A Note to Fairy: 7. Berkenalan

From: Mikail_IDaily
To: [ReporterID]
Subject: Rapat Akbar Redaksi
Date: Fri, March 12 2010 / 15.00 AM

Kawans,

Semua reporter diharapkan datang pada Jumat (12/3) malam ini pukul 19.00 WIB. Kepala Newsroom Heri Ariefyanto akan memimpin rapat akbar redaksi dengan agenda sbb:

1. Sosialisasi penggunaan modem baru yang nantinya akan dibagikan secara gratis dari kantor untuk dukungan kerja kawans di lapangan

2. Sosialisasi Indonesia Daily Award 2010

3. Pendalaman proposal investigative reporting

4. Pengumuman reporter terbaik Februari-Maret 2010

Harap datang dan menyesuaikan waktu agar bisa mengikuti rapat ini bersama kawans lainnya. Bagi yang masih liputan di lapangan pada jam tersebut, harap berkoordinasi dengan newsroom.

Terima kasih

-Newsroom-

Tiga bulan terlewati. Fairy sudah merasa nyaman di pos liputannya sekarang. Pesan email di ponselnya itu tak dihiraukannya. Fairy menghembuskan napas berat setelah membacanya. Sebab, dia sudah terlanjur ada jadwal ke Citarik, Sukabumi bersama teman-teman Forum Wartawan Kehutanan (Forwahut). Fairy menghubungi Kang Maik dan meminta izin tak bisa ikut rapat malam itu. Kang Maik akhirnya bisa memaklumi dan mengizinkan Fairy absen.

Pukul 18.00 WIB, usai rapat Dewan Gula Nasional di Kementerian Pertanian, Fairy bergegas dengan langkah lebar dan cepat menuju halte Transkajakarta ke Kuningan Timur. Dari sana ia transit ke Slipi Petamburan. Sesampainya di ruang wartawan, Fairy mendapati sahabat-sahabatnya dengan wajah tak sabar.

“Maaf kawan, gue lama antre Transjakarta ke Slipi,” ujar Fairy membela diri.

Ocha mencibir.

“Minta maaf sama polisi. Udah kering nih nungguin lu, dari tadi gue bolak balik WC sampai empat kali,” katanya.

“Lu lagi sakit perut apa kering karena nungguin gue, Cha?” balas Fairy sambil terkekeh.

Dari belakang Fairy, Gloria datang.

“Taraaaaa, gue datang,” ucap Gloria sambil menggandeng pacarnya, Okta yang juga wartawan.

“Lha, itu Si Glo baru datang, kok cuma gue doang yang diomelin?” balas Fairy mengarah ke Ocha dan Dewe.

“Lu tahu nggak Glo? Si Ocha udah bolak-balik WC sampai empat kali gara-gara nungguin lu,” kata Dewe.

Gloria mencolek pipi Ocha.

“Lu lagi sakit perut ya Cha?” katanya sambil menaruh tas ranselnya ke salah satu kursi di ruangan itu.

Sontak seisi ruangan tertawa karena komentar pertama Fairy dan Glo yang sama.

Pukul 19.00 WIB perjalanan mereka dimulai. Bus Blue Star membawa mereka menuju Sukabumi. Jalanan sedikit macet malam itu. Jelas saja, hari itu adalah Jumat. Sederetan mobil berisi muda-mudi di luar sana mungkin saja tengah menuju Kawasan Puncak, Bogor. Mereka sekadar menikmati liburan dengan suasana pegunungan atau bepergian ke Bandung.

Anak-anak Forwahut berjumlah 10 orang dari beberapa media berbeda. Sebagian besarnya adalah rekan-rekan Fairy yang juga bertugas di Kementerian Pertanian. Misalnya Daniel, Ocha, Tria, Panda, dan Mas Asep. Rekan-rekannya yang baru adalah Dewe, Gloria, Mas Sugi, Pak Arief, dan Mba Fenty.

