A Note to Fairy: 5. Kutilang Terakhir

Fairy berjongkok keletihan setelah menyelesaikan dua set permainan bulu tangkis dengan Sasmitha. Bulu tangkis seperti mata kuliah wajib yang selama tiga bulan terakhir Fairy tekuni bersama rekan-rekannya. Terlebih, setelah mereka lulus sebagai Sarjana Kehutanan (S.Hut). Banyak sarjana angkatan Fairy yang masih bertahan di Bogor. Statusnya, sarjana fresh graduate yang menjadi job seeker sampai menemukan tempat yang nyaman untuk bekerja dan berpenghasilan.

Gedung Olah Raga (GOR) lama di Kampus IPB masih belum ramai Sabtu ini. Mungkin karena hari masih menunjukkan pukul 07.00 WIB. orang-orang kebanyakan memilih lari pagi pada jam-jam itu.

“Permainan lu tetap keren, Fay,” kata Sasmitha. 

Dia sahabat terbaik Fairy, asalnya dari Bali. Saking eratnya hubungan persahabatan itu, teman-teman sekelas di kampus memanggil Fairy dan Sasmitha dengan sebutan ‘Duo Racun.’ Semua berawal dari cerita-cerita bohong Fairy dan Sasmitha yang mengagetkan siapa pun yang mendengarkannya.

Keduanya selalu memiliki cerita lucu, hingga gosip-gosip kampus yang menjadi obrolan sehari-hari. Anehnya, walaupun keusilan itu mereka ulangi setiap hari, ada saja yang tertipu. Kelakuan itu bahkan menular ke teman-teman lain seperti racun.

“Lu juga keren Cun, tapi tetap gue yang paling keren,” balas Fairy menggoda Sasmitha.

Sementara itu, dari tempat berjongkoknya sekarang, Daru melihat Fairy begitu jelas. Gadis itu spontan beralih membalas pandangan Daru. Fairy melihat Daru tersenyum ke arahnya, seolah sedari tadi memperhatikan setiap smash raket yang Fairy arahkan kepada Sasmitha. Fairy menang 2-0 dalam permainan pagi itu.

”Guys, waktunya udah habis, lapangan mau dipakai sama tim berikutnya,” teriak Boni dari jarak lima meter yang memudarkan konsentrasi Fairy.

Dayat, Gemi, Torik, dan Welni yang bermain di lapangan sebelah juga serentak menghentikan permainan.

Fairy menyeka keringatnya dan melangkah menuju tatanan tangga ke tempat duduk penonton di dalam GOR. Tasnya tepat berjarak lima tingkat di tribun bawah dari posisi duduk Daru sekarang.

“Fay, buat lu,” ujar Daru sambil melambungkan sebotol air mineral ke arah Fairy.

Dengan kontrol penuh, botol plastik berisi air mineral itu tepat masuk ke genggaman Fairy.

“Thanks,” balas Fairy sambil tersenyum. Ia langsung meneguk hampir setengah isinya hanya dalam waktu 10 detik saja.

Fairy merapikan posisi berdirinya sekarang menjadi tepat mengarah pada Daru.

“Habis ini mau kemana? Temani aku birdwatching yuk?” ujar Fairy pada Daru.

“Setelah itu kita sarapan di yellow corner, aku yang traktir,” balas Daru masih dalam posisi duduknya sambil sedikit membungkuk. Kedua tangannya terkepal dan menopang dagunya.

Fairy mengacungkan jempol dan menggerakkan telapak tangan kanannya memanggil Daru. Ia mengisyaratkan Daru untuk cepat-cepat mengajaknya keluar dari GOR segera. Fairy memberi kode pada Sasmitha bahwa dia ingin menikmati momen pagi itu berdua saja dengan Daru. Sasmitha agaknya sudah membaca situasi. Berikutnya, ia bertindak seperti bodyguard menaham kehadiran teman-teman mereka yang ingin bergabung jalan bersama.

Keduanya sekarang berada di Kebun Cikabayan. Fairy berjalan selangkah demi selangkah, sedangkan Daru mengiringinya dari belakang. Sebuah binokuler Fairy arahkan ke pohon bunga kupu-kupu. Sepasang burung kutilang tengah mengisap sari bunga. Selama beberapa menit, Fairy dan Daru menikmati pemandangan menarik itu.

