A Note to Fairy: 26. Pernikahan

Enam bulan kemudian…

Fairy masih betah berada di ruang wartawan Manggala malam itu. Padahal, rekan-rekannya yang lain sudah pulang sejak pukul 18.00 WIB. Tugas penulisan beritanya sebetulnya sudah selesai sejak satu jam lalu. Namun, pernikahan Daru yang akan digelar lusa masih menganggu pikirannya.

Gadis itu tak mengerjakan apa-apa. Ia hanya memandangi layar laptopnya yang masih menampilkan ketikan berita sebelumnya. Di sisi kirinya, undangan pernikahan Daru tergeletak. Poe, rekannya yang bekerja di Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) menyampaikannya hari itu sewaktu bertemu di Manggala. 

Tangan kanan Fairy sesekali mencoret-coret kertas yang ada di sampingnya tanpa memandang kertas itu. Tak ada huruf yang tergores, hanya lekukan garis yang acak tak beraturan, persis seperti suasana pikiran pemiliknya saat ini.

“Lagi ngapain? kok jam segini belum pulang?” sebuah suara mengejutkan Fairy. Ia menoleh. Di pintu masuk, Fairy mendapati kepala Herry muncul dan perlahan menghampirinya.

Sebuah minuman kaleng dingin disodorkan Herry kepada Fairy. Fairy tersenyum sambil menghela napas, “Tenkyuuu,” ujarnya sambil memperbaiki posisi duduknya.

“Aku…., aku lagi menyelesaikan tulisan wawasan bisnis yang mau dimuat pekan depan. Masih ada yang belum aku kerjakan, terutama menghitung rata-rata perdagangan saham emiten-emiten berkapitalisasi pasar besar setahun terakhir ini.” Alibi Fairy menyembunyikan kegusaran pikirannya nyaris sempurna.

“Kamu udah dapat datanya dari Kustodian Sentral Efek Indonesia?” tanya Herry yang dibalas anggukan oleh Fairy.

“Kalo sudah, berarti aman. Bagian mana yang bikin kamu bingung? Biar aku bantu,” balas Herry.

“Wah, benaran? Syukur lah. Thanks Her,” jawab Fairy sambil tersenyum sedikit sungkan. Gadis itu beralih membuka kaleng minuman itu dan meneguk isinya hampir separuhnya.

“Kamu sangat mencintai pekerjaanmu ini ya Fay?” tanya Herry yang duduk di samping Fairy.

“Kamu sendiri, Her?” tanya Fairy balik.

Herry mengalihkan pandangannya. “Hmmm, aku tak pernah serius memikirkannya. Bagiku, selama aku nyaman, ya jalani saja.”

“Ooo,” balas Fairy sambil mengambil kertas yang sedari tadi dicoretnya. Ia kemudian terlihat mencatat beberapa nama perusahaan dan sejumlah angka di kertas itu.

“Mungkin aku akan berhenti dari pekerjaan ini ketika aku merasa profesi ini ternyata semakin sulit. Atau mungkin aku berhenti ketika aku sudah merasa sangat bosan,” tambah Herry. Fairy hanya terlihat manggut-manggut mendengar penuturan Herry.

“Okeeee, kalo begitu bagian mana yang bisa aku bantu?” Herry mengalihkan kembali pembicaraannya kepada kesulitan yang tengah dihadapi Fairy.

“Aaaah, sudahlah. Saat ini aku lagi nggak bisa mikir apa-apa lagi. Masih ada waktu seminggu untuk menyelesaikannya.” Fairy membuat gerakan melemaskan otot-otot tangan dan lengannya ke atas dan ke depan.

“Kantor pasti bangga punya reporter serajin kamu.”

“Ini bukan masalah itu. Kadang aku berfikir apa yang akan terjadi kalo aku beberapa kali menolak mengerjakan orderan penulisan dan hanya menulis yang ingin aku tulis saja. Sayangnya, aku tak bisa menolak melakukannya. That’s the point.”

