A Note to Fairy: 6. Desk Baru, Semangat Baru

Januari 2010

Ketenangan Fairy menyelami mimpi terusik oleh sebuah suara yang sangat ribut. Perlahan Fairy membuka kelopak matanya.

“Ibuuuuuuuu,” sebuah teriakan terdengar semakin meninggi dinada penghabisan, berganti tangisan manja seorang gadis kecil berusia empat tahun, Syafina. Dia adalah putri Ibu Ibeth, pemilik kontrakan yang kini Fairy tempati di Jakarta.

Teriakan yang sama selalu mengawali pendengaran Fairy saat bangun tidur setiap harinya. Suara berkekuatan di atas 80 desibel itu bagaikan dering jam weker yang menandakan hari sudah melewati pukul 05.30 WIB.

Fairy memperbaiki posisi tubuhnya menjadi telentang. Ia lalu mendongak samar ke langit-langit kamar yang memutih. Satu, dua, tiga, gerakan berikutnya adalah menggeliat, menguap, mengucek mata, dan duduk dengan posisi kedua kaki tetap terbentang lurus ke depan. 

3 Januari 2010: Desk baru, semangat baru!

Begitu deretan kata yang tertulis di reminder ponsel Fairy. Tak terasa, hari ini datang juga. Setahun telah terlewati. Awal minggu ini, Fairy tak lagi berkutat dengan kriminal Kota Tangerang Selatan. Mulai dari kasus perampokan, pemalsuan uang, sidak tempat pelacuran, pengejaran remaja-remaja yang ikut balapan motor liar, pembunuhan, penemuan mayat tak dikenal, hingga teror dan ledakan bom rumah ibadah.

Fairy juga terbebas dari tugas pemantauan kemacetan di sepanjang jalan Tol Serpong, bau busuk sampah di Ciputat dan Jurangmangu, hingga percakapan berbau politik disalah satu kantor pemerintahan di Pamulang. Itu dulu, setahun yang lalu, saat Fairy menjadi reporter di desk Metro Jabodetabek di Indonesia Daily.

Fairy membuka daftar kontak di ponselnya, mencari nama salah seorang redaktur yang pastinya sudah bangun sepagi ini.

@Fairy: Pagi Kang, hari ni bagusnya liputan apa ya? Newbi ni, bingung mau kemana?

@Mikail: Km ke Kementerian Pertanian aja Fay, kenalan sm humasnya di sana. Jgn lupa, kenalan jg sama reporter media lain. Belajar sendiri y? Kan udah gede. Hehee

@Fairy: Langsung ngirim berita nih?

@Mikail: Iya dong. Sebisa km aja. Khusus hari ini dapat dimaklumi kalo msh berantakan

@Fairy: Yaaah, oke deh! Doain ya kang?

@Mikail: Siiiipppp

Dengan gerakan malas, Fairy menaruh ponselnya kembali ke atas bantal. Pesan dari Kang Maik (panggilan Mikail) sendiri membuatnya deg-degan. Kang Maik salah satu redaktur pemberitaan di tempat Fairy bekerja. Setahun terakhir, Kang Maik tak bosan-bosannya mengevaluasi kinerja reporter baru.

Dulu, sewaktu Fairy masih liputan di Tangerang, setiap minggunya dia mendapat orderan liputan sulit. Order itu membuat Fairy harus ke sana ke mari memburu kasus, dan menelepon nara sumber tak dikenal waktu itu. Belum lagi, setiap Jumat malam, Fairy harus ke kantor pusat di Jatipadang untuk mengikuti evaluasi tertulis reporter baru.

Berbagai kritik tajam menghujaninya dan sedikit sekali yang memuji. Sekarang, setelah pimpinan redaksi sudah mengangkatnya menjadi reporter tetap, Fairy baru menyadari semua kritikan itu ternyata menjadikannya jurnalis sejati.

Fairy membuka netbook HP mini bewarna merah miliknya. Netbook itu selalu setia menemaninya menulis berita selama setahun terakhir. Fairy kemudian menyambungkan modem internet dan membuka agenda newsroom Indonesia Daily. Sejenak, kursor dia mainkan, mencari agenda liputan ekonomi yang mungkin saja ada di Kementerian Pertanian.