Setelah satu jam perjalanan, Fairy melihat jam G-Shock hitam yang setia melingkar di tangan kirinya selama tiga tahun terakhir. Jam itu masih menunjukkan pukul 20.00 WIB. ia melirik ke belakang, ke tempat duduk sahabat-sahabatnya. Fairy melihat Gloria sudah terlelap tidur lebih dulu. Tria sibuk berkirim pesan dengan pacarnya, Garry. Sementara sisanya asik bergosip ria.

Televisi di dalam bus, sedari berangkat awal, memutar film ‘Fast 2 Furious 3.’ Namun yang terlihat serius mengikuti jalan ceritanya hanya Mas Sugi, Pak Arief, Bu Trisia, dan Mba Shanti. Fairy sendiri sudah menontonnya beberapa kali dulu. Gadis itu memandang keluar kaca bus dan melihat bus sudah melewati Sentul. Masih butuh waktu tiga jam lagi untuk sampai di Sukabumi. Fairy pun menaruh sepasang earphone ke telinganya dan mendengarkan koleksi lagu-lagu MP3nya.

Belum sempat lagu ke-20 dalam list itu berakhir, Fairy dikejutkan dengan suara riuh di dalam bus. Saat ia melirik jamnya, ternyata sudah pukul 21.30 WIB. Agaknya ia tertidur selama satu jam. Mas Sugi, Daniel, dan Pak Arief terdengar bersorak. Ternyata, mereka melihat adegan seru dimana terjadi adu balap antara dua tokoh utama difilm itu. Beberapa tabrakan mobil secara beruntun terjadi dan itu menarik perhatian mereka.

Konsentrasi Fairy terpecah kembali. Ocha dan Tria yang ternyata juga ketiduran baru saja bangun. Daniel mengalihkan perhatian dengan membuka candaan rayuan maut ala ‘Raja Gombal.’

“Tria, papa kamu polisi ya?” ujar Daniel mengawali percakapan.

“Kok tahu, Niel?” ujar Tria merespon.

“Iya, soalnya kamu telah menilang hatiku, Tria.”

Fairy tertawa lepas menyusul rekan-rekan seisi bus lainnya. Demam ‘Raja Gombal’ sudah menular ke mereka.
“Daniel, ke toko bunga yuk?” kata Tria.

“Ngapain Tria?” tanya Daniel.

“Aku mau beli bibit bunga cinta untuk ditanam di hatimu.”

Seisi bus kembali tertawa terbahak-bahak, terutama Gloria yang sedari tadi hanya memperhatikan dengan baik. Ocha tak mau kalah, kini gilirannya yang mencoba menjadi Raja Gombal.

“Daniel, kamu itu kaskusser ya?”

“Kok kamu tahu Cha?” imbuh Daniel dengan cengiran semakin lebar.

“Iya, soalnya kamu telah memPERTAMAXkan hatiku.” Iringan tawa masih membahana di dalam bus.

Sekarang giliran Dewe yang memulai rayuan gombalnya.

“Daniel, Daniel, bapak kamu tukang bakso ya?”

“Bokap gue pelaut sih. Cuma buat lu gue jawa iya aja deh. Kok tahu, We?”

“Soalnya kemarin gue beli bakso sama bokap lu dan belum bayar.”

Candaan Dewe kali itu semakin memicu tertawaan seisi bus. Tak terasa, mereka sudah melewati Kawasan Pasir Kuda. Satu jam lagi Pak Arief memperkirakan mereka segera sampai. Jalan yang mereka lalui sekarang terasa berliku. Fairy dan teman-temannya kembali ke posisi duduk semula. Rayuan maut ala ‘Raja Gombal’ terhenti. Kelihatannya perut mereka mulai mual merasakan jalan yang berkelok itu.

Pukul 23.00 WIB, bus yang Fairy tumpangi berhenti di sebuah lapangan parkir. Satu per satu isi bus turun. Mereka menginap di Caldera Citarik Rivert Resort. Suara aliran air deras yang menghantam bebatuan kali seolah menjadi sapaan selamat datang malam itu.

