A Note to Fairy: 28. Peri Kecil

Dua tahun kemudian…

Daru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Senandung lirih lagu-lagu MYMP samar-samar terdengar dari bibirnya. Hampir dua tahun terakhir, dia akhirnya memutuskan kembali menetap di Bogor. Daru pindah dari kantornya di Makassar ke kantor pusat di Bogor, membawa serta putri kecilnya.

“Mas Daru, sudah selesai mandinya?” suara Bi Atun terdengar dari belakang setelah sebelumnya ia mengetuk pintu beberapa kali. Sontak Daru langsung membalikan tubuhnya, dan menemukan Peri kecilnya tengah mengintipnya dari balik pintu kamarnya.

“Non Peri baru bangun tidur, mau langsung ketemu Mas Daru,” lanjut Bi Atun dari luar pintu. 

Daru melihat senyuman manis tersungging dari gadis kecil berambut panjang itu. Peri, puterinya yang berusia dua tahun masih setia mengintipnya dari balik pintu.

“Peri kecil papa sudah bangun? Sini sayang,” panggil Daru.

Peri langsung saja menghambur masuk dan mengangkat tinggi kedua lengannya. Daru membaca sikap puterinya itu dan langsung meraih kedua lengannya. Ia menaruh Fairy langsung ke atas pundaknya. Namun, tak berapa lama, Daru merasakan ada yang berbeda dari tubuh anaknya.

“Bi Atun, tubuh Peri panas banget. Sejak kapan?” Tanya Daru panik sembari menurunkan Peri dari gendongannya. Ia kemudian meraba beberapa titik tubuh puterinya, seperti kening, leher, dan punggung.

“Sepertinya sejak semalam, tuan. Pagi ini panasnya semakin tinggi. Tapi Non Peri nggak mau istirahat di kamarnya, maunya ke kamar tuan terus. Non Peri sepertinya sariawan juga, tuan. Makanya, Non Peri nggak mau makan. Semalam tuan pulangnya larut, Non Peri ketiduran, dan saya pindahkan lagi ke kamarnya.”

Daru memeluk Peri dengan penuh kelembutan. “Peri sayang, kita ke dokter ya?” Gadis kecil itu menggeleng pelan. Peri kemudian memeluk papanya kembali dari belakang, seakan ia ingin kembali digendong di pundak.

Daru langsung meraih ponselnya, ia menghubungi sebuah nomor.

“Halo Bon. Bon, Desi jam berapa ke rumah sakit? Gue mohon bantuan Desi buat cek kondisi Peri, badannya panas banget. Sebelum ke rumah sakit, lu sama Desi bisa mampir ke rumah gue sebentar? Kan lu juga ngelewatin rumah gue kalo ngantor. Please Bon, Peri soalnya nggak mau gue bawa ke rumah sakit.”

Daru dengan seksama mendengarkan jawaban Boni di seberang sana. “Makasih ya Bon? Gue tunggu.”

Daru langsung bergegas kembali menggendong buah hatinya dan membawanya ke kamar.

“Peri, Om Boni sama Tante Desi mau main ke sini. Peri mau ketemu Om Tante?” Peri langsung membalas dengan anggukan penuh semangat.

Selang 20 menit kemudian, Boni dan Desi telah berada di rumah Daru.

“Peri cuma demam biasa kok Dar. Ini kan sudah masuk musim hujan. Transisi cuaca memang rentan banget buat badan balita kaya Peri. Ini aku kasih resep vitamin dan antibiotik untuk Peri. Kalo dalam dua hari panasnya nggak turun, nanti aku datang lagi periksa.”

Secarik kertas disodorkan Desi pada Daru.

“Terimakasih Des. Gue panik banget tadi,” jawab Daru singkat dengan tatapan yang masih tertuju pada buah hatinya.
“Dar, Peri butuh mama baru tuh. Kasihan dia, nanti kalo masuk TK, trus sekolah. Kamu nggak mungkin bisa intensif jaga dia. Udah hampir tiga tahun lu jadi duda, betah amat lu,” goda Boni saat berjalan ke luar rumah Daru.

Mendengar perkataan serupa yang selalu ia terima selama ini, Daru menghela napasnya sejenak. “Gue belum ketemu yang cocok untuk Peri, Bon,” gumam Daru pelan.