Fairy beranjak dari tempat duduknya dan mengambil remote AC disalah satu laci di ruangan itu. Ia kemudian menambah suhu kamar yang dirasakannya sedikit panas.

“Kamu nggak menolaknya karena kamu bisa mengerjakan semuanya,” kata Herry.

“Udah malam, kamu sendiri kok masih di sini, Her?” ujar Fairy mengalihkan percakapan.

“Karena kamu belum pulang. Ayo pulang bareng, kamu nggak capek? dari jam sembilan pagi udah mangkal di pers room BEI, trus jam satunya geser liputan ke Manggala, sampai jam segini.”

Mata Herry kemudian terlihat menangkap undangan pernikahan Daru. Ia meraihnya dan membacanya.

“Nugroho Daru Prayoga dan Evidia Nurul Fadillah. Ini pernikahan teman kamu? di Bogor? Lusa, kamu mau ke sana?”

Fairy kemudian duduk tepat di kursi yang berseberangan dengan Herry.

“Rencananya begitu. Mungkin,” jawabnya dengan suara lemah.

“Sama siapa? Mau aku temani?”

Pandangan Fairy langsung mengarah ke Herry. “Kamu mau nemenin aku ke Bogor, Her?”

“Why not? acaranya Minggu malam kan? aku bisa, jika kamu mau.”

“Boleh Her, thanks.”

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Sehari menjelang pernikahan Daru, Fairy kebingungan dengan perasaannya. Saat liputan ke wilayah sekitar Pluit, Fairy menyempatkan diri ke mall terdekat. Ia kemudian tertarik memasuki sebuah butik. Fairy mencoba mencari-cari baju yang pantas ia kenakan ke pesta pernikahan sahabat sekaligus orang yang pernah sangat ia cintai itu.

Awalnya, Fairy terlintas berniat tak datang ke acara itu. Ia bahkan telah menyiapkan segudang alasan untuk tak datang ke pesta pernikahan Daru. Namun, Herry menawarkan diri untuk mengantar dan menemaninya langsung sebagai partner ke pesta di Bogor itu.

Fairy melihat gaun-gaun dan setelan yang menggantung atau dilipat di jajaran rak baju di butik itu. Di tengah kebingungannya, seorang asisten cantik berseragam datang padanya.

“Ada yang bisa dibantu, mba?” tanyanya.

Fairy mengangguk. “Saya rasa saya butuh beberapa saran pakaian, mba,” pinta Fairy.

Sekitar 40 menit setelah itu, Fairy dan asisten berseragam biru itu keluar dari ruang ganti. Fairy keluar dalam balutan gaun putih panjangnya. Pada bagian lehernya, taburan seperti kristal putih melingkar layaknya kalung. Di cermin, Fairy sendiri terkesima melihat bayangan.

“Wah, thanks banget mba,” kata Fairy berterimakasih.

Asisten itu tersenyum. “Saya rasa gaun ini lebih pas untuk mba. Bagaimana, mba? Suka?”

Fairy kembali berputar melihat bayangannya di cermin. “Ya, saya ambil yang ini,” jawabnya kemudian. Fairy lega akhirnya menemukan baju yang pas untuk dikenakannya besok.

Sepuluh menit kemudian Fairy kembali mengenakan kembali baju awal yang ia pakai. “Silakan,” kata si asisten sambil menyodorkan gaun Fairy yang sudah dibungkus sebelumnya. Setelah membayar gaun itu dengan kartu kreditnya, Fairy langsung berlalu dengan sebuah taksi menuju rumahnya.

Keesokan harinya sekitar pukul tujuh malam, Herry dan Fairy sudah sampai di Balai Binarum, Bogor. Di sana, Daru merayakan pesta pernikahannya bersama Evi.

Sebelum melangkahkan kaki ke dalam gedung itu, Fairy masih terduduk di dalam mobil Herry. Sebuket bunga mawar dan lili putih ada di dalam pelukannya. Ia menenangkan diri, sekaligus menguatkan hatinya agar tak terbawa perasaan saat melihat Daru di pelaminan nanti.

