A Note to Fairy: 9. Bandung, 1650-1651

Fairy baru saja merebahkan dirinya di kasur yang menurutnya menjadi sangat nyaman disaat tubuhnya begitu lelah. Belum sampai lima menit ia menikmati istirahat itu, sebuah pesan baru datang dari Kang Maik. Dua minggu terakhir, karena dua orang wartawan ekonomi sedang cuti sakit dan cuti liburan, Fairy sering mendapat order tugas menggantikan liputan keduanya.

@Mikail: Fay, sorry nih dadakan. Besok (jumat) sampai Minggu km bs ke Bandung? Ikut pelatihan moneter Bank Indonesia, cover Nira yang lagi libur.

Fairy membaca deretan pesan itu dengan wajah malas. Dugaannya ternyata benar. 

@Fairy: Again? Tapi hari Minggu ini aku ada kegiatan di Bogor, Kang

@Mikail: Acaranya sih Sabtu Minggu Fay, tp km cukup ikut yg Sabtu aja. Biar Minggu km bs ke Bogor.

@Fairy: Hadeuh. Nggak bisa yg lain Kang? Faris aja, dia pasti mau. Pacarnya kn di Bandung.

@Mikail: Faris jam empat masih gathering di Bank Syariah Mandiri. Come on Fay, please. Besok berangkatnya dari Gedung BI jam tiga sore ya?

@Fairy: Yo wisssss…

Paginya Fairy langsung mengemasi perlengkapan liputan ke dalam tas ranselnya. Ia membawa pakaian seadanya. Selembar kemeja, celana bahan, celana olah raga, dan sebuah jaket ia masukkan bersama peralatan kosmetik seadanya. Tak lupa, sandal gunung andalannya ia bungkus rapi. Novel ‘Tahta Mahameru’ karya Azzura Dayana yang belum selesai ia baca ikut menjadi menu yang ia bawa ke Bandung.

Fairy mengenakan celana jins hitam, kaos berkerah dengan motif garis campuran warna ungu dan abu-abu. Sekitar pukul 10.00 WIB, Fairy menuju halte bus Transjakarta, Pejaten. Ia menaikinya dan berhenti di halte Patra Kuningan. Sebuah ojek lalu mengantarnya menuju Hotel Ritz Carlton di Kawasan Mega Kuningan.

Sesampainya di hotel, setelah melewati sederet pemeriksaan di pintu masuk, Fairy lalu menuju Ballroom III. Di sana, ia bertugas meliput publik ekspos rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Andara Energy Tbk. Adik kandung dari Presiden Direktur Andara merupakan komisaris di kantor Fairy.

Sekitar pukul 13.00 WIB setelah publik ekspos selesai, Fairy memutuskan mampir ke ruang wartawan Kementerian BUMN. Ia bermaksud mengetik berita sebentar. Gadis itu hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit untuk mencapai kantor BUMN. Di ruangan wartawan BUMN, Fairy hanya menemukan Yanti.

Ruang wartawan siang itu sangat sepi, sebab rekan-rekan lainnya sedang liputan RUPST PT Garuda Indonesia Tbk di Hotel Ritz Carlton Pasific Place, sekitar kawasan Distrik Sudirman. Suasana tenang kali itu membuat Fairy menyelesaikan naskah beritanya lebih cepat. Dua berita ia kirimkan ke newsroom. Tepat pukul 14.45 WIB, setelah berpamitan dengan Yanti, Fairy berjalan kaki menuju kantor BI. Sebuah bus Blue Star terparkir disalah satu sisi kantor bank sentral itu.

Fairy langsung menghubungi salah seorang staf humas BI, Mas Aswin, dan mengabarkan kehadirannya. Mas Aswin meminta Fairy langsung menuju ruang wartawan BI dan menunggu bersama peserta lain di sana. Sesampainya di lokasi yang dimaksud, Fairy melihat sekelompok orang yang ia tebak anggota Forum Wartawan Perbankan Indonesia berkumpul di depan ruang wartawan.

