A Note to Fairy: 25. Nasihat Bunda

Rumah sederhana di bukit itu mungkin tempat terindah yang selalu dirindukan Fairy sepanjang hidupnya. Di sana, Fairy bersama ayah, ibu, dan adiknya tinggal bersama. Sebuah rumah di dusun kecil di Padang Panjang, Sumatera Barat.

Ketika turun dari dalam taksi yang mengantarnya setelah dua jam perjalanan dari Bandara Minang Kabau, Pariaman, Fairy sempat tertegun sesaat. Ia seolah menghitung hari, sudah dua tahun ia tak pulang ke rumah itu. Fairy berhasil mendapat izin cuti dari kantornya. Fairy memutuskan menghabiskan cutinya untuk pulang ke kampung halamannya.

Nak, alah sampai? Ibu manunggu sadari tadi (Nak, kamu sudah sampai? Ibu menunggumu dari tadi).” 

Ibu Fairy muncul dari dalam rumah. Ia mengenakan baju daster bermotif bunga teratai berwarna dominan merah muda. Senyum tulus terukir dari bibirnya. Wanita itu kemudian sedikit terhuyung-huyung menghampiri Fairy. Sebuah pelukan tulus Sang Bunda akhirnya mendekapnya. Fairy menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. Rasa rindu yang melimpah tumpah saat itu. Tak lama, ayah Fairy juga keluar dari dalam rumah. Seolah ingin berbagai kebahagiaan, ayah menyambung pelukan anak dan isterinya.

Ibu Fairy murni berdarah Minangkabau. Sedangkan ayah Fairy berdarah Sunda dan berasal dari Bandung, Jawa Barat. Dalam kesehariannya, Fairy menggunakan bahasa minang jika berbicara dengan Sang Bunda dan akan berbicara bahasa Indonesia dengan ayahnya.

Ibu menuntun langkah Fairy memasuki rumah. Sedangkan ayah langsung mengangkat tas Fairy yang berisikan baju sambil berjalan mengiringi dari belakang. “Fay pasti rindu bana jo kamar Fay (Kamu pasti kangen dengan kamar kamu),” senyum ibu kembali mengembang.

Fairy menghirup wangi kamarnya yang khas. Baunya masih sama, lavender. Ayah sama sekali tak mengganti parfum pewangi kamar kesukaan Fairy yang sudah digunakannya sejak SMP. Ibu sengaja membiarkan puterinya menikmati suasana itu. Fairy melihat fotonya sewaktu masih berseragam terpampang disalah satu dinding kamarnya. Ada Hervie, Zahara, dan Hariati, tiga sahabatnya sewaktu SMA. Sayangnya, ia masih belum memberitahukan kabar kepulangannya kepada ketiga sahabatnya itu.

Fay, kamari makan dahulu, nak. Ibu lah manggulai udang jo samba lado hijau kasukoan Fay (Fay, sini makan dulu nak. Ibu sudah masak gulai udang dan sambal goreng cabai hijau kesukaan kamu),” kata ibu sedikit bersorak dari arah dapur.
Fairy langsung keluar kamar. Ia menghampiri ibu yang sudah menyiapkan hidangannya di meja makan. Fairy kemudian mencium pipi kiri ibunya. “Mokasih Bu,” ucapnya.

Ayaaah, ayo makan basamo (Ayah, ayo makan bersama),” sorak ibu kemudian yang diikuti kehadiran ayah di meja makan.

Ketiganya kemudian bersantap siang bersama. “Cubooo sajo Fandy lai di siko (coba saja Fandy ada di sini),” kata ibu di tengah suapannya.

Fandy sadang konsentrasi mengarajoan skripsinyo, Bu. Bulan ka tibo, insya Allah, Fandy pulang (Fandy sedang konsentrasi mengerjakan skripsinya, Bu. Bulan depan, insya Allah, Fandy pulang).”

Tarimokasih nak, alah manjago adiak di sinan. Saindaknyo, ibu ndak ado was-was leh (Terimakasih nak, sudah menjaga adikmu di sana. Setidaknya, was-was ibu tak lagi ada),” ujar ibu.

“Mengapa kabar pulangnya mendadak, Fay?” sambung ayah.

