A Note to Fairy: 24. Curhat Sahabat

“Gue mencintai Fairy, Bon. Tapi semua udah terlambat.” Ucapan itu meluncur dari mulut Daru di saung rumah Boni yang terletak di halaman. Ia bercerita panjang tentang perasaannya kepada Fairy selama ini.

Daru bertemu Boni di Malang. Saat itu, Daru dan delapan orang rekannya dari Makassar akan melakukan pemetaan kawasan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Seluruh tim memutuskan berangkat lebih dahulu ke Semeru sesampainya di Malang. Sedangkan Daru meminta izin untuk menyusul sehari kemudian karena ia terlanjur berjanji untuk menemui Boni di rumahnya. Beruntung, Evi bersedia menemaninya. Kota Malang merupakan kampung halaman Boni. Saat ini, Boni dan isterinya telah menetap di kota itu. Isteri Boni seorang dokter lulusan Universitas Indonesia. 

“Fay adalah sahabat yang selalu ada di dekat gue, Bon. Semestinya, gue punya banyak waktu untuk mengungkapkan perasaan gue sama dia. Tapi ternyata semuanya berakhir sia-sia. Tanpa gue sadari, selama ini gue hanya mengulur-ulur waktu melakukannya. Gue menyia-nyiakan waktu terbaik yang gue punya untuk mengungkapkan perasaan gue ke Fairy. Sekarang, ketika Fairy akan menikah dengan orang lain, gue menyesal.”

“It’s already too late. Lu berharap terlalu banyak, Dar” ujar Boni.

“Apa itu pendapat lu?”

Boni menarik napas. “Untuk yang satu ini, iya. Mungkin seharusnya gue nggak bilang ke lu soal pendapat gue ini. Tapi menurut gue, lu nggak ditakdirkan bersama dengan Fairy, Dar.”

Boni kemudian melanjutkan ucapannya. “Kadang Dar, beberapa hubungan dan perasaan cinta itu ditakdirkan untuk gagal. Kenyataan pahit selalu menjadi akhir cerita mereka, bagaimanapun usaha yang mereka lakukan, tetap saja berujung kegagalan. Tapi, sebagian lagi ditakdirkan untuk berhasil, semesta tersenyum untuk mereka, hubungan mereka berjalan sebagaimana semestinya. Lu dan Fairy selalu mengalami waktu-waktu yang menyenangkan tapi pada akhirnya tetap pahit. Itu artinya ada sesuatu yang menghalangi kalian. Itulah kehendak Tuhan. Takdir.”

“Maksud lu Tuhan nggak ingin gue mendapatkan Fairy?”

“Gue nggak bilang Tuhan melarang niat lu mendapatkan Fairy. Tuhan ingin berusaha memberitahu lu sesuatu.” Boni kemudian sedikit batuk berdehem.

“Tuhan mungkin ingin bilang lu bahwa Fairy bukan jodoh yang tepat buat lu. Tuhan mempunyai alasan lain. Misalnya, agar lu membuka hati lu buat cewek lain yang lebih dekat dengan lu sekarang.”

“Lu bikin gue kacau mikir, Bon.” Daru mengacak-acak rambutnya.

“Sekacau apapun pikiran lu. Setega apapun moncong gue ngomong ke lu. Gue pengen lu buka mata hati lu. Lu harus lebih logis, Dar. Fay itu sebentar lagi jadi isteri orang. Lu mau bikin dia nggak bahagia lagi dengan kehadiran lu sebagai orang ketiga di tengah-tengah hubungan dia? Walaupun gue yakin banget, lu berkesempaan besar membuat hati Fairy berpaling lagi sama lu. Tapi, mengertilah Dar, ini tuh sudah sangat terlambat buat lu lakuin sekarang.”

Boni menepuk pundak kiri Daru. “Gue nggak seharusnya mengatakannya. Ucapan gue tadi cuma berusaha membuat lu lebih realistis berfikir,” ujarnya lagi.

“Lu sendiri tahu, cinta sejati gue waktu kuliah siapa. Enam tahun gue pacaran sama Lila, namun akhirnya gue menikah dengan Desi. Orang yang kita nikahi sekarang memang belum tentu jodoh kita. Tapi, bagaimana mungkin kita tahu kalo tak berusaha? Tugas laki-laki itu hidup di muka bumi untuk menjadi pemimpin. Lu pasti bisa menjadi yang terbaik untuk perempuan lain. Biarkan Fairy menjadi yang terbaik untuk calon suaminya itu, Dar.”