Tanpa basa basi, Fairy memutuskan mengajak berkenalan orang-orang itu. Salah satu dari mereka adalah Febri dari Majalah Silver Bank. Baru lima menit duduk disalah satu kursi yang ada di ruangan itu, Fairy mendengar namanya dipanggil seseorang. Saat menoleh ke sumber suara, Fairy melihat Herry tersenyum padanya.

Fairy baru menyadari Herry pasti ikut juga ke Bandung. Ia merupakan wartawan ekonomi dari Harian Merdeka yang terbilang baru bertugas di pos pertanian dan kehutanan.

“Hai Her, lu ke Bandung juga?” tanya Fairy sambil melihat Herry mengambil posisi duduk langsung di sampingnya.

Herry tersenyum lebar. “Iya, gue gantiin Mirza yang lagi cuti. Lu ikut? Asik, Bandung jadi nggak ngebosenin.”

Belum sempat Fairy merespon Herry, laki-laki itu sudah beranjak dari tempat duduknya. Herry kemudian bergabung dengan teman-temannya lain yang sedang bermain tenis meja di sisi kanan pintu ruang wartawan BI.

Tak lama kemudian suara Mas Aswin terdengar menyampaikan pengumuman. Ia meminta seluruh peserta untuk turun menuju bus yang akan membawa mereka ke Bandung. Ada sekitar 30 orang peserta dari berbagai media cetak dan online yang mengikuti pelatihan moneter BI kali itu.

Setelah duduk di dalam bus, Fairy menyadari ada sosok laki-laki yang tanpa meminta izin langsung duduk tepat di sampingnya. Lagi-lagi, laki-laki itu adalah Herry.

“Lu nggak keberatan kalo gue duduk di sini kan?” tanyanya.

“Terserah lu, asal lu nggak usil aja kaya tadi,” jawab Fairy.

“Kaya tadi? Yang mana?” tanya Herry balik.

“Pake lupa lagi. Udah ah nggak usah dibahas,” Fairy mengalihkan pandangannya ke kaca luar mobil.

Herry tertawa kecil “Gue janji Fay, gue nggak bakal usil.”

Bus mulai berjalan sekitar pukul 16.00 WIB. lalu lintas Jakarta Pusat sore itu padat merayap. Hanya untuk mencapai pintu Tol Semanggi saja, bus membutuhkan waktu hingga 30 menit. Lewat pukul 18.00 WIB, bus baru masuk pintu Tol Cipularang.

Sekitar pukul 19.30 WIB akhirnya bus memasuki kawasan parkiran Grand Royal Hotel Panghegar Bandung. Di sana peserta pelatihan akan menginap. Sesampainya di lobi hotel, Mas Aswin mengumumkan bahwa satu kamar hotel ditempati dua orang. Mas Aswin meminta peserta untuk mencari rekan sekamar masing-masing.

Fairy kemudian menawari Febri untuk sekamar dengannya. Wanita berambut pendek itu pun bersedia. Keduanya mendapat kamar 1651 di lantai 16. Dari belakang Fairy, Herry kemudian menyela percakapan keduanya.

“Kamar nomor berapa, Fay?”

“Kamar 1651,” jawab Fairy langsung berjalan menuju lift di sisi kiri pintu barat hotel.

“Wah, kita tetanggan dong. Gue kamar 1652,” jawab Herry.

Herry bersama rekan sekamarnya mengiring Fairy dari belakang. Terburu-buru, mereka mengikuti gadis itu menuju lift. Sesampainya di lantai 16, mereka keluar dan langsung belok ke kanan.

Sesampainya di pintu kamar, Fairy menghela napas panjang. Kamarnya ternyata tepat ada di samping kamar Herry. Saat Fairy menempelkan identification card ke pintu kamarnya, Herry kembali mengajaknya berbicara.

