A Note to Fairy: 27. Song of the Sea

Sepekan pada awal Desember 2010 Fairy mendapat kesempatan liputan teknologi ke Singapura. Ia berangkat dengan rombongan pascasarjana dari Bina Sarana Informatika, Jakarta. Fairy tak sendiri melainkan bersama beberapa wartawan media nasional.

CommunicAsia 2010 merupakan pameran internasional yang menjadi ajang berbagai perusahaan teknologi informasi menjaring pasar produk-produknya. Fairy mendatangi beberapa stan produk dari Korea Selatan, Jepang, Cina, dan tak ketinggalan dari Indonesia.

Di stan Indonesia, Fairy sempat melakukan wawancara dengan salah seorang manajer PT Bandung Techno Park (BTP) yang menyediakan jasa konsultan di bidang riset dan pengembangan teknologi. Pak Warsino, manajer administrasi dan umum BTP mengajak Fairy mengelilingi stan Indonesia. 

“Proyek yang saat ini sedang diikuti BTP apa Pak?” tanya Fairy di tengah kegiatan.

“Kami sedang melakukan pengembangan mesin ticketing bus. Dalam waktu dekat, kami juga menjalin kerjasama dengan bus Transjakarta” kata Pak Warsino.

“Konsepnya seperti apa Pak? saya masih ngambang,” tanya Fairy sambil tersenyum malu.

“Mesin ticketing bus ini mengurangi kecurangan sistem pembayaran pada bus-bus yang beroperasi di Indonesia. Jadi, pengelola bus cukup menentukan tarifnya dan mencetak tiket melalui penerapan teknologi global positioning system (GPS). Kami sudah uji dan implementasikan sistem ticketing ini di Kutoarjo dan Salatiga,” papar Pak Warsino.

Di stan Indonesia, Fairy juga bertemu dengan Direktur Utama PT Bamboomedia Cipta Persada. Namanya Putu Sudiarta. Beliau adalah pengusaha kreatif dari Denpasar, Bali. Bamboomedia bergerak di bidang bisnis industri inovatif melalui pengembangan berbagai aplikasi (software) games. Ini sangat edukatif untuk anak-anak dan pelajar.

Pak Putu memperlihatkan beberapa contoh aplikasi gamesnya kepada Fairy. Games tersebut seluruhnya berbasis kultur Indonesia. Pak Putu mengaku sudah mendapatkan 25 kontak yang berminat membeli produknya. Asal calon pembeli tersebut dari Cina, Korea, Singapura, dan India.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Pukul tiga sore, seluruh acara liputan Fairy berakhir. Saat melirik jam tangannya, Fairy berfikir belum terlambat untuk pergi ke Pulau Sentosa. Ini merupakan hari terakhirnya berada di Negeri Merlion itu. Tentu saja, Fairy tak ingin melewatkan kesempatan terakhirnya untuk menyaksikan pertunjukan musikal Song of The Sea pukul lima sore.

Hanya berbekal sebuah binokuler, kamera saku, dan tas sandang kecil, Fairy menghentikan sebuah taksi di depan hotel yang kemudian membawanya ke Pulau Sentosa. Di tengah jalan, tiba-tiba supir taksi melambatkan kendaraannya.

“What happen? Sir, can you hurry, please?”

“As you can see, miss. There’s a traffic jam,” jawab supir taksi itu.

Fairy mengeluarkan kepalanya dari kaca samping kanan taksi. Ia melihat antrian mobil di depannya masih cukup panjang.

“It’s look like there’s an accident going on ahead,” sambung supir taksi itu.

“Oh my God, you’re kidding. Is there nothing you can do?”

Supir taksi itu tertawa sambil mengintip wajah Fairy dari kaca depan mobilnya.

“Miss, if you think all the taxi drivers know all shortcut ways, it’s not true. Just for your information, i’m a new driver.”