Ia juga menarik napas panjang dan berdoa pada Tuhan agar melepaskannya dari belenggu perasaan masa lalu yang hanya membuatnya semakin jatuh terperangkap. Ia kukuhkan hatinya bahwa kedatangannya kali itu adalah untuk memenuhi janjinya kepada Daru. Fairy merasa ia hanya cukup kuat 15 menit hingga 20 menit ke depan, lalu keluar dari tempat itu untuk kembali pulang.

Akhirnya mereka memasuki ruangan. Fairy tak mampu menyembunyikan rasa gugupnya. Ini adalah kemunculan pertamanya setelah bertemu Daru setengah tahun lalu. Fairy berjalan di belakang Herry. Pagar ayu dan pagar bagus yang berdiri di pintu masuk gedung melempar senyum menyambut kedatangannya. Fairy menggandeng tangan Herry, sekadar memastikan ia mampu berdiri tegak dan menambah kekuatannya.

Dari jauh, Fairy melihat megahnya pelaminan di depan sana. Namun, ia masih tak memfokuskan pandangannya pada sosok pengantin pria yang duduk di sana. Ia terus menunduk dan menggenggam tas kecilnya semakin erat. Dari tempo berjalannya, Herry menyadari sahabatnya itu tengah mengumpulkan kekuatan.

“Tenang Fay,” ujar Herry menepuk tangan Fairy.

Ketika Fairy melewati tamu-tamu lainnya, seolah semua pandangan tertuju padanya. Orang-orang mungkin mengagumi sosok Fairy dalam balutan gaunnya. Ia layaknya model yang sedang berjalan di atas catwalk. Beberapa pria yang sedang mengobrol atau minum pun terhenti melihat Fairy yang sedang melintas. Malu-malu, Fairy kemudian bersembunyi di balik tubuh Herry.

Fairy hanya tersenyum menyengir. Herry menyadari sahabatnya sedang gugup.

“Lu tenang dikit lah Fay, orang-orang itu ngeliatin lu karena lu itu cantik,” ucapan Herry semakin membuat Fairy ingin menyembunyikan diri.

“Thanks Her, tapi bisa nggak lu jangan bikin gue makin gugup?” ujar Fairy sambil menepuk pelan pundak Herry yang membuat pria itu tersenyum.

“Hehee. Iya, iya. Udah deh, lu jangan ngumpet gitu dong. Orang-orang jadi makin penasaran.”

Fairy kemudian berusaha menghentikan kegugupannya. Ia lalu kembali berjalan tegak sambil terus menggandeng tangan Herry. Sesaat seorang pelayan membawa nampan minuman lewat, Fairy kemudian mengambil satu gelas sirup dan menghabiskannya seketika.

“Fay?” sebuah sapaan dari arah belakang mengejutkan Fairy. Ia lalu menoleh ke belakang.

“Bayu?” sapa Fairy dengan senyum.

Fairy tertegun sejenak, lalu keduanya saling berpelukan. Bayu, sahabatnya sekelas dulu di kampus. Keduanya sempat tinggal satu kontrakan selama dua semester di Babakan Lio, Kampus IPB Darmaga. Bayu terlihat menggandeng seorang pria.

“Kenalin Fay, ini suami aku, Ery,” Fairy berjabat tangan dengan suami sahabatnya itu.

“Aku dapat kabar kamu sudah menikah, Fay. Ini suami kamu? Selamat ya say? Maaf, aku nggak hadir di pernikahan kamu. Beginilah nasibnya, setahun lalu aku ikutin suami tugas ke Pekanbaru. Alhamdulillah, per bulan ini Ery sudah ditransfer lagi ke kantornya di Bandung.”

Fairy berusaha tersenyum menerima pemaparan sahabatnya itu. Meskipun hati kecilnya lirih dan sakit mendengarnya.

“Aku nggak jadi menikah, Bay,” jawab Fairy singkat. Perih sekali rasanya sebab ia harus jujur dan menceritakan kenyataan yang sebenarnya pada Bayu.