“Lu ntar mau makan malam ke bawah nggak Fay?”

Fairy tak membalikkan badannya. “Kaya-nya nggak, Her. Gue capek banget, mau langsung istirahat aja,” jawabnya.

“Mmm, misalnya lu mau keluar beli oleh-oleh, gue mau kok nemenin lu keliling Bandung. Gue kan dulu kuliah di sini, jadi gue jamin lu nggak bakal nyasar,” kata Herry menawarkan diri.

Fairy kemudian membalikkan badannya. “Thanks Her. Nanti kalo gue butuh, gue bakal hubungi lu kok,” Fairy tak mau lagi berdebat panjang dengan Herry. Ia tahu Herry sangat anti penolakan. Laki-laki itu akan terus menganggunya jika belum mendapatkan keinginan dan jawaban yang dia inginkan.

Herry tersenyum senang. Fairy membalas tersenyum dan langsung masuk ke kamarnya bersama Febri.

“Si Herry naksir lu ya Fay? “ tanya Febri sesampainya di dalam kamar.

Fairy meletakkan tas ranselnya yang cukup berat. Ia langsung mengeluarkan sebuah charger dari dalamnya dan mengisi ulang baterai ponselnya yang sudah mati sejak dua jam lalu.

“Nggak lah Feb. Herry itu anaknya ya begitu, suka godain cewek. Nenek-nenek aja digodain,” jawab Fairy sambil mengeluarkan barang-barang dari dalam tasnya. Febri menyambut penuturan Fairy dengan tertawaan cukup keras.

Saat ponselnya aktif kembali, Fairy menerima sederet pesan singkat dan email dari sejumlah sumber. Salah satunya pesan singkat adiknya yang ingin ditransfer sejumlah uang untuk membeli buku-buku kuliahnya.

Hingga 20 menit ke depan, Fairy langsung bersih-bersih di kamar mandi. Badannya yang pegal akibat duduk manis di dalam bus lebih dari empat jam kini segar kembali.

Gadis itu langsung berpamitan dengan Febri dan mencari ATM terdekat. Sesampainya di lobi hotel, Fairy menghampiri seorang karyawan dan menanyakan lokasi ATM terdekat.

“Di Kawasan Braga, di depan sana, banyak ATM Mba” kata seorang staf hotel.

Petunjuk yang dimaksud ternyata cukup dekat. Fairy lalu keluar di pintu hotel sebelah barat, tepat di titik bus BI menurunkan peserta diawal kedatangan. Kemudian, Fairy belok ke kanan dan melanjutkan berjalan kaki.

Malam itu banyak muda-mudi berkalung kamera yang asik jeprat-jepret di beberapa titik sepanjang Jalan Braga. Mungkin, mereka ingin mendapatkan suasana Braga dimalam hari.

Gedung-gedung tua di Kawasan Braga, Kota Bandung sangat terkenal. Arsitektur Eropa tempo dulu masih kokoh berdiri. Sayangnya, Braga kini tak rindang lagi. Pohon-pohonnya sudah jauh berkurang. Di beberapa sudut, ada tumpukan sampah yang seenaknya saja dibuang oleh orang tak bertanggung jawab. Slogan Kota Bandung zaman baheula yang bersih, indah, dan berbunga tampaknya semakin lenyap ditelan masa.

Jam tangan Fairy menunjukkan pukul 21.00 WIB. Fairy langsung menemukan ATM yang dimaksud dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Fandy. Tak lupa, gadis itu juga menarik uang untuk dirinya sendiri. Setidaknya, banyak pesanan oleh-oleh yang dilist sahabatnya melalui pesan singkat.

Kak Linda memintanya membawakan roti Kartika Sari, rekan-rekan desk ekonomi Indonesia Daily juga ingin dibawakan keripik pedas Mak Icih aneka jenis. Randy adiknya juga ikut-ikutan minta dibawakan baju Persib Bandung.