“Oke, oke. Go on,” Fairy tak ada pilihan lain kecuali menunggu di dalam taksi. Syukurlah 10 menit kemudian jalanan di depan sudah terbuka dan taksi yang ditumpangi Fairy kembali melaju kencang.

Di stasiun bus bawah tanah, taksi Fairy berhenti. Ia kemudian menaiki beberapa anak tangga. Di atasnya, wahana Pulau Sentosa berdampingan dengan Universal Studio. Selintas, Universal Studio dan Pulau Sentosa mengigatkan kita pada Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta. Apalagi, di lokasi ini kita mendengarkan banyak sekali pengunjung menggunakan bahasa Indonesia. Memang, sebagian pengunjung Pulau Sentosa berasal dari Indonesia. Di Pulau Sentosa juga terdapat sebuah kasino yang merupakan kasino pertama di Singapura. Kasino ini terbuka 24 jam dan tak pernah sepi pengunjung.

Sebelum menaiki tangga ke arah patung Merlion, Fairy mampir dulu di sebuah restoran. Kebetulan, dia belum makan siang. Fairy sebelumnya memastikan bahwa restoran itu halal. Restoran itu menyediakan masakan melayu dan oriental. Selama 20 menit dihabiskan Fairy untuk melahap habis makanannya.

Saat langkah kaki Fairy menuruni anak tangga berbatu itu, langkah Fairy kemudian terhenti. Sebuah suara memanggil namanya. Di bawah sana, ia memperhatikan seorang laki-laki yang mengenakan sebuah topi dan menyandang sebuah tas biru melihat ke arahnya.

“Itu kamu, Fay?” suara sama yang sangat dihafal Fairy. Suara yang selalu setia menemaninya selama di Bogor dulu.

Fairy memandangi sosok yang memanggilnya. Ia langsung mengenali pria itu, namun masih merasa itu adalah mimpi. Ketika kedua mata mereka bertumbukan, Fairy baru merasa bahwa dirinya tidak sedang berkhayal atau sedang bermimpi. Gerakan bibir Fairy terlihat menyebut nama laki-laki yang berjarak dua meter di hadapannya itu. Namun, suaranya tak keluar, hanya gerakan bibirnya yang terlihat jelas menyebutkan sebuah nama, Daru.

Menit demi menit, selangkah demi selangkah anak tangga berbatu yang dituruni Fairy itu terasa semakin memberatkan langkahnya. Langkahnya kali itu terasa bagaikan perjalanan yang kembali mencabik-cabik hatinya layaknya beberapa tahun yang lalu. Pesta pernikahan di Balai Binarum enam bulan lalu masih berbekas di ingatannya. Disaat ia ingin menghindari sejenak semua hal tentang Daru, mereka justru kembali bertemu di Singapura.

Saat tubuhnya hanya berjarak satu meter di hadapan Daru, Fairy masih tertegun tak percaya dengan siapa yang ditemuinya.

“Apa kabar, Dar?” desisnya.

Pijakan kaki Fairy serasa seperti menembus tanah saat itu juga. Bahkan, ia masih merasa tengah bermimpi. Dunia baginya terasa begitu sempit. Menemukan sosok Daru yang nyata ada di hadapannya seakan meluruhkannya seketika, mulai dari kekuatannya, hingga bangunan pertahanan hatinya yang telah ia pugar bertahun-tahun silam.

“Aku baik, kamu?” jawaban Daru membuat Fairy sedikit limbung dan berjalan ke arah belakang. Ia merasa ingin lari seketika itu juga. Namun, kakinya seolah ditancapkan paku yang membuatnya tak bisa bergerak kemanapun.

“Baik.” Fairy berusaha mencairkan suasana yang tegang. “Mmm, sendiri? Isteri kamu?”

“Evi?” jawab Daru dengan kekagetan yang sama. “Dia ada di resto. Tadi aku ke bawah beli tiket. Sekarang aku menuju ke sana,” ujar Daru menunjukkan restoran yang berada di belakang Fairy.