Resort milik Caldera Indonesia merupakan pusat berbagai kegiatan outbound dan adventure di Citarik. Alamatnya di Kampung Lebak Wangi, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Lebih dari 11 tahun Caldera menjadi sahabat para pecinta alam yang datang berlibur, terutama rafting ke Sungai Citarik.

Kawasannya terbagi atas empat wilayah kegiatan. Wilayah paling depan berupa front office, saung, restoran, hingga hotel, dan merupakan tempat penyimpanan seluruh peralatan rafting. Wilayah kedua merupakan lokasi yang di atasnya terdapat aula cukup besar, saung, hingga lapangan futsal.

Wilayah ketiga berupa lahan kosong yang menjadi tempat bermain, serta saung untuk menginap yang lengkap dengan kamar mandinya. Di sinilah Fairy dan rekan-rekannya akan beristirahat. Saung itu tanpa pintu, seolah menggambarkan keterbukaan dengan alam. Saung yang terbuat dari bambu dan kayu itu memiliki dua lantai.

Lantai pertama berupa ruang lepas di ujungnya terdapat dua kamar mandiri, pria di kiri dan wanita di kanan. Saat menjejakkan kaki memasuki saung, di sebelah kanan ada meja kecil dengan dispenser air serta hidangan jagung rebus, pisang rebus, ubi bakar, dan kacang. Hidangan itu mencerminkan suasana pedesaan yang nyaman.

Lantai kedua di bagian atas merupakan tempat beristirahat. Ruang lepas itu terdiri dari deretan kasur dan bantal yang diatur berjejer kiri dan kanannya. Kasur itu beralaskan kayu. Wilayah terakhir merupakan lokasi flying fox. Letaknya di seberang Sungai Citarik dan pengunjung harus menyeberangi sebuah jembatan darurat terlebih dahulu.

“Fay, Fay, lu ngelamun ya? Halooo,” Daniel melambaikan lima jari tangannya di depan wajah Fairy.

Gadis itu terkejut dan melepaskan tangan yang menopang dagunya sedari tadi.

“Anak-anak mana?” ujar Fairy mengarah ke Daniel.

“Tuh di belakang lu lagi antre ngambil makanan,” kata Daniel.

Fairy pun langsung menoleh. Dilihatnya Ocha dan Gloria mengambil menu soto ayam. Sementara Tria dan Dewe selesai dengan pilihan menunya dan mendekati meja tempat Fairy melamun.

“Makan dong Fay, ntar lu masuk angin,” ujar Gloria sembari mengambil posisi duduk di samping kanan Fairy.
Glo kemudian menaburkan garam halus ke dalam sotonya. Sambil tersenyum kecil, Fairy menuju ke meja saji. Tangan kanannya terjulur mengambil sepasang sendok dan garpu. Fairy menjumput tiga tusuk sate dan tiga sendok mi goreng, kemudian menaruhnya ke atas piring. Bunyi kriuk kriuk di perutnya menunjukkan sebetulnya Fairy sangat lapar.

Sekitar 10 remaja terlihat mengitari taman. Mereka tampaknya bersiap-siap mengadakan acara akustikan bersama. Lagu-lagu lawas Koes Ploes yang kemudian mereka mainkan serasa terasa baru di telinga Fairy. Sayup-sayup, petikan gitar lagu ‘Ayah’ menelisik pendengaran Fairy.

“Apes nih gue. Nggak ada sinyak XL di sini. Gue nggak bisa kasih kabar ke Okta kalo gue udah sampai,” ujar Gloria sambil menyuap soto ayamnya.

Fairy baru sadar sedari tadi tak melihat ponselnya. Saat alat komunikasi itu dia keluarkan, bersyukur ternyata apes Glo tidak menimpanya.

“Makanya, pakai Telkomsel Glo, dimana-mana ada sinyal,” goda Fairy sambil tersenyum melirik Gloria dan yang lainnya.

Fairy membuka Facebook dan Twitter miliknya bergantian. Hal yang dilakukannya setiap hari, setiap jam, menit, bahkan detik. Ia mencari sebuah nama di sana.