Boni mengulang menepuk pundak Daru. “Pendapat gue ini bisa saja salah Dar, tapi setidaknya 99 persen mendekati kebenaran. Satu persennya itu keajaiban Tuhan,” Boni masih berusaha menenangkan. “Mungkin saja Evi bisa menjadi sosok yang sempurna buat lu.”

“Evi? Kenapa lu jadi nyambungin ini semua ke Evi? Evi itu teman kantor gue, Bon. Dia sahabat gue,” bantah Daru.

Seringai muncul dari wajah Boni. “Jangan bohong lu. Dari wajah si Evi itu aja gue udah bisa tahu dia menyimpan perasaan khusus buat lu. Lagian, ngapain Evi milih nyusul tim bareng lu ketimbang pergi sama teman-teman kantor lu yang lain?”

“Dasar kakek sihir lu, main tebak aja.”

“Lu yang payah. Nggak bisa baca perasaaan cewek. Pantesan aja si Fairy yang nembak lu duluan. Lu lelet kaya komputer pentium empat. Kalo lu masih nggak peka, lama-lama Evi juga kabur dari lu.” Boni masih meluncurkan aksi komat-kamitnya.

Daru membuang pandangannya ke depan. “Gue nggak pantas buat Evi.”

“Lu bisa punya pikiran kalo diri lu nggak berguna. Tapi, kadang lu nggak nyadar bahwa sebenarnya lu itu merupakan harta bagi orang lain. Lu harta untuk Evi. Cobalah pahami itu.”

“Biar waktu yang membimbing lu menyelesaikan semua cerita hidup lu. Itu adalah proses lu belajar menghargai cinta Evi.”
Daru tersenyum lemah tak bertenaga menatap Boni. Ia menangkap isyarat dari salah satu sahabat terbaiknya itu bahwa jodohnya mungkin saja bukan Fairy. “Kata-kata lu barusan mungkin saja benar, Bon. Tapi, mungkin saja perasaan gue yang masih kuat ini juga benar.”

Tak lama, isteri Boni dan Evi datang menghampiri mereka. Daru memandangi wajah Evi dengan seksama. Evi balik tersenyum pada Daru.

“Kamu lapar? Tadi aku bantu Desi masak di dapur,” ujar Evi.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Keesokan paginya, Daru dan Evi berpamitan dengan Boni dan isterinya. Mereka akan memulai memasuki kawasan Semeru sekitar jam 11 siang agar malamnya bisa istirahat di Ranu Kumbolo. Letih, lelah, dan kantuk mereka telah terbayarkan dengan istirahat dan bermalam di rumah Boni. “Sekarang kita menuju Ranu Pani. Kamu siap?” ujar Daru pada Evi yang duduk di sampingnya saat itu.

Dari Malang, Daru memacu mobilnya melewati Pasar Tumpang. Petunjuk arah yang diperolehnya dari seorang polisi Malang yang baik hati membuat perjalanannya terbilang mudah. Sesampainya di Pasar Tumpang, keduanya menyempatkan sarapan pagi. Keduanya berangkat sangat pagi agar tak merepotkan Boni dan Desi yang harus menyiapkan sarapan dan sebagainya.

“Nasi pecelnya enak kan?”

“Iya, udah lama aku nggak makan makanan seenak ini,” ujar Evi.

Dari Pasar Tumpang, perjalanan keduanya menuju Ranu Pani semakin mudah. Banyak papan penunjuk arah yang memandu perjalanan mereka. Daru mulai terfikir nasihat Boni di rumahnya semalam. Ia kemudian menoleh melihat Evi yang sedang menikmati pemandangan alam pegunungan yang mereka lewati.

“Vi, kenapa kamu mau temani aku di rumah Boni?”

Mendadak, waktu seperti terhenti seketika. Kendaraan dan orang-orang yang menjadi pemandangan di sepanjang jalan ke Ranu Pani seperti mematung tak bernyawa. Evi tak bisa menyembunyikan wajah merahnya dari Daru.