Fairy kelihatannya tak begitu hafal dengan wajah Evi, isteri Daru. Buktinya, ia tak menyadari jika sedari tadi dirinya dan Evi berada di restoran yang sama.

“Kamu mau kemana Fay?” tanya Daru lagi.

“Aku mau ke pantai, sebentar lagi ada pertunjukan…” jawabnya.

“Song of The Sea? Aku dan Evi juga ingin menontonnya.” Daru kemudian melirik jam tangannya, “30 menit lagi pertunjukan dimulai. Fay, kamu mau makan bareng dulu di atas?” tanya Daru lagi.

Pandangan Fairy ternyata masih tertumbuk pada jam tangan Daru. Jam tangan yang sama seperti yang masih setia melilit pergelangan tangan kirinya saat ini. Perlahan, Fairy kemudian melihat Daru, “aku sudah makan. Mungkin, aku langsung ke pantai saja, Dar.”

Daru mengangguk. “Oke Fay, enjoy the show,” Daru kemudian menjajaki lagi anak tangga ke atas, kemudian ia melewati Fairy.

Langkah Daru kemudian memelan. Ia terlihat ragu, namun pada akhirnya kembali membalikkan badannya melihat Fairy.

“Fay,” sapa Daru.

Gadis yang namanya dipanggil itu kemudian menoleh ke belakang dengan tatapan terkejut.

“Masih bisakah kita bertemu lagi?” tanya Daru.

Fairy menggeleng pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Aku tahu kamu sudah bahagia. Aku juga sama. Dengan mengetahui kondisi satu sama lain sebaik ini saja, bukankah itu sudah cukup?”

Keheningan tercipta beberapa saat. “Bye, Dar,” ucap Fairy sembari membalikkan lagi badannya.

Daru masih terpaku di posisinya memandangi Fairy yang memunggunginya perlahan pergi. Daru juga berjalan pelan berlawanan arah. Keduanya semakin lama semakin menjauh.

“Aku lelah Fay, banyak hal yang ingin kuceritakan padamu,” Daru membatin.

Song of The Sea merupakan panggung musikal yang dramatis. Seni ini menggabungkan musik, teater, dan animasi berteknologi tinggi. Lima ribu massa berkumpul di pelataran pinggir Pantai Singapura. Mereka menunggu munculnya pertunjukan Song of The Sea. Pulau Sentosa, seperti biasa, ramai sore itu.

Penonton mengantri di pintu masuk utara dan selatan. Pada salah satu titik kerumunan, Fairy berdiri di antaranya. Gadis itu akhirnya berhasil masuk ke areal tribun tengah teratas. Fairy membawa serta binokulernya.

Fairy melihat di hadapannya deretan beberapa rumah panggung terbuat dari kayu dan bambu. Rumah panggung itu terlihat sudah berlumut dan terkesan tua. Setting panggung dilengkapi dengan bebatuan besar menyerupai karang. Ia pun mengambil beberapa gambar dengan kamera saku miliknya.

Sekilas, setting panggung itu sangat sederhana. Namun, kesan itu kemudian berubah ketika pertunjukan dimulai tepat 19.40 atau 18.40 WIB saat malam menjelang. Fairy menyaksikan sekelompok remaja berlarian ke tengah panggung yang dipimpin oleh seorang pemuda bernama Li.

Kelompok remaja itu kemudian menyanyikan lagu daerah dari berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, India, Cina, hingga lagu ‘Anak Kambing Saya’ Indonesia. Show itu memang menyasar wisatawan-wisatawan mancanegara, khususnya ASEAN.

Song of The Sea menceritakan kisah seorang pemuda bernama Li yang mempunyai suara emas dan sangat merdu. Nyanyian Li dan teman-temannya diceritakan bisa membangunkan dewa-dewi yang tengah tertidur pulas di dasar lautan sana.