Mata Fairy yang masih mengantuk sepertinya menangkap harapan itu. Pada pukul 10.00 WIB tertulis konferensi pers bersama Menteri Pertanian dan Direktur Jenderal Hortikultura. Agendanya roundtable meeting ‘Pengembangan Nilai Tambah Buah Lokal untuk Meningkatkan Daya Saing Ekspor.’ Lokasinya di Gedung F Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan.

Bingo! Senyum tipis terukir di bibir Fairy yang terasa kering sejak tadi. Berita ini adalah pembuka pos liputan barunya sebagai wartawan ekonomi sektor riil. Pos yang menurut sebagian orang sangat membosankan. Sebagian lagi menganggapnya pos liputan yang penuh tantangan sebab menginterpretasikan angka-angka yang rumit.

“Semangaaaatttt!” teriak Fairy.

“Kakak Peri kok teriak-teriak siiiiih?” teriak Syafina dari samping kamar Fairy.

Gadis kecil itu masih belum fasih menyebut namanya. Peri adalah panggilan Fairy sehari-hari bagi seisi penghuni rumah ini. Mereka mengikuti nada panggilan dari Syafina.

“Iya sayang. Memangnya Fina doang yang bisa tes vokal pagi-pagi?” balas Fairy dengan nada menggoda tanpa bertatap muka dengan anak kecil yang lucu itu.

Ada tiga lubang ventilasi kayu yang menjadi saluran penghubung suaranya dan suara Fina.

“Ini masih pagi banget, Kakak Peri nanti dikira orang gila lho,” tutur Fina berteriak.

Baru saja Fairy membuka mulut untuk membalas, Syafina kembali memotongnya. “Kalo Kakak Peri jadi gila, nggak ada lagi yang beliin Fina coklat,” katanya.

“Oh ya? Kakak Peri takut. Iya deh, Kakak Peri nggak teriak lagi,” goda Fairy.

Rasa kantuk Fairy sempurna menghilang bersama candaan ringan dengan Syafina pagi itu. Langsung saja dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang jaraknya hanya enam langkah dari posisinya sekarang. Air segar menyiram tubuh Fairy, namun tak sedingin biasanya. Mungkin karena musim kemarau panjang tengah dihadapi Jakarta saat ini. Selembar kaos putih ia kenakan. Agar terlihat resmi, ia padu padankan dengan blazer abu-abu dan jins hitam.

Fairi mengoles seposong roti mentega dan menyeduh secangkir teh hangat. Wangi teh melati menyeruak mengisi rumah kecil itu rumah kontrakan itu hanya terdiri dari satu unit kamar tidur, satu kamar mandi sederhana, satu ruang tamu, dan dapur kecil dilengkapi sebuah lemari pendingin.

Rumah kontrakan Fairy sebetulnya setengah dari bagian rumah lainnya. Dia menyewanya dari Ibu Ibeth, single parent dengan tiga anak. Putra pertama Ibu Ibeth baru saja lulus SMA, namanya Hafidz. Putri keduanya berusia 13 tahun, namanya Syifa. Sedangkan anak ketiganya masih sangat kecil, namanya Syafina.

Sambil mengunyah sarapannya, Fairy merapikan beberapa lembar pakaian kotor yang bertebaran di lantai kamarnya. Kamar Fairy terlihat rapi setiap harinya. Jika dilihat lebih seksama, tak ada sekat-sekat yang memisahkan rumah itu sesuai penggunaannya. Ruangannya lepas, perabot yang ada hanya sebuah tempat tidur untuk satu orang, satu ruang tamu kecil dengan satu kursi sofa memanjang, TV flat 20 inchi, dan DVD player. Fairy seorang movieholic. Ratusan DVD dorama Jepang favoritnya menumpuk disalah satu box di kamarnya.

Pada salah satu sisi dinding kamarnya yang bercat putih itu, terpajang beberapa frame foto Fairy, mulai dari foto pribadi, foto bersama dengan sahabat kuliahnya dulu, foto kedua orang tuanya, dan tak lupa foto bersama Daru. Pada sisi lantai di sebelah tempat tidurnya terbentang karpet tanpa motif bewarna hijau, kesukaan Fairy. Area itu berfungsi untuk lesehan, sebagai tempat duduk untuk menerima kunjungan temannya yang iseng main ke rumahnya.