“Nggak cocok sama Peri atau nggak cocok sama kamu, Dar?” Tukas Desi menyambung perkataan suaminya.

Dengan senyuman sedikit canggung, Daru mencoba menanggapi pertanyaan Desi.

“Bukan begitu juga Des. Hanya saja, aku merasa aku masih sanggup menjaga Peri. Aku sama sekali nggak capek kok.”

“Oke bro. Gue sama Desi cabut dulu ya? Semoga Peri cepat sembuh,” ujar Boni sembari masuk kembali ke dalam mobilnya.
Boni kemudian tiba-tiba membuka kembali kaca mobilnya. “Dar, Dar,” panggilnya kembali.

Daru yang mulai beranjak masuk ke dalam rumahnya kembali menghampiri Boni.

“Gue cuma mau ingetin lu. Acara hari pulang kampus (Hapka) tahun ini puncaknya di Gunung Walat. Jangan sampai lu nggak datang bulan depan.”

“Oke Bon, thanks,” balas Daru sambil kembali melemparkan senyum.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Halo Fay, apa kabar? sorry, it has been so long. Our life have gotten so busy.

Aku sekarang sudah kembali lagi ke Bogor. Jika aku boleh bertanya, pernahkan kamu ingin bertemu dengan Evi lagi, Fay? Tapi, kurasa sekarang kamu tak akan melihatnya lagi. Evi meninggal beberapa bulan lalu. Dia benar-benar wanita terhebat yang pernah kumiliki.

Tak perlu khawatir denganku, Fay. Karena saat ini aku tak sendiri. Evi memberikanku seorang Peri. Bukan, ini bukan dirimu. Ini Peri kecilku yang lain. Aku yakin, nantinya dia lebih cantik darimu. Hebat, bukan? hmm, aku benar-benar merindukanmu, Fay.

Saat ini, aku sedang berjuang menjadi seorang ayah yang hebat, seperti Evi yang berjuang demi menghadirkan Peri untukku. Peri tumbuh besar dan semakin pintar sekarang. Namun, justru aku yang semakin melemah. Fay, kamu benar. Selama ini, aku tak mengerti apapun tentang cinta, hingga aku kehilangan Evi. Dan saat ini, aku cuma ingin bertemu kamu.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Pertengahan Juni 2011 menjadi hari paling menyedihkan dalam kehidupan Daru. Musim hujan yang begitu dingin di Makassar, suatu hari, Daru berjalan ke pemakaman isterinya. Evi meninggal beberapa jam setelah melahirkan Peri.

Di rumah sakit, sesaat setelah Evi menitipkan pesan kepada Daru untuk menjaga dan merawat puterinya sampai kapanpun, Daru beberapa kali meneriakkan nama Evi. Ia berharap teriakannya itu dapat menjemput kesadaran isteri yang dicintainya itu kembali. Air mata yang mengalir deras di mata indah Evi pada akhirnya mengunci rapat kedua bola mata wanita itu. Daru terus menerus berteriak sembari menatap wajah damai isterinya.

Evi meninggal karena penyakit leukimia yang dideritanya lima tahun terakhir. Saat pertama kali mengetahui dirinya hamil, dokter menyarankan agar Evi menggugurkan kandungannya. Tapi, wanita mulia itu tetap bersikeras ingin melahirkan anaknya. Meski, pada akhirnya pilihan tersebut membuatnya meregang nyawa.

Langkah-langkah kakinya semakin berat saat menuju areal pemakaman. Tak dihiraukannya tangisan bayi malang itu. Ia merasa separuh nyawanya telah melayang dihari itu juga.

Lamunan masa lalu Daru terhenti saat menyadari Peri kecilnya menghampirinya. Gadis kecil itu menggoyangkan tangan Daru yang beberapa saat lelap tertidur di sampingnya. Daru baru ingat, Peri belum makan.

Peri ternyata sudah sadar dari tidur lelapnya. Daru tersenyum dan membantu tubuh Peri bangun.

“Peri udah bangun? Ayo sayang, Bi Atun udah masak makanan kesukaan Peri. Sup ayam,” Daru kemudian membantu mengikat rambut panjang Peri agar gadis itu tak kepanasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s