Satu persatu dewa dewi itu bangun akibat mendengar nyanyian Li. Kedatangan mereka disertai dengan pertunjukan laser, lampu, kembang api, obor, hingga air mancur yang berwarna-warni. Teknik yang digunakan dalam pertunjukan ini adalah pyrotechnic display. Teknik ini menciptakan sosok dewa-dewi dan tokoh laut lainnya secara visual. “Spektakuler,” ucap Fairy dengan sendirinya.

Tujuan akhir Li menyanyi adalah agar ia berhasil membangunkan Putri Amy yang terkena kutukan sehingga tertidur hingga 100 tahun lamanya. Oscar, seekor ikan merah, bersama ketiga temannya yang berwujudkan kuda laut, ubur-ubur, dan ikan buntal, memandu Li hingga berhasil membangunkan Putri Amy. Li menyanyikan satu per satu lirik lagunya untuk menolong beberapa dewa lainnya, seperti membangunkan roh Dewa Api, Dewa Cahaya, dan Dewi Air, hingga pada akhirnya ia berhasil membangunkan Putri Amy.

Pertunjukan itu hanya berlangsung 25 menit saja, namun Fairy terlihat sangat menikmatinya. Saat pertunjukan berakhir, Fairy tak beranjak begitu saja dari posisi duduknya di tribun. Ia menunggu antrian penonton terakhir keluar di pintu keluar.

Fairy masih sangat menghafal sosok Daru, sejauh apapun itu. Beberapa meter di samping kirinya, Daru terlihat berjalan dengan seorang wanita yang sudah pasti adalah isterinya, Evi. Kelihatannya, keluarga itu sedang berbahagia.

Seakan ada radar di antara keduanya, Daru kemudian menyadari bahwa di sisi lain Fairy tengah melihatnya. Di pintu keluar itu, mereka bertiga akhirnya bertemu. Evi memandangi suaminya yang termenung beberapa detik saat melihat Fairy. Keduanya tak lagi saling menyapa. Fairy memilih berlalu lebih dahulu.

“Wanita tadi…mmm, yang kita temui di pintu keluar Sentosa. Apakah dia itu Fairy?” Evi bertanya segan kepada suami yang tengah memeluknya saat ini. Keduanya ada di dalam mobil yang membawa mereka ke hotel.

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Daru. Namun, Evi merasakan detak jantung yang tak biasa dari dada yang kini menjadi tempat kepalanya bersandar.

“Tak apa jika kamu tak ingin membahasnya,” ujar Evi kemudian.

“Vi, maafin aku.”

Evi menarik kepalanya dari pelukan Daru.

“Aku mencintai kamu dengan segala ketidaksempurnaanmu, Dar. Karena aku juga tak sempurna untukmu,” Evi memandang Daru dengan mata besar coklatnya. Dia tersenyum. Senyum kecil tulus dan sangat manis yang membuat Daru menarik istrinya itu kembali ke dalam pelukannya. “Aku juga sayang kamu.”

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Pesawat belum begitu lama mengudara ketika seorang pramugari datang pada Fairy sambil membawakan sebuah amplop berwarna putih.

“Seorang teman menitipkannya untuk mba,” kata pramugari itu seraya tersenyum.

Sedikit terkejut, Fairy lalu membuka amplop putih itu. Baru saja menyobek sisi amplop itu, Fairy kembali menyapu pandangannya ke sekeliling pesawat. Ia berharap ada seseorang yang dikenalnya yang mungkin saja bisa ia tebak sebagai pengirim amplop misterius itu. Setelah sempurna membukanya, Fairy mendapati secarik kertas di dalamnya yang bertuliskan sebuah nomor telepon dan pesan singkat.

Hai Fay,
Kuharap kamu bisa menghubungi nomor ini sesampainya kamu di bandara Jakarta. Terima kasih
0857809xxxxxx

Pesan itu tak disertai nama pengirim surat itu. Fairy mencoba menemui lagi pramugari yang memberikan surat itu padanya. Namun, pramugari itu juga mengatakan bahwa ia hanya dititipi surat itu untuk diberikan kepada penumpang yang bernama Fairy Nurulia. Lalu, setelah ia cek di tiket pesawat, pramugari itu menemukan tempat duduk Fairy di dalam pesawat.