Gorden jendela kecil yang ada di kamar Fairy juga bewarna hijau, selaras dengan warna seprai yang ia gunakan sebagai alas tempat tidur. Semua menimbulkan kesan cerah dan serasi. Di samping lemari pakaian terdapat cermin berukuran besar yang pantulannya membuat penghuninya merasa sedang berada di dalam kamar yang luas. Pencahayaan kamar itu berasal dari sebuah lampu bewarna putih. Namun, pada salah satu sudut juga terdapat sebuah lampu hias berukuran sedang. Itu biasa dinyalakan Fairy sesaat menjelang tidur sehingga memberi kesan futuristik dan lembut.

Setelah rapi dengan pakaiannya, Fairy langsung melangkah menuju perempatan jalan dekat Taman Suropati. Ia menghambat sebuah taksi dan menuju kantor Indonesia Daily di Jatipadang. Sesampainya di kantor, Fairy langsung menuju ruang sekretariat mengambil selembar koran terbitan hari itu. Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju kantor pusat Kementerian Pertanian di Jalan Harsono RM. Setelah melewati halte Transjakarta Jatipadang, SMK 57, dan Departemen Pertanian, Fairy pun sampai. Ia turun kemudian berjalan kaki memasuki Gedung F.

Awal perkenalan terjadi di sana. Fairy bergabung bersama teman-teman barunya dalam Forum Wartawan Pertanian (Forwatan). Forwatan terdiri dari belasan anggota, sepeti Mba Alina dari Investor Today, Mas Julianto dari Agri Indonesia, Ocha dari Tempo News, Tria dari Jurnal Indonesia, Daniel dari Koran Indonesia, dan Mas Hermes dari Kompass. Fairy juga berkenalan dengan Pak Rusman, Pak Heri, dan Pak Monang dari humas kementerian. Semua menyambut baik kehadirannya.

Bersama dengan rekan-rekan barunya itu, Fairy menyaksikan Menteri Pertanian Siswono membuka secara resmi acara pagi itu. Siswono menyampaikan himbauannya kepada seluruh pelaku agribisnis yang hadir saat itu untuk ikut serta terlibat dalam peningkatan nilai tambah buah lokal. Tujuannya agar buah lokal berdaya saing dengan buah impor yang kian membanjiri pasar Indonesia.

Siswono menilai permasalahan distribusi menjadi kunci utama yang menyebabkan harga buah lokal kurang mampu menyaingi buah impor yang relatif lebih murah. Ia mencontohkan Jeruk Pontianak yang harganya lebih mahal dibandingkan Jeruk Cina per kilogramnya.

“Pemerintah berencana memutus rantai panjang dalam tata niaga buah di Indonesia,” kata Siswono dalam sambutannya.

Pemerintah menurutnya akan mengusahakan ke depannya upaya agar petani dapat langsung memperdagangkan komoditas buahnya ke konsumen akhirnya. Sehingga, petani bisa menikmati harga jual buah yang bagus.

Salah satu caranya, kata Siswono, bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan dalam membenahi pasar domestik buah. Cara lain menggelar ‘Pasar Tani’ di beberapa kota sentra penghasil buah di Indonesia. Kontinuitas suplai buah di negara ini, menurut menteri dari partai berlambang bulan bintang itu, juga perlu menjadi perhatian. Sebab, negara-negara importir buah cenderung menjamin suplai buahnya sehingga tak mengenal musim namun tetap bisa mengirimkan pasokannya ke Indonesia.

Berbeda halnya dengan di Indonesia, konsumen hanya mampu menikmati buah-buah tertentu pada musim-musim tertentu saja. Seperti mangga, manggis, duku, hingga durian. Artinya, kata Siswono, perlu penanganan buah pascapanen melalui pengintensifan teknik penyimpanan (storage coverage) buah lokal. Sehingga, petani tetap bisa menyuplai pasar buah sepanjang tahun.

Fairy memperhatikan dengan seksama sambil mencatat poin-poin penting dari penyampaian Sang Menteri. Sebagai anak baru, Fairy pastinya masih menemukan sejumlah informasi yang belum dia pahami. Sesekali, Fairy menanyakannya pada Bernadeth atau Mba Alina yang duduk di kanan dan kirinya.

