A Note to Fairy: 20. Pre Wedding

Tiga hari lagi Genta bertolak ke Maldive mengikuti Konvensi Internasional Perubahan Iklim selama sepekan. Fairy seakan terbiasa dengan profesi calon suaminya itu. Meski demikian, kesibukan tak menyurutkan kuantitas komunikasi keduanya. Sesibuk apapun, mereka selalu menyempatkan memberi tahu kabar masing-masing.

Siang itu, Fairy sengaja izin libur dari kantor, demikian juga Genta. Keduanya memutuskan mengambil cuti tiga hari demi mengambil sejumlah foto untuk momen pre wedding mereka. Genta sudah hadir menjemput Fairy di kosannya sekitar pukul 06.00 WIB. Genta menyambut Fairy di depan pintu. 

“Pagi, sayang,” sapa Genta.

Setelah mencium pipi kiri dan kanan Genta, Fairy langsung masuk ke dalam mobil.

Dua pekan sebelumnya, Genta dan Fairy telah menentukan desain undangan pernikahan keduanya di Bandung. Undangan pernikahan menjadi gambaran kebahagian dua calon pengantin. Meski mereka harus merelakan waktu bersantai mereka dihari Sabtu untuk datang ke Bandung.

Fairy tertarik pada warna ungu. Genta sepertinya juga sepakat dengan pilihan Fairy. Undangan minimalis berukuran 20×20 cm itu memadukan ungu tua, ungu muda, merah fresia, dan putih. Pita warna ungu muda menjadi hiasan yang mengikat undangan tersebut. Kertas undangan itu jenisnya jasmine, sedangkan hardcovernya dicetak menampilkan ornamen sulur bunga pada nama kedua pengantin.

Bandoeng Wedding menjadi pilihan mereka, sekaligus menyiapkan fasilitas foto pre wedding untuk melengkapi indahnya undangan pernikahan mereka. Dari Jakarta, keduanya sudah harus sampai di Citarik pada pukul 09.00 WIB. Sebab, pukul 10.00 WIB merupakan waktu paling pas untuk mengambil foto di sana. Sisa waktu menjelang pukul 10.00 WIB akan digunakan untuk mendandani calon pengantin perempuan yang pastinya membutuhkan waktu cukup lama.

Tak ada halangan yang berarti mereka hadapi menuju Citarik. Perjalanan keduanya lancar. Sesampainya di Caldera Citarik River Resort, Fairy langsung didandani pihak fotografi yang sudah datang lebih dulu. Ia akan membuat setting foto pertama dengan konsep elegan.

Foto pre wedding berfungsi mengabadikan momen masa lajang sebelum pasangan melangkah ke jenjang pernikahan. Genta dan Fairy memutuskan lebih banyak mengambil foto pre wedding dengan gaya busana kasual. Sedangkan yang menggunakan gaun pengantin hanya satu sesi. Fotografer dengan sigap mengarahkan fokus kameranya ke wajah Fairy dan Genta. Genta kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Fairy.

“Kamu cantik,” desisnya.

Wajah Fairy terlihat bersemu merah. “Sounds good,” balasnya.

Keduanya kemudian mencoba membuat pose dan gaya-gaya natural. Fairy memang cantik, namun ia bukan seorang wanita yang penuh pembawaan lemah lembut. Fairy cantik dalam versi lain, ia hangat dan penuh keceriaan. Kulitnya kuning langsat dan lembut. Fairy memiliki bola mata yang besar dan indah, bersinar penuh kebahagiaan dan menantang. Hidungnya kecil, namun tidak terlalu mancung. Setiap kali tersenyum, bibir tipisnya akan bersanding dengan sederet gigi putihnya yang rapi.

Pada salah satu plot foto dimana keduanya berada dalam satu perahu rafting, Fairy tersenyum sendiri teringat kejadian dimana ia hampir hanyut dan diselamatkan oleh Genta.

“Kamu udah bisa berenang belum, say?” tutur Genta tiba-tiba.

Fairy kaget dan menolehkan kepalanya ke belakang ke arah Genta. “Sayang, kamu ledekin aku?” godanya.

Genta tertawa terbahak-bahak. Sementara fotografer yang terus mengamati mereka dari darat terus mengabadikan setiap gerak-gerik mereka selama menyusuri Sungai Citarik berdua.

