A Note to Fairy: 18.Mendadak ke Manado

Ternyata bukan Genta, ibu, atau ayah Fairy yang menyebabkan ponselnya berdering sedari tadi. Sesampainya di kamar Fairy membaca nama Kang Maik di layar ponselnya. Panggilan penting pastinya, sebab Kang Maik menelepon pukul 22.00 WIB. Tak pernah sebelumnya koordinator liputannya itu melakukan hal ini.

Masih mencoba menebak apa gerangan, tiba-tiba ponsel Fairy berdering lagi. Kembali, nama Kang Maik muncul. Lekas-lekas ia menjawabnya. “Ya kang?”

“Fay, maaf nih dadakan. Besok kamu ke Minahasa ya? Ikut Menteri Kehutanan.”

“Menhut ya? Mmm, boleh lah,” jawab Fairy. “Check in bandara jam berapa?” lanjutnya.

“Jam 5.30 pagi. Kamu pesan taksi dari sekarang ya?” desak Kang Maik sambil tertawa dengan nada tak enak.

“Buset, pagi amat kang?” Fairy mendesah berat, bangun sepagi itu berarti sebaiknya dia tidak tidur malam ini. Jika tidak, ia pasti kesiangan.

Fairy tak banyak tanya lagi. Setelah menutup telepon, langsung saja ia menyalankan DVD player dan menonton kembali film klasik Inggris berjudul ‘Pride and Prejudice.’ Film romantis ini diperankankan Keira Knightly sebagai Elisabeth Bennet. Fairy mungkin sudah lebih dari tiga kali menonton film itu namun ia tak pernah bosan.

Hari sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB ketika Fairy menyelesaikan tontonannya. Dua jam berikutnya, Fairy membaca novel ‘Cewek’ karya Alberthine Endah, penulis favoritnya. Lagi-lagi, novel itu juga bukan yang pertama kalinya diselesaikan Fairy bacaannya. Itu sudah ketiga kalinya pula Fairy menamatkannya.

Pukul 04.00 WIB, Fairy bergegas mandi dan berbenah diri. Sebelumnya, ia sudah memesan sebuah taksi yang akan mengantarnya ke bandara. Hari masih terlalu pagi, saat taksi yang mengantar Fairy memasuki bandara. Cuma 45 menit perjalanan ia sudah sampai. Langsung saja ia menuju ke ruang tunggu VIP bandara. Letaknya antara terminal 1A dan 1B maskapai penerbangan Lion Air. Di sana, Fairy bertemu dengan Mas Sugi dan Mba Alina yang ternyata juga ikut berangkat.

Tak berapa lama ia menunggu, rombongan Menteri Kehutanan sampai. Fairy sempat bersalaman dengan Zulkifli Hasan dan langsung mengiringinya ke dalam shuttle bus yang mengangkut rombongan memasuki pesawat Garuda Indonesia. Jam penerbangan dimulai tepat pukul 06.00 WIB.

Tiga jam penerbangan terasa lama. Fairy sampai pukul 09.00 WIB atau 10.00 WITA. Sebab, Jakarta dan Manado terdapat perbedaan waktu sekitar satu jam. Perjalanan mereka tak terhenti di sana. Ada empat lokasi yang akan dikunjungi Menhut, tiga lokasi kebun bibit rakyat (KBR), dan satu hutan tanaman rakyat (HTR).

Mobil wartawan yang Fairy tumpangi menuju ke Desa Talawaan di Kabupaten Minahasa Utara. Di sana, Menhut disambut dengan tarian Tumatenden. Tarian itu dimainkan tujuh orang penari sebagai simbol tujuh bidadari. Fairy sempat terlarut dalam pesona budaya tarian khas Sulawesi itu.

Menurut reporter televisi lokal yang baru saja Fairy kenal, Maria, tarian ini sudah melegenda di kalangan masyarakat Minahasa. Setiap bulan purnama, ketujuh bidadari itu turun ke bumi untuk mandi. Hingga datanglah seorang pemuda Minahasa yang tertarik pada bidadari-bidadari itu dan berusaha memikat salah satunya. Pria itu mencuri salah satu selendang yang merupakan sayap Sang idadari. Bidadari yang bernama Tumatenden itu tak bisa kembali ke khayangan, dan akhirnya menikah dengan pemuda tersebut.

