A Note to Fairy: 29. Gunung Walat

“Aku pikir independensi pers akan kehilangan jiwanya jika ditumpangi kepentingan politik,” Fairy menjatuhkan bolpoinnya ke meja di ruang redaksi kantornya suatu hari.

“Media lain sih terserah, mereka boleh kebabalasan, nggak ada fungsi kontrol, postingan berita yang nggak edukatif, cuma menyulut konflik aja. Kita jangan sampai jadi follower gitu dong. Pokoknya aku nggak setuju dengan rencana kantor buat berurusan dengan pejabat yang satu ini.”

“Dalam konteks ini kita juga kasih batasan kok Fay. Lagian, tokoh yang kita pilih ini juga yang satu visi dengan media kita, bukan tokoh cacat hukum, apalagi sedang diisukan terkait dengan proses hukum. Dia cuma minta space satu kali seminggu di halaman koran kita. Tawarannya juga menarik untuk iklan. Ini bukan advetorial, cuma ekspos beberapa kegiatannya, dan sistem penulisan diserahkan sepenuhnya pada kita. Kita tetap obyektif.” 

Fairy memiringkan kepalanya bingung. Otaknya masih belum bisa menerima penjelasan wakil pimpinan redaksi yang didengarnya barusan.

“Mas, bisa jelasin ke aku apa yang sebenarnya terjadi? Selama ini, kita semua masih berada dalam jalur yang benar, sesuai kode etik pers yang ada. Aku cuma khawatir ke depannya media kita akan komersial.”

“Sebenarnya Fay, kantor sedang melakukan manajemen risiko, setidaknya dua tahun terakhir, sejak media online mulai banjir. Iklan di koran semakin sedikit. Setidaknya, setengah tahun ke depan kantor butuh suntikan dana lebih untuk ekspansi. Jika kita terima tawaran ini, ini akan sangat kasih benefit buat kantor. Aku sudah sampaikan kepada calon klien kita itu bahwa tak ada perjanjian macam-macam dalam kesepakatan publikasi ini. Kita tetap menulis apa adanya.”

“Begini Fay, tahun depan, kantor akan dapat kontrak iklan tiga perusahaan ritel dan produsen telekomunikasi besar. Nilainya besar, jika diakumulasi hampir empat miliar per tahun. Mereka berencana akan pasang iklan dua tahun. Ini kontrak besar Fay. Namun, mereka menyaratkan oplah tertentu dan rating kantor berita online kita. Enam bulan ini, kita butuh dana besar untuk mendongkrak rating dan oplah kita. Jika proyek tahun depan goal, nggak bakal ada lagi iklan pejabat di koran kita.”

Fairy berbicara sambil merapikan peralatan alat tulis dan netbook miliknya. Setelah memasukkan seluruhnya ke dalam tas, Fairy langsung bersiap untuk pergi.

“Aku tetap nggak setuju mas. Tapi percuma jika cuma aku yang menolak. Jika kalian ingin lanjutkan, go on. Tapi aku nggak mau pegang halaman pejabat ini. Silakan tugaskan ke desk liputan lainnya. Permisi,” Fairy langsung meninggalkan ruangan rapat redaksi itu.

Begitu sampai di lantai tiga, Fairy menghampiri sekretariat. Dia menemui Mba Endah dan meminta formulir cuti karyawan.

“Mau liburan kemana, neng?” tanya Mba Endah sambil mengajukan dua lembar kertas permohonan cuti.

Fairy kemudian duduk disalah satu sudut meja dan mengisi kolom-kolom pengajuan cutinya.

“Masih di Jawa Barat, mba. Aku mau ikutan reunian kampus di Gunung Walat. Sekalian buang stres sama sistem kerja kantor.”

Mba Endah kemudian menyodorkan segelas air putih pada Fairy.

“Pasang surut bisnis media itu biasa, Fay. Kamu baru lima tahun di sini, mba sudah 15 tahun. Sejak zaman orde baru. Banyak sejarah yang sudah dilewati kantor ini hingga menjadi media besar seperti saat ini,” ujar Mba Endah.

Air putih yang disajikan Mba Endah cukup menyegarkan tenggorokan Fairy yang sudah panas sedari tadi.

“Iya, mba. Makanya, aku putuskan rehat sejenak. Ini, mba. Langsung diapprove ya? Minggu depan aku langsung cabut,” ujar Fairy.

Setahun terakhir Fairy menjalani profesi barunya sebagai salah seorang redaktur ekonomi. Ia sepertinya mencintai pekerjaannya. Saat memasuki mobilnya di parkiran kantor, ponsel Fairy berbunyi. Bayu menghubunginya.

