk dan menyelesaikan tulisan ketiganya tentang dampak aturan baru pengendalian saham bank asing di Indonesia. Saat masuk kembali ruang wartawan, Fairy hampir menabrak Daniel yang juga tengah menerima telepon.

“Buru-buru amat Fay, deadline lu juga masih 40 menit lagi. Lima belas menit ngetik juga kelar,” ujar Daniel yang menyadari kepanikan sahabatnya.

”Gue janji ketemu Genta di Penvill jam tujuh ini Niel. Gue kudu kelar jam lima biar bisa ngatur tenggat waktu di jalanan yang macet,” jawab Fairy sambil meraih kembali netbooknya yang terhampar di sebelah Daniel.

“Oh, lu mau ketemu pacar di Penvill? Goda Daniel dengan nada suara sedikit berteriak. Suara Daniel membuat beberapa rekan wartawan dari media lain mengarah ke Fairy. Beberapa dari mereka tertawa menimpali candaan Daniel.

“Daniel, bercandanya ntar aja.”

Fairy terus berkonsetrasi dengan netbooknya sambil sesekali melirik catatan hasil wawancara. Sedangkan Daniel hanya tertawa kecil dan kembali meneruskan ketikannya yang juga belum selesai.

Tepat pukul 17.00 WIB, Fairy menyelesaikan pengiriman berita terakhirnya hari itu. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke redaktur ekonomi bahwa ia telah mengirimkan pesanan berita terakhir.
Fairy hanya bersorak pamit kepada rekan-rekannya yang masih tersisa di ruang wartawan BEI. Sambil berlari kecil, dia bergegas menukarkan kartu tanda pengunjung (visitor) dan mengambil kembali KTPnya di pintu masuk BEI.

Fairy langsung menuju halte Polda Transjakarta. Ia berlari menaiki skyway dan langsung membeli selembar tiket. Fairy berada diantrean penumpang paling belakang. Namun, ia sedikit beruntung sebab hanya antre lima menit saja ia sudah ada di dalam bus Transjakarta.

Sesampainya di Dukuh Atas, Fairy tak seberuntung sebelumnya. Antrean penumpang bus di sana sangat panjang, hampir menutupi seperlima panjang skyway. Jika ia paksakan, maka Fairy mungkin harus berdiri setidaknya 30 menit.

Fairy memutar balik tubuhnya keluar dari Dukuh Atas. Di bawah sana, berjejeran tukang ojek yang siap ditumpangi. Setelah melakukan negosiasi yang alot, Fairy dan si tukang ojek akhirnya menyepakati pembayaran Rp 40 ribu dari Dukuh Atas hingga Pejaten.

Ojek cukup ampuh menjadi senjata melawan kemacetan Jakarta. Jalanan Dukuh Atas, Halimun, hingga Kuningan pada sore itu super macet. Kepulan debu dan asap polusi yang berasal dari knalpot kendaraan roda dua dan empat seakan menyelubungi langit. Jam segitu memang puncak traffic Jakarta disore hari setiap harinya. Segumpalan awan kelabu juga bergulung di langit. Gawat, jangan hujan dulu, please, batin Fairy.

Lima puluh menit kemudian Fairy sampai di Pejaten. Benar saja, hujan gerimis mulai menghadang langkahnya. Dengan gesit, setelah membayar ojek, Fairy berlari secepat kilat ke arah Penvill. Setelah memasuki mall besar di Jakarta Selatan itu, Fairy langsung mencari toilet terdekat di lantai dasar.

Di sana, Fairy mencari kaca dan sedikit memperbaiki kosmetik di wajahnya. Seharusnya dia pulang ke kosan, mandi, kemudian mengganti baju, baru menuju Penvill. Namun, sore itu ia terpaksa mengenakan pakaian yang sama sejak liputan pagi hari.

Gadis itu menyapu kembali pipinya dengan bedak. Fairy terbiasa melakukan top up make up saat bertemu Genta diwaktu seperti itu. Ia memoles kembali bibirnya dengan lisptik berwarna merah muda lembut. Kemudian, ia menyisir rambutnya dan menggulungnya ke atas. Tak lupa, poninya ia biarkan sedikit tak beraturan. Fairy melilitkan sebuah syal biru di lehernya.

Setelah yakin penampilannya cukup rapi, Fairy bergegas mencari lift terdekat menuju XXI di lantai empat. Fairy panik saat melirik jam tangannya dan mendapati sudah pukul 19.20 WIB.

