A Note to Fairy: 2. Heart of Borneo

Selama dua minggu, tim ekspedisi Himakova bertualang di belantara Kalimantan Barat. Bukit Baka Bukit Raya memiliki alam yang masih perawan. Kawasan konservasi ini tergabung ke dalam areal hutan yang dijuluki Heart of Borneo.

Salah satu isu lingkungan terbesar saat ini adalah hilangnya keanekaragaman hayati. Perubahan iklim dan siklus hidrologi akibat pemanasan global pastinya membawa proses adaptasi yang luar biasa bagi satwaliar di Bukit Baka Bukit Raya yang luasannya mencapai 181.090 hektare (ha).

Akses yang sulit membuat kawasan dilindungi ini jarang dikunjungi manusia. Hanya kelompok adat masyarakat Dayak yang bertahan hidup di dalamnya. Dari Pontianak, Daru mengarahkan perjalanan tim menuju Sintang dan terus ke Desa Nanga Pinoh. Perjalanan ke sana menghabiskan waktu mencapai 12 jam. 

“Sesampainya di Nanga Pinoh, dua jam berikutnya kita akan menempuh perjalanan ke lokasi log pond milik PT Sari Bumi Kusuma (SBK), salah satu perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) di Kalimantan Barat,” Daru memberitahukan secara detail rincian perjalanan mereka kepada Argon.

Bus Damri yang mengangkut puluhan anggota tim ekspedisi Himakova hanya bisa mengantarkan mereka sampai di Nanga Pinoh. Di desa itu, tim kembali membongkar muat perlengkapan mereka ke dalam truk terbuka yang sudah disiapkan. Perjalanan ke log pond SBK hanya dapat dilewati truk karena kondisi jalan yang buruk dan belum diaspal. Akses jalan yang ada hanya berupa tanah merah yang berundak-undak.

Log pond merupakan tempat pengumpulan kayu yang diproduksi dari areal hutan konsesi milik SBK. Perjalanan menuju log pond SBK akan sangat berbahaya jika dilakukan sewaktu hujan. Sebab, tanah merah yang mereka lalui akan berubah menjadi lautan lumpur yang sangat licin.

Daru mendapatkan informasi dari pihak taman nasional bahwa sering kali truk pengangkut kayu menginap berhari-hari di jalan. Itu terjadi akibat truk tersebut terbalik, atau karena rodanya terendam di dalam lumpur yang dalam. Sehingga, supir pengangkut membutuhkan tenaga penarik yang kuat untuk mengeluarkan kendaraannya yang terjebak di dalam lubang lumpur tadi.

“Setelah sampai di log pond SBK, berapa lama lagi kita bisa sampai ke lokasi dan mendirikan tenda?” tanya Argon dari atas truk.

“Dari log pond ke titik pertama ekspedisi kita, jaraknya masih satu jam perjalanan. Kita akan istirahat sekitar satu jam di log pond. Kondisi anak-anak pasti sangat lelah. Perjalanan menantang sesungguhnya akan dimulai setelah dari log pond itu. Jadi mereka harus refresh energi.”

“Kamu sudah urus perizinan ke HPH itu?” tanya Argon lagi.

“Sudah. Kebetulan direktur utama SBK itu senior kita. Beliau alumnus angkatan 18 Fakultas Kehutanan IPB. Nah, setelah dari log pond, kita masih harus naik truk satu jam ke KM 44. Itu adalah titik perbatasan antara Bukit Baka dengan Bukit Raya, termasuk titik batas provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Dari KM 44, kita akan tracking ke lokasi tempat kita mendirikan camp,” papar Daru.

“Wow, ekspedisi kali ini bakal menguras tenaga ekstra,” komentar Argon yang disambut lirikan mata Daru dan senyumnya yang penuh semangat.

Dari atas kepala truk, Daru kemudian menoleh ke belakang. Ia memastikan kondisi teman-temannya masih aman dan baik-baik saja.

“Guys, welcome to heart of Borneo. Fahutaaaaaan……,” teriak Daru.

“Asik!” teriak anggota tim lainnya merespon jargon khas almamater mereka.

