A Note to Fairy: 21. A Note to Fairy

Fairy sampai di rumahnya sepulang kantor dengan suasana hati yang kacau balau. Jumat ini sungguh membuatnya jengkel. Sepanjang pagi hingga siang hari, Fairy harus menghabiskan waktunya untuk menunggu wawancara profil salah seorang direktur perusahaan distributor alat berat terkenal di Jakarta, Edward Chan.

Setelah menunggu hampir satu jam, Fairy dihadapkan dengan konsultan PR yang super menyebalkan. Pihak kantor sebelumnya sudah mengirimkan email daftar pertanyaan yang sekiranya akan menjadi bahan wawancara hari itu. Namun, konsultan PR PT Bahtera Luas Tbk itu manyiapkan daftar pertanyaan baru.

Fairy merasa hak-hak jurnalistiknya dikekang. Ia menghubungi redaksi kantornya dan menceritakan apa yang terjadi. Redaksi menyarankan Fairy untuk melobi konsultan PR tersebut. Akhirnya, Fairy mendapat kesepakatan untuk melakukan compare daftar pertanyaan yang ia miliki dengan daftar pertanyaan dari konsultan PR perusahaan tersebut. 

Sore harinya, Fairy kembali mendapat ketidakberuntungan yang silih berganti. Beberapa orderan liputan mendadak untuk bahan tulisan halaman satu datang dari redaktur. Ia harus menghubungi Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, menanyakan terkait maraknya kecelakaan pesawat yang sebulan terakhir terjadi di Indonesia. Sekitar pukul 16.00 WIB hari itu, sebuah pesawat dari bandara lokal di Biak kembali tergelincir. Itu terjadi saat pesawat melakukan pendaratan dan membuat seorang penumpang menjadi korban.

Fairy juga menerima telepon dari salah satu sekretaris perusahaan perbankan yang pernah ia liput. Fairy mendapat kritikan tajam atas tulisannya yang diterbitkan sehari sebelumnya. Tulisan itu terkesan menyudutkan perusahaan yang bersangkutan. Sekretaris perusahaan meneleponnya dan menuntut klarifikasi atas tulisan tersebut. Fairy merasa tak ada yang salah dengan naskahnya. Setelah berdebat panjang, Fairy kemudian meminta sekretaris perusahaan tersebut untuk menghubungi redaksi kantornya dan menjelaskan semuanya.

Sesampainya di rumah, Fairy semakin tak nyaman melihat huniannya yang super berantakan. Ia baru ingat sejak minggu lalu tak membersihkannya. Bukan karena malas, tapi pekan itu sangat padat. Apalagi, Sabtu dan Minggu kemarin Fairy harus ke Sukabumi melakukan sesi foto pre weddingnya dengan Genta. Fairy ingin melupakan sejenak kesialannya. Setelah mengganti baju kerjanya dengan celana pendek dan baju tank top, Fairy mulai membereskan kamarnya.

Perut Fairy berbunyi, ia baru sadar ia belum makan malam. Fairy lalu pergi ke dapur, membuka kulkas dan mengamati isinya dengan pandangan lesu. Bahkan, ia baru menyadari lemari makanan dan lemari pendinginnya itu kosong, hanya tersisa sekaleng fanta dan sebungkus kecil biskuit coklat sisa dua hari lalu. Fairy mempunyai ide memesan makanan yang buka 24 jam. Ia maraih ponselnya dan memesan satu paket pizza dari Domino Pizza yang tak jauh dari kontrakannya.

Usai mengisi perut, gadis itu kemudian berbenah, mulai dari ruang TV lalu ke ruang makan. Dua puluh menit berikutnya Fairy kemudian merapikan kamarnya, mulai dari tempat tidur dan gantungan bajunya. Fairy kemudian melihat setumpuk koran terletak di sudut kamarnya.

Tumpukan koran itu mungkin berjumlah lebih dari 30 eksemplar, sebab lebih dari sebulan Fairy belum sempat memberikan koran-koran itu kepada tukang loak yang selalu berkeliling rumahnya setiap pukul 10 pagi. Biasanya, sekitar pukul 08.00 WIB Fairy sudah berangkat kerja. Fairy kemudian mencari-cari paper bag dari dalam lemari kamarnya. Paper bag itu kebanyakan sisa dari suvenir-suvenir liputan yang tak dibuang Fairy, sebab masih bisa digunakan sewaktu-waktu seperti saat ini.