“Fay kangen banget sama ayah ibu. Fairy juga sudah dua tahun tak ambil cuti. Jadi, kemarin kepala newsroom izinkan Fay pulang,” jawab Fairy.

Bara hari rancananyo di umah nak? (Berapa hari rencananya di rumah nak?)” tanya ibu.

Duo pakan Bu. Makonyo, Fairy nak sapuehnyo malapeh rindu jo ayah ibu (Dua minggu Bu. Makanya, Fairy mau puas-puasin kangennya sama ayah ibu),” jawabnya.

Gulai udang pedas ibu mampu mengenyangkan perut Fairy yang masih kosong. Sesampainya ia di bandara, Fairy rela menahan laparnya meski ia masih harus melewati tiga setengah jam perjalanan menuju rumahnya. Hal itu dilakukan Fairy hanya agar ia bisa mencicipi masakan sang ibu untuk pertama kalinya sesampainya ia di Ranah Minang.

Selepas makan, Fairy kemudian beristirahat sejenak di kamarnya. Namun, lelah kali itu masih membuatnya tak berhenti berfikir bagaimana caranya menceritakan kejadian yang selama ini menimpanya. Hal terpenting, menjelaskan kepada kedua orangtuanya akan kegagalan rencana pernikahannya dengan Genta. Mata Fairy terpejam, meski otaknya terus berfikir. Hanya jalan buntu yang ditemukannya, tak ada pilihan baginya selain berkata jujur pada ayah dan ibunya.

Malamnya, selepas shalat Maghrib, ayah dan ibu duduk santai di ruang keluarga. Awalnya, Fairy berbaur menyaksikan tontonan di televisi itu. Ia sempat tertawa bersama Ayah dan ibunya menyaksikan tingkah lucu Sule dan Andre, aktor pelawak yang bermain di acara televisi itu. Tak lama, Fairy memberanikan diri mengawali pembicaraan yang lebih serius.

“Yah, Bu. Fay ingin jujur sama ayah ibu,” katanya membuka percakapan. Fairy melihat ayah dan ibunya saling bertukar pandangan.

“Fay nggak tahu harus bagaimana menceritakan hal ini agar ayah dan ibu tidak kecewa. Tadinya, Fay mau abaikan semuanya. Tapi, hati kecil Fay mengatakan ayah dan ibu harus tahu.”

Sejenak, gadis itu menghela napas. “Yah, bu. Fairy dan Genta memutuskan berpisah dan batal menikah,” suara Fairy terdengar berat namun nadanya mantap.

Ekspresi kaget luar biasa muncul dari wajah Ibu. Namun, wanita itu tak buru-buru menyerang puterinya dengan pertanyaan berikutnya. Seolah, ia menunggu penjelasan lebih lanjut dari puterinya.

Iko ndak nio Fay doh Bu. Tanyato, sabalun basuo jo Fay, Genta alah manikah dan alah punyo anak (Ini bukan keinginan Fay, Bu. Sebelum bertemu dengan Fay, Genta ternyata sudah menikah dan mempunyai anak).” Fairy kemudian memeluk erat ibunya yang duduk di sampingnya.

Ayah Fairy hanya terdiam memandangi puterinya dan isterinya saling berpelukan. Fairy menangis. Bahunya berguncang dalam pelukan ibunya. Ayah hanya mampu membelai punggung puterinya lembut dan membiarkan anak sulungnya itu menumpahkan seluruh kesedihannya.

Setelah tangisan Fairy mulai mereda, Ibu melepaskan pelukannya dan membiarkan tubuh puterinya menjauh darinya. Sang Ibu tak tahu harus menghadapi puterinya seperti apa. Sebab, kedatangan Fairy hingga kabar mendadak yang baru saja didengarnya juga membuat pikiran sang ibu kacau balau.

Ibu Fairy menghapus air mata yang masih tersisa di wajah anaknya dengan lembut. “Sadonyo iko kahandak Allah, nak. Ado hikmah nan mungkin alun Fairy ketahui (Semua ini keinginan Allah, nak. Ada hikmah yang mungkin belum kamu ketahui),” ujar Ibu akhirnya.