“Fay, minggu depan jadi ikutan ke Walat kan?” suara Bayu terdengar dari seberang.

“Jadi Bay, gue baru isi formulir cuti nih. Tiga hari kan? Lu mau berangkat bareng siapa? Gue rencana bawa mobil ke Walat. Teh Lin, Jojo, dan Wista udah confirm nih,” jawab Fairy sambil memasangkan seat beltnya.

“Gue juga bawa mobil, ketemu di sana aja ya? Jangan lupa, kasih tahu Sasmitha. Suruh dia datang sama lakinya dari Bali,” ujar Bayu.

“Oke Bay, see you,” tutup Fairy.

Fairy tak segera menyalakan mobilnya. Ia teringat dengan nama yang disebutkan Bayu barusan. Gadis itu kemudian meraih ponselnya, mencari satu nama di sana. Sasmitha, sahabat terbaiknya yang kini mungkin telah hidup bahagia bersama suaminya, Genta.

Fairy memberanikan diri menekan tombol dial di ponselnya memanggil Sasmitha.

“Hai Mith, ini gue, Fay. Apa kabar?” wajah Fairy masih terlihat canggung.

“Aku kangen, Mith. Aku harap kita bisa ketemu ya? Di Gunung Walat minggu depan. Kamu bisa datang ke Jakarta kan? Sekalian, ajak Genta juga.”

Senyum bahagia kemudian terukir di bibir Fairy. Sepertinya sebuah kabar gembira baru saja diterimanya. Ia pun berlalu pulang dengan wajah berseri-seri.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Jojo, Wista dan Teh Lin sedang sibuk di dapur mengatur menu makanan untuk pembukaan acara malam ini. Ada sekitar 1.500 orang alumni yang mengonfirmasikan datang ke acara pembukaan besok pagi. Fairy sendiri sibuk mengatur rundown acara. Ia sengaja melibatkan diri sebagai salah seorang panitia.

Tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, sebuah klakson mobil terdengar. Fairy hapal benar dengan mobil itu, mobil milik Boni. Boni dengan mengenakan kacamata hitamnya turun dari kendaraannya. Fairy pun melambaikan tangan dan mencoba menghampiri Boni.

Namun, langkahnya terhenti ketika ternyata ia menyadari ada sosok lain yang juga membuka pintu mobil dari sebelah kiri. Sosok yang sudah tak dilihatnya selama dua tahun terakhir sejak pertemuan mereka berdua di Singapura, Daru.

Daru pun tak sendiri, dia ternyata membawa serta Bi Atun bersamanya. Wanita yang setia merawat Daru bertahun-tahun itu terlihat menggendong seorang anak kecil.

Saat keduanya berdekatan, Boni berusaha mencairkan ketegangan di antara mereka.

“Hei, kalian, jangan seperti saling lihat hantu gitu dong. Ini reuni angkatan kita, ayo salaman.”

Daru dan Fairy seperti tersihir oleh ajakan Boni, keduanya kemudian berjabat tangan seperti pertama kalinya berkenalan dulu. Suara tangisan bayi kemudian memecah keheningan di antara mereka.

“Peri…Peri, anak papa. Jangan nangis sayang. Sini, bi. Biar saya gendong,” kata Daru kemudian menggendong putri kecilnya.

Ada desiran hangat di hati Fairy saat Daru memanggil nama putrinya itu. Tak hanya Daru yang canggung, Bi Atun juga seperti terkejut luar biasa melihat kehadiran Fairy di hadapannya.

“Non Fairy, apa kabar?” sapa Bi Atun.

“Alhamdulillah baik, bi. Bibi apa kabar?” Fairy langsung menyalami wanita bernama Bi Atun itu.

Fairy kemudian mengarah pada Boni dan Daru. “Kalian mau menginap langsung di sini atau…”

“Kami menginap di hotel di dekat sini, Fay. Daru nggak bisa gabung dihari pertama, bisanya dihari kedua dan ketiga. Peri sedikit kurang sehat. Tapi, dia bersikeras mau ikut papanya ketemu calon mama baru. Kali aja.” Boni menyadari ada semu merah di wajah kedua sahabatnya.

“Bon, jangan lebay,” timpal Daru mencairkan suasana. “Malam ini aku menginap di hotel dulu. Tapi, besok malam aku menginap di sini. Ada yang bisa aku bantu, Fay?” sapa Daru.

Fairy menggeleng pelan. “Semuanya udah selesai sama anak-anak, Dar. Ayo, ngintip ke dalam, ada Teh Lin, Jojo, Wista. Bayu lagi beres-beres di aula.”

