A Note to Fairy: 23. Terungkap

Bus yang ditumpangi Fairy dan rekan-rekannya, pewarta Bank Indonesia (BI), masih berjuang di tengah kemacetan Pasteur, Jumat malam itu. Lokasi yang mereka tuju adalah Lembang. Padahal, mereka sudah berangkat dari kantor BI sejak pukul 16.00 WIB. Dan kini, jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Liputan dadakan menjadi kabar tak sedap yang diterima Fairy Jumat sore itu. Ia tiba-tiba diminta menggantikan Nira liputan defisit neraca pembayaran bersama BI.

“Ya ampuuun, kapan sampainya nih?” ujar Sutji yang duduk di samping Fairy. Sutji adalah jurnalis dari Tempo News.

“Gue udah kebelet,” balas Fairy.

Lima belas menit kemudian, bus kembali berhenti disalah satu pom bensin. Para penumpang yang ingin ke toilet, termasuk Fairy ditemani Sutji keluar dari bus. 

“Wuih, tahu sumedangnya enak kayanya tuh. Beli yuk Tji?” ajak Fairy.

“Ayo.” Keduanya lalu mendekati gerobak dorong si penjual tahu. Usai itu, mereka kembali menuju bus.

Fairy sejenak mengaktifkan ponselnya yang sedari tadi sengaja ia matikan untuk menghemat baterai. Sebuah pesan kemudian masuk, Fairy menemukan nama Sasmitha tertera di sana.

@ Sasmitha: Fay, udah nyampe Lembang?

@ Fairy: I’m still on my way. Kejebak macet lama di Pasteur, Mith.

@ Sasmitha: Di Lembang, nginep di hotel mana, Fay?

@ Fairy: Putri Gunung Hotel. Eh, lu betah kan di rumah gue Mit?hehee. Sorry ya say? Gue gak bisa nemenin lu sementara di Jakarta gara-gara liputan dadakan.

@ Sasmitha: Gue yakin betah lah.Gue masih di taksi ke rmh lu. Gak papa say, gue udah digratisin nginep aja udah syukur. Hehee

@ Fairy: Sip. Enjoy my room ya? Kalo ada apa-apa, lu hubungi gue aja. Sampai jumpa Sabtu malam.

@ Sasmitha: Okaaay

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Hari masih terlalu pagi, pukul 05.00 WIB. Namun, Fairy harus keluar dari kamarnya dan menuju resepsionis hotel. Ia masih tak bisa menyembunyikan wajah penasarannya atas semua tindak tanduk Sasmitha.

Sasmitha langsung menangkap sosok Fairy. Wajahnya terlihat tegang. Bahkan, ia tak membalas pelukan Fairy saat menemukannya di sana.

“Hal sepenting apa sih yang bikin kamu nekat nyusul ke Lembang Mith? Nggak bisa nunggu sampai hari ini aja? Malam ini kan aku udah pulang,” ujar Fairy.

“Fay, aku butuh penjelasan kamu tentang satu hal.”

“Oke, kita ke kamar aku aja ya?” Keduanya kemudian menuju kamar Fairy di resort The Terrace. Akhirnya keduanya sampai di kamar 517.

Sasmitha duduk di sofa yang ada di kamar Fairy. Sofa itu seharusnya begitu nyaman ia duduki. Namun, rasanya saat ini berbeda, terasa keras seperti ditaburi duri yang membuat duduknya terlihat gelisah.

“Fay,” panggil Sasmitha dengan suaran tercekat di tenggorokannya.

Sasmitha kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah pigura foto. Ia kemudian menunjukkannya kepada Fairy.

“Ini, apakah ini adalah Genta?” tangan Sasmitha yang satunya terkepal erat menggenggam pigura itu.

Pandangan Fairy kemudian mengarah ke pigura yang dibawa Sasmitha. Pigura itu seharusnya berada di meja kamarnya.

“Iya, kenapa lu nanyain soal ini Mith?” pikiran Fairy terus berlarian mengira-ngira apa yang sebenarnya telah terjadi.
Mata Sasmitha memerah dan mulai mengeluarkan air mata.

“Laki-laki yang pernah gue ceritain ke lu waktu di Manado. Dia…, dia itu…, Genta. Aku nggak nyangka sama sekali bahwa Genta kamu adalah Genta yang kumaksud. Nama dia terlalu umum untuk bisa secara kebetulan begini.”