Sekitar satu jam setelah pembukaan dan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Pertanian dan Perdagangan itu, Siswono akhirnya beranjak meninggalkan acara yang masih berlanjut. Seluruh wartawan pun keluar dari ruangan bermaksud wawancara langsung (door step) dengan Sang Menteri. Siswono pun dikerubungi banyak wartawan cetak, online, dan televisi. Sejumlah pertanyaan diluncurkan, Daniel memulainya.

“Pak, seperti yang Bapak sampaikan tadi, kira-kira kapan merealisasikan Jumat sebagai hari konsumsi buah lokal?” tanyanya.

“Sementara ini imbauan moral dulu. Tapi nantinya akan kita nasionalkan. Masyarakat atas kesadaran sendiri dulu membiasakan diri mengonsumsi buah lokal. Jika konsumsi buah lokal meningkat, maka permintaan juga meningkat. Otomatis, perlu lahan perkebunan buah yang lebih luas yang pada akhirnya kembali menggairahkan petani kita untuk meningkatkan nilai tambah buahnya,” papar Siswono.

Daniel lalu meluncurkan pertanyaan keduanya. “Sebetulnya berapa nilai impor buah ke Indonesia Pak? Dari mana saja datangnya buah impor itu?”

Siswono terlihat sedikit berpikir sebab pertanyaan Daniel berkaitan dengan nilai dan angka.

“Impor buah sebetulnya hanya sedikit saja, sekitar 5-10 persen. Hanya saja, buah impor ini dijualnya di tempat-tempat strategis yang sering dijangkai konsumen, khususnya masyarakat mampu. Misalnya di supermarket, hingga minimarket,” tuturnya.

Sang Menteri sedikit demi sedikit memajukan langkahnya keluar ruangan. Sambil berjalan, wawancara terus berlangsung. Wartawan dengan sabar menyodorkan alat perekam suara ke arah Siswono.

“Buah impor paling banyak datang dari Cina, misalnya jenis jeruk. Jenis durian paling banyak dari Thailand. Buah lain yang impornya banyak contohnya apel. Itu berasal dari Amerika Serikat,” jelasnya.

“Rata-rata buah impor yang masuk ke Indonesia 467.342 ton per tahun. Ini setara 381,85 juta dolar AS per tahun. Sebetulnya, secara volume, buah impor yang masuk ke Indonesia itu terus berkurang. Hanya saja, nilainya justru meningkat,” lanjutnya.

Sebagian besar pertanyaan Fairy ternyata sudah ditanyakan Daniel. Gadis itu kemudian memberanikan diri mengajukan pertanyaan pada liputan perdananya di pos baru itu.

“Pak, saya Fairy dari Indonesia Daily. Bagaimana dengan angka ekspor buah kita? Kira-kira berapa ya Pak?”

Siswono terlihat memandangi Fairy beberapa detik. Mungkin menteri itu merasa asing dengan kehadirannya sebagai wartawan baru. Siswono kemudian terlihat seperti mengingat sesuatu.

“Kita juga ekspor kok, angkanya rata-rata 207.234 ton per tahun. Nilainya sekitar 129,93 juta dolar AS,” jawabnya.

“Oke, cukup dulu ya? Saya buru-buru harus ke Istana Presiden, ada sidang kabinet,” potong Siswono.

Ia langsung berlalu masuk ke dalam mobil dinasnya. Beberapa wartawan yang belum sempat mengajukan pertanyaan terdengar memanggil-manggil nama Siswono. Namun, mobil menteri itu melaju menuju jalan utama Harsono RM.

Tria mengajak Fairy untuk kembali ke ruang wartawan untuk melanjutkan penulisan berita. Fairy mengiyakan dan mengikuti langkah Tria. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB, namun Fairy masih belum mengirimkan berita perdananya. Aturan kantor mewajibkan sebelum pukul 12.00 WIB, seluruh reporter wajib mengirimkan satu berita untuk pasokan online.

Jari-jari Fairy terlihat masih gagap mengetik berita. Sebab, ia harus mencerna dan menggabungkan mozaik-mozaik informasi yang ia kumpulkan satu jam terakhir. Apalagi, ini berita perdananya di desk baru. Ia bersyukur, Mas Juli sebagai salah seorang wartawan senior mengajarkan Fairy segala hal mengenai dasar-dasar liputan pertanian. Apalagi, Mas Juli baru saja diketahui Fairy juga lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Artinya, Mas Juli juga senior Fairy di kantor, meskipun beda fakultas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s