Sahabat Fairy itu hanya memandang haru ke arah Fairy.

“Fay sayang, aku…aku minta maaf. Aku nggak tahu kabar ini,” Bayu kembali memeluk Fairy. Fairy hanya mengangguk kecil dan tersenyum ikhlas kepada Bayu.

“Belum jodoh, Bay. Doakan saja,” ujar Fairy menelan ludah.

“Amin. Eh, say, aku kasih ucapan selamat ke Daru dulu ya? Ayo Fay?” ajak Bayu yang disambut anggukan Fairy.

Fairy merasakan genggaman tangan Herry di telapak tangannya semakin kuat. Keempatnya kemudian semakin dekat dengan singgasana pelaminan tempat Daru dan isterinya berdiri. Meski semakin mendekat, Fairy masih belum berani melihat Daru dalam balutan jas pengantinnya.

Akhirnya, setelah Bayu dan Ery mengucapkan selamat pada keduanya, tibalah giliran Fairy. Gadis itu baru memandang Daru. Fairy merasakan kedua bola matanya panas. Namun, tak setetes air matapun keluar di sana. Meskipun hatinya di dalam telah diguyur tangisan panjang selama bertahun-tahun tentang Daru.

Hal yang sama juga dirasakan Daru. Sesuatu seperti bongkahan batu ingin keluar dari dadanya. Daru nyaris tak bisa berdiri dan berucap menyaksikan kehadiran Fairy di hadapannya. Tapi, ia tahu, hari itu mungkin menjadi hari terakhir ia bisa melihat Fairy sedekat itu.

“Dar,” sergah Fairy. “Selamat,” Fairy mencoba memberikan senyum tulusnya kepada Daru. Ia yakin tak mempunyai perbendaharaan kata lain untuk disampaikannya kepada Daru.

“Ini,” Fairy akhirnya memberikan sebuket bunga yang sedari tadi ia bawa kepada Daru.

“Dulu, kamu pernah bilang kalo kamu ingin aku akan bawakan sebuket bunga jika kamu menikah. Maaf, bunganya terlambat. Aku nggak bisa hadir di akad nikah kamu tadi sore,”

Fairy berusaha melihat sosok pria yang teramat dicintainya itu dalam makna yang berbeda. Ia harus sadar tak sepantasnya lagi hatinya dirundung dilema begitu panjang tak berkesudahan. Sebab, Daru telah menetapkan hatinya.

Pria itu tersenyum tipis. Kamu masih ingat cerita lama itu Fay. Batin Daru. “Terimakasih Fay. Mmm, selamat juga untuk pernikahanmu, Fay,” balas Daru sambil mengalihkan pandangan ke arah pria di samping Fairy.

Perkataan Daru seakan menyayat hati Fairy kembali. Ia tahu, betapa mahal kegagalan pernikahan yang harus ia bayar. Termasuk, membunuh semua impiannya untuk bisa bersama orang yang dicintainya. Sebelum air matanya merebak, Fairy memberikan senyum terakhir dan berlalu dari hadapan Daru.

Daru menatap lekat punggung Fairy yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dari wanita itulah ia belajar menguatkan hati dan bertahan dengan pilihan-pilihan yang ada. Meskipun, jauh di lubuk hatinya terdalam, Daru tetap memilihnya. Dalam hati lirih, Daru mengucapkan selamat tinggal pada gadis itu.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Jalanan dari Bogor ke Jakarta lumayan macet malam itu. Fairy dan Herry baru keluar di pintu Tol Semanggi sekitar pukul 22.00 WIB. Mobil Herry kemudian melaju menuju perempatan Kuningan, lalu ke arah Setiabudi. Sepanjang perjalanan Fairy tak banyak berbicara. Hanya sesekali gadis itu mencoba merespon candaaan Herry yang mencoba menghiburnya.

Saat memasuki kawasan Menteng, Fairy menolak Herry untuk buru-buru mengantarnya sampai di rumahnya.

“Her, aku mau ke Suropati dulu,” pintanya.