Gadis itu kemudian membuka kaca mobil. Udara pagi mulai berhembus lembut menerpa wajahnya. “Aku….Aku mungkin terlalu lelah. Jadi, aku senang bisa istirahat sebentar di rumah Boni dan Desi,” jawabnya sedikit gugup.

“Ooo,” komentar Daru. “Dasar Boni. Masa dia bilang kamu mungkin suka sama aku,” Daru kemudian tertawa pelan sendirian sambil terus menyetir mobil. Ia tak sadar Evi berbalik menatap wajahnya saat itu.

Perjalanan keduanya terus berlanjut. Rute menuju Ranu Pani sama saja dengan perjalanan menuju Bromo. Mereka melewati Desa Ngadas. Setelah sampai di pertigaan, Daru terus mengarahkan lurus mobilnya. Sedangkan jika berbelok ke arah kiri itu merupakan rute menuju Bromo.

Daru kemudian berhenti sejenak. Ia keluar dari mobilnya dan mencoba menghubungi tim yang juga sedang dalam perjalanan dari penginapan menuju Ranu Pani. Itu karena di Ranu Pani tak ada sinyal ponsel.

“Alex dan kawan-kawan juga masih dalam perjalanan. Kita bertemu langsung saja di Ranu Pani,” ujar Daru pada Evi setelah ia masuk mobil kembali.

Saat hendak menyalakan kembali mesin mobilnya, Daru mendengar Evi membuka suara. “Dar, mungkin tebakan Boni benar. Mungkin aku benar suka sama kamu. But, I don’t need your appreciate. Karena aku tau, aku ini cuma wanita dengan banyak kekurangan fisik yang nggak pantas mencintai siapa-siapa.”

Pengakuan Evi barusan membuat Daru semakin terkejut. Ternyata tebakan Boni benar dan akhirnya Evi jujur padanya.

“Vi, siapapun akan sangat mudah mencintai wanita sebaik dan setulus kamu, termasuk aku. Tapi, wanita manapun akan sangat sulit mencintai laki-laki serumit aku.” Daru menarik jok tempat duduknya sedikit ke belakang. Tampaknya, itu membuatnya lebih lega. Kaca mobilnya pun ia buka seperti hendak menghirup udara segar lebih banyak untuk mengisi paru-parunya.

“Aku ingin mencobanya. Boleh?” Evi menatap Daru yang terlihat memejamkan mata. Masih dalam posisinya bersandar saat ini, Daru menolehkan kepalanya ke kiri mengamati wajah Evi. Entah kenapa, jantungnya berdetak pelan saat itu, namun temponya tak beraturan lagi. Ia merasakan perasaan tak biasa itu kembali setelah melihat sosok Evi.

Perlahan, Daru meraih tangan kanan Evi dengan tangan kirinya. Ia kemudian menggenggamnya erat, mencoba mencari keyakinan dalam genggaman itu. Daru kemudian mengecup tangan itu dan kembali memandang Evi.

“Vi, seseorang dulu selalu menyebutku orang yang nggak sensitif, nggak peka dan lama mencerna perasaan orang lain. Kuharap, kamu bisa mengerti aku.”

Senyum tulus dan bahagia terukir di bibir Evi. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di Ranu Pani, Gunung Semeru, Jawa Timur.

Tim lainnya ternyata telah sampai lebih dahulu. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum Daru dan rekan-rekannya memulai pendakian. Saat keluar dari mobil, Daru dan Evi otomatis berpegangan tangan. Dari kejauhan, Aksan dan Alex terlihat senyum mengamati pemandangan di hadapannya.

“Kayanya ada yang baru jadian nih,” teriak Aksan yang sedang asik menikmati cangkir kopi paginya di salah satu warung di Ranu Pani.

“Semeru jadi saksi ada pasangan baru hari ini,” timpa Alex.

“Doain kita ya?” ucap Daru.

“Kalem amat lu, Dar, biasa aja lah,” goda Alex.

Mereka kemudian kembali serius membicarakan rute pendakian dan pengambilan data yang akan tim lakukan selama empat hari ke depan. Evi terlihat berbicara dengan petugas taman nasional yang akan ikut mendaki bersama mereka. Evi sendiri, karena kondisi kesehatan tak mendukung, sengaja tak ikut pendakian empat hari itu. Evi akan standby di kantor pusat taman nasional untuk menyiapkan laporan dan koleksi data yang dibutuhkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s