Pupus sudah harapan terakhir Fairy untuk mengetahui siapa pengirim surat misterius itu. Fairy kembali memandangi sederet nomor ponsel yang tertulis di kertas itu. Sedikit gelisah, Fairy melirik lagi jam tangannya. Baru 20 menit pesawat tinggal landas. Artinya, tersisa satu jam lagi hingga ia sampai di Jakarta dan menghubungi pemilik nomor tersebut.

Satu setengah jam kemudian pesawat yang ditumpangi Fairy mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta. Jarak Singapura – Jakarta sama halnya dengan jarak Padang – Jakarta.

Ketika menginjakkan kakinya di pintu keluar bandara, Fairy tak buru-buru pulang. Ia masuk ke dalam salah satu café bandara, memesan secangkir cappuccino kesukaannya. Saat merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponsel, selembar kertas yang tadi sempat dititipkan pramugari padanya terjatuh.

Fairy memandangi nomor itu. Ia kemudian mencoba menekan tombol dial di ponselnya. Namun, nomor itu kemudian mengalihkan panggilannya. Fairy mencobanya keduakalinya dan mendapati hal sama. Untuk yang ketigakalinya, nomor itu kemudian tidak aktif.

“Dasar iseng,” gerutu Fairy sambil menggumpal kertas kecil itu dan membuangnya ke asbak yang ada di atas mejanya.

Ponsel Fairy kembali berbunyi. Kali ini nama Herry tertera di sana.

“Halo Her, aku sudah sampai,” sapa Fairy di telepon.

“Apa? Kamu udah di bandara? Mau jemput aku? Memangnya kamu nggak liputan?”

Tawa Fairy kemudian terdengar. Ia tersenyum simpul saat menutup ponselnya. Perlahan, ia mengemasi tasnya dan segera keluar dari café itu. Fairy mencoba mencari sebentuk mobil yang dikenalnya. Sekitar 20 meter di sebelah kiri, ia melihat Herry melambaikan tangan ke arahnya. Sedikit berlari, Fairy menuju ke dekat mobil itu dan langsung masuk ke dalamnya.

“Ngapain harus pake jemput segala sih? Aku kan bisa naik Damri yang langsung ke Cawang. Aku mau laporan ke kantor,” tutur Fairy sambil memperbaiki susunan rambutnya di kaca mobil.

“Kamu kan tuan putri. Jadi, aku harus jemput dong. Namanya juga usaha, Fay. Boleh lah,” lirik Herry ke kiri.

Fairy hanya tersenyum kecil menyambut candaan sahabatnya itu. Sejak di taman malam itu, Herry bisa dibilang salah satu sahabat yang selalu ada di sampingnya. Namun, Fairy sadar, Herry berusaha mendapatkan tempat istimewa di hatinya dan laki-laki itu begitu sabar menunggu Fairy. Sayangnya, Fairy masih nyaman dengan kesendiriannya kali ini. Mobil keduanya melaju hingga keluar pintu Tol Cengkareng.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Di sisi lain, masih di Bandara Soekarno Hatta, di sebuah taksi Blue Bird Daru terlihat menghubungi seseorang. Dia baru saja pulang dari Singapura untuk mengantarkan istrinya berobat khusus.

“Bi Atun, kami langsung ke Bogor hari ini. Bi Atun masak yang enak ya? Tuan putri sudah pulang. Terimakasih Bi Atun,” goda Daru sambil melirik istrinya tersayang yang tengah memeluk lengannya di sebelah kiri.

Belum lama Daru menutup ponselnya, alat komunikasi itu berdering kembali. Nama Alex tertulis di sana.

“Ya Lex? Aku sudah sampai di Jakarta, kawan. Terimakasih. Aku dan Evi ingin istirahat dulu di Bogor, akhir pekan ini kami kembali lagi ke Makassar.”