“Ayo, ayo,” Boni berjalan lebih dulu, kemudian menyusul Daru dan Bi Atun. Fairy memandangi wajah bayi yang lengket dalam gendongan Daru. Putri kecilnya itu memandang ke arahnya dan membuat Fairy salah tingkah. Bahkan, bayi yang dipanggil Daru dengan nama ‘Peri’ itu sempat tersenyum ke arahnya.

Fairy terngiang kembali penjelasan Bayu pagi tadi di kamar. Bayu tiba-tiba menceritakan kehidupan Daru setelah menikah dengan Evi. Fairy sempat meneteskan air mata mengetahui bahwa Evi ternyata telah meninggal. Sayangnya, dia baru mengetahuinya setelah dua tahun. Dia pun belum sempat mengucapkan bela sungkawa kepada Daru.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Dua tahun kemudian…

Daru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Senandung lirih lagu-lagu MYMP samar-samar terdengar dari bibirnya. Hampir dua tahun terakhir, dia akhirnya memutuskan kembali menetap di Bogor. Daru pindah dari kantornya di Makassar ke kantor pusat di Bogor, membawa serta putri kecilnya.

“Mas Daru, sudah selesai mandinya?” suara Bi Atun terdengar dari belakang setelah sebelumnya ia mengetuk pintu beberapa kali. Sontak Daru langsung membalikan tubuhnya, dan menemukan Peri kecilnya tengah mengintipnya dari balik pintu kamarnya.

“Non Peri baru bangun tidur, mau langsung ketemu Mas Daru,” lanjut Bi Atun dari luar pintu.

Daru melihat senyuman manis tersungging dari gadis kecil berambut panjang itu. Peri, puterinya yang berusia dua tahun masih setia mengintipnya dari balik pintu.

“Peri kecil papa sudah bangun? Sini sayang,” panggil Daru.

Peri langsung saja menghambur masuk dan mengangkat tinggi kedua lengannya. Daru membaca sikap puterinya itu dan langsung meraih kedua lengannya. Ia menaruh Fairy langsung ke atas pundaknya. Namun, tak berapa lama, Daru merasakan ada yang berbeda dari tubuh anaknya.

“Bi Atun, tubuh Peri panas banget. Sejak kapan?” Tanya Daru panik sembari menurunkan Peri dari gendongannya. Ia kemudian meraba beberapa titik tubuh puterinya, seperti kening, leher, dan punggung.

“Sepertinya sejak semalam, tuan. Pagi ini panasnya semakin tinggi. Tapi Non Peri nggak mau istirahat di kamarnya, maunya ke kamar tuan terus. Non Peri sepertinya sariawan juga, tuan. Makanya, Non Peri nggak mau makan. Semalam tuan pulangnya larut, Non Peri ketiduran, dan saya pindahkan lagi ke kamarnya.”

Daru memeluk Peri dengan penuh kelembutan. “Peri sayang, kita ke dokter ya?” Gadis kecil itu menggeleng pelan. Peri kemudian memeluk papanya kembali dari belakang, seakan ia ingin kembali digendong di pundak.

Daru langsung meraih ponselnya, ia menghubungi sebuah nomor.

“Halo Bon. Bon, Desi jam berapa ke rumah sakit? Gue mohon bantuan Desi buat cek kondisi Peri, badannya panas banget. Sebelum ke rumah sakit, lu sama Desi bisa mampir ke rumah gue sebentar? Kan lu juga ngelewatin rumah gue kalo ngantor. Please Bon, Peri soalnya nggak mau gue bawa ke rumah sakit.”

Daru dengan seksama mendengarkan jawaban Boni di seberang sana. “Makasih ya Bon? Gue tunggu.”

Daru langsung bergegas kembali menggendong buah hatinya dan membawanya ke kamar.

“Peri, Om Boni sama Tante Desi mau main ke sini. Peri mau ketemu Om Tante?” Peri langsung membalas dengan anggukan penuh semangat.

Selang 20 menit kemudian, Boni dan Desi telah berada di rumah Daru.

“Peri cuma demam biasa kok Dar. Ini kan sudah masuk musim hujan. Transisi cuaca memang rentan banget buat badan balita kaya Peri. Ini aku kasih resep vitamin dan antibiotik untuk Peri. Kalo dalam dua hari panasnya nggak turun, nanti aku datang lagi periksa.”

Secarik kertas disodorkan Desi pada Daru.

