A Note to Fairy: 30. Mahoni Kembar KM 4

Momen terakhir Hapka Kehutanan tahun ini tiba juga. Seluruh alumni akan melakukan penanaman pohon di salah satu areal kosong di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi, Jawa Barat. Fairy baru saja keluar dari kantung sleeping bagnya saat mendapati alarm G-Shocknya berbunyi menunjukkan pukul 05.00 pagi.

Fairy merasa susah sekali mendapatkan pagi segar seperti hari itu. Jelas saja ia tak akan rela meninggalkan momen-momen langka itu. Dengan rasa kantuk yang tersisa, Fairy meraih jaket rimbawannya dan mengenakannya. Tak lupa, gadis itu mengalungkan binokuler yang sudah berumur hampir delapan tahun di lehernya.ย 

Setelah bergabung dengan klub pengamat burung (birdwatcher) di Himakova dulu, Fairy langsung membeli binokuler tersebut. Daru menemaninya memilih di Mangga Dua Town Square, hingga putusannya jatuh pada Nikkon.

Dengan langkah hati-hati, Fairy membuka pintu. Ia tak ingin membangunkan istirahat rekan-rekannya yang masih menikmati tidur lelap mereka. Fairy memulai langkah pertamanya setelah menghirup dalam-dalam udara pagi di depan beranda penginapannya, Edelweiss II. Lalu, ia memutuskan keluar berjalan kaki, menikmati udara pagi dan suasana hutan Gunung Walat.

Selama 30 menit pertama ia berjalan menyusur jalan setapak dimulai dari kilometer kedua. Saat pagi mulai terang, ia menemukan sekelebat burung terbang kemudian sepasang di antaranya hinggap pada salah satu ranting Pohon Puspa.

Fairy mengarahkan binokulernya mencari tahu jenis apakah itu. Ukuran tubuhnya sedang. Binokuler Fairy ternyata menangkap seekor burung Srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus) jantan di bagian ranting bawah. Sedangkan di ranting atasnya, betina tengah asik menelisik bulunya bagaikan ekspresi mempercantik diri di depan sang jantan.

Dalam perjalanan pulang, di atas langit sana, Fairy beruntung kembali menyaksikan pemandangan langka. Seekor kutilang menganggu sekawanan Gagak hitam yang terbang melintas. Dalam ilmu perilaku satwa yang pernah ia pelajari di Fakultas Kehutanan dulu, perilaku tersebut disebut mobbing. Mobbing biasa dilakukan burung-burung kecil jika menemukan ada burung lain yang ukuran tubuhnya lebih besar memasuki wilayah kekuasaan (teritori) mereka.

Pukul 06.15 WIB, alam pegunungan semakin cantik pagi itu. Sebelumnya Fairy sudah melewati jalur ketiga saat ia melihat batu penanda HM 3 sekitar 15 menit lalu. Sebentar lagi ia sampai di HM 4. Ia semakin bersemangat mencapai lokasi itu. Dua undakan jalan setapak yang dibuat seperti tangga dari tanah menandakan Fairy sudah mencapai tujuan akhirnya, yaitu arboretum Tarsiusโ€™42.

Di sana, 10 tahun lalu, tepatnya puncak acara masa Bina Calon Rimbawan (BCR), ospek mahasiswa kehutanan, angkatannya melakukan penanaman pohon masal. Lubang penanaman pohon milik Daru dan Fairy kebetulan berdampingan. Di sanalah pertama kali keduanya mulai kenal dekat.

Fairy teringat kembali saat Daru membantunya berdiri saat ia terpeleset melewati undakan tangga tanah HM 4 sambil membawa bibit mahoni. Apesnya, Fairy waktu itu tak sengaja kembali menjatuhkan Daru. Mereka berdua kemudian sama-sama terjatuh dengan posisi tubuh Daru berada di atas nyaris menimpa tubuh Fairy.

Layaknya adegan-adegan sinetron yang sayang untuk dilewatkan, ratusan pasang mata mengarah ke mereka. Secara kebetulan, lubang tanam pohon milik Daru juga berdampingan dengan Fairy. Fairy yang sewaktu itu masih belum mengerti ilmu kehutanan tak tahu sama sekali cara memperlakukan pohon sewaktu penanaman.

Daru membantu Fairy mulai dari menggemburkan tanah dengan cara memijit-mijit polybag yang berisi bibit mahoni itu. Setelah tanah digemburkan, Daru sedikit merobek polybag bibit lalu memasukkan bibit pohon ke lubang tanam. Fairy kemudian mempraktikannya di lubang tanam milik Daru.