Fairy terdiam tanpa kata. Kini, giliran matanya yang memerah. Tubuhnya diliputi ketakutan, pekikan, dan kebingungan mendengar pernyataan Sasmitha. Semua serba kebetulan untuknya. Kini, ia bahkan dipaksa harus siap dan pasrah menerima kenyataan bahwa Genta-nya dan laki-laki dimasa lalu yang pernah menyakiti Sasmitha adalah orang yang sama.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Fairy sebagai jawaban atas pernyataan Sasmitha. Gadis itu hanya melihat ke depan dengan ekspresi datar. Sementara, air mata terus mengucur dari wajahnya. Lelah yang teramat dalam ia rasakan saat itu. Sekali lagi, ia telah membuat keputusan yang salah dalam hidupnya.

Cukup lama keduanya terdiam, larut dalam penyesalan dan pemikirannya masih-masing. Hingga akhirnya, “Mith…,” suara serak Fairy menghentikan sejenak isakan Sasmitha.

Keduanya akhirnya saling memandang satu sama lain dengan mata yang masih berkaca-kaca. Tanpa banyak kata lagi, Fairy langsung memeluk tubuh Sasmitha.

“Maafin gue karena gue baru tahu semuanya sekarang, Mith. Maaf,” gumam Fairy dengan mimik sedih yang tak bisa dilukiskan. Hanya tangisan yang menjadi jawaban dari Sasmitha.

Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Sasmitha sebenarnya sama sekali tak membenci sahabatnya itu. Fairy berusaha bersikap senormal mungkin, meski hati dan tubuhnya bagaikan dipotong menjadi beberapa bagian terpisah. Akan tetapi, sepedih apapun lukanya, mungkin luka yang ditanggung sahabatnya itu bertahun-tahun lebih buruk darinya.

“Fay, maafin gue,” tangis Sasmitha.

“Sakit gue nggak sesakit yang lu rasain, Mith,” kedua gadis itu kembali terisak dan saling mengucapkan maaf satu sama lainnya.

Fairy meraih ponselnya. Ia kemudian beranjak ke luar balkon kamarnya. Kelihatannya, ia menghubungi seseorang. Udara di balkon masih terlalu dingin pagi itu, meskipun hari sebetulnya sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Mungkin karena hawa pegunungan di Lembang yang sangat dingin.

Saat kembali ke kamarnya, Fairy mendapati tak ada yang berubah dari posisi sahabatnya. Sasmitha masih termenung di sofanya. Fairy semakin sadar, segala kesedihan yang tengah menderanya saat ini tak sepenuhnya kesalahan sahabatnya itu. Fairy kemudian membuatkan secangkir teh hangat untuk Sasmitha.

“Mith, minumlah. Gue tahu, lu belum makan dan minum apa-apa sejak kemarin malam.”

Sasmitha yang masih duduk termenung mengalihkan tatapannya sejenak menyambut tawaran sahabatnya itu.

“Thanks, Fay,” jawab Sasmitha sambil menyentuhkan bibirnya ke cangkir teh manis itu. Fairy tersenyum bahagia melihat sahabatnya sudah lebih baik.

“Mith, gue jam delapan pagi ini harus liputan BI dulu. Gue harap lu bisa istirahat dulu di sini. Setengah jam lagi, ada pelayan yang anterin sarapan, lu makan dulu. Sore ini, kita balik ke Jakarta bareng. Gue tahu, lu juga belum tidur dari kemarin. Liputan gue selesai jam makan siang, nanti gue kembali lagi. Nggak apa-apa kan Mith?”

“Iya Fay, terima kasih,” gumam Sasmitha pelan.

Fairy sesegera mungkin bersiap-siap ke acara pelatihan BI itu. Setelah mandi, sedikit berdandan, ketika ia beringsut keluar kamar, tangan Sasmitha menahan tangan Fairy.

“Fay, maafin gue,” lagi-lagi Sasmitha mengulang kata-kata yang sama.

“Mith, nggak apa-apa. Gue harap, lu jangan terus-terusan merasa bersalah kaya gini. Gue sebetulnya juga merasakan hal yang sama terhadap lu. Tapi, buat apa kita terus-terusan kaya gini, saling menyesali, saling meminta maaf, sampai kapan? mendingan kita cari solusi terbaiknya dan segera melupakan kejadian ini.”