Sesampainya di tepian, setelah menyusur jalur Citarik sepanjang 16 kilometer, Genta dan Fairy menikmati air kelapa muda di tempat yang sama mereka bertemu setahun lalu. Wajah keduanya benar-benar bersemu merah. Tatapan cinta di mata keduanya semakin menguatkan hubungan mereka yang tak lama lagi akan dipenuhi kebahagiaan sebagai pasangan suami isteri.

“Kamu membuatku merasa bersalah,” sergah Genta sambil membelai lembut pipi Fairy yang duduk di hadapannya. “Aku pasti sangat merindukanmu di Maldive,” ujarnya sembari menyusurkan jemarinya di tangan Fairy.

“Kamu mau tahu hal apa yang akan lakukan begitu sampai di sana?” tanya Genta berikutnya.

“Apa?” tanya Fairy.

“Aku akan mengirimimu tiket. Jika sempat, dua hari terakhir, datanglah ke Maldive. Setidaknya aku cuma berpisah dari kamu lima hari aja,” papar Genta.

Fairy tertawa dengan sikap Genta yang ia nilai sedikit kekanak-kanakan. “I will come,” ujar Fairy tersenyum dan seketika membuat mata Genta terlihat berbinar.

“Really?”

“In your dreams, everyday when you there,” jawab Fairy yang membuat Genta menyurutkan senyum. Ia lalu mencubit pipi kanan Genta dengan gemas.

“I love you,” Fairy mengucapkannya.

Kali itu benar-benar keadaan yang berbeda. Fairy menjadi orang pertama yang memulai mengatakan, “aku cinta padamu,” kepada Genta. Ini pertama kalinya ia melakukannya. Sebelumnya, selalu Genta yang memulai, baru Fairy membalasnya.

Mobil Genta melaju dengan kecepatan 80 km per jam. Saat melewati Puncak Pass, Genta sedikit melambatkan kendaraannya. Halimun terlihat mulai turun dan membatasi pandangan.

“Sayang, cuaca hujan kaya begini, kamu tetap mau ke Bogor?” tanya Genta pada Fairy yang duduk di sampingnya.

Fairy terlihat berkonsentrasi membalas pesan di ponselnya.

“Iya sayang, aku nggak enak udah dua kali nolak ketemuan sama Teh Lin, Fitri, Sopian, Dera, Poe, Dieta. Mereka sahabat-sahabat aku pas kuliah dulu. Mumpung aku lagi cuti. Lagian, tempatnya juga di Saung Kuring, dekat Tol Bogor Ring Road kok sayang. Aku nanti turun di Cindy Cake aja, di perempatan jalan sebelum masuk tol, nanti aku naik taksi ke Saung Kuringnya, udah dekat kok.”

“Kamu mau beli cake dulu? Siapa yang ulang tahun?”

“Iya, kebetulan hari ini tuh ulang tahun Poe. Jadi, aku mau beliin dia cake,” jawab Fairy sambil nyengir kuda.

“Sayang, kalo bukan karena malam ini aku ada janji meeting di Kemang, aku pasti nemenin kamu. Nanti kamu pulangnya naik apa?”

“Poe bawa mobil. Rumahnya juga di Jakarta. Nanti, aku pulang bareng Poe dan Dieta.”

“Oke, kamu hati-hati ya? Begitu sampai di rumah, kamu kabari aku.”

“Siap,” jawab Fairy tegas bagaikan prajurit setelah menerima perintah dari komandannya.

Memasuki Baranang Siang, 20 menit berikutnya Genta menurunkan Fairy di tempat yang dimaksud. Keduanya pun berpisah.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Cindy Cake, bagi Fairy, adalah salah satu kenangan masa kuliahnya yang tak terlupakan. Seringkali, Fairy ditemani Daru beberapa kali untuk membelikan kue ulang tahun untuk sahabat-sahabatnya.

Tak ada yang berubah dari tempat itu, mulai dari hiasan di pintu masuk, tatanan kursi meja di dalamnya, etalase tempat menaruh berbagai macam cake yang cantik juga masih tepat di posisinya. Hanya pegawai Cindy Cake yang sudah berganti lebih muda. Mungkin pegawai yang lama sudah pindah kerja.

“Mba, saya mau cake yang ini. Tapi di tengahnya bisa ditambah cream tulisan?” tunjuk Fairy pada sebuah cake di dalam kaca etalase itu.

Pegawai yang berbicara dengan Fairy tak lama kemudian menyodorkan sebuah kertas kecil pada Fairy.

“Bisa Mba, silahkan tulis ucapannya.”