Saat membuka lemarinya, Fairy juga menemukan kondisinya kurang rapi. Ia kemudian mencoba merapikan seisi lemari. Ketika mencoba menggabungkan beberapa barang ke dalam kemasan lain yang lebih besar, Fairy menemukan sebuah kotak yang sudah sangat lama tak ia buka.

Kardus kecil itu bergambar beruang coklat. Fairy membawanya serta ketika pindahan dari Bogor ke Jakarta dua tahun lalu. Fairy kemudian membukanya. Di dalamnya ada buku tahunan Tarsius 42. Fairy sempatkan membolak-balik halamannya sebentar. Ia juga menemukan kotak binokuler miliknya, binokuler itu selalu digunakannya ketika birdwatching.

Pandangan Fairy kemudian tertumbuk pada sebuah hardisk 500GB dengan merek StoreJet Transcend. Hardisk itu menyimpan semua foto, dokumen, lagu, games, dan semua data-data yang Fairy kumpulkan selama masa kuliahnya.

> FAIRY (E:)
> My Data
> Gudang Foto Fay
> Keluarga
> Tarsius’42
> Aku dan Daru
  > A Note to Fairy
  > Bantimurung (Sulsel)
  > Cibodas
  > Gebyar 42
  > Gede Pangrango
  > Halimun Salak
  > Himakova
  > Jonggol
  > Borneo
  > Mansion
  > Yan Lappa

Fairy menyambungkan hardisknya ke netbook dan membuka sebuah folder kenangan masa kuliahnya. Kotak itu tak pernah dibukanya sejak dua tahun terakhir di Jakarta. Jari-jari Fairy mengeklik folder demi folder. Tanpa sengaja, matanya tertuju pada sebuah folder Aku dan Daru. Ada rasa berat sekaligus rasa rindu yang teramat dalam saat Fairy mempertimbangkan antara membuka kembali atau menghapus folder itu begitu saja.

Fairy teringat percakapan terakhirnya bersama Sasmitha di Manado dua bulan lalu. Sahabatnya itu menanyakan apakah dia sudah bisa melupakan Daru. Pertanyaan tersulit yang tak bisa dijawabnya hingga detik ini. Bahkan sejak ia mendengar fakta dari Sila beberapa hari lalu.

Rasa rindu ternyata mengalahkan segalanya. Fairy akhirnya membuka folder foto itu. Kenangan demi kenangan kembali bermunculan di bayangan Fairy. Satu per satu ia melihat kembali barisan foto-foto itu. Foto sewaktu ia bersama Daru makan malam di Warung Bageur, komplek kampus. Terlihat lima foto Fairy yang sengaja diambil Daru dengan kamera sakunya. Ada pose Fairy sedang menguap, Fairy sedang kepedasan, hingga foto Fairy memasang pose ngambek.

Satu persatu slide show foto itu ia perhatikan. Hingga di lembaran foto terakhir. Sesaat, sewaktu ia ingin menutup folder itu, Fairy melihat sebuah dokumen dalam bentuk note yang asing baginya. Di dokumen itu tertulis namanya, A Note to Fairy.

Fairy berusaha mengingat apakah ia pernah membuat ketikan note itu. Rasanya tidak. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengeklik dua kali notepad itu. Sebuah tulisan, tepatnya surat terlihat.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Permainan raketmu tetap indah Fay,

Very good that I thought I would cry in the end karena akan tinggalkan kebersamaan kita. I don’t think I can have more time. I’ve been thingking a lot, and I think this letter the best thing to do at this moment.

Fairy Nurulia,

Ini mungkin jawaban yang selama ini ingin kamu ketahui. Tentang hatiku, juga cinta tulus yang selalu kamu tawarkan untukku. Obviously Fay, I want you, your love.

Aku berharap bisa mengatakannya langsung padamu, juga melihat lebih dekat cinta yang begitu dalam dari matamu. Beberapa kali aku coba melakukannya. Tapi, kembali tak bisa menemukan jalan yang tenang untuk mengucapkannya. Sebab, keadaan kita akan luruh dan jauh satu sama lain.

Aku ingin mengatakan aku mencintaimu dengan cara yang menyenangkan. Dengan momen yang tepat, sehingga senyum manismu tak akan bercampur sedih mengetahui kepergianku ke Makassar.

Aku tak ingin menyisakan udara kosong dalam ruang hatimu Fay. Sebab, aku belum bisa memberimu kebahagiaan cinta sesungguhnya. Mungkin kamu bisa saja menunggu, tapi aku belum bisa menjanjikan apa-apa untuk masa depan kita. Ingin rasanya menyimpan hatimu untuk kucintai. Tapi hatiku belum setulusnya dapat kutitipkan padamu. Fay, I have to take another step ahead.

