A Note to Fairy: 19. Kota Tua

Genta terpaksa menggunakan transportasi umum pagi itu. Di tengah jalan, mobilnya mengalami pecah ban kanan. Ia yakin peristiwa nahas yang baru saja menimpanya akibat ranjau paku yang kerap ditebarkan pelaku tak bertanggung jawab di sepanjang jalan. Hal ini untuk menjerat kendaraan-kendaraan yang lewat dan akhirnya menguntungkan sebagian bengkel dadakan yang tersebar di sepanjang jalan. Bahkan, tak jarang ranjau paku mencelakai pengendara.

Lokasinya tepat di sekitar Istana Merdeka, Jakarta. Ranjau paku sangat membuat kesal, khususnya pengendara motor. Ibarat sudah jatuh dan tertimpa tangga, pengendara motor yang bannya kempis masih harus mendorong motornya ke bengkel terdekat. 

Menurut informasi TMC Polda Metro Jaya, setidaknya ada 32 titik jalan yang rawan ranjau paku di Jakarta. Salah satunya di lokasi mobil Genta saat ini. Jalan Medan Merdeka Utara, ruas Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, hingga Jalan Majaphit dari Tanah Abang menuju Harmoni. Tak kurang dari 300 kilogram ranjau paku dikumpulkan setiap bulannya di lokasi tersebut.

Usai menghubungi mobil derek, Genta akhirnya memutuskan menaiki bus Transjakarta dari Stasiun Harmoni menuju Stasiun Kota. Pagi itu ia berniat mengurusi perbaruan paspornya di Kantor Imigrasi Jakarta Barat yang berlokasi di Jakarta Pusat.

Halte Stasiun Kota pagi itu masih sepi. Jam tangan Genta masih menunjukkan pukul 06.40 WIB. Ia sengaja datang pagi-pagi agar semua urusannya cepat selesai. Kantor Imigrasi di Kota seakan tak pernah sepi. Menurut informasi Cipto, salah satu sahabat Genta yang bekerja di salah satu travel agent di Jakarta, setiap harinya rata-rata 400 orang mengurusi paspor di sana.

Melalui Cipto jugalah Genta akan memperbaharui paspornya. Lembar visanya terakhirnya sudah penuh usai ia mengikuti meliput kunjungan kerja Kementerian Kehutanan di Brasil dua bulan lalu. Bulan depan, Genta akan mengikuti Konvensi Internasional Perubahan Iklim di Maldive.

Genta menuruni basement Stasiun Kota. Di sana, ia melihat banyak sekali gelandangan yang masih terlelap dalam tidurnya. Mereka tidur beralaskan beberapa lembar koran dengan wajah yang masih ditutupi sarung. Genta kemudian kembali menaiki tangga dan keluar melalui kotak kaca menembus jalanan utama Kota Tua.

Kota Tua berdekatan dengan Stasiun Kereta Api Kota Jakarta. Suasana berbeda selalu dirasakan setiap kali melewati tempat itu. Sejarah, onthel, museum, dan kuliner adalah empat kata yang menggambarkan kawasan tua yang kian tergerus modernisasi Jakarta itu. Kota Tua menjadi saksi sejarah perkembangan Kota Jakarta.
Kita masih bisa menjumpai ojek sepeda onthel yang mengantaran penumpang ke tempat tujuan. Sederetan museum ada di sepanjang jalan, seperti Museum Bank Indonesia, Museum Mandiri, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Fatahillah, hingga Museum Bahari.

Genta memutuskan berjalan kaki. Ia melewati Museum Bank Indonesia. Museum itu bisa dimasuki secara gratis oleh siapapun. Di sana, pengunjung dapat belajar sejarah uang Indonesia. Berbagai macam bentuk uang mulai dari pasca kemerdekaan hingga tahun ini dapat dijumpai di dalamnya.

Museum Bank Mandiri ada di depan Stasiun Jakarta Kota. Pengunjung pelajar, mahasiswa, dan nasabah Bank Mandiri dapat masuk ke museum ini secara gratis. Pengunjung umum hanya dikenakan biaya masuk Rp 2.000 per orang. Museum Bank Mandiri penuh dengan koleksi-koleksi perbankan nasional dari masa ke masa, seperti slip deposito, mesin tik kuno, hingga brankas bank.

Museum Fatahillah berada di utara Stasiun Jakarta Kota. Pengunjung cukup berjalan kaki sekitar 300 meter untuk mencapai museum ini. Berbagai benda kuno peninggalan Kota Jakarta dapat dijumpai di sini. Misalnya Meriam Si Jagur, dan Patung Hermes. Dahulunya Museum Fatahillah merupakan Kantor Gubernur Jenderal VOC pada zaman penjajahan Belanda di Batavia (Jakarta).