Dengan lirih Fairy dan Daru bergantian menyerukan lagu ‘Kutilang’ yang dipopulerkan oleh Ibu Soed. Sesekali, Fairy mengolok-olok pengucapan ‘Kutilang’ atau ‘Kutil’ sambil melirik menggoda ke arah Daru, membuat laki-laki itu gemas. Itu adalah nama panggilan yang dikhususkan Fairy untuk Daru.

Orang-orang Sunda, khususnya masyarakat sekitar Kampus IPB lebih senang menyebut kutilang dengan nama cangkurileung. Populasinya sangat banyak di Kampus IPB. Tubuh bagian atasnya bewarna coklat kelabu. Tenggorokan hingga perutnya putih keabuan, sedangkan kepalanya hitam. Kicauannya sangat indah, bahkan banyak di antaranya yang bisa menirukan suara burung lain. Selain madu, makanan kesukaan kutilang adalah jangkrik dan belalang.

Cuk, cuk, tuittt, begitu lah satu dari sekian banyak irama suara kutilang yang sangat dihapal oleh Fairy dan Daru. Mereka berdua lalu melihat pasangan kutilang lain berkejaran dari ranting ke ranting lainnya. Kutilang jantan bertubuh kecil, kepalanya berjambul hitam. Kutilang betina tubuhnya lebih besar dari jantan.

Kebiasaan kutilang suka berjemur dan mandi embun setiap pagi. Kutilang gemar sekali menaikturunkan jambulnya dan itu membuat Fairy dan Daru merasa mereka sedang digoda si burung. Beberapa kali mereka tertawa mengamati tingkah polah burung itu dari binokuler.

Berikutnya, Fairy dan Daru melewati deretan rumah dosen bergaya tempo dulu. Deretan daun bonsai memagari halaman rumah mereka. Bunga puring menjadi tanaman sela di antaranya. Ada beberapa jenis kupu-kupu beterbangan di sekitarnya.

Saat keduanya sampai di perempatan jalan, Fairy menghadang langkah Daru.

“I have a good news,” ujarnya sambil membuat dahi Daru berkerut ingin tahu.

“Dar, aku diterima jadi calon reporter di Indonesia Daily, Jakarta.”

Senyum bangga terukir di wajah Daru.

“Wow, rimbawan IPB jadi jurnalis diharian nasional terbesar,” katanya.

“Rimbawan salah jurusan. Nggak apa-apa lah, Dar. Namanya juga fresh graduate yang lagi mencari jati diri dan kenyamanan bekerja. Dan yang penting, aku bakal berpenghasilan sendiri,” komentar Fairy.

“Lho, why not? Buat aku, rimbawan itu harus bisa memasuki semua lini pekerjaan. Kamu jadi jurnalis, nanti kamu bisa mengkritisi semua permasalahan kehutanan kita saat ini melalui tulisan kamu. Rimbawan juga perlu masuk ke Senayan, jadi politikus DPR biar mereka bisa terlibat dalam penyusunan aturan kehutanan. Rimbawan perlu masuk ke semua sistem.”

Fairy kemudian tersenyum simpul mendengarkan ucapan Daru.

“Berikutnya kabar dari aku,” Dari tiba-tiba menahan bahu Fairy saat gadis itu ingin menyambung langkahnya.
Daru menatap Fairy dengan seksama.

“Fay, aku keterima disalah satu NGO asing di Makassar. Dua tahun ke depan aku putuskan bekerja di sana” ujar Daru.

Nada suara Daru masih normal seperti biasa. Namun, dari sentuhan tangannya di bahu Fairy, Daru merasakan detak jantung Fairy naik turun penuh keterkejutan dengan kabar itu.

Sejenak Fairy terdiam, tetap berdiri membelakangi Daru.

“Makassar?” Otak Fairy berkelebat seperti mesin pencarian Google, mencari tahu seberapa jauh dan dimana posisi kota itu.

Makassar di Sulawesi Selatan. Kota itu berada di Indonesia bagian tengah dan Daru akan berada di sana selama dua tahun.

Binokuler masih menggantung di lehernya. Fairy seolah tak tertarik lagi dengan indahnya kupu-kupu yang berkeliling di atas bunga puring, atau sepasang burung kutilang yang mengisap bunga tadi. Perlahan gadis itu berbalik, kemudian mematung, menatap mata Daru beberapa detik.

“Aku kira ini adalah hari bahagia aku. Aku beri tahu kamu bahwa aku diterima sebagai reporter. Tapi, kamu membalasku dengan berita mengejutkan ini?” Napas Fairy tersendat dan tak cukup panjang mengucapkan ratusan pertanyaan yang bermunculan sekaligus dalam otaknya.