Ada yang belum kamu tahu tentang aku. Masa laluku tak sekedar Sila saja, tapi lebih dari itu. Beban terberat yang selalu membayangi ketakutanku. Bahkan melebihi rasa cintamu yang seharusnya kuhadirkan dalam kehidupanku selama ini.

Nothing is so real in my life selain kenyataan bahwa ibu masih belum bisa mengingat aku sebagai anaknya. Bertahun-tahun, ibu dirawat sebagai pasien di rumah sakit jiwa karena stres berat. Aku tak akan rela jika kebahagiaan ada untukku sebelum ingatan ibu kembali pulih seperti semula.

Rasa sakit ini, tak rela kubagi denganmu Fay. Duka ibu adalah hal tersulit dalam hidupku. Sebagai anak, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mengembalikan kebahagiaan ibu setelah kecelakaan pesawat merenggut ayah dari keluarga kami. Kamu mungkin anggap aku aneh, tapi jika boleh jujur, sampai sekarang pun aku belum bisa menerima kepergian ayah tanpa sepatah kata perpisahan darinya.

Aku janji Fay, suatu hari, jika pertemuan itu masih sudi menghampiri kita, aku akan ceritakan semua padamu. Aku ingin kita bertemu kembali, agar aku bisa meneduhkanmu lagi dalam dekapanku.

Makassar memang jauh dari Bogor Fay, tapi cintamu akan selalu dekat. Ada atau tidaknya cinta itu nanti, kuharap lima tahun persahabatan kita akan menjahit luka itu kembali. Luka yang sepenuhnya aku torehkan di hatimu. Aku nggak pernah ingin pergi meninggalkanmu begitu saja. Hanya, aku perlu melakukan perjalanan ini, kali ini untuk ibu.

Fay, izinkan aku tahu jika kamu sudah membaca note ini. Kabari aku. Sebab, aku rasa aku telah menemukan alasan kenapa aku harus kembali. Aku berharap aku bisa meraihmu lagi. Meraih cinta yang pernah kamu berikan untukku. Namun, aku tak kan pernah memintamu berjanji untuk menunggu.

Aku berdoa, Tuhan menjagamu untukku. I will miss you. Dari segala sisi kegelapan hidupku, kamulah bintang yang setia menerangi hari-hariku. Semoga waktu dan kehidupan menyatukan langkah kita. Mohon jangan lelah dengan caraku mencintaimu. Apapun keputusanmu nanti, aku mencoba mengerti sepenuhnya. Terima kasih Fay.

It’s poor to excuse for what I’m doing. But, I’m deadly serious Fay, I do love you.

– Daru –

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Fairy nanar menatap layar netbooknya. Air mata mulai berjatuhan sejak Daru menyebut namanya di paragraf awal surat elektronik itu. Ada rasa rindu yang dalam. Meski hanya dalam note surat, dari lubuk hatinya, Fairy merindukan sosok istimewa itu memanggil namanya. Sebuah kenyataan yang sekian tahun tersimpan akhirnya terkuak.

Rasa marah, benci, bercampur penyesalan menyeruak di relung hati Fairy. Ia menutup layar netbooknya dengan sedikit tenaga. Dengan sedih, ia meraih kardigannya yang tergantung di salah satu dinding kamar. Lalu, ia meraih sebuah kotak rokok beserta lighter yang sudah lama tak disentuhnya dari laci meja kamarnya.

Tanpa ragu, Fairy langsung mengasingkan diri. Langkahnya terhenti di Taman Suropati. Saat itu pukul 21.00 WIB. Taman masih ramai oleh muda-mudi yang sekadar nongkrong, berlatih biola, gitar, kapoera, hingga teater. Grup pengamen pun hadir di sana-sini.

Fairy memilih menyendiri dengan bersimpuh disalah satu titik rumput taman. Ia mulai menyalakan rokoknya. Tak lama kemudian datang seorang penjual kopi bersepeda dan berhenti di hadapannya.

“Kopi mba?” tawarnya.

Fairy menggeleng tak tertarik dan membiarkan penjual itu menjauh darinya. Sambil bergulat dengan asap rokoknya, Fairy mengarahkan pandangannya ke tengah-tengah taman. Terlihat air mancur sesekali menyembur. Pada satu sisi, ia melihat sebuah komunitas pemain biola sedang berlatih. Entah lagu apa yang sedang mereka mainkan, Fairy tak tertarik untuk menebak. Hanya saja alunan biola itu terasa mengenyuh hatinya yang sedang luka.