NugrohoDaru_Prayoga: ….Eagle always flies alone… (Last update 20 minutes ago)

Itu status terbaru Facebook Daru yang biasa dibaca Fairy. Setiap harinya, lelaki itu selalu memberikan antrean pertanyaan baru di sisi Fairy.

Usai menikmati makan malam, Fairy bergegas kembali ke saung untuk istirahat. Namun teman-temannya masih belum mau tidur. Gloria tak beranjak dari saung tempat mereka makan malam bersama itu. Di sana memang tersaji satu set peralatan musik yang bebas dimainkan siapa saja. Pak Arief dan yang lainnya sibuk membicarakan perkembangan bisnis kehutanan.

Menyadari ia hanya tinggal sendiri, Fairy tetap menolak bergabung dengan lainnya. Ia langsung memasuki kantung tidurnya. Besok dia harus bangun lebih awal karena kegiatan rafting akan dimulai pukul 07.00 WIB. Belum sampai 20 menit Fairy rebahan di dalam gulungan kantung tidurnya, sebuah langkah pelan seseorang terdengar menaiki tangga saungnya itu.

“Niel, lu ya? Anak-anak mana?” tanya Fairy dari balik selimutnya dan dengan mata setengah mengantuk.

“Ini gue,” kata seorang lelaki yang suaranya seperti baru pertama kali Fairy dengar.

Laki-laki itu menyapa lagi saat setengah tubuhnya muncul dari arah tangga.

“Yang lain mana Ngga? Sorry gue telat. Tadi siang, pesawat dari Semarang sedikit telat,” katanya sesampainya di ruang istirahat tempat Fairy tidur saat ini.

Kantuk Fairy tiba-tiba hilang. Fairy memperhatikan dengan seksama dari balik selimutnya. Laki-laki itu membuka jaketnya yang berwarna biru pekat sambil membelakangi Fairy. Ia kemudian menggantungkannya di sudut ruangan.

Mengapa laki-laki itu ada di sini? Untuk apa? Siapa dia? Sejuta pertanyaan bermain di benak Fairy. Laki-laki itu kemudian membalikkan badannya sehingga dengan jelas Fairy dapat melihat wajahnya. Asing dia tak pernah melihat wajah itu sebelumnya.

Fairy langsung mengubah posisi tubuhnya dari berbaring menjadi terbangun dan duduk. Ia kemudian keluar dari sleeping bag-nya.

“Maaf, kamu siapa ya?” tanyanya kaget dan tiba-tiba.

Laki-laki itu langsung serius menatap Fairy dengan keterkejutan yang sama.

“Kamu siapa?” tanyanya balik.

Dengan setengah malas, Fairy langsung berjalan ke arah laki-laki itu.

“Kok malah tanya balik? Kamu siapa? Kok kamu bisa ada di sini?”

Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke sekeliling saung lantai dua itu.

“Aku Genta. Kantorku ada acara company outing di sini. Tadinya aku mau cari Jingga, teman aku. Aku malah mengira kamu itu Jingga,” paparnya.

“Kamu pasti salah masuk, di sini nggak ada yang namanya Jingga. Dan semua yang ada di sini nggak lagi company outing. Kamu cek lagi deh, coba hubungi teman-teman kamu,” ujar Fairy.

“Ponselku nggak dapat sinyal di sini. Terakhir tadi aku hubungi Jingga, katanya dia ada di saung Ciptalaya, di sini kan? Ya aku tadi naik,” tuturnya.

“Ciptalaya? Ini Ciptamaja. Jadi maaf, kamu salah. Mungkin teman-teman kamu ada di saung sebelah atau di ujung sana,” Fairy menunjuk ke belakang Genta.

Genta kemudian menepuk keningnya sendiri seperti menyesal telah berbuat salah bercampur rasa malu. Ia tertawa ringan dan tersenyum ke arah Fairy. Spontan, Fairy membalas senyumannya. Hampir saja dia mengira laki-laki ini bermaksud jahat. Untung saja Genta segera meminta maaf.