Di penghujung tarian, Fairy sempat dikagetkan seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Saat menoleh, betapa terkejutnya gadis itu. Matanya membelalak tak percaya, lalu terus lekat memandangi sosok yang ada di belakangnya. Sementara, otaknya mencoba terus mengasimilasi pemandangan yang baru saja dilihatnya. Sahabat tercintanya tersenyum mengarah padanya, Sasmitha. Fairy berteriak kecil dan langsung memeluk sahabatnya itu.

“Mitha? Kok bisa? Lu kok ada di sini? Mith? Gue nggak mimpi kan?”

Sebelum Fairy berkesempatan menyemburkan pertanyaan yang lebih banyak lagi, buru-buru Sasmitha mencubit pipi Fairy. Gadis itupun kesakitan.

“Lu nggak mimpi Fay,” kata Sasmitha mengungkapkan ketakjuban Fairy pada pertemuan tak terduga mereka.

Keduanya kembali berpelukan. Selama 2,5 tahun mereka tak berjumpa. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya sesekali chating di dunia maya, atau sesekali menghubungi via telepon.

Kabar terakhir yang Fairy ketahui tentang Sasmitha adalah sahabatnya itu bekerja di sebuah NGO asing yang bergerak di bidang konservasi lahan basah (wetland) di Bali. Dalam percakapan singkat itu, Fairy mengetahui bahwa setengah tahun belakangan, ternyata Sasmitha resign dan pindah kerja ke Sulawesi Utara.

“Lu semakin cantik Fay, pangling Gue,” ujar Sasmitha dengan nada kagum. Jelas saja, menurutnya Fairy tak setomboy biasanya, seperti yang ia kenal sewaktu kuliah dulu.

“Gue punya banyak pertanyaan ini itu buat lu Mith. Lu sibuk nggak ntar malam? Ketemuan di Boulevard ya? Aku nginap di Hotel Arya Duta,” Fairy berbicara senewen kepada sahabatnya itu.

“Oke, oke, sure, I will come,” kata Sasmitha sambil kembali memeluk Fairy.

Peserta yang hadir dalam pertemuan kali itu mulai membubarkan diri. Sekarang waktunya puncak acara. Menteri Kehutanan akan melakukan penanaman pohon di HTR Talawaan. Inilah saatnya Fairy melakukan wawancara dan liputan.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

18.30 WITA

Senja di Manado hampir terlewatkan. Fairy melirik jam tangannya. Sasmitha belum datang, tak juga menelepon. Beberapa jam sebelumnya Fairy sempat mengirimkan pesan singkat yang memberitahukan ia menunggu Sasmitha di Angel Fish Resto.

Berbekal informasi dari seorang resepsionis hotel, Fairy memesan sebuah taksi mengantarnya ke Jalan Piere Tendean. Di sana, pemandangan senja Manado dengan suasana pantai dapat bebas dinikmati. Tak ketinggalan, sajian kulinernya yang sedap.

Fairy datang setengah jam lebih cepat dari jadwalnya bertemu Sasmitha. Ia memutuskan berjalan-jalan dahulu. Sesekali, Fairy menyandarkan tubuhnya ke tembok pembatas pantai sambil memotret matahari senja yang akan mengucapkan selamat tinggal hari itu. Fairy masih sempat melihat birunya laut dengan jelas. Pasangan muda mudi berjalan bergandengan tangan di jalur pedestrian sepanjang pantai.

Pemandangan Teluk Manado sangat indah. Fairy sebelumnya sudah memesan salah satu seat di restofan seafood yang berbentuk rumah panggung. Di sampingnya, sejejeran rumah toko yang menjadi bagian dari Kawasan Boulevard Manado terlihat penuh dengan wisatawan yang membeli pernak-pernik khas kota itu.