Fairy lalu menceritakan dari A hingga Z tentang dia dan Genta. Mulai dari pertemuan keduanya hingga kedekatan dan hubungan serius mereka ke arah pernikahan. Sepanjang malam dihabiskan Fairy untuk mendengarkan berbagai nasihat berharga dari kedua orangtuanya.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Ini hari kedelapan Fairy berlibur di rumahnya. Siang hari menjelang sore, sekitar 14.30 WIB, terdengar suara bel dari luar. Sepertinya seorang tamu berkunjung ke rumah. Fairy hanya berdua dengan ibunya, sedangkan ayah sedang bekerja di kantor.

Fairy menghentikan aktivitasnya sejenak. Sejak tiga jam lalu, ia membaca novel fiksi, The Historian karya Elizabeth Kostova, yang dua tahun lalu belum ia selesaikan. Setelah sedikit memperbaiki dirinya di depan kaca kamarnya, Fairy langsung beranjak ke depan pintu. Terkejut, ia memandangi sosok tamu yang ada di depannya. Anton, teman masa sekolahnya sejak SMP hingga SMA.

“Anton ya?” sapa Fairy sedikit ragu.

“Siap! Ya!” ujar sosok di hadapannya dengan posisi hormat. Keduanya saling melempar tawa.

Fairy sempat mendengar kabar bahwa Anton lulus akademi kepolisian tiga tahun lalu. Saat ini, ia dinas di ibukota Provinsi Sumatra Barat, Padang. Sudah dua tahun pula Fairy tak bertemu dengan sahabat sekelasnya itu. Setelah mempersilakan masuk dan menghidangi segelas air minum, Fairy dan Anton saling bercerita. Tak lama, Ibu keluar dari kamar. Ibu juga sempat terkejut menyaksikan kehadiran Anton.

“Apa kabar, bu?” ujar Anton sembari mencium tangan kanan sang ibu.

Ibu hanya menjawab sekadarnya dan kembali masuk ke kamar. “Lanjuik se yo nak? Ibu masuak lu (Lanjut saja ya nak? Ibu masuk dulu),” ujarnya sambil tersenyum.

“Aku dapat kabar dari Om Sony. Dia bilang kamu pulang. Kebetulan, minggu ini aku libur. Jadi, aku bisa nyamperin kamu. Sampai kapan di sini?” kata Anton.

“Minggu depan aku balik ke Jakarta. Kamu kurusan ya, Nton?” ujar Fairy memandangi lagi sosok Anton.

“Selama dua tahun pendidikan, sarapanku olahraga fisik melulu, Fay. Makin ganteng nggak?” Anton menggoda.

“Actually, yes,” jawab Fairy. Anton tersipu malu mendengar komentar spontan Fairy.

“Trus, kapan rencananya?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Anton. Ekspresi Fairy terlihat bertanya-tanya. Keningnya berkerut, meski, ia sebetulnya mengetahui arah pertanyaan Anton .

“Kamu dong, udah sukses jadi perwira, udah mapan, kapan?” kata Fairy mengembalikan pertanyaan.

Anton tertawa puas. “Aku masih jomblo, masih mencari yang cocok. Kamu dong Fay, yang lebih siap,” tuturnya.

Fairy menggeleng-gelengkan kepala. “Not yet, Nton. Kamu tanya kapan pun, aku nggak tahu harus jawab apa,” jawab Fairy ditutup hembusan napas yang sedikit berat.

“Buruan Fay. Kalo kamu lebih lama lagi, nanti mak comblang bertindak,” kata Anton.

Tertawa Fairy terdengar lepas mendengar perkataan Anton. “Not now, Nton.”

Anton mulai terlihat kikuk di hadapan Fairy. Ia kemudian menyapu sekeliling ruang tamu dengan kedua matanya. Hampir tak ada yang berubah dari tatanan ruangan itu. Hanya ada tambahan sebuah pigura berisi foto terbaru Fairy di sisi kanan dinding. Foto Fairy mengenakan kebaya berwarna emas. Di foto itu, Fairy terlihat tersenyum dan menoleh ke sebelah kiri. Senyumnya manis sekali.

“Udah lama banget aku nggak main ke sini ya?”