Alarm jam G-Shock Fairy berbunyi, pertanda sudah pukul 05.00 WIB. Seperti biasa, Fairy bangun dan menunaikan Subuh. Ia berjalan sedikit hati-hati agar teman sekamarnya tak terganggu. Fairy tak membangunkan Febri untuk shalat sebab Febri ternyata Kristen Protestan.

Selesai Subuh, Fairy tak berniat tidur kembali. Ia kemudian menarik celana olah raga dan jaketnya, kemudian keluar kamar sekadar ingin menikmati udara pagi Kota Bandung. Fairy menekan tombol turun pada lift di samping kamar hotel. Sesaat setelah berada di dalamnya, lift itu kemudian ditahan seseorang dari luar. Itu sempat membuat Fairy terkejut, karena ia mengira cuma dirinya saja yang bangun sepagi itu.

Rasa terkejut Fairy semakin sempurna mana kala mendapati siapa yang menahan lift itu. Genta, laki-laki yang sama yang ia temui di Sukabumi dan Vietopia beberapa waktu lalu. Genta menunjukkan keterkejutan yang sama.

“Dunia ini sempit banget ya? Boleh aku masuk?” tanya Genta yang disambung anggukan Fairy.

“Kamu di Bandung juga? Liputan? Sekarang mau olah raga atau?” tanya Genta lagi.

Fairy mengangguk. “Iya. Aku ada liputan dan sekarang iseng mau jalan pagi. Kamu sendiri?”

“Aku juga, kalo begitu, kita bareng aja. Kamu nggak keberatan kan?”

Fairy mengangguk kembali pertanda setuju. Setidaknya akan lebih aman jika dia berjalan di Bandung dengan orang yang dikenal. Apalagi, ini baru pertama kalinya Fairy olah raga pagi sendirian di Bandung dan ia belum hapal Kawasan Braga.

Genta mengajak Fairy lari pagi melewati beberapa titik dan gang menarik yang sebelumnya tidak diketahui Fairy. Sepanjang perjalanan, keduanya sempat bertukar cerita. Genta ternyata sedang ada workshop di hotel yang sama. Kamar Genta ternyata juga tepat berada di depan kamar Fairy, 1650. Genta baru sampai di Bandung kemarin malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Selama 1,5 jam kemudian, Fairy dan Genta kembali sampai di hotel. Keduanya kembali memasuki lift yang sama dan menuju lantai yang sama.

“Berapa hari di Bandung?” tanya Fairy menghilangkan rasa canggungnya sebab di dalam lift hanya ada mereka berdua.

“Cuma hari ini aja. Nanti malam jam delapan aku balik lagi ke Jakarta. Kamu Fay?”

Saat melirik lampu lift, Fairy melihat mereka baru sampai di lantai delapan, masih ada delapan lantai lagi yang harus mereka lewati.

“Aku juga, nanti sore usai pelatihan aku langsung pulang ke Jakarta.”

“Bawa mobil?” tanya Genta lagi.

Fairy menggeleng. “Bus,” jawabnya sambil tersenyum.

Keduanya pun sampai di lantai 16. Genta menyilakan Fairy keluar lebih dulu. Saat keduanya akan memasuki kamar masing-masing, Genta kembali memanggil nama Fairy.

“Fay, sorry, bukan maksud aku lancang. Tapi, kalo kamu nggak keberatan, kamu bisa pulang bareng aku ntar malam. Aku yakin kamu bisa lebih cepat sampai Jakarta, ketimbang berangkat sore, Bandung masih macet.”

Fairy terlihat berpikir sejenak usai mendengar tawaran Genta. “Bareng kamu?” tanyanya lagi yang disambut anggukan Genta.

Genta melihat keraguan di mata Fairy. “Mmm, kamu bisa catat nomor plat mobil aku. Aku nggak bakal macam-macam di jalan. Aku antar kamu sampai alamat.”