Di sudut lain, Fairy melihat beberapa perahu cadik bermotor parkir di tepian. Perahu itu khusus disediakan bagi penumpang yang ingin menikmati senja di tengah laut. Tepat ketika Fairy mengarahkan pandangan matanya ke salah satu siluet nyiur dan matahari senja, bahunya ditepuk dari belakang.

“Maaf terlambat say, tadi aku ada panggilan kantor dulu,” kata Sasmitha mengumbar senyumnya bersahabat.

Seorang pelayan datang membawakan buku menu. Fairy memesan menu ikan oci-oci atau ikan bakar tude khas Manado. Kabarnya, menu ikan bakar di Manado sangat memanjakan lidah. Mulai dari kerapu bakar, udang bakar, kakap merah bakar, hingga geropa bakar. Harganya juga akrab di kantong. Bayangkan, harga satu porsi berisi dua ekor ikan tude bakar saja cukup Rp 25 ribu. Itu pun sudah dilengkapi nasi dan sambal dabu-dabu, sambal khas Manado.

Tak hanya memesan menu ikan, Sasmitha juga memesan sepaket gohu dan susen untuk camilan penutup mengiringi percakapan mereka. Gohu sejenis asinan khas Manado yang terbuat dari buah pepaya muda. Pepaya dipotong memanjang. Air asinannya terdiri dari jahe dan bawang merah, cabai, dan sedikit cuka. Sedangkan susen sama rasanya dengan kue sus merdeka yang juga bisa ditemukan di Bandung. Penamaannya saja yang berbeda.

Kedua sahabat itu pun terlarut dalam nostalgia percakapan mereka. Mulai dari mengenang masa lalu saat keduanya masih berstatus mahasiswa hingga beberapa scene kehidupan pascawisuda yang mereka lewati. Sasmitha pun bahagia, sebab pada akhirnya sahabat tercintanya itu akan segera menikah. Namun, nama Daru tak pernah absen dari pembicaraan keduanya.

“Lu udah bisa lupain Daru kan Fay?” ujar Sasmitha sambil memegang punggung tangan kanan Fairy.

“Lupain Daru? It’s not easy, Mith. Cuma gue sekarang berusaha lebih realistis aja,” Fairy mengakhiri ucapannya dengan senyum lembut.

“Lu cerita ke calon suami lu yang sekarang soal lu yang dulu?”

“Genta nggak perlu tahu detail masa lalu gue yang satu itu. Toh, gue udah mau nikah sama dia.”

“Namanya Genta?” tanya Sasmitha.

“Iya,” Fairy kemudian mengangguk.

Sasmitha terlihat mengangguk sejenak, kemudian ia langsung menatap kedua mata sahabatnya itu, mencoba mencari tahu apakah Fairy jujur mengucapkannya.

“Kalo lu nggak kasih tahu calon suami lu, gue harap next time kita nggak perlu bahas soal Daru lagi. Lu udah mutusin lupain Daru, berarti…..”

“Gue kan bilang nggak semudah itu lupain Daru?”

“Oh, ayolah Fay, jangan begitu. Lu harus cerita ke Genta. We never know what will happen tomorrow. Dengan lu cerita ke Genta, berarti lu udah mengurangi beban lu. Lu bakal semakin mudah lupain Daru.”

Fairy mendadak kaku. Ucapan Sasmitha membuat otaknya membeku. Sebenarnya ia belum ikhlas melepaskan Daru dari belitan memori otaknya. Ia sudah teramat terbiasa menjadi bayangan yang selalu ada di dekat Daru, tak peduli berapa lamapun itu.

Suara nada dering ponsel Sasmitha membuat percakapan keduanya terhenti sejenak. Sasmitha meraih ponsel dari dalam tasnya. Sesaat, ia menatap nama pemanggil di layar ponsel cukup lama. Tak sesemangat ia berbicara dengan sahabat di depannya, Sasmitha menekan pelan tanda penerima panggilan.

“Halo, ma,” sapanya.