Sesampainya di pintu teater, Fairy menemukan semua penonton sudah masuk ke dalam. Ia membaca lagi pesan Genta yang memberitahukan nomor tempat duduknya. Pesan itu dikirimkan Genta sekitar pukul 19.05 WIB. Setelah berkomunikasi dengan petugas di pintu teater dan mengambil kacamata 3D miliknya, Fairy perlahan berjalan masuk dan mencari tempat duduknya. Ia berusaha untuk tidak menghalangi pandangan penonton lain.

Fairy akhirnya menemukan tempat duduknya. Di sebelahnya, Genta sudah bersandar mengenakan kacamata 3D dan serius memandang ke layar. Fairy sadar kekasih hatinya itu sedikit merajuk. Hal itu ia rasakan karena Genta tak menunjukkan reaksi apa-apa saat Fairy sudah duduk di sampingnya. Sebuah kecupan lembut diberikan Fairy di pipi kanan Genta sebagai pertanda ia menyesal dan minta maaf.

Kejutan dari Fairy itu membuat Genta kaget.

“Kalo kamu kaya gitu lagi, kamu harus jadi istri aku,” kata Genta berbisik ke arah Fairy.

Spontan saja, Fairy kembali melakukan hal yang sama. Ia mengecup lagi pipi kanan kekasihnya itu. Fairy langsung membuang mukanya menjauhi tatapan terkejut Genta untuk kedua kalinya.

Gadis itu tersenyum, lalu ikut larut dengan tontonannya. Sedangkan separuh konsentrasi Genta dengan aksi Johnny Deep yang memerankan Kapten Jack Sparrow dan pasangannya, Penelope Cruz difilm itu sudah buyar seiring dua kali kejutan yang dia diberikan Fairy untuknya. Genta kemudian menggenggam tangan kiri Fairy. Keduanya kemudian menyelesaikan tontonannya sampai akhir.

Sekitar pukul 21.35 WIB, petualangan Kapten Jack Sparrow yang mencari air mancur kehidupan itu pun berakhir. Lampu teater kembali dinyalakan. Namun, Fairy tak menemukan di sampingnya. Ia menyadari begitu film berakhir, Genta mengatakan ia ingin buru-buru ke toilet. Genta juga meminta Fairy untuk menunggunya di dalam teater.

Fairy kemudian tetap pada posisi duduknya. Penonton lain sudah mulai mengantre keluar dari teater satu itu. Hingga penonton terakhir keluar, Genta tak kunjung datang. Fairy kemudian menyalakan ponselnya dan mencoba menghubungi Genta. Panggilannya terhubung tapi Genta tak mengangkatnya. Fairy menjadi penasaran dengan kekasihnya.

Tak lama kemudian lampu teater kembali gelap. Tiba-tiba Fairy mendengar sebuah suara yang sangat dia kenal, suara Genta. “Tenang sayang, semuanya baik-baik saja,” ujar Genta namun tak diketahui dimana dia berada.

Serta merta tubuh Fairy yang sedari tadi bersandar lesu langsung tegak. Wajahnya terlihat lega bukan main. Namun, ekspresi penuh tanda tanya masih menghiasi wajahnya.

“Genta, kamu dimana?” Fairy langsung berteriak. Suaranya membahana memenuhi teater satu itu.

Fairy tak kunjung mendengar suara Genta. Ia hanya menyaksikan warna layar yang sedari tadi putih langsung berubah menjadi merah muda. Sederet tulisan kembali terpampang di sana.

“…Ini hadiah dari hatiku untuk kamu…”

Layar teater itu kemudian berubah memperlihatkan sebuah foto Fairy saat rafting di Citarik. Fairy tersenyum sekemilau bintang di dalam foto itu. Ia mengenakan kaos merah berbalut pelampung berwarna biru dengan tangan menggenggam sebuah dayung.

“…Citarik, I’m falling in love at the first sight…”

Setelah tulisan foto pertama keluar, layar langsung berubah memperlihatkan foto kedua. Foto itu berlokasi di Cafe Vietopia. Genta mengambil foto itu secara diam-diam dahulu. Fairy terlihat serius mengetik di hadapan netbooknya.

“…Ini kali kedua aku ketemu kamu. Waktu itu, aku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. It was time that my mind was full of Fairy…”

Foto kedua berlalu dan berganti foto ketiga. Foto itu menunjukkan kencan pertama mereka di Seulawah. Makan malam perdana itu membuat Genta perlahan mengenal sisik Fairy.

“…Malam minggu pertama kita di Seulawah. Setelah makan malam itu aku menganggap mi aceh adalah makanan terlezat di dunia. Itu semua karena kamu…”

Lampu teater kemudian menyala kembali. Dari bawah sana, sosok Genta terlihat membawa rangkaian bunga mawar merah. Ia perlahan menaiki anak tangga menuju Fairy di tempat duduk teratas. Air muka Genta sangat tegang, namun ia berusaha menampilkan senyuman termanisnya. Dalam hati, Fairy teringat pria yang sangat dicintainya itu sebetulnya berkepribadian santai. Namun, malam itu terlihat sangat tegang.

