A Note to Fairy: 17. Semarang

Ini pertama kainya Fairy berkunjung ke Semarang. Dua hari ke depan, dia akan berlibur di rumah kedua orang tua Genta. Genta sengaja menghentikan taksi yang membawa keduanya beberapa meter dari gerbang rumahnya. Ia ingin memberikan kejutan untuk kedua orang tuanya. Sementara itu, Fairy terlihat semakin gugup dengan keadaan. Sering kali, ia memelintir rambut panjangnya. Hal itu sering dilakukan Fairy jika dirinya merasa gugup dan gelisah.

“Apa kabar bu? Eh ma? Saya Fairy,” ucap Fairy mempraktikkan kalimat yang harus diucapkannya ketika pertama kali bertemu ayah dan ibu Genta. Fairy memeluk lengan Genta, lalu melepaskannya. 

“Ibu? Atau mama? Aku gugup, ini pertama kalinya buat aku,” ujarnya.

Senyum tipis diberikan Genta ke arah gadisnya itu. Ia kemudian sedikit merapikan rambut Fairy, terutama poni lebatnya. Genta berusaha membuat Fairy setenang mungkin.

“Santai sayang, santai,” katanya.

Gerbang yang membatasi rumah Genta hanya 1,5 m orang dewasa. Fairy menggenggam erat bungkusan hadiah yang sedari tadi dipegangnya. Genta menarik travel bag miliknya dan Fairy. Jarak dari gerbang ke pintu rumah Genta sekitar 20 m.

Selang beberapa menit kemudian, sesosok perempuan keluar dari dalam rumah. Perempuan paruh baya itu tersenyum dan berjalan ke arah keduanya. Genta memberi kode ke Fairy bahwa yang tengah menghampiri mereka adalah Sang Mama.

Saat jarak mereka bertiga sudah dekat, wanita itu langsung mencium Genta.

“Sehat, nak?” Ibu Genta kemudian berganti pandangan ke arah Fairy. Hanya hitungan detik, tubuh mama Genta sudah memeluk Fairy. “Ini Fairy kan? Selamat datang, nak.”

Kegugupan Fairy langsung menghilang seperti diserap oleh pelukan mama Genta.

“Ayo masuk, ada papa di dalam.” Mama Genta langsung menggandeng tangan Fairy.

Fairy kemudian menyerahkan sebuah bungkusan kado yang sedari tadi digenggamnya.

“Ma, ini ada sedikit oleh-oleh dari Jakarta.” Sorot kebahagiaan memancar dari kedua mata mama Genta saat menerima bingkisan itu.

“Terima kasih sayang,” jawabnya.

Beberapa langkah setelah memasuki rumah klasik yang berbingkaikan arsitektur kayu itu, Fairy mendengar suara seseorang. Saat menemukan sumber suara itu, Fairy sudah menebak itu adalah papa Genta. Dari samping, perawakan laki-laki itu terlihat bagai laki-laki Jepang sesungguhnya. Papa Genta terlihat sedang bercakap-cakap di telepon.

Fairy dan Genta berdiri tepat di belakang papa Genta. Usai menutup gagang teleponnya, pria itu berbalik dan tersenyum mendapati putranya telah kembali pulang.

Tadaima (Saya pulang),” ujar Genta.

Okaeri. O genki desu ka? (Selamat datang. Kamu sehat?)” Genta dan ayahnya langsung berpelukan.

O kage desu (Saya sehat),” jawab Genta singkat.

“Papa, perkenalkan. Ini Fairy yang aku ceritakan di telepon dulu.”

Fairy sempat memperhatikan wajah papa Genta yang berdarah Jepang itu. Genta memiliki wajah sangat mirip dengan papanya. Tak lama kemudian, mama Genta dan seorang perempuan tua kemudian datang.

“Nah, Fay, ini Bi Larsih. Dia yang bantu mama di rumah.”

Fairy mengangguk. “Makan siangnya sudah siap bu, silakan.”

“Ayo kita makan dulu, Fairy,” ajak mama Genta sambil menggandeng tangan kiri Fairy.

Saat menuju meja makan, Fairy melewati sebuah ruangan yang memuat sederet pigura foto yang tersusun di sebuah meja kayu. Mama Genta kemudian mengambil satu pigura yang berisi foto Genta ketika masih kecil.

“Ini Genta waktu merayakan ulang tahun ketiga,” katanya.

Senyum Fairy mengambang di wajah tegangnya. Genta terlihat sangat lucu di foto itu. Mulutnya penuh dengan krim kue ulang tahun. Di kepalanya bertengger topi segi tiga.