“Mengapa semua tiba-tiba Dar? Kamu nggak cerita ke aku bahwa kamu apply kerja di Makassar,” desisnya dengan raut wajah pucat.

Fairy seperti baru saja dirajam ketakutan yang begitu hebat. Rasa takut akan kehilangan Daru.

“Aku menginginkan pekerjaan ini Fay,” Daru menyela dengan nada suara yang tenang. Ia mengerti, keputusannya ini bukan hal yang mudah diterima Fairy.

“Tanpa menceritakan semuanya sama aku? Kamu ingin pekerjaan ini termasuk ingin meninggalkan aku dan semua yang ada di Bogor ini juga kan? Kamu nggak adil Dar. Kamu mau melarikan diri karena kamu belum bisa terima Sila menikah dengan pengacara itu kan? Kamu jahat Dar,” Fairy mengakhiri ucapannya dan hendak berlalu pergi.

“Fay, berhenti!” teriak Daru.

Kini, mereka hanya berjarak sekitar enam meter. Namun, Fairy tak membalikkan badannya. Dia tak kuasa melihat Daru yang hanya menambah pendar-pendar kemarahan di dadanya.

“Besok aku berangkat Fay. Aku ingin kita bareng satu hari ini,” ungkap Daru.

Fairy membeku di posisi berdirinya saat ini. Ia kaget mendengarkan kata-kata yang terucap dari bibir pria yang menjadi dunianya selama empat tahun terakhir ini. Tubuhnya masih membelakangi Daru. Ia membuang napas panjang. Fairy setengah tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Semua terlalu mendadak baginya.

“Selama empat tahun aku setia menemani kamu, sejak kuliah hingga lulus. Aku menolak semua tawaran kerja dari luar Jabodetabek cuma agar bisa bareng kamu. Aku dengarin semua susah senang kamu. Sekarang, kamu memilih pergi begitu aja. Kamu mau uji aku seberat apa lagi Dar?” Bulir-bulir air mata Fairy menetes juga akhirnya.

Daru kemudian mempercepat langkahnya mendekati Fairy. Ia memutar tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya lagi. Namun, tubuh Fairy menolak. Daru memegang bahu kanan Fairy dari belakang. Perlahan, dia berdiri di samping gadis itu dan menghapus air mata dengan tangan kosongnya.

“Fay, aku sayang kamu. Kamu satu-satunya sahabat terbaik yang pernah aku miliki.”

“Daru maaf. Aku cinta kamu dan kamu tahu itu. How insensitive can you be?” sambung Fairy lembut. Ia melemah, tak sanggup merasakan pedihnya ditinggalkan sahabat yang sangat dicintainya itu. Meskipun, Daru tak pernah membalas cintanya dengan perasaan sama.

“Aku tahu Fay. Aku sadar sudah jadi beban kamu selama empat tahun ini. Aku hanya belum siap,” Daru mempererat pelukannya.

“Kamu hanya tak memberiku kesempatan Dar. Aku siap walaupun…”

“Tapi aku belum siap,” potong Daru. “Aku mohon padamu untuk…”

“Udah Dar. Nggak ada lagi yang bisa aku lakukan buat kamu. Aku udah capek Dar. Aku capek,” kali ini Fairy melepaskan pelukannya.

Daru berusaha mengabaikan kemarahan Fairy yang kian meninggi. Dia kemudian memegang wajah gadis itu dengan kedua telapak tangannya. Masih dalam posisinya saat ini, Fairy memandang kedua bola mata Daru lekat. Kini, semua seakan tak penting lagi untuknya.

“Aku pastikan semuanya berakhir hari ini. Aku janji, aku nggak akan mengusik kamu lagi,” Fairy tertunduk dalam benaman kedua telapak tangan Daru yang melingkari setengah wajahnya.

“Maafkan aku Fay. Tapi bagiku, semuanya masih belum berakhir,” Daru memeluk Fairy, mungkin itu untuk yang terakhir kalinya.

Perlahan, Fairy melepaskan seluruh tubuhnya dari Daru. Ia memilih meninggalkan Kebun Cikabayan lebih dulu tanpa menoleh ke belakang lagi. Itulah pertemuan sekaligus perpisahan terakhir Fairy dan Daru. Keduanya memilih menapaki masa depan masing-masing. Di hati Fairy, Daru tetap menjadi bayangan baginya. Semakin dia berusaha mendekap bayangan itu, maka bayangan itu semakin jauh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s