“Iya, udah berapa tahun ya? Eh, kamu masih suka ngunyah permen karet Nton?” ujar Fairy. Anton kemudian langsung mengeluarkan sebuah permen karet rasa mint yang sama seperti yang biasa ia kunyah di bangku sekolah dulu. Fairy tertawa lagi menerima permen karet itu.

“Kamu nggak berubah ya? Aku masih ingat kamu itu seperti orang gila kalo lagi ngunyah permen karet. Kamu nggak peduli walaupun sedang jam belajar. Sampai-sampai, kamu pernah diusir guru Fisika gara-gara tetap menguyah permen karet sewaktu jam belajar.”

Anton kembali tertawa. “Itu dulu Fay. Sekarang aku masih ngunyah permen karet ini karena lagi berusaha berhenti merokok,” ujar Anton.

Mata Fairy terlihat sedikit membesar. “Wah, serius? Bagus Nton. Aku dukung kamu berhenti merokok.”

“Hehehee. Bakal lebih asik lagi kalo kamu bisa ingetin aku berhenti merokok setiap hari,” ujar Anton sedikit menunduk namun tetap melirik Fairy.

Keduanya terus larut dalam nostalgia masa putih abu-abu dulu. Dari Anton, Fairy mengetahui banyak kabar tentang teman-teman lamanya. Andex dan Narti ternyata sudah menikah. Keduanya merupakan pasangan sejak masuk SMA hingga lulus kuliah. Andex berprofesi sebagai polisi dan bertugas di Dumai, Riau. Sedangkan Narti menjadi bidan di tempat yang sama. Keduanya ternyata sangat berjodoh dan sudah dikarunia seorang putera yang lucu.

Tata, teman sekelas mereka yang dahulunya sangat gendut sekarang telah langsing. Tata berhasil diet dan menurunkan berat badannya dari 70 kilogram (kg) menjadi 45 kg hanya dalam waktu setahun. Fairy sangat terkejut saat Anton memperlihatkannya foto Tata saat mereka buka puasa bersama setengah lalu. Fairy juga sedih mendengar kabar bahwa guru Matematika kesayangannya, Pak Tarmidzi, telah meninggal dunia karena mengidap penyakit kronis dalam waktu lama.

Kabar terbaru lainnya yang membuatnya kaget Fairy adalah guru Geografi tergokil satu sekolah, Pak Hawairiyun, telah menjabat sebagai Kepala Sekolah saat ini. Fairy masih ingat hal unik yang selalu dilakukan Pak Hawai setiap masuk kelasnya dulu. Guru berperawakan tinggi dan berkumis tipis itu selalu melakukan ritual khusus kepada murid-muridnya. Di antaranya, kebiasaannya memeriksa kuku siswa. Pak Hawai tak mengizinkan murid-murid yang ia ajar memiliki kuku panjang. Sang Guru selalu membawa gunting kuku dan murid berkuku panjang wajib memotong kukunya di tempat.

Pak Hawai juga selalu membawa meteran jahit untuk mengukur rok siswi. Siswi yang ia temukan mengenakan rok terlalu pendek, atau ketahuan melipat roknya menjadi pendek, maka tak diizinkan belajar di kelasnya. Meski terlihat super disiplin, namun Pak Hawai sukses menjadi salah satu guru yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu oleh muridnya. Sebab, Pak Hawai menyajikan pelajaran Geografi dengan metode yang sangat menarik, yaitu bercerita. Tak jarang, ia juga menyisipkan cerita-cerita lucu dalam materi pembelajarannya yang membuat siswa menjadi tak bosan. Tiga jam pelajaran bersama Pak Hawai tak akan terasa lama.

Hampir dua jam bertukar cerita, Fairy mendengar suara sepeda motor dari luar. “Kelihatannya ayah sudah pulang,” ujarnya pada Anton. Keduanya kemudian melirik ke luar pintu. Benar saja, di halaman sana ayah Fairy terlihat berjalan menenteng tas kantornya. Saat melirik jam dinding, ternyata sudah pukul 16.30 WIB.