Jargon ASIK merupakan kebanggan Fakultas Kehutanan IPB. ASIK merupakan akronim dari Agamis, Sportif, Intelek, Kreatif. Empat karakter itu harus dimiliki oleh seorang rimbawan IPB.

Setelah meneriakkan jargon itu, secara serentak, tim ekspedisi menyanyikan lagu-lagu sylva kehutanan, mulai dari Mars Rimbawan, Hawaian Forester, Api Unggun, dan Sahabat Perjalanan. Semangat rimbawan yang tertanam di dalam diri mereka kian erat, seiring tantangan belantara Kalimantan yang siap mereka taklukkan.

Hai perwira rimba raya, mari kita bernyanyi
Memuji hutan rimba dengan lagu yang gembira dan nyanyian yang murni
Meski sepi hidup kita jauh di tengah rimba
Tapi kita gembira sebabnya kita bekerja untuk nusa dan bangsa
Rimba raya, rimba raya, indah permai dan mulia
Maha taman tempat kita bekerja
Rimba raya maha indah, cantik, molek, perkasa
Penghibur hati susah penyokok nusa dan bangsa
Rimba raya mulia
Disitulah kita kerja disinar matahari
Gunung lembah berduri harus lah kita arungi dengan hati yang murni

(Mars Rimbawan)

Tim ekspedisi Himakova akhirnya sampai di KM 44. Dari sana, mereka berjalan kaki melalui jalur patroli taman nasional menuju KM 37-39. Argon sebelumnya memecah tim menjadi delapan kelompok kecil, berdasarkan obyek yang akan mereka teliti.

Kedelapan tim itu adalah tim burung ‘Perenjak,’ tim mamalia ‘Tarsius,’ tim herpetofauna ‘Python,’ tim kupu-kupu ‘Sarpedon,’ tim flora ‘Rafflesia,’ tim gua ‘Hira,’ dan tim ekowisata ‘Tapak.’ Sedangkan tim fotografi ‘Foka’ yang bertugas mendokumentasikan penemuan-penemuan unik ekspedisi dilebur bersama tujuh kelompok lainnya.

Pada salah satu tepian sungai, Fairy yang tergabung dalam tim burung mendirikan tenda. Di sekitar sungai itu banyak tumbuh tanaman kayu berdiamater besar. Jarak antara satu tim dengan tim berikutnya berkisar 500 m hingga 800 m. Tujuannya agar kehadiran mereka di hutan tidak menimbulkan kebisingan yang berpotensi menganggu konsentrasi satwaliar yang tinggal dihutan tersebut.

Keesokan paginya, sekitar pukul 05.00 WIB, Fairy terbangun. Gadis itu kemudian membangunkan Teh Lin yang tidur setenda dengannya. Tim burung terdiri dari sembilan anggota, dan hanya beranggotakan dua perempuan, yaitu Fairy dan Teh Lin.

Setelah keluar dari tendanya, Fairy berlanjut membangunkan rekan-rekannya didua tenda lainnya, termasuk Daru yang masih terlelap tidur. Embun pagi waktu itu masih terasa dingin menusuk tulang.

“Dar, Dar, bangun,” Fairy membangunkan Daru, Dira, dan Wira yang berada dalam satu tenda.

Mata Daru kemudian sedikit terbuka. Meski suasana masih lumayan gelap, dia bisa mengenali siapa yang membangunkannya.

“Jam berapa sekarang, Fay?” tanya Daru dengan nada suara yang masih berat.

Daru perlahan mengucek kedua matanya, kemudian meraih tangan kanan Fairy lalu mengarahkan ke wajahnya sendiri. Fairy sedikit kaget dengan sikap Daru barusan. Ternyata, Daru menekan tombol lampu jam tangan G-Shock yang melingkar di tangan Fairy untuk melihat waktu.

“Udah jam lima. Ayo, Subuh, trus siap-siap pengamatan burung. Jam tangan kamu mana? Jangan sampai hilang,” sela Fairy sambil menarik tangannya.

Fairy masih menyimpan rasa gugup yang hebat ketika bertemu dengan Daru. Apalagi, setelah secara terang-terangan ia mengakui perasaannya beberapa hari lalu di anjungan kapal.