Daru memulai perkenalan saat itu. Meskipun sebelum puncak BCR mereka sudah diharuskan mengenal anggota kelas satu sama lainnya, tapi Fairy sama sekali tak tahu Daru.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Lamunan Fairy perlahan buyar. Di hadapannya kini sebatang pohon mahoni berusia sekitar sembilan tahun sudah kokoh berdiri memayungi tumbuhan di bawahnya. Pohon kecilnya tumbuh dewasa kini. Arboretum Tarsiusโ€™42 sudah menjadi hutan kayu. Dua pohon mahoni milik Daru dan Fairy tumbuh subur berdampingan. Tajuk pohon keduanya bersatu di atas. Seolah menggambarkan dua orang yang saling berpelukan, atau bersalaman, atau bergandengan. Keduanya tumbuh subur.

Untuk kesekian kalinya Fairy menangis. Ia memeluk pohon mahoni (Swietenia macrophylla) yang bertuliskan papan nama Daru. Pihak pengelola HPGW ternyata sudah memberikan papan nama pohon pada setiap batang pohon di Arboretum Tarsiusโ€™42.

โ€œDar, aku kangen kamu,โ€ Fairy mengelus-elus kulit pohon mahoni yang dipeluknya. Seolah pohon itu bisa berbicara.

โ€œAku juga kangen, Fay,โ€ sebuah suara terdengar dari belakang.

Fairy menoleh kesana kemari mencari sumber suara. Saat itu, air mata tengah membasahi wajahnya. Mengeluarkan kesedihannya layaknya mengeluarkan racun yang bertahun-tahun menggerogoti tubuhnya. Fairy kemudian membalikkan tubuh untuk mencari tahu sosok yang memanggilnya.

Ternyata dari samping sebuah sosok muncul. Sesaat agak samar matanya tak melihat jelas akibat buliran air mata yang sudah memenuhi penglihatannya. Tapi, akhirnya setelah beberapa saat ia melihat juga siapa yang memanggilnya. Dia adalah Daru. Daru ternyata sampai di sana lebih dulu dari Fairy.

Fairy pelan-pelan mendekati Daru. Ia mengusap wajah laki-laki di hadapannya, menghampiri wajahnya dan mencium keningnya. Itu pertanda Fairy berterimakasih atas kehadiran Daru. Mungkin ini sudah waktunya bagi Fairy untuk berhenti bersikap tak membutuhkan Daru lagi.

Begitu jauh perjalanannya hingga sampai pada tahap itu. Ribuan hari ia habiskan untuk menunggu hari ini. Kali ini, ia sama sekali tak berusaha menghindar lagi dari cintanya yang teramat besar untuk Daru. Hari itu ia merasa ada satu hal besar di dunia terjadi yang mampu menggusur semua pikiran lain yang ada di dalam pikirannya keluar selain pikiran mencintai Daru.

Daru meraih Fairy, memeluknya dengan erat. Ia membiarkan Fairy menangis sepuasnya. Daru merasakan tubuh gadis pujaan hatinya itu gemetar hebat. Ia sadar Fairy ingin puas menumpahkan sebongkah kesedihan yang ia torehkan tanpa perlu mengusiknya dengan banyak kata-kata. Setelah cukup lama keduanya berpelukan, Fairy akhirnya melepaskan pelukan Daru.

Angin pagi masih berhembus dingin. Fairy melipat kedua tangannya di dada. Kedinginan itu berusaha tak dihiraukannya. Namun sebuah tangan menggenggam tangan kirinya, tangan kanan Daru. Daru memandang Fairy, ia kemudian memasukkan tangan gadis itu ke kantung kiri jaket rimbawannya. Keduanya berjalan bersama menuruni HM 4, mengulang lagi-lagi masa-masa lama yang pernah mereka lakukan dahulu.

Di dunia ini tak akan pernah ada duka yang abadi jika saja kita mampu menjalani, melewati, melompati, hingga menepisnya. Dan, disinilah, tempat yang menjadi awal perkenalan Fairy dan Daru. Setelah melompati tahun demi tahun kehidupan mereka, di tempat ini pula keduanya kembali dipertemukan untuk dipersatukan.

Tak ada lagi raut kesedihan dikedua wajah itu. Keduanya berbahagia menyambut pertemuan mereka dan saling berjanji untuk saling mengisi kehidupan bersama yang lebih baik.

โ€œAda banyak cara untuk bahagia, Dar. Memilih sendiri mungkin adalah caraku untuk bahagia. Bagiku, bahagia itu adalah kamu, atau tidak dengan kamu juga siapapun,โ€ Fairy membatin.

This could have been just another day
But instead we’re standing here
No need for words it’s all been said
In the way you hold me near
I was alone on this journey
You came along to comfort me
Everything I want in life is right here
‘Cause
This is not your ordinary
No ordinary love
I was not prepared enough
To fall so deep in love
You were the first to touch my heart
And everything right again with your extraordinary love

(No Ordinary Love โ€“ MYMP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s