Pandangan keduanya akhirnya bertemu dalam jarak dekat. Mata Genta menyusup ke kedua bola mata Fairy.

“Tadi, diawal pemutaran film, aku bilang kalo kamu melakukan hal itu lagi,” Genta mengetukkan telunjuknya ke pipi kanannya yang dicium Fairy. “Maka kamu harus jadi istri aku,” Genta sedikit gugup dan malu, namun ia berhasil menyelesaikan ucapannya.

Fairy terkesiap. Ia hampir saja membuang pandangannya sesaat karena melihat senyum Genta yang menggodanya.

“Genta, kamu…tadi aku kira…kamu…”

“Aku serius ingin kamu jadi istriku. Tiga bulan sudah sangat cukup untuk aku mengenal kamu dan meyakinkan keinginanku ini Fay. Kamu mau?”

Di tengah buket mawar merah yang dibawa Genta, ternyata ada setangkai mawar yang merupakan kotak sebuah cincin terselip di sana. Genta membukanya.

Fairy semakin kehilangan pertahanannya. Ia tak lagi mampu berpura-pura tenang. Ucapan Genta barusan membuatnya kian luluh dalam perasaan cinta. Sosok Genta begitu nyata di hadapannya. Pria itu hadir disetiap harinya, bahkan belakangan tak pernah absen dari mimpinya. Butuh waktu lama bagi Fairy bisa jatuh cinta lagi. Lamaran Genta barusan membuat harapannya kian sempurna.

Fairy tak tahu caranya menjawab pertanyaan Genta selain anggukan halus kepalanya. Tatapan mata Genta membuatnya yakin bahwa ia telah menemukan cinta di kebeningan mata itu.

Genta seakan membaca pantulan sinar mata itu. Anggukan halus Fairy membuatnya merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Genta mendekatan wajahnya pada Fairy dan mengulangi pertanyaan yang sama.

“Kamu mau menikah denganku?” Kali ini, Fairy seperti memberikan peruntungan ganda untuknya. Gadis itu mengangguk kembali sembari berkata, “ya.”

Genta langsung mengeluarkan cincin itu dari kotakya. Cincin itu terlihat sangat longgar dijari manis kirinya. Fairy tersenyum melihat itu.

“Apakah ukuran jariku sebesar itu sayang?” tatapnya sambil menggoda Genta.

“Kamu tahu sayang? Cincin ini sudah aku siapkan setelah kita jadian di Sabang. Setiap hari aku berusaha mencari waktu yang tepat. Aku nggak mau cincin itu kekecilan, jadi aku sengaja pilih ukuran sedikit besar. Agar apapun yang terjadi, cincin itu pasti muat di jari kamu.”

Fairy tertawa kecil mendengar pengakuan Genta. Ia melepaskan senyuman termanisnya.

“Terima kasih sayang,” jawabnya. Genta mengecup kening Fairy dan kembali menatap wajah kekasihnya itu, seolah ingin mengabadikan wajah bahagia Fairy saat menerima lamarannya.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Fairy mematikan lampu di kamarnya dan menyalakan lampu tidur. Bibirnya mengukir senyum tercerahnya hari itu. Hingga Subuh, Fairy berbaring di kasurnya dengan mata nyalang. Sering kali ia mengangkat tangan kirinya. Ia terlihat mengagumi cincin itu dan masih merasa tak percaya jika semalam Genta melamarnya.

Fairy beberapa kali menutupi wajahnya dengan bantal. Ya ampun, kenapa aku bertingkah seperti remaja belasan tahun yang sedang kasmaran begini? Ujarnya membatin. Padahal, usianya itu sudah menginjak 23 tahun.

Betapa bodohnya aku selama ini, pikir Fairy. Selama ini aku menghabiskan waktu untuk berharap pada ketidakpastian perasaan dengan Daru. Tak lama lagi, aku akan menikah dengan orang yang paling baik sedunia, orang yang paling aku cintai. Perasaan Fairy dipenuhi gelembung kebahagiaan yang selama ini seakan pergi dari kehidupannya. Air mata Fairy merebak.

Fairy masih belum memberitahu siapapun tentang perkembangan hubungannya dengan Genta pascalamaran malam itu. Ia berniat akhir bulan ini akan pulang ke Padang, memberitahukan kedua orang tuanya langsung tentang lamaran itu. Terlebih dahulu, akhir pekan ini, Genta mengajak Fairy mengunjungi Semarang, rumah orang tuanya. Genta berjanji akhir tahun ini akan mengurusi semua persiapan pernikahan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s