Kantor Imigrasi Jakarta yang menjadi tujuan akhir Genta. Lokasinya tepat di samping Museum Seni Rupa dan Keramik. Banyak keramik-keramik kuno yang dipajang di gedung ini, khususnya keramik peninggalan zaman Kerajaan Majapahit.

Hanya butuh 15 menit Genta sampai di Kantor Imigrasi Kota. Jam tangannya menunjukkan pukul 07.15 WIB. Sesampainya di pintu masuk kantor, Genta meraih ponselnya dan mencari nomor Cipto untuk dihubungi. Tak lama, Cipto lalu mucul. Keduanya terlibat dalam percakapan terkait perpanjangan paspor dan visa Genta.

“Tiga harian Bro, gue jamin ini beres. Emang lu berangkat ke Maldive kapan?” tanya Cipto.

“Akhir bulan ini, To. Makanya gue butuh banget bantuan lu. Soalnya, gue butuh cepat,” jawab Genta.

Cipto mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Tiga hari dari sekarang berarti Rabu. Insya Allah udah kelar. Lu ke sini lagi Rabu, ya?”

Genta mengembangkan senyum. “Thanks berat Bro. Kalo gitu, gue langsung cabut nih, mau balik lagi ke Harmoni. Mobil gue diderek tadi.”

Cipto tertawa mendengar cerita Genta. “Emang asem tuh ranjau paku di Harmoni, gue aja pernah kena dua kali,” kata Cipto.

Usai berpamitan, Genta langsung buru-buru menuju halte Transjakarta Kota. Langkahnya kemudian terhenti, tepat di depan Museum Fatahillah. Di sana, ia melihat sebuah keluarga muda yang terdiri dari suami, isteri, dan balita mereka yang kira-kira berumur dua tahun. Bayi itu tengah dipapah sang ayah yang mengajarinya berjalan.

Genta kemudian tersenyum, ia mengeluarkan kembali ponselnya dan mengambil gambar kemesraan dipagi hari itu. Lalu, ia mencari nama Fairy dan mengirimkan foto itu pada kekasihnya. Genta sempat menyisipkan komentar di foto itu.

…When we?? I love u this morning, my princess…

Dalam perjalanannya, Genta menemukan penjaja cemilan dan pernak-pernik tepat di depan basecamp Komunitas Sahabat Kota Tua. Ia tertarik untuk membeli kue pancong. Kue itu lebih dikenal dengan sebutan kue pukis. Bentuknya putih polos dan adonannya sudah manis. Kue ini terbuat dari tepung terigu, gula, dan telur.

Genta mengunyah dua potong kue itu sambil melanjutkan jalan paginya. Tak lama ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Saat melihat nama pengirim pesan tertera di ponsel hitam itu, Genta tersenyum.

Secepatnya syg.
I love my Genta everyday smile emoticon
Have a nice work.

-Fairy-

Genta baru saja akan menyeberang jalan saat sebuah mobil Nissan Grand Livina membunyikan klaksonnya sangat keras. Mobil itu nyaris menabraknya. Genta terlalu asik memperhatikan ponselnya tanpa menyadari sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi tepat di tikungan Museum Bank Indonesia.

Jarak tubuh Genta dengan mobil yang nyaris menabrak kaki kanannya itu hanya 30 cm. Seorang laki-laki keluar dari mobil itu dan menghampirinya. “Maaf, maaf, mas tidak apa-apa?” tanya pria itu sambil memegang bahu kiri Genta.

Genta masih dalam keterkejutannya. “Nggak apa-apa mas. Ini saya yang ceroboh menyeberang. Maaf juga,” jawab Genta.

Pandangan laki-laki yang nyaris menabrak Genta tadi kemudian tertuju pada ponsel Genta yang terjatuh tak jauh darinya. Laki-laki itu kemudian berjalan mengambil ponsel itu, mengamati foto di wallpapernya sejenak, kemudian langsung menyerahkan kembali pada Genta.

“Sekali lagi saya minta maaf,” ulangnya.

“Sama-sama mas, saya juga minta maaf sudah membuat perjalanannya terganggu. Terimakasih,” jawab Genta sambil menerima ponselnya kembali.

“Masnya mau kemana? Kalo searah, biar saya antar,” tawar laki-laki itu kemudian.

“Wah, terimakasih mas. Tapi, saya bermaksud naik Transjakarta saja. Itu pintu masuk haltenya ada di depan sana,” telunjuk Genta mengarah kepada tangga di dalam rumah kaca yang menjadi jalan menuju stasiun bawah yang tembus ke terminal Halte Kota Transjakarta.

Genta kemudian langsung menghambur melanjutkan perjalanannya yang tertunda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s