Bohong! saat ini mungkin Fairy tengah berbohong. Ia tak mungkin begitu mudahnya melupakan kejadian rumit yang menimpanya. Bagaimanapun, ia telah melewati perjalanan panjang selama hidupnya, mulai dari kegagalannya meraih cinta Daru, berpisah dengan laki-laki yang sangat dicintainya itu, melupakannya, hingga menerima cinta baru yang ternyata kembali mengalami kegagalan. Namun, gadis berambut panjang terurai itu tak ingin melihat sahabatnya terus-terusan merasa bersalah. Setelah keluar dari kamar hotel itu, di dalam lift, tangisan Fairy kembali pecah. Hatinya kembali luka.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Dari kejauhan, Fairy bisa melihat Genta berjalan menuju ke arahnya. Fairy kemudian menarik napas panjang, seakan memberi sedikit waktu bagi dirinya untuk mencari kosakata yang tepat ketika ia bertemu Genta nanti. Saat dirinya hanya berjarak beberapa langkah lagi dari Genta, jantung Fairy semakin kuat menahan amarah sekaligus mengumpulkan kesabaran dan keberaniannya untuk bertemu.

“Sayang, suara kamu aneh di telepon. Iam worrying about you. Kamu sakit?”

Fairy akhirnya kembali mendengar suara Genta setelah seminggu tak bertemu karena kesibukan masing-masing. Tangan Genta menyentuh wajah Fairy, seolah ingin memastikan kekasihnya itu baik-baik saja. Fairy tak kuasa menghindari sentuhan itu.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya. Fairy berusaha menyunggingkan senyuman, namun Genta merasakan senyuman itu tak selembut biasanya.

Fairy duduk disalah satu bangku taman di Putri Gunung Hotel. Dia ternyata tak mengikuti pelatihan BI kali itu. Beban pikirannya terlalu berat untuk dipakai berkonsentrasi urusan lain. Dua jam setelah meninggalkan kamarnya, Fairy ternyata menyendiri ke taman itu.

“Fay, ada hal apa sampai kamu minta kita ketemuan di Lembang?”

“Genta, beberapa waktu lalu, kamu ingin menceritakan satu hal penting tentang masa lalu kamu. Bisakah aku mendengarkannya sekarang?”

Genta masih bergeming. Perlahan, ia mendekati Fairy, berlutut di tanah. Tangannya perlahan terjulur menggenggam kedua tangan Fairy dengan erat. Fairy tampak tersentak karena sentuhan tangan Genta.

“Baiklah. Kumohon, setelah mendengar semuanya, jangan membenciku.”

Genta kemudian berdiri membelakangi Fairy, memulai membuka pembicaraaan.

“Dimalam ulang tahun kamu, kamu tanya darimana aku mendapatkan tanda kecelakaan di kepalaku. Itu terjadi sekitar tiga tahun lalu. Kecelakaan itu tak hanya menyisakan bekas luka di kepalaku, tapi hari itu aku juga kehilangan seseorang yang sangat aku cintai, Fay. Dia…, isteriku. Ya Fay, aku pernah menikah sebelumnya. Aku bahkan merasa, seharusnya aku juga sudah menjadi seorang ayah. Tapi, aku tak bisa memastikan semua itu sampai sekarang, karena setelah kecelakaan itu, aku tak pernah bertemu lagi dengan Sasmitha.”

Fairy tercekat. Ia masih terdiam mendengarkan sebuah nama yang diucapkan Genta barusan. Bahkan, ia tak bisa mengedipkan mata. Pikirannya diliputi ketakutan dan kebingungan.

“Kamu nggak berusaha mencari mereka?”

Genta perlahan membalikkan tubuhnya.

“Aku hilang ingatan beberapa bulan karena kecelakaan itu. Enam bulan setelah aku benar-benar sembuh, ayah dan ibu berusaha menceritakan secara runut tentang kehidupanku. Namun, mereka tak bisa membantu karena hanya aku yang mengetahui alamat Mitha di Bali,” jawab Genta berat saat menyebutkan nama perempuan yang dia maksud.

Fairy sebetulnya ingin berteriak mendengarkan pemaparan Genta barusan. Tak salah lagi, Sasmitha dan Genta memang pasangan suami isteri yang terpisah cukup lama.

“Aku datang ke Bali. Tapi, sesampainya di sana, Mitha dan keluarganya ternyata telah pindah. Tak satupun yang bisa membantuku menemukan mereka. Aku terlambat. Aku hampir gila mengingat semua hal buruk yang telah kulakukan padanya.” Setengah mati Genta mencoba menahan getaran emosi di tubuhnya.

“Jika kamu bertemu dengannya saat ini. Apa yang akan kamu lakukan?” Pertanyaan Fairy terkesan mengadili.