“Assalamualaikum,” suara ayah mengucapkan salam yang disambut jawaban yang sama dari keduanya. Wajah ayah terlihat sumringah melihat kehadiran Anton di rumahnya. “Ada Anton toh! Lagi libur Nton?” ujar ayah yang disambut jabatan tangan dari Anton.

“Iya Om, kebetulan saya libur. Kebetulan juga semalam saya ketemu dengan Om Sony dan beliau bilang Fairy pulang. Jadi, saya main ke sini,” jawab Anton.

Ayah Fairy masih berdiri di posisinya berhadapan dengan Anton. Ia menaruh tasnya di salah satu kursi kosong di ruang tamu.

“Om, saya mau permisi pulang dulu,” ujar Anton.

“Lho, kok buru-buru pulangnya? Udah lama ngobrolnya?” balas ayah.

Anton tersenyum ke arah Fairy. “Lumayan Om. Lagian, sudah sore juga. Besok, kalo boleh, saya main lagi ke sini Om,” ujar Anton melirik Fairy.

“Silakan Nton. Fay sejak pulang di rumah terus. Maklum, teman-teman sekolahnya di sini kan sudah pada kerja dan sibuk,” ujar ayah.

Setelah berpamitan dengan ayah dan ibu, Fairy mengantar Anton menuju mobil Toyota Avanzanya yang terparkir di halaman rumah. Anton kembali melemparkan senyum ke arah Fairy dan berlalu seketika.

Setelah Anton pulang, Fairy masuk kembali ke rumahnya. Ia mendapati Ibu tengah bersiap-siap menghidangkan makan malam untuk mereka. Sedangkan ayahnya langsung mandi.

Fay masih ado komunikasi jo Anton? (Kamu masih ada komunikasi dengan Anton?)” tanya Ibu yang terlihat tengah menata piring-piring makan di atas meja.

Fairy menghampiri Ibu dan membantu menuangkan air minum ke dalam gelas.

Lai Bu. Tapi cuma lewaik chating jo Facebook (Masih bu, tapi cuma lewat chating dan Facebook),” jawab Fairy sekenanya.
Gerak-gerik Ibu kemudian sedikit canggung. Ia kemudian duduk disalah satu kursi makan.

Mmm, ibu nak tanyo pandapaik Fay. Tapi, Fay jan berang ndak? (Mmm, ibu mau tanya pendapat kamu. Tapi, ibu harap kamu jangan marah ya nak?)”

Fairy tersenyum simpul. “Ado apo bu? Kecek an sajo, Fay pasti dangakan (Ada apa bu? katakan saja bu, Fay pasti mendengarkan),” jawab Fairy.

Mmm, tigo hari nan lalu ayah jo Ibu pai mamain ka rumah Om Sony, sawakatu upacara turun mandi anaknyo. Di sinan, Om Sony tibo-tibo mananyoan kaba Fay. Banyak nan Ayah jo Om Sony caritoan di situ. Taruih, tibo-tibo Om Sony mangusulkan nak mandakekan Fay jo Anton. Alasannyo, kalian baduo alah tahu satu samo lainnyo. Fay masih surang, Anton pun samo (Tiga hari lalu ayah dan ibu berkunjung ke rumah Om Sony, sewaktu turun mandi anaknya. Di sana, Om Sony tiba-tiba nanyain kabar kamu. Banyak hal yang ayah dan Om Sony ceritakan di sana. Lalu, tiba-tiba Om Sony mengusulkan untuk mendekatkan kamu dengan Anton. Alasannya, kalian berdua sudah saling mengenal. Kamu masih sendiri, Anton juga sama,” suara Ibu Fairy terdengar sangat lembut dan menjaga perasaaan anaknya.

Fairy tertegun sejenak mendengarkan pengakuan ibunya. Ia kemudian tersenyum berat dan duduk di kursi yang posisinya menghadap ibunya.