Hening, rokok yang menemani Fairy kini sudah yang kedua. Ingatannya mengambang ke masa dua tahun lalu. Ia mencoba mengingat-ingat peristiwa pada hari terakhir perpisahannya dengan Daru.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Waktu itu, hari masih teramat pagi ketika sebuah panggilan terdengar dari luar rumah kontrakan Fairy di Kampus Dalam IPB. Fairy membuka pintu. Daru muncul di luar pagar, mengenakan kostum olahraga. Fairy melihat Daru tersenyum, membuat pagi itu terasa bertambah segar.

“Mau badminton bareng? Sepertinya kamu udah lama nggak olahraga.”

Fairy sedikit tersipu mendengar ajakan Daru. “Boleh, aku ganti baju dulu ya?”

“Oke. Fay, sekalian aku pinjam hardisk eksternal kamu ya? Aku mau copy beberapa file penting yang aku taruh di sana,” ujar Daru.

“Oke, nanti aku bawa,” jawab Fairy langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.

Fairy membuka lemarinya, memilih baju dan celana olahraga yang akan ia kenakan. Namun entah mengapa, ia selalu ingin terlihat sempurna di mata Daru. Memilih baju olahraga, rasanya seperti memilih baju untuk berangkat ke pesta. Akhirnya kaos hijau dan celana olahraga berwarna putih menjadi pilihannya.

Fairy mengikat rambut panjangnya dan sedikit menyanggulnya tinggi. Beberapa lembar poninya ia biarkan terurai menutupi mata. Gadis itu terlihat manis dan segar sekarang. Layaknya buah apel yang baru keluar dari kulkas.

Setelah memasukkan binokuler dan hardisk eksternal ke dalam tasnya, Fairy menggendong raket badmintonnya seraya mengenakan sepatu olahraga. Sedikit berteriak, Fairy berpamitan dengan Teh Lin dan Jojo, dua sahabat satu kontrakannya.

Hanya butuh waktu 15 menit saja bagi mereka berjalan menuju GOR lama IPB. Jalan kaki di pagi hari itu semacam pemanasan sebelum bermain bulu tangkis. Ternyata anak-anak sudah sampai lebih dulu. Sasmitha terlihat berbisik pada Pemi begitu melihat Fairy dan Daru datang bersama.

“Cieeee, telepon gue nggak diangkat-angkat. Gue kira lu masih molor. Tahunya ada jam weker yang lebih ampuh,” kata Sasmitha menggoda.

“Susah banget bangunin dia, gue juga lama nungguinnya,” kata Daru menyela.

Fairy memukul pundak Daru. Daru tertawa pelan dan langsung masuk menyusul teman-teman lain yang sudah bermain lebih dulu. Erik menyusul Daru, sedangkan Fairy berbincang sejenak dengan Sasmitha.

Tak kurang dari tiga menit di luar gedung, keduanya menyusul masuk ke dalam. Fairy melihat Daru dan Erik sudah memulai permainan di lapangan kiri. Pagi itu, Boni ternyata menyewa dua lapangan. Mungkin karena ada tiga cewek, Fairy, Sasmitha, dan Fitri.

Sedangkan lima cowok lainnya adalah Boni, Daru, Sopian, Pemi, dan Erik. Fairy melihat Daru dan Erik sudah membuka permainan. Mereka berdua dikenal saingan berat dalam permainan. Keduanya beberapa kali sempat menjadi perwakilan fakultas untuk mengikuti Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI), ajang pertandingan berbagai cabang olahraga antar fakultas. Daru dan Pemi selalu menjadi juara bertahan dalam permainan ganda putera.

Sesekali, Fairy melihat Daru menggulirkan shuttlecock melewati bibir net. Namun, Erik dengan tak terduga mampu menjangkau dan mengembalikannya. Daru kembali membalas pukulan Erik. Beberapa kali Erik terlihat lincah mengembalikan shuttlecock kepada Daru. Daru terlihat menawan dengan mengumpan lincah Erik. Erik berusaha mengembalikan, tetapi bola lambung yang tepat di atas jaring tak disambar Erik karena mengira masih di daerah lawan. Permainan tiga set itu berakhir, Daru unggul 2 – 1 atas Erik.

“Fay, kapan mainnya nih? Nonton Daru melulu,” teriak Sasmitha dari lapangan kedua.

“Iya nih, Fay galau,” seringai Fitri kian melebar melihat reaksi sahabatnya karena ucapannya barusan.