“Ini juga lucu, lihat.” Mama Genta kemudian menyodorkan satu foto baru yang memperlihatkan Genta kecil bergelayut manja di punggung ayahnya. Fairy tersenyum.

Beberapa menit kemudian mereka bertiga berakhir di meja makan. Mama Genta dan Bi Larsih ternyata telah menyiapkan semua menu makanan sedari awal. Setelah selesai makan, Genta meninggalkan Fairy bersama mamanya. Dia menemui papanya di sebuah ruangan.

“Pa, Genta sudah melamar Fairy,” ujar Genta ketika tinggal berdua dengan papanya.

“Oh ya? Papa dan mama sudah membahas sejauh ini. Kami sebenarnya juga berharap kalian segera menikah. Asal, Fairy sudah mengetahui apa yang terjadi padamu tiga tahun lalu. Fairy sudah tahu?” tanya papa Genta memastikan.

Genta tak membalas tatapan papanya. Ia masih menunduk di tempat duduknya sekarang.

“Genta belum menceritakan itu pada Fay, pa,” desisnya.

“Fairy harus tahu,” gumaman berat itu terdengar dari bibir papa Genta. “Bagaimanapun, masa lalu kamu, dia perlu tahu itu. Semuanya, tanpa ada yang perlu kamu tutupi.”

“Kemarilah,” suara papanya menyadarkan Genta yang masih berkutat dengan pikirannya.

Genta mengangkat kepalanya sejenak, perlahan dia bediri dan mendekati sang papa. Bagaikan seorang bocah, Genta langsung larut dalam pelukan ayahnya.

“Menjadi laki-laki itu memang berat nak. Kamu harus kuat. Ceritakan semuanya, tanpa ada yang kamu tutupi. Apa kamu ingin papa mama membantu menjelaskannya?”

Kepala Genta terlihat menggeleng dalam pelukan papanya.

“Biar Genta yang cerita pada Fay, pa. Tapi nanti, di Jakarta,” jawab Genta dengan suara lirih.

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan papanya. Genta langsung menyusul Fairy dan mamanya yang masih berada di taman. Mama Genta kemudian meninggalkan keduanya.

“Ngobrol apa saja tadi sama mama?” tanya Genta.

“Mama nanya, kapan kita menikah?” ujar Fairy polos.

Genta kemudian tertawa mendengar respon Fairy. “Trus, kamu jawab apa?”

“Aku jawab…” ada jeda sejenak pada ucapan Fairy. “Secepatnya. Kecuali kami berubah pikiran dan tiba-tiba suka cewek lain.”

Kedua alis Genta menyatu. “Kamu masih ragu sama aku?” tanya Genta. Ia menunggu gadisnya itu mengeluarkan suara.

“Why so serious honey? Aku tadi bercanda. Aku serius sama kamu,” Genta merasa sangat terhibur dengan jawaban Fairy.

Tak lama kemudian, papa Genta datang menghampiri keduanya.

Nani ga hoshii no desuka? Kyou wa ii o tenki desu ne? (Apa yang sedang kamu lakukan? Bukannya cuaca hari ini sangat bagus?)” katanya. “Kalian cuma satu hari di Semarang. Besok siang sudah pulang lagi ke Jakarta. Kamu nggak mau keliling Semarang Fay?”

“Nggak apa-apa, pa. Tujuan kita ke Semarang kan mau bertemu papa mama. Soal jalan-jalan, next time juga bisa,” jawab Fairy.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Keesokan paginya tiba. Di halaman rumah Genta, sebuah taksi segera mengantar mereka ke bandara. Genta memeluk kedua orang tuanya. Selesai juga kunjungan mereka ke Semarang dan kini keduanya harus kembali ke Jakarta.

“Pa, ma, terima kasih,” ujar Fairy.

“Terima kasih juga sudah datang Fay. I hope you were enjoy and please come to visit us, more often,” pinta papa yang disambut anggukan oleh Fairy.

“Nak, mama sangat berharap kalian secepatnya menikah. Mama sangat percaya Genta Fay. Mama harap kamu bisa menerima Genta apa adanya.” Setelah itu, secara bergantian Fairy memeluk papa dan mama Genta.
Giliran Genta kemudian berpamitan dengan kedua orang tuanya.

“Semoga kalian bisa berbahagia. Jangan lupa kabari kami tanggal hari pernikahan kalian,” terlihat seulas senyum di bibir mama Genta.

Itekimasu, Tou-san (Saya berangkat, ayah).”

Itterasshai (Hati-hati di jalan),” jawab papa Genta. Taksi Blue Bird mengantarkan mereka ke bandara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s