“Maaf ya? Aku salah masuk. Maaf, maaf,” ulangnya kembali dan langsung mengambil lagi jaket yang tadi sudah digantungnya. Laki-laki bernama Genta itu lalu bergegas turun.

Fairy hanya mengangguk. Ia lalu berjalan ke arah ujung tengah saung itu dan melihat Genta dari atas. Laki-laki itu terlihat berjalan ke saung sebelah. Sebelum masuk, Genta membaca dengan seksama nama saung yang terpampang di pintu masuk. Ternyata benar, saung yang seharusnya Genta masuki ternyata berada di sebelah saung Fairy.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Butir-butir embun belum sepenuhnya ikhlas meninggalkan rerumputan hijau di Citarik. Rumput itu masih terasa basah saat kaki telanjang Fairy menapakinya pagi hari itu. Hari masih menunjukkan pukul 05.30 WIB.

Kabut tipis masih menggantung manja di atas bumi Cikidang. Fairy sekadar ingin menikmati jalan pagi di kampung yang tenang itu sekitar 30 menit dan langsung kembali lagi ke saung. Ia mendapati teman-temannya sudah bangun dan berpakaian rapi. Mereka akan segera berarung jeram (rafting).

Pukul 06.30 WIB, semua anggota Forwahut duduk rapi di tenda meja makan di luar saung. Mereka menikmati sarapan nasi goreng dan telur dadar beraneka bentuk, seperti bintang, hati, bulan, hingga segi lima. Semuanya menjadi hidangan sarapan yang lezat, tak lupa secangkir orange juice dan segelas susu yang dapat dipilih sesuka hati.

Anak-anak Forwahut berikutnya langsung berjalan ke luar untuk mengikuti arung jeram. Mereka lalu diperkenalkan dengan dua instruktur atau river guide. Kebetulan, Fairy, Ocha, Tria, Mba Fenty, dan Mas Sugi berada dalam tim yang sama. Instruktur mereka bernama Mas Manan. Usai berpakaian perang lengkap, seperti helm pengaman, jaket pelampung, dan dayung, mereka diangkut dengan mobil colt terbuka menuju ke titik awal. Perjalanan awal mereka tempuh selama 20 menit dari base camp.

Perahu arung jeram biru berlogo CALDERA itu seolah menyambut kedatangan mereka. Mas Manan lalu menjelaskan tutorial singkat tentang peraturan arung jeram yang akan mereka lakukan. Misalnya, kode dayung kiri, dayung kanan, dayung mundur, boom, mengatur keseimbangan perahu, dan cara menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu perahu berbalik. Dua perahu Caldera yang ditumpangi kedua grup Forwahut mulai menyusuri aliran Sungai Citarik. Petualangan yang akan mereka lakukan selama dua jam menyisir jeram-jeram Citarik yang panjangnya mencapai 16 km.

Saat sampai di bagian sungai yang luas dan tenang, Mas Manan menawarkan peserta untuk turun dari perahu karet. Peserta dapat menyelam, dan berenang selama beberapa menit. Sebab, jeram yang akan ditempuh berikutnya memasuki jeram sedang hingga deras. Mas Manan mengistilahkan peserta bisa ‘parkir’ sebentar untuk bersantai di aliran tenang. Kedalaman airnya hanya berkisar 1-1,5 m. Itu tak membahayakan peserta.

“Tapi saya nggak bisa berenang mas,” ujar Fairy sedikit ketakutan. Namun, dia sebenarnya ingin sekali melakukannya.

“Nggak, nanti kamu melayang aja begitu masuk ke air, telapak kaki datarkan seperti biasa dan jangan panik,” kata Mas Manan.

Dengan keyakinan cukup, Fairy langsung memberanikan diri masuk ke sungai. Benar kata Mas Manan, seperti anak kecil, Fairy tertawa bahagia ketika mengetahui dirinya tidak tenggelam. Ocha dan Mba Fenty di sisi lain berenang dengan lincahnya di belakang Fairy.