Fitri awalnya berperan sebagai wasit yang menghitung poin pertandingan Fairy dan Sasmitha. Fairy melihat kedua sahabatnya itu sudah siap di posisinya masing-masing. Kini giliran mereka untuk bermain. Fairy turun dari tribun dan berpapasan dengan Daru. Ia memberikan sehelai handuk putih untuk Daru.

“Hardisknya dibawa kan?”

“Iya, kamu ambil aja tuh di dalam tas aku,” kata Fairy tersenyum. Ia lalu mulai mengambil posisi di lapangan. Dari posisinya sekarang, Fairy mengarah ke tribun. Ia melihat Daru mengeluarkan laptopnya dan menyambungkan hardisknya. Selanjutnya, Fairy larut dalam permainan.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Penghujung lamunan Fairy buyar. Rokoknya juga tersisa puntung saja. Dua orang anak remaja menghampirinya.

“Permisi Mba,” Fairy terperanjat dari lamunan panjangnya. Di hadapannya, dua orang pengamen meminta salah satu yang memegang gitar.

Fairy merasa tak mungkin ia menolak lagi. Sudah beberapa orang pengamen yang sedari tadi datang silih berganti, namun ia tolak. Fairy menganggukkan kepala dan tersenyum kecil pada dua orang remaja itu. Fairy tak ada pilihan lain. Bagaimanapun, pengamen itu hanya menarik uang receh dari pendengarnya. Profesi favorit paling aman bagi orang-orang yang tak mempunyai pekerjaan tetap di Jakarta.

“Mau lagu apa mba? Barat atau Indonesia?” tanya remaja wanita yang satunya.

Fairy yakin itu adalah vokalisnya. Fairy mencoba tersenyum. Mungkin petikan gitar dan nyanyian sepasang pengamen remaja ini mampu melarutkan lukanya.

“Apa aja boleh. Barat juga bagus, biar jago bahasa Inggris,” jawab Fairy menggoda. Kedua pengamen itu berdiskusi dan si pemain gitar mulai memetik gitar pertamanya.

Especially for you
I wanna let you know what I was going through
All the time we were apart I thought of you
You were in my heart
My love never changed
I still feel the same

Especially for you
I wanna tell you I was feeling that way too
And if dreams were wings, you know
I would have flown to you
To be where you are
No matter how far
And now that Iím next to you

(Especially for You – MYMP)

Kali ini Fairy tak mungkin lagi menahan isak tangisnya. Lagu yang dinyanyikan pasangan pengamen remaja itu adalah lagu kesayangan Daru. Lagu yang selalu Daru dengarkan berulang-ulang. Lagu itu pula yang membuat Fairy sangat menyukai MYMP (Make Your Mama Proud), grup musik akustik asal Filiphina yang merecycle semua lagu-lagu lama dan menyajikannya dalam nuansa baru yang nyaman di telinga.

Fairy masih ingat. Daru pernah bercanda dengan menanyakan apakah ia mempunyai penyakit gula. Itu terjadi suatu hari saat Fairy mencoba merebut iPod milik Daru yang tengah asik mendengarkan koleksi MYMP saat di bus. Saat itu mereka dalam perjalanan praktikum lapang ke Gunung Gede Pangrango, Cianjur.

….Lagunya manis-manis, kalo kamu punya penyakit gula, bisa bahaya….

Itulah ucapan Daru saat itu. Kali itu pula pertama kalinya Fairy mendengar lagu-lagu lama yang dinyanyikan ulang oleh MYMP. Beberapa judul seperti Eternal Flame, Crazy for You, Game of Love, hingga It Might be You, awalnya terasa tua namun diaransemen ulang dengan selera anak muda zaman sekarang.

Lagu manis itu berakhir. Fairy merogoh sakunya dan menemukan lembaran lima ribuan. Ia pun memberikan pada kedua pengamen itu. Setelah berterimakasih, keduanya berlalu dari hadapan Fairy. Angin malam mulai terasa menusuk ulu hati. Sudah pukul 23.00 WIB rupanya. Fairy enggan beranjak seketika, setelah menerima sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.

Fay, apa kbr?
Aku lg di Jakarta.
Lebih cepat beberapa bulan.
Minggu depan aku pulang k Bogor.
Bs bertemu d Gumati Café Sabtu siang, jam 1?
Ada yg ingin kusampaikan.
I miss you

-Daru-

How come? Bagai disambar petir dua kali, Fairy menoleh tak percaya pada pesan singkat yang baru saja ia terima. Disaat sempit seperti itu, Fairy langsung teringat sosok seseorang yang bisa membantunya, Teh Lin, di Bogor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s