Daru sedikit memperbaiki duduknya dan lebih merapat ke arah Evi. “Insya Allah, aku sudah bisa ke lapangan minggu depan. Tapi aku minta, kalo bisa tim kali ini…..,” tiba-tiba ponsel Daru mati.

“Yaaaa, baterainya habis,” keluh Daru. “Pak, di taksi ini bisa cas handphone nggak?” tanya Daru pada supir taksi yang membawanya.

“Maaf mas, nggak ada kabelnya,” jawab supir taksi itu. Sesaat, Daru memandang ponselnya yang sudah tak bernyawa itu.

“Sayang, ponsel kamu mana? Alex telepon penting sekali.”

Evi kemudian merogoh tasnya dan memberikan ponsel kepada suaminya. Ia kemudian mencari nama Alex di ponsel Evi kemudian kembali menghubungi dan menyambung percakapan.

Sekitar 10 menit kemudian, pembicaraan Daru dan Alex di telepon berakhir. Daru kembali memandangi ponselnya. Ia mempunyai firasat Fairy menghubunginya kali itu lewat secarik kertas yang dititipkannya pada pramugari di pesawat. Dalam hatinya, Daru bermaksud ingin minta maaf atas ucapannya dihari pesta pernikahannya beberapa bulan lalu.

Suatu hari ketika mengunjungi Ace Hardware di Botani Square, Bogor, Daru bertemu dengan Bayu. Dari Bayu, Daru memperoleh informasi bahwa Fairy batal menikah. Daru sempat sangat merasa bersalah karena telah mengucapkan kata-kata yang membuat sedih Fairy. Dia bahkan mengira laki-laki yang bersama Fairy di pesta pernikahannya itu adalah suaminya.

Namun, ketika bertemu Fairy di Singapura, mulut Daru seakan terkunci. Melihat Fairy tiba-tiba membuatnya lupa akan ucapan minta maafnya. Hingga tak sengaja Daru melihat sosok Fairy membelakanginya dan ternyata mereka satu pesawat. Namun, Fairy ada di bangku kelas bisnis Garuda Indonesia, sementara ia dan Evi ada di bangku eksekutif.

Daru kemudian meminta bantuan kepada seorang pramugari untuk mengantarkan nomor ponselnya kepada Fairy dengan tanpa menyebutkan namanya. Kejadian selanjutnya sudah bisa ditebak. Ponsel Daru tiba-tiba mati dan itu berarti dan ia kembali kehilangan kesempatan untuk meminta maaf kembali pada Fairy.

“Semoga kamu masih menyimpan nomor itu, Fay. Kuharap mendapat kabar darimu segera,” Daru membatin.

Lamunan Daru terhenti begitu mendengar istrinya batuk keras. Daru melihat ke kiri dan wajah istriya kembali pucat.

“Sayang, kamu pucat. Kamu sakit lagi?” Daru mencoba mempererat pelukan untuk istrinya.

“Pak, AC mobilnya bisa dikecilkan sedikit?” pinta Daru pada supir taksi yang bernama Subagyo itu.

Evi tetap menawarkan senyum untuk suaminya. “Aku baik-baik saja. Dar, kamu mau anak laki-laki, atau perempuan?” kata Evi tiba-tiba sambil mengelus-elus perutnya.

Demi berusaha mengalihkan rasa sakit istrinya, Daru mencoba menebak. “Aku ingin anak perempuan saja, yang cantik, seperti kamu,” ujarnya.

Evi kembali tersenyum. Kali ini, wajahnya yang pucat kembali memerah. “Biasanya, suami-suami zaman sekarang lebih suka anak laki-laki di kelahiran pertama. Kamu kok maunya anak perempuan?”

Daru mengecup kening istrinya. “Aku suka keduanya sayang, laki-laki atau perempuan sama saja. Asalkan kamu harus janji, kamu tetap sehat, nggak boleh sakit.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s