Fay bukannyo manolak jodoh, bu. Tapi, Fay kini masih alun bisa malupoan kagagalan Fay nan patang ko. Tujuan Fay pulang kini pun supayo Fay bisa malupoan kajadian paik tu. Capek-capek maikek hubungan baru, itu masih taraso barek untuk Fay. Beko lah bu, kalau Fay lah saketek nyaman. Fay janji, ndak akan balamo-lamo (Fay bukan menolak jodoh, bu. Tapi, saat ini Fay masih belum bisa melupakan kegagalan Fay kemarin. Tujuan Fay pulang kali ini juga agar Fay bisa melupakan kejadian pahit itu. Buru-buru mengikat hubungan baru, itu masih berat untuk Fay. Nantilah bu, kalo Fay sudah sedikit nyaman. Fay janji, itu tak akan lama),” ujar Fay menggenggam tangan ibunya.

Ayah jo ibu pun sabana e ndak nio mamaso Fay. Ayah jo ibu cumo nio Fay mandapekan kebahagiaan Fay. Nak, bahagia tu bisa didapekan kalau awak ikhlas mambari saketek ruang di tangah raso sadiah, banci, jo penyasalan (Ayah dan ibu juga tak ingin memaksa kamu, nak. Kami ingin kamu mendapatkan kebahagiaan kamu. Nak, bahagia itu bisa kamu dapatkan jika kamu ikhlas memberi sedikit ruang di tengah rasa sedih, benci, dan penyesalan kamu),” mata ibu memandang dalam ke mata puterinya.

Iyo bu (iya bu),” Fairy mengecup tangan ibunya.

Tak lama kemudian, ayah Fairy keluar dari kamarnya. Mata ayah sedikit menyipit sambil tersenyum menggoda ke arah isteri dan puterinya. “Sepertinya ayah sudah ketinggalan gosip nih,” ujar ayah.

Ibu buru-buru melepaskan genggaman tangannya dengan Fairy. Ia kemudian membukakan sebuah kursi makan untuk suaminya. “Ibu sudah cerita ke Fay, ayah. Jawaban Fay sama seperti yang sudah ayah perkirakan,” ujar ibu membalas senyuman ayah.

Ayah duduk kemudian tersenyum sambil membalikkan piringnya. Sambil mengambil tiga sendok nasi dan menaruhnya ke piringnya, ayah menyambung wejangannya untuk Fairy.

“Makanya, ayah belum mengiyakan usulan Sony. Bagaimanapun, keputusan berkeluarga dan mengikat hubungan itu adalah murni keputusan kamu Fay. Ayah tak mau suatu hari disesali karena gagal menyajikan jodoh terbaik untuk anak ayah. Namun sedikit nasihat ayah Fay, Anton itu layak untuk kamu pertimbangkan, hehehe,” goda ayah.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Fairy menyempatkan berbelanja oleh-oleh ke Toko Christine Hakim di Jalan Nipah. Di sana, Fairy bisa membeli oleh-oleh khas Minangkabau seperti pesanan rekan-rekan kerjanya sesama wartawan.

Sepulangnya dari toko itu, Fairy menyempatkan diri berkeliling sebentar. Ia melewati Jembatan Siti Nurbaya di Kota Padang. Jembatan tersebut melambangkan kisah kasih tak sampai antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang diceritakan kembali di dalam novel oleh sastrawan Sumatra Barat, Marah Roesli. Jembatan itu membentang sepanjang 60 kilometer di atas Muara Batang Arau.

Kawasan Jembatan Siti Nurbaya dan Pelabuhan Muara tengah dikembangkan sebagai lokasi wisata bahari. Setiap malamnya, anak-anak muda sekitar Kota Padang suka berkumpul di lokasi ini. Banyak penjual gorengan, jagung bakar, hingga pisang bakar yang disebut pisang injak dijajakan di sini.

“Masih jam 3 sore Fay, terlalu cepat jika kita ke bandara sekarang. Pesawat kamu jam 19.15 kan?” ujar Anton sembari melirik jam tangannya.

Fairy ikut melihat jam tangannya. “Kamu ada ide kita kemana?” tanyanya.

“Pantai?”

Senyum Fairy mengembang menandakan setuju. “Agree,” ujarnya.

Anton membelokkan sepeda motornya melewati Klenteng Budha Suci, melewati lima bundaran lampu merah. Klenteng ini berusia lebih dari 200 tahun. Tak sampai tiga menit, Fairy dan Anton sudah sampai di Pantai Padang. Masyarakat Padang menyebutnya tapi lauik yang artinya tepian laut.