Melihat ketulusan Genta, Fairy menerima tawaran itu. “Oke,” jawabnya.

Sesaat kemudian, Genta melihat Fairy tersenyum begitu manis. “HP kamu mana?”

Fairy pun mengeluarkan ponsel dari kantung jaketnya dan memberikannya pada Genta. Fairy kemudian melihat Genta menekan sederet nomor di ponsel miliknya dan mencoba melakukan panggilan keluar. Tak lama, Fairy mendengar suara ponsel Genta berdering.

Genta kemudian mengembalikan ponsel Fairy.

“Nomor HP kamu udah aku save. Nanti, kalo kamu udah selesai liputannya, kamu bisa SMS atau telepon aku. Nanti aku jemput kamu di kamar. Oke?”

“Oke, thanks ya mas?”

Jeda sejenak, ada rona terkejut di wajah Genta.

“Nope, just Genta. Jangan panggil Mas, bikin merinding. Kesannya tua banget.”

Fairy tersenyum sambil manggut-manggut. Setelah saling mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa, keduanya masuk ke kamar masing-masing.

Sesampainya di kamar, Fairy melihat Febri sudah duduk manis bersandar di dinding kasurnya. Sepertinya dia baru bangun, tapi televisi kamar sudah menyala dengan siaran berita pagi.

“Kamu habis lari pagi Fay?”

“Iya,” jawab Fairy.

“Sendiri?” tanya Febri lagi.

Fairy ragu-ragu sejenak untuk menjawab.

“Mmm, iya,” katanya berbohong agar tak ada pembicaraan lanjut dengan Febri.

Telepon kamar hotel pun berdering. Ternyata dari Mas Aswin yang membangunkan seluruh peserta dan mengingatkan jam pelatihan dimulai pukul 08.00 WIB.

“Mas Aswin bilang pelatihan mulai pukul 08.00 WIB. Kita harus siap-siap dan segera sarapan,” ujar Fairy.

Fairy pun membuka lemari untuk mengambil baju ganti untuk pelatihan.

“Feb, habis pelatihan hari ini aku langsung balik ke Jakarta ya?”

“Lho, kok kamu cuma ikut satu hari aja Fay? Kan nggak seru, ntar malam gue nggak ada temannya di kamar.”

“Say, sorry ya? Aku ada acara yang nggak bisa ditunda di Bogor besok. Kan aku udah bilang bahwa aku ke sini gantiin teman aku.”

Febri masih sedikit mencibir. “Ya udah deh. Nggak apa-apa say, take care,” ujarnya.

🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Gerimis di Kota Bandung mengiringi perjalanan pulang Genta dan Fairy. Sesuai janji mereka, Fairy langsung menghubungi Genta melalui pesan singkat 20 menit sebelum jam delapan malam itu.

Di dalam Suzuki Pajero yang melaju dengan kecepatan standar malam itu, Fairy duduk di samping Genta. Beberapa menit diawal perjalanan, keduanya tak membuka suara sedikit pun. Fairy lebih sering menundukkan wajahnya.

“Kamu kok diam aja Fay? Aku jadinya ngerasa kaya supir beneran,” Genta memberanikan diri membuka pembicaraan pada akhirnya.

Rasa gugup menggeluti Fairy sampai dia tak bisa memikirkan apapun waktu itu.

“Oh, eh, maaf mas, eh Genta maksudnya. Aku nggak tahu harus ngomongi apa. Kamu punya ide?” tanya Fairy dengan nada suara pelan.

“Kamu suka tebak-tebakan?” Genta menunggu gadis di sampingnya itu bersuara.

“Mmm, suka. Kamu ada tebak-tebakan lucu?” tanyanya balik.

“Oke, ayo kita mulai. Menurut kamu, negara mana yang selalu siap menghadapi banjir?”