Dari jauh, Fairy melihat perahu karet peserta lain datang ke arahnya. Perahu itu ternyata bukan perahu yang mengangkut anggota tim kedua Forwahut. Sepertinya Fairy mengenal salah satu penumpangnya, laki-laki yang semalam masuk ke saungnya. Genta sepertinya tersadar dengan sosok Fairy. Sejenak ia memperhatikan gadis itu kemudian tertawa melihat Fairy yang hanya melayang di atas air tanpa melakukan gerakan berenang seperti rekan-rekan lainnya.

Jantung Fairy berdetak kencang menahan malu. Ia juga merasakan gelegak emosi yang bergelombang di dada karena Genta menertawakannya. Hal itu berujung kepanikan baginya. Apalagi, saat perahu Genta yang hanya berjarak satu meter melewatinya. Tertawaan Genta beriring tertawaan rekan-rekan seperahunya yang didominasi laki-laki. Fairy yakin mereka semua pasti sedang menertawakannya.

Fairy memutar badannya, namun kepanikan membuatnya kehilangan keseimbangan. Perahu Genta yang melewatinya menyebabkan beriak. Arus sungai yang sedari tadi tenang menjadi bergelombang. Fairy baru sadar arus itu ikut menghanyutkan tubuhnya. Ia lalu berteriak minta tolong.

“Ochaaaa, Mba Feee, tolooong,” teriak Fairy yang kepalanya timbul tenggelam di balik jaket pelampungnya yang semakin longgar.

Sementara itu dari kejauhan Genta terus melaju. Namun, perhatian Genta yang sedari tadi menertawakan Fairy berubah kekhawatiran. Ia melihat gadis itu tak bisa lagi mengendalikan diri. Genta terjun dari perahunya dan berenang menuju Fairy. Fairy berteriak histeris dan langsung memeluk tubuh Genta begitu merasakan ada sosok mendekatinya.

“Tolong…tolong gue…tolooooong,” teriak Fairy.

Genta meyakinkan dirinya sudah menyambut tubuh Fairy dengan posisi yang kuat. Ia lalu menggiring tubuh Fairy menuju perahu dan membantu gadis itu naik ke atasnya. Fairy langsung menghempaskan tubuhnya ke atas perahu. Sedangkan Ocha, Mas Sugi, Tria, dan Mba Fenty hanya tertawa dari kejauhan.

“Jangan panik Fay, lu kan udah pakai pelampung say,” celetuk Tria.

Mata Fairy memerah dan menangis. Wajah lugunya ditambah suara tangisannya yang terdengar jelek kembali memancing tertawaan Genta. Dari dalam air, Genta masih mengapung dan tertawa sepuasnya. Begitu tatapan Fairy mengarah padanya, Genta langsung berenang melarikan diri menuju rekan-rekan sepenuhnya.

Petualangan mereka pun berlanjut. Perahu kini melewati tantangan jeram lebih berat. Aliran air Citarik yang mereka lewati tak lagi beraturan. Beberapa titik terdapat pusaran air yang bergolak di antara bebatuan cadas.
Mas Manan kembali mengatu pasukannya untuk menjaga keseimbangan. Giliran Ocha yang kembali terhempas ke air dan terjatuh dari perahu. Namun, ia berhasil kembali menyelamatkan diri dan mendayung kembali perahunya bersama rekan lainnya. Beberapa kali Fairy mengganti posisi untuk memastikan ia aman dari jeram air yang menghempasnya, atau mungkin saja menenggelamkannya kembali.

Dua jam berlalu, sampailah mereka dititik akhir. Kelompok Daniel sampai lebih dulu. Begitu merapat, Fairy langsung keluar dari perahu dan bergegas menuju shelter. Begitu duduk bersama Daniel dan rekan-rekannya, Fairy baru menyadari sepasang mata memperhatikannya sedari tadi. Mata Genta. Lelaki itu dengan santai menyeruput air kelapa muda dari tempat duduknya saat ini yang berjarak dua meter dari Fairy.