Genta melihat wajah Fairy lalu buru-buru membuang pandangannya.

“Jangan memintaku memilih, Fay. Itu tak mungkin kulakukan.”

Tangan Genta kembali menggamit tangan Fairy. “Cerita ini hanya bagian dari masa lalu yang ingin kulupakan, Fay. Kamu tahu? Berapa banyak waktu yang telah kubuang hanya untuk menyesali keterlambatanku ini? Sekarang, aku serius ingin mengawali semua dengan kamu. Just you. Please, don’t hate me.”

Fairy bergegas melepaskan genggaman tangan Genta. “Kamu nggak keberatan ikut aku sebentar, Ta? Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu.”

Fairy langsung saja beranjak dari duduknya. Ia berjalan di depan, berharap Genta mengikutinya dari belakang. Ia fokus pada jalan di hadapannya, terdiam, dan sesekali meremas tangannya sendiri. Pikirannya berkelebat mengingat hal sulit dan menyakitkan yang dia rasakan karena bertemu dan mencintai Genta.

Fairy menekan tombol bel kamarnya. Tak lama kemudian pintu kamar hotel itupun terbuka. Terdengar jelas oleh Fairy, Genta mendesis kaget dari belakang.

“Mitha?” Panggil Genta pelan.

Sasmitha berteriak panik, perlahan mundur, dan mengamuk ke seluruh penjuru kamar. Ia melemparkan bantal, peralatan make up, dan nyaris ponselnya ke arah Genta hingga Fairy memeluknya erat menenangkan. Sasmitha meronta melepaskan pelukan Fairy kemudian meraih kerah baju Genta yang menyerah tak berdaya.

“What have you done? Kemana aja kamu selama ini? Kamu memang bangsat!”

“Mitha tenang!” Teriak Fairy membalas. Ia kemudian memandu sahabatnya duduk sedikit menjauh di sofa kamar itu. Sasmitha menghujamkan pandangan penuh kebencian ke arah Genta. Sedangkan Genta masih mencerna hati dan pikirannya, mencari benang merah dari setumpuk kejadian yang dialaminya selama ini.

“Kenapa kamu ninggalin aku di Bali? Kenapa kamu ingkari janji kamu untuk pulang. Kenapa kamu pergiiiiiii. Kamu bahkan tega menelantarkan anak kamu yang terlahir sakit. Kamu bangsaaattt!” raung Sasmitha yang masih dalam dekapan erat Fairy.

Fairy kembali menangis menemukan kenyataan betapa takdir telah mempermainkan mereka. Bahkan, pernikahannya yang sudah di depan mata harus digantikan dengan perpisahan yang menyakitkan. Baru saja ia mendapatkan setumpuk nyawa kehidupannya kembali setelah kehilangan Daru, kini ia harus kehilangan lagi untuk kedua kalinya.

“Mith. Please, gue mohon lu dengarkan dulu penjelasan gue dan Genta. Please, Mith,” lirih Fairy.

Dengan napas tersengal-sengal, Fairy membantu Genta menjelaskan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Genta memandangi Sasmitha dengan tatapan yang sulit diartikan. Sasmitha terlihat kacau. Sedangkan Fairy berusaha mengeluarkan nada suara yang tenang seolah mengesankan dirinya baik-baik saja.

“Aku sadar Fay. Aku tak akan menyalahkan jika pada akhirnya kamu memang ingin pergi dariku,” kata Genta akhirnya.
Ucapan Genta barusan benar-benar membuat Fairy tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Wajah Fairy terlihat begitu pucat.

“Aku…, akulah yang menjadi penentu akhir dari cerita ini,” suara berat Fairy membuat Genta juga Sasmitha menoleh satu sama lainnya.

“Aku harap kalian bisa bersama kembali. Karena aku tahu, ada nyawa kecil di sana yang membutuhkan kehadiran kalian, puteri kalian. Lukaku ini tak akan lama. Aku akan baik-baik saja, sungguh.” Meski terlihat aneh, Fairy masih berusaha menyisipkan senyuman dalam perkataannya.

Ada hal yang tak perlu diucapkan, cukup dirasakan. Perasaan yang diendapkan Fairy saat ini tak menemukan deskripsinya. Mungkin Tuhan memilihnya untuk menjembatani kembali hubungan Sasmitha, sahabatnya, dengan Genta. Yang dibutuhkan Fairy saat ini hanyalah kebesaran hati dan memberi sedikit maaf di antara kesedihan yang menderanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s