“Indonesia, kan ada Bogor, kota hujan,” jawab Fairy. Terlihat seulas senyum dari bibirnya.

Genta menggeleng pertanda jawaban Fairy salah. “Bogor kan kota, bukan negara.”

Fairy kemudian terlihat berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan menyerah. “Trus, negara mana dong?”

“Swedia, kan ada swedia payung sebelum hujan” jawab Fairy. Keduanya menyunggingkan senyum menemukan kelucuan di pembicaraan mereka berdua.

“Sekarang giliran aku,” kata Fairy membalas. “Antara 1942 sampai 1945 kan ada peristiwa penjajahan Jepang di Indonesia. Nah, peristiwa apa yang terjadi pada 1750 sampai 1755?”

“Aku tahu, Belanda waktu itu masih menjajah Indonesia kan?” jawab Genta yang disambut gelengan Fairy tanda geli.

“Apa ya? Nyerah, nyerah,” ujar Genta tanpa perlawanan lagi.

“Kamu beneran nggak tahu? Wah, gawat nih.”

“Kenapa gawat Fay?” Pupil mata Genta melebar tanda ingin tahu.

“Peristiwa yang terjadi sepanjang 1750 – 1750 itu adalah adzan Maghrib. Kamu lihat iklan di televisi kan? Di sana selalu ada tulisan 17.50-17.55, saatnya adzan Maghrib untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.”

Tawa keduanya semakin membahan. Tak berapa lama lagi, mereka akan keluar dari Tol Cipularang.

“Sekarang giliran aku. Mmm, kamu tahu K-20 itu singkatan dari apa?”

“Panjang amat. Mmm, nggak tahu, Apaan tuh?”

“Itu singkatan dalam bahasa jawa. Kolo Kula Kelas Kalih, Kula Kaliyan Konco Kula, Kelelegan Kolang Kaling Kalih Kilo, Konco Kula Kelenger Kabeh Kula Kejet-Kejet. Kamu tahu artinya apa?”

Fairy kembali menggeleng pelan. “Aku nggak ngerti bahasa jawa Ta. Artinya apa?”

“Ooo, aku kira kamu ngerti bahasa jawa. Artinya kurang lebih begini, ketika saya kelas dua, saya dan teman-teman saya keseleg kolang kaling dua kilogram, teman saya pingsan semua, dan saya kejang-kejang.”

Suara tawa Fairy kembali pecah. “Keseleg kolang kaling dua kilo? Bagaimana ceritanya? Heheee.”

Suasana kembali menjadi datar. Agar tak semakin canggung, Genta kembali memancing pembicaraan. Dia mulai tertarik dengan senyum segar dari wajah gadis yang belum lama dikenalnya itu.

“Oh ya, kamu kok pulang lebih cepat Fay? Teman-teman kamu masih di Bandung sampai besok pagi kan?” tanyanya.

“Besok aku ada acara di Bogor.”

“Bogor? Ngapain?”

“Aku udah janji mau ketemu adik-adik di rumah belajar DeTara.”

Kening Genta sedikit mengerut. “Adik? Rumah belajar? Kamu jadi guru maksudnya?”

Wajah Fairy bersemangat menceritakan tentang DeTara kepada Genta.

“Iya. Dulu, sewaktu masih kuliah di Bogor, aku dan beberapa teman kuliah jadi sukarelawan di Yayasan DeTara Bogor. Di sana, ada rumah belajar yang khusus mengajarkan berbagai bentuk pendidikan lingkungan dan berkelanjutan kepada masyarakat sekitar, khususnya mereka yang berusia sekolah. Ya, tentunya mereka belajar sambil bermain. Besok, mereka ada pentas seni, aku harus datang,” papar Fairy panjang lebar.

Keduanya terus terlibat dalam pembicaraan panjang bergantian. Tanpa terasa, mereka sudah hampir sampai di tujuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s