Keduanya kemudian menuju ke jalan berbatu yang menjorok ke laut. Fairy menarik napas dalam dan menghembuskannya. Ia pejamkan matanya sejenak dan merasakan kerinduannya akan kampung halamannya yang sudah lebih dari dua tahun terakhir tak ia kunjungi.

“Kapan kamu kembali lagi ke sini?” tanya Anton pada Fairy.

Fairy tetap pada posisi badannya menghadap ke arah laut. Kepalanya menunduk, sambil tersenyum berat.

“Aku berharap bisa pulang setiap hari, Nton. Tapi, selalu ada beban dan pertanyaan sama yang selalu menantiku di sini,” kata Fairy.

“Soal pernikahan? Jadi, kamu menghindari pertanyaan itu?” tanya Anton.

“Kurang lebih begitu lah.”

“Kamu tinggal jawab apa adanya kan?”

“Aku perempuan, Nton. Aku nggak mungkin bisa menghindari pertanyaan yang sama terus menerus. Kamu tahu kan? bagaimana pandangan orang-orang kampung kita terhadap wanita yang sudah berusia di atas 23 tahun namun belum menikah. Aku bisa memaklumi perasaan ayah dan ibu. Meski mereka berdua mencoba menutup telinga, tapi nyanyian nyaring orang-orang sekitar, khususnya desakan keluarga besar ibu pastinya tak mungkin terus mereka acuhkan.”

“Kalo begitu, menikahlah denganku,” ujar Anton.

Fairy terkejut mendengarkan pernyataan Anton yang sangat tiba-tiba itu. Dia menoleh ke wajah Anton yang ia dapati memandanginya serius. Fairy masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Anton kemudian meraih kedua tangan Fairy. “Jujur, aku menginginkanmu Fay. Kamu tahu betapa bahagianya aku ketika Om Sony mengatakan niatnya untuk menjodohkan kita? Rasa suka aku terhadap kamu sama sekali nggak pernah berubah sejak kita sekolah dulu. Menikahlah denganku Fay. Kamu bisa tinggalkan Jakarta dan menetap di Padang. Aku akan menjagamu sepenuh hatiku.”

Fairy menatap lekat mata Anton. Baru itu ia melihat api semangat di mata sahabatnya itu. Beberapa menit kemudian Fairy seakan disengat listrik yang menyadarkannya dari keterlenaan itu.

“Nggak semudah itu Nton. Aku baru saja gagal menikah. Aku… nggak mungkin secepat itu. Lagipula, bagaimana dengan pekerjaanku di Jakarta?”

“Aku akan tunggu sampai lukamu itu sembuh. Pintaku cuma satu, kamu nggak perlu bekerja Fay. Cukup menjadi isteriku seutuhnya. Please, tinggallah bersamaku di sini.”

“Tapi aku mencintai pekerjaanku, Nton.”

“Menjadi wartawan?” Anton beranjak beberapa langkah dari Fairy.

“Fay, kamu itu lulusan IPB Bogor. Kamu cerdas. Kamu bisa memilih pekerjaan apapun yang lebih baik di sini, dibandingkan hanya menjadi kuli berita di Jakarta. Apa yang membuatmu begitu berat meninggalkan profesi wartawan?”

“Pandanganmu tentang wartawan terlalu sempit Nton. Ini jalan hidup dan jalan nafkah yang aku pilih. Sekali lagi aku bilang sama kamu, aku mencintai pekerjaanku. Kamu ajak aku menikah? Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan orang seperti kamu yang bisanya cuma meremehkan orang lain? Maaf Nton, aku membuatmu kecewa.”

Semua perkataan yang keluar dari bibir pria itu membuat Fairy marah besar. Ia membenci semua orang yang tidak bisa menghargai pilihan hidup seseorang, terutama profesinya sebagai wartawan.

Fairy meninggalkan Anton dengan sendirinya. Laki-laki itu berusaha mengejarnya. Namun, Fairy sudah terlanjur menghentikan sebuah taksi dan berlalu ke Bandara Minangkabau. Sementara Anton masih terpaku memandang lepas ke garis pantai di hadapannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s