“Terimakasih Des. Gue panik banget tadi,” jawab Daru singkat dengan tatapan yang masih tertuju pada buah hatinya.
“Dar, Peri butuh mama baru tuh. Kasihan dia, nanti kalo masuk TK, trus sekolah. Kamu nggak mungkin bisa intensif jaga dia. Udah hampir tiga tahun lu jadi duda, betah amat lu,” goda Boni saat berjalan ke luar rumah Daru.

Mendengar perkataan serupa yang selalu ia terima selama ini, Daru menghela napasnya sejenak. “Gue belum ketemu yang cocok untuk Peri, Bon,” gumam Daru pelan.

“Nggak cocok sama Peri atau nggak cocok sama kamu, Dar?” Tukas Desi menyambung perkataan suaminya.

Dengan senyuman sedikit canggung, Daru mencoba menanggapi pertanyaan Desi.

“Bukan begitu juga Des. Hanya saja, aku merasa aku masih sanggup menjaga Peri. Aku sama sekali nggak capek kok.”

“Oke bro. Gue sama Desi cabut dulu ya? Semoga Peri cepat sembuh,” ujar Boni sembari masuk kembali ke dalam mobilnya.
Boni kemudian tiba-tiba membuka kembali kaca mobilnya. “Dar, Dar,” panggilnya kembali.

Daru yang mulai beranjak masuk ke dalam rumahnya kembali menghampiri Boni.

“Gue cuma mau ingetin lu. Acara hari pulang kampus (Hapka) tahun ini puncaknya di Gunung Walat. Jangan sampai lu nggak datang bulan depan.”

“Oke Bon, thanks,” balas Daru sambil kembali melemparkan senyum.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Halo Fay, apa kabar? sorry, it has been so long. Our life have gotten so busy.

Aku sekarang sudah kembali lagi ke Bogor. Jika aku boleh bertanya, pernahkan kamu ingin bertemu dengan Evi lagi, Fay? Tapi, kurasa sekarang kamu tak akan melihatnya lagi. Evi meninggal beberapa bulan lalu. Dia benar-benar wanita terhebat yang pernah kumiliki.

Tak perlu khawatir denganku, Fay. Karena saat ini aku tak sendiri. Evi memberikanku seorang Peri. Bukan, ini bukan dirimu. Ini Peri kecilku yang lain. Aku yakin, nantinya dia lebih cantik darimu. Hebat, bukan? hmm, aku benar-benar merindukanmu, Fay.

Saat ini, aku sedang berjuang menjadi seorang ayah yang hebat, seperti Evi yang berjuang demi menghadirkan Peri untukku. Peri tumbuh besar dan semakin pintar sekarang. Namun, justru aku yang semakin melemah. Fay, kamu benar. Selama ini, aku tak mengerti apapun tentang cinta, hingga aku kehilangan Evi. Dan saat ini, aku ingin kamu, Fay. Aku merindukanmu.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Pertengahan Juni 2011 menjadi hari paling menyedihkan dalam kehidupan Daru. Musim hujan yang begitu dingin di Makassar, suatu hari, Daru berjalan ke pemakaman isterinya. Evi meninggal beberapa jam setelah melahirkan Peri.

Di rumah sakit, sesaat setelah Evi menitipkan pesan kepada Daru untuk menjaga dan merawat puterinya sampai kapanpun, Daru beberapa kali meneriakkan nama Evi. Ia berharap teriakannya itu dapat menjemput kesadaran isteri yang dicintainya itu kembali. Air mata yang mengalir deras di mata indah Evi pada akhirnya mengunci rapat kedua bola mata wanita itu. Daru terus menerus berteriak sembari menatap wajah damai isterinya.

Evi meninggal karena penyakit leukimia yang dideritanya lima tahun terakhir. Saat pertama kali mengetahui dirinya hamil, dokter menyarankan agar Evi menggugurkan kandungannya. Tapi, wanita mulia itu tetap bersikeras ingin melahirkan anaknya. Meski, pada akhirnya pilihan tersebut membuatnya meregang nyawa.

Langkah-langkah kakinya semakin berat saat menuju areal pemakaman. Tak dihiraukannya tangisan bayi malang itu. Ia merasa separuh nyawanya telah melayang dihari itu juga.

Lamunan masa lalu Daru terhenti saat menyadari Peri kecilnya menghampirinya. Gadis kecil itu menggoyangkan tangan Daru yang beberapa saat lelap tertidur di sampingnya. Daru baru ingat, Peri belum makan.

Peri ternyata sudah sadar dari tidur lelapnya. Daru tersenyum dan membantu tubuh Peri bangun.

“Peri udah bangun? Ayo sayang, Bi Atun udah masak makanan kesukaan Peri. Sup ayam,” Daru kemudian membantu mengikat rambut panjang Peri agar gadis itu tak kepanasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s