“Ada kok di tas pinggang aku,” jawab Daru.

Sepertinya, Daru menyadari kegugupan Fairy. Suasanya hutan yang lengang dan damai membuat Daru bisa dengan jelas mendengarkan detak jantung Fairy yang semakin cepat. Selang beberapa detik, keduanya saling berpandangan.

“Kamu kenapa? Itu, wajah kamu.”

Fairy mencoba meraba wajahnya.

“Nggak. Aku nggak apa-apa. Memangnya, wajah aku kenapa?”

“Wajah kamu itu jelek banget. Mata kamu ada kotorannya tuh. Trus, ini nih, bekas iler belum kamu bersihin,” Daru menyapu lembut sudut dagu Fairy.

Sontak saja Fairy langsung marah dan mencubit lengan Daru.

“Awww, Fay, sakittttt.”

Teriakan Daru yang cukup keras langsung membangunkan Dira dan Wira yang setenda dengannya.

“Maling, maling, maling, mana malingnya?” teriak Dira tiba-tiba.

“Tangkap malingnya Diiiiiiiiiiiir,” sambung Wira dalam posisi duduk.

Daru dan Fairy tertawa terkekeh menyaksikan tingkah teman-temannya di dalam tenda. Fairy langsung berdiri dan mengambil headlamp untuk penerangannya ke sungai sewaktu mengambil wudhu.

Usai menunaikan Subuh, Fairy bersama Teh Lin menyiapkan teh hangat dan sarapan roti, bekal yang mereka bawa dari Pontianak. Poe yang menjadi koordinator tim burung membagi timnya menjadi dua kelompok. Daru bersama Fairy, Dira, dan Boni di tim pertama. Tim keduanya adalah Wira, Dayat, Poe, Argon, dan Teh Lin.

Tepat pukul 05.30 WIB, tim burung mulai melakukan perjalanan observasi. Mereka berbekal tiga binokuler, satu buku identifikasi burung, global positioning system (GPS) untuk pemetaan, parang untuk alat penebas, dan buku catatan lapang. Seluruh tim mengenakan baju berwarna gelap, seperti hitam dan coklat. Burung termasuk satwa yang sangat sensitif terhadap warna. Baju dengan warna terlalu mencolok mudah dikenali burung dan akibatnya satwa itu akan menjauh dari manusia.

Belantara Kalimantan Barat tak hanya menyimpan kekayaan satwa endemik dan dilindungi, seperti Orang utan (Pongo pygmaeus) dan bekantan (Nasalis larvatus). Hutan ini juga dihuni beragam jenis burung yang unik, khususnya dari suku Bucerotidae, seperti Rangkong badak (Buceros rhinocerros) dan Enggang gading (Buceros vigil) yang menjadi maskot Kalimantan Barat.

Baru saja 10 menit mereka berjalan membelah hutan, mata Daru sudah menangkap kehadiran dua ekor rangkong.

“Fay, catat,” ujar Daru sambil mengarahkan binokulernya ke arah burung tersebut.

“Oke, siap.” Dengan sigap, Fairy membuka buku catatannya.

Sementara itu, Boni terlihat mencocokkan jenis burung yang ditemui Daru dengan buku identifikasi yang ada di tangannya.

“Waktu penemuan 05.45 WIB. Jenis burung Rangkong badak, dua ekor, usia dewasa. Aktivitas hinggap di pohon kayu ara sambil makan,” Boni menjelaskan detail penemuan serinci mungkin.

“Posisi kompas dan titik GPS jangan lupa, Bon,” seru Daru.

“Oke, sudah,” jawab Boni yang berada di barisan paling belakang.

Menit demi menit berikutnya, kelompok Daru menemukan berbagai jenis burung unik Kalimantan. Di antaranya Seriwang asia, Srigunting batu, Tiong-batu Kalimantan, Meninting cegar, Kacembang gadung, Tepekong rangkang, dan Kuau-kerdil Kalimantan. Ekspedisi pertama mereka di belantara Kalimantan itu pun dimulai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s