Gadis itu tak merubah posisi terahir duduknya. Ia termenung sambil mendengarkan seksama suara wanita yang disapanya mama dari seberang sama. Fairy tak berani menyela, ia hanya memandangi balik wajah sahabatnya yang terlihat sangat tegang. Tak berapa lama, air mata itu akhirnya tumpah dari wajahnya. Beribu pertanyaan sepertinya sudah siap dilayangkan Fairy kepada sahabatnya itu. Namun, ia tetap bergeming, kecuali menyaksikan sahabat yang duduk di depannya terpekur lemas.

“Bagaimana kondisi Livy sekarang, ma?” tanya Sasmitha. Ia pun seksama mendengarkan mamanya menjelaskan dari kejauhan.

“Iya Ma, Mitha langsung pulang, segera,” Sasmitha lalu menutup teleponnya. Lebih dari dua menit kemudian ia masih tetap di posisi duduk awal.

Fairy mencoba mencairkan suasana. “Mith, is there something bad happen? Mmm, Livy siapa Mith?” tanya Fairy membuka pertanyaan.

“Livy….Livy, dia…., dia anak gue Fay,” Sasmitha mengarahkan wajahnya yang penuh dengan air mata ke arah Fay. Ia mengerang sedih seperti sedang terluka sangat dalam.

“Fay, bantu gue Fay, Livy sakit Fay, Livy butuh gue. Gue….gue harus ke Bali malam ini juga,” ujar Sasmitha.

Fairy panik dan spontan menahan guncangan tubuh sahabatnya, meskipun ia masih menyisakan berjuta tanda tanya.

“Oke..oke…lu tenang dulu say. Mmmm, sebentar, biar gue coba cari informasi dulu,” ujar Fairy seraya mengeluarkan ponsel lain dari tasnya.

Ia menekan sederet nomor dan menghubungi salah satu staf humas pemerintah kota Manado yang mengurusi akomodasinya selama di Manado. Fairy mencoba menanyakan penerbangan pesawat ke Bali, jika memungkinkan ia akan ikut serta bersama sahabatnya itu.

Setelah menutup pembicaraan, dengan sigap Fairy meminta Sasmitha untuk bersabar dan menenangkan diri.

“Mith, penerbangan terakhir ternyata jam 6 sore tadi. Tapi gue udah pesan tiket pesawat paling pagi buat lu besok, jam 6 pagi. Mmm, jika lu nggak keberatan, gue boleh temani lu di rumah malam ini?” pinta Fairy.

Sasmitha yang sedari tadi masih menangis mengangguk pelan. Fairy menopang tubuh sahabatnya yang melemah keluar dari restoran itu segera. Sebuah taksi membawa keduanya ke rumah Sasmitha yang memerlukan waktu sekitar 20 menit perjalanan.

Taksi berhenti tepat di sebuah rumah sederhana namun memiliki halaman yang cukup luas beralaskan rumput hijau. Sekilas, cat bagian dinding luar rumah itu terlihat berwarna hijau cyan. Setelah taksi berlalu, Sasmitha membuka kunci pagar rumahnya. Ternyata, Sasmitha tinggal di rumah itu sendiri.

Usai menyalakan lampu ruang tengah, Sasmitha terkulai lemas di sofanya. Fairy mencoba meraba-raba mengarah ke dapur. Dari balik lemari pendingin, ia mengambil sebotol air segar untuk sahabatnya. Sasmitha mereguk dua kali air putih itu. Ia mengarahkan pandangan ke Fairy sambil tetap berurai air mata. Fairy pun memeluk tubuh sahabatnya itu.

“Kalo lu belum mau cerita sekarang, gue nggak akan bertanya lagi Mith,” Fairy membelai rambut Sasmitha. Ia merasakan sahabatnya itu tengah rapuh sekarang, dan ia tak perlu bertanya lagi.

Sejenak, Sasmitha melepaskan pelukan Fairy. Ia menatap wajah sahabat yang duduk di kursi di sampingnya itu. Lebih dari empat tahun ia memutuskan tak akan menceritakan apa pun tentang Livy kepada orang lain. Terlebih tentang rahasia kehidupan cintanya yang buruk.