“Aku temani kamu,” balas Herry.

“Jangan, please. Kali ini aku mau sendiri.”

Herry terlihat memikirkan sesuatu. “Oke. Tapi, kamu jangan lama-lama ya? Udah malam. Nggak baik juga buat kesehatan kamu.”

Seutas senyum tetap mengembang di wajahnya. “Iya, iya. Kamu tenang aja. Aku cuma mau refresh sejenak pikiran aku. Kamu jangan mikir aku bakal lakuin yang aneh-aneh,” nada suaranya mencoba tenang.

Herry mengangguk tanda mengerti. Ia menurunkan Fairy tepat di dekat lampu merah pertigaan Taman Suropati. Setelah membalas lambaian tangan Herry, Fairy langsung berjalan pelan memasuki areal taman itu.

Disalah satu sudut taman yang sepi, Fairy kembali duduk menyendiri. Kedua telapak tangannya saling mengatup, menopang keningnya seakan terbebani oleh pemikiran yang berat. Fairy kemudian menengadahkan kepalanya ke atas. Dilihatnya, bulan yang sepekan lalu masih purnama kian mengecil. Sama seperti cerita cintanya yang kian meredup.

Di sudut lain taman, Herry memandangi Fairy penuh tanda tanya. Mencoba menghubungkan puzzle-puzzle kejadian beberapa hari belakangan menjadi satu. Ketika melihat gadis itu mengusap air matanya beberapa kali, tak tahan, Herry memberanikan diri menghampiri Fairy kembali.

“Kamu bilang kamu nggak bakal lama di sini, kenapa belum pulang?” sapanya dari jarak sekitar dua meter.

“Aku masih pengen di sini.” Tanpa menoleh, Fairy langsung beranjak dari duduknya.

“Jangan mendekat, jangan lihat, wajahku kusut sekali,” teriaknya membelakangi Herry.

Herry memasukkan kedua tangannya ke kantung. “Mengapa kamu memaksakan diri berbohong seolah hidup kamu selalu berjalan baik?”

“Aku nggak bohong. Aku nggak menyembunyikan apa-apa,” tutur Fairy tetap mengelak.

Herry berjalan kian mendekati Fairy. Laki-laki itu kemudian meremas pundaknya dari belakang.

“Kamu nggak harus terus tersenyum seperti itu, Fay. Aku bisa melihatmu menangis juga.”

“Sudah kubilang aku nggak nangis.”

Herry memaksa membalikkan tubuh Fairy menghadapnya. Herry mencoba membawa tubuh Fairy ke dalam pelukannya. Namun, secara spontan, gadis itu menghindar. “Maaf Her.”

“Orang yang kamu cintai selama ini itu Daru?”

“Her, please, jangan ungkit masa lalu aku. Aku…, aku…, benar-benar minta maaf.” Fairy langsung berlalu meninggalkan Herry.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

nam bulan kembali berlalu. Kehidupan Fairy masih berjalan seperti biasanya. Namun, selama satu semester itu pula dia seolah mati rasa dan tak bisa berpikir apa-apa lagi untuk dirinya.

Di dalam kamarnya, Fairy diam sendirian. Ia menimang-nimang ponsel yang sedari tadi digenggamnya. Ia akhirnya mencari sebuah nomor dan langsung menghubunginya.

“Halo, Mba Nidia, sorry gangguin malam-malam. Hmm, tawaran liputan ke Singapura bulan depan masih berlaku? Kalo iya, saya bisa berangkat, mba,” ujar Fairy di telepon.

Suara Mba Nidia di seberang sana sepertinya menyetujui.

“Terimakasih Mba Nid. Lusa, saya ke kantor untuk antar fotokopi paspor dan kartu pers. Sekalian, saya mau urus surat izin ke sekretariat.”

Klik. Nada telepon di seberang sana ditutup. Fairy akhirnya menerima tawaran liputan ke Singapura. Mungkin, di sana ia bisa sedikit rileks dan melupakan kesedihannya belakangan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s