Fairy sempat melirik ke arah Genta, namun kembali membuang pandangannya. Pendar-pendar rasa kesal masih menyeruak di hatinya. Menyadari masalah di antara mereka belum selesai, Genta beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Fairy.

“Halo Fay. Maaf, atas kejadian tadi,” ujar Genta yang mengambil posisi duduk di depan Fairy.

“Kenapa kamu bisa tahu nama aku?” tanya Fairy sedikit marah.

Ia tak mengomentari kembali ucapan Genta sebelumnya.

“Gue yang kasih tahu Fay,” Dewe menyela percakapan.

Genta menyodorkan sebotol minuman isotonik ke arah Fairy.

“Minum yang banyak, biar sisa panik kamu hilang,” ujar Genta.

Tanpa menunggu tanggapan Fairy, Genta pun langsung beranjak menyusul rekan-rekannya yang sudah menaiki mobil ke base camp.

Menjelang sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB, Fairy ada di ruang fotografi Citarik. Letaknya di sekitar front office. Ia melihat hasil-hasil foto selama rafting. Masing-masing peserta berhak mendapatkan satu cetakan foto dari pengelola Citarik River Resort. Fairy memilih opsi beberapa foto yang lumayan bagus. Wajah Fairy sesekali menggembung seperti ikan kembung begitu melihat beberapa hasil foto sewaktu dia tenggelam.

“Lucu lucu fotonya,” bisik seseorang dari arah belakang. Fairy menoleh ke sumber suara dan lagi-lagi mendapati sosok Genta.

“Kamu excited banget kalo ledekin aku,” akhirnya pancingan kata-kata Genta kembali membuat Fairy emosi.
Meskipun, skala kemarahannya tak sebesar tadi pagi sewaktu rafting di Sungai Citarik. Genta tertawa kembali, namun volume suaranya semakin menurun. Ia menutup mulutnya begitu menyadari tertawanya berlebihan dan mungkin saja dapat membuat Fairy memakannya hidup-hidup.

“Maaf, maaf, sorry,” ulang Genta.

Ia lalu mengarahkan pandangan kepada fotografer yang sebelumnya melayani Fairy dan mencetak beberapa foto. Usai membayar dan memperoleh CD fotonya, Genta ingin beranjak pergi, namun baru dua langkah ia menjauh, laki-laki itu kembali berbalik melihat Fairy. Masih ragu, ia kembali melanjutkan langkahnya menjauh. Namun, sekali lagi dia berbalik melihat Fairy.

Fairy sepertinya dapat membaca cermat kegelisahan Genta.

“Kenapa?” tanyanya.

Genta menjadi kikuk.

“Nggak apa-apa.”

“Ada yang ketinggalan? Apa mau ledekin aku lagi?” goda Fairy sambil tersenyum kecil.

Saat memandangi Genta, ia baru menyadari pria itu mempunyai paras wajah campuran Indonesia dan Jepang. Genta berwajah oval, matanya besar, alisnya hitam dan tebal.

Genta menggeleng. Ia memutuskan maju kembali ke sisi Fairy.

“Aku mau balik duluan ke Jakarta. Sekali lagi, aku minta maaf kejadian-kejadian yang kurang enak sebelumnya. Clear ya?” ujarnya sedikit terbata-bata.

“Kamu nggak bosan minta maaf terus?” tanya Fairy balik.

“Abisnya dari kemarin malam maaf aku nggak pernah dapat jawaban. Kamu malah balik nanyain aku,” Genta mengarahkan pandangannya ke mata Fairy.

Fairy memandang Genta dari sisi meja. Ia lalu melotot dan membuat Genta sedikit bergidik. Fairy lalu tertawa puas, terkekeh geli sambil menunjuk Genta. Setelah puas, ia berhenti.

“Iya, iya, aku maafin,” jawabnya yang membuat Genta tersenyum.

Genta mengulurkan tangannya dan Fairy menyambutnya. Begitulah perselisihan kecil keduanya berakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s