“Maaf Fay, gue nggak pernah cerita sama lu,” Sasmitha mulai membuka pembicaraan. Ia kemudian menyibak rambutnya dengan kedua tangannya dan menghapus air mata yang masih mengalir di wajahnya. Sedangkan Fairy mencoba mendengarkan dengan seksama.

Setelah lulus wisuda, Sasmitha memutuskan kembali ke Denpasar, Bali. Di sana, ia berkenalan dengan seorang pria. Mereka akhirnya menjalin hubungan serius. Keluarga Sasmitha pun menyambut baik kehadiran pria itu.

Sayangnya, sebelum menikah, Sasmitha hamil. Meski keluarga membenci habis-habisan karena kecerobohan putrinya, namun orang tua Sasmitha tak mengizinkan anaknya melakukan aborsi. Sasmitha akhirnya menikah dengan pria itu. Namun, baru tiga bulan menikah, pria itu meninggalkan Sasmitha tanpa pamit dan menghilang.

Sasmitha terpukul dan melewati kehamilannya sendiri. Bersama ayah dan ibunya, Sasmitha memutuskan pindah dari Denpasar. Mereka semua akhirnya menetap di Ubud. Terus berada di Denpasar hanya menyiksa Sasmitha, sebab selalu teringat sosok pria yang sudah melukainya itu.

Selama melewati masa kehamilannya di Ubud, diam-diam, Sasmitha mempunyai kebiasaan merokok. Ia mengabaikan kesehatannya dan tak pernah memeriksakan kandungannya ke dokter. Sasmitha akhirnya melahirkan seorang putri. Kedua orang tuanya memberi nama Livy. Sasmitha melahirkan Livy tanpa rasa cinta. Ia justru membenci anaknya itu.

Sasmitha masih ingat disaat masih bayi, Livy tak mau menyusu padanya. Livy kecil cenderung rewel dan sering batuk-batuk. Livy lebih sering menangis, tak bisa tidur dan selalu gelisah. Belakangan, diketahui Livy ternyata menderita penyakit pneumonia atau radang paru-paru. Sedikit demi sedikit rasa sayang timbul dari lubuk hati Sasmitha. Bayi tak berdosa itu harus menanggung penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan buruknya selama masa kehamilan.

Saat ini, Livy sudah berusia tiga tahun. Selama itu pula hidup Livy bergantung pada obat-obatan dokter. Ia pun dilarang melakukan aktivitas apapun yang berpotensi membuatnya kelelahan.

“Mama bilang, Livy tak minum obatnya dua hari terakhir. Itu membuat tubuhnya lemah dan dia pingsan sehingga harus diopname.” Fairy tertegun dan ikut berurai air mata mendengarkan kisah sahabatnya itu.

Tepat pukul 06.00 WITA, Fairy melepas Sasmitha di Bandara Sam Ratulangi. Entah kapan lagi keduanya akan bertemu. Namun, sejak saat itu, Fairy berjanji akan terus menjalin komunikasi dengan Sasmitha. Setidaknya, ia ingin menemani hari-hari sahabatnya. Meskipun, warna hidup keduanya sudah tak sama lagi, namun masih ada ruang berbagi yang dapat membuat persahabatan keduanya lebih berarti.

Sekitar pukul 07.00 WIB, Fairy kembali sampai di Hotel Arya Duta. Ia bergegas ke kamar dan memberesi perlengkapannya karena pukul 08.30 WITA, rombongan kementerian dan wartawan juga berlepas ke Jakarta. Ia menyempatkan sarapan pagi di hotel dengan sepiring omelet telur dan dua potong sosis. Baru dua sendok ia menikmati sajian pagi itu, sebuah pesan lewat BlackBerry Messanger diterimanya.

I hope your job going well.
Cpt pulang ya?
I miss u, my princess.

-Genta-

Fairy tersenyum membaca pesan Genta. Setidaknya, ia memiliki seseorang yang menanti kepulangannya di Jakarta nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s