Fairy terlihat menuliskan deretan huruf bertuliskan Happy B’Day Poe kemudian mengembalikan kertas itu pada pegawai Cindy Cake. Fairy kemudian merasakan punggungnya disentuh dari belakang.

“Fairy?” sapa seseorang dari balik punggungnya.

Saat menoleh ke belakang, Fairy mendapati wajah perempuan yang lebih dari empat tahun terakhir tak dilihatnya. Sila, wanita yang sangat dicintai Daru itu kini berada di tempat yang sama dengannya.

“Apa kabar, Fay?” Sila langsung memeluk Fairy hangat. Fairy membalasnya dengan sambutan yang sama.

Sambil menunggu paket kuenya datang, Fairy dan Sila kini duduk di salah satu sudut ruangan Cindy Cake. Obrolan keduanya ditemani dua cangkir kopi caribbean yang menjadi salah satu menu di restoran itu. Sila memang sudah menikah dengan dr Yogi dua tahun lalu. Keduanya sudah dikarunia seorang puteri bernama Yola.

Sebaliknya, Daru sama sekali tak bercerita tentang hal-hal pribadinya pada Sila. Saat Sila mencoba menanyakan tentang Daru, dari sana Fairy baru menyadari bahwa baik dia maupun Sila sama-sama tak mengetahui kabar terbaru tentang Daru. Bahkan, tak satupun dari mereka yang pernah berjumpa dengan Daru.

“Fay, aku khawatir, jika kamu tak ada di samping Daru, selamanya dia akan selalu sendiri.”

“Kamu berlebihan Sil. Sedari dulu, yang dicintai Daru adalah kamu. Kenapa sekarang kamu ngomong begitu?”

“Daru nggak punya siapa-siapa lagi. Kamu hal paling berharga yang dia punya sekarang.”

Fairy tersenyum berat. “Aku ini cuma satu dari sekian banyak sahabat Daru, Sil. Lagian, meskipun Daru itu anak tunggal, dia juga masih punya keluarga di Bogor.”

“Ayah Daru sudah lama meninggal sejak Daru masuk kuliah. Ibunya baru saja meninggal tahun lalu. Aku dapat kabar ini dari mantan dokter pembimbing praktikku di RSJ Marzoeki Mahdi.”

Mata Fairy membelalak tak percaya pada apa yang didengarnya. “RSJ? Maksud kamu?”

“Ibu Daru depresi sekitar enam bulan setelah kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa suaminya.”

Semua cerita mengalir dari Sila. Sebuah cerita kelam tentang Daru yang selama bertahun-tahun ini tak pernah dia ketahui. Sila memandang Fairy yang menatap kosong ke depan.

“Kamu akan tetap bersamanya kan, Fay?”

Fairy menyandarkan kedua telapak tangannya di kepala. Seakan, ia menyangga beban, tanda tanya, dan penyesalan terdalam terhadap Daru.

“Aku ternyata nggak tahu Daru sebanyak itu, Sil. Mungkin karena aku bukan siapa-siapa buat dia.”

Fairy menghapus air mata yang hampir jatuh di sudut matanya.

“Thanks udah cerita semuanya, Sil. Sorry Sil, aku ada janji sama teman-teman. Sampai ketemu lagi ya?” Fairy langsung bergegas ke kasir, mengambil kue pesanannya dan langsung menghentikan taksi di depan Cindy Cake menuju Saung Kuring. Seisi kepalanya mencoba mengingat kembali masa lalunya beberapa tahun lalu.

“Jadi selama ini kamu sering ke rumah sakit bukan hanya karena Sila? Karena ibu kamu ada di sana?” Fairy berbicara sendiri di dalam taksi. Supir taksi sempat mengintip keadaan penumpangnya dari kaca dalam mobil, kemudian kembali konsentrasi menyetir.

“Kamu selalu menolak bicara kalo aku tanyain soal orangtua kamu. Kamu selalu menghindar karena alasan ini? Kamu jarang ditemui di kampus setiap Rabu, Sabtu, dan Minggu juga karena alasan ini? Ya Tuhan, jadi selama ini aku nggak tahu apa-apa tentang kamu, Dar?” Fairy menutup kembali kedua matanya dengan telapak tangannya. Ia mengusap beberapa kali air mata yang mulai membanjir di wajahnya.

“Sudah sampai, neng.” Kalimat dari supir taksi itu menyadarkan Fairy. Ia membayar si supir dan keluar langsung masuk ke Saung Kuring.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s