A Note to Fary: 10. Awal yang Baru

Lima bulan berlalu, hubungan Genta dan Fairy semakin dekat. Fairy masih saja nyaman dengan pertemanannya. Namun, Genta sudah tak sabar mengungkapkan perasaan khusus yang disimpannya untuk Fairy sejak mereka bertemu di Citarik dulu. Dengan segenap keberanian yang dia miliki, Genta bermaksud mengutarakannya segera.

Malam ini akan menjadi malam terakhir penutup 2010, tepatnya 31 Desember. Genta ingin memberikan kejutan pada perempuan yang disukainya sejak lama itu. Ia ingin mendapatkan hati Fairy sepenuhnya. Genta memacu mobilnya menuju kawasan Medan Merdeka setelah mendapatkan kabar dari Tria bahwa Fairy liputan terakhir di kantor pusat BUMN sekitar pukul 16.00 WIB. Ia melirik jam tangannya, dan Fairy sepertinya sudah selesai. 

Sementara itu, Fairy baru saja mengirimkan berita terakhirnya dan bermaksud langsung menuju Suropati. Lewat gerbang belakang gedung, seperti biasanya, gadis itu melintasi kawasan Sabang Minggu malam itu. Fairy jadi tertarik ingin menikmati malam pergantian tahun, meskipun sendiri. Malam tahun baru sama halnya dengan melihat bintang jatuh atau gerhana bulan, teramat sayang untuk dilewatkan.

Sejak rolling pos liputan sepekan lalu ke Kementerian BUMN, ESDM, dan Perhubungan, Fairy mendengar cerita bahwa Kawasan Sabang sangat menarik. Ini adalah pusat kuliner di Jakarta. setelah menyeberang Jalan Kebon Sirih, ponsel Fairy berbunyi, muncul nama Genta di sana. Namun, belum sempat Fairy mengangkat ponselnya, deringan itu berhenti. Ketika Fairy ingin menelepon balik Genta, sebuah pesan masuk.

@Genta: Jalan2 yuk?

@Fairy: Aku lg mau sendiri Genta

@Genta: Aku bisa jd guide yg baik bwt km. Km lg dmana?Aku janji gak bakal ganggu km

@Fairy: Sabang

@Genta: Tepatnya dmana?

@Fairy: Samping pusat kuliner BSM

@Genta: Km jalan lurus trus ke depan, sampai ketemu pertigaan pertama

Seperti terbius, Fairy mengikuti arahan pesan Genta. Ia berjalan lurus hingga menemukan pertigaan pertama.

@Fairy: Aku udh di pertigaan. Next?

@Genta: Belok kiri, kira2 10 langkah. Nanti km berhenti kl lihat tenda oranye.

Fairy mengikuti petunjuk Genta. Di dalam hati, ia menghitung jumlah langkahnya. Benar, ia menemukan tenda oranye yang menjual aneka menu sate. Tenda itu terlihat sangat ramai. Ponsel Fairy kembali menerima pesan.

Genta: Bukan sate Fay. Setelah tenda oranye, km lihat kanan kiri, km nyeberang jalan ya? Hati2, banyak kendaraan melintas. Hehehe

Fairy menghela napas. Hampir saja ia duduk di tenda oranye itu dan menanyakan menu sate paling enak, sebab perutnya lumayan keroncongan. Masih diiringi rasa penasaran, Fairy mengikuti petunjuk Genta. Ia lebih ingin membuktikan kata-kata Genta, terutama jika Genta ingin mengerjainya.

Di seberang jalan, Fairy melihat tenda lain. Tenda itu masih berwarna oranye, namun, lapaknya lebih besar. Seluruh pegawainya juga berpakaian oranye, mulai dari juru masak, pelayan, hingga ada sekitar empat orang pemain musik disalah satu sudut tenda itu. Mereka memainkan biola, perkusi, dua gitar. Personelnya terdiri dari remaja-remaja mahasiswa yang membawakan lagu-lagu klasik milik The Beatles dan Queen.

@Fairy: Apa tenda oranye ini yg km maksud? Apakah aku sudah boleh pesan makanan, Mr. Google Map?

@Genta: Hehee. Yups, slmt mkn mlm, Miss Dora The Explorer

Fairy tersenyum menerima pesan balasan Genta. Seorang pelayan datang dan menawarkan beberapa menu menarik. Tenda itu ternyata khusus menyediakan kuliner spesialis makanan laut (seafood). Fairy memesan ikan mas kecap, udang bakar saos padang, dan tumis buncis. Tak perlu menunggu lama karena sekitar 10 menit kemudian semua makanan pesanannya sudah datang dan terhidang di meja.

Selama 30 menit berikutnya, Fairy begitu menikmati sajian di hadapannya. Rasa lapar yang sedari tadi menyeruak di perutnya kini terpenuhi. Fairy juga menikmati lagu-lagu yang dibawakan pemain musik itu, sama halnya dengan makanan-makanan disetiap suapan yang dinikmatinya.

Sang vokalis cewek mengakhiri lagu ‘Hey Jude’ milik The Beatles dengan sangat baik. Begitu ingin menyanyikan lagu berikutnya, Fairy mendengar sebuah nama tokoh kartun yang sudah tak asing didengarnya. Hampir saja Fairy ingin menyemprotkan es jeruk yang baru saja diminumnya.

“Lagu ini khusus untuk Miss Dora The Explorer dari Mr Google Map. Selamat menikmati makan malamnya,” kata si vokalis yang tak diketahui Fairy namanya itu.

Pengunjung lain yang ada di tenda itu ikut tertawa. Beberapa di antaranya bertepuk tangan. Fairy hanya diliputi keheranan luar biasa. Ia melihat ke sekelilingnya, namun tak melihat rupa Genta sama sekali.

Time I’ve been passing time watching trains go by, all of my life
Lying on the sand watching seabirds fly
Wishing there could be someone waiting home for me
Something telling me it might be you, all of my life
Looking back as lovers go walking past, all of my life
Wondering how they met and what makes it last
If I found the place would I recognize the face
Something telling me it might be you, all of my life

(It Might be You – MYMP)

Lagu itu sebenarnya milik Stephen Bishop. Kemudian, direcycle ulang oleh MYMP. Karena seorang cewek yang menyanyikannya malam itu, Fairy merasa lagu itu seperti dibawakan langsung oleh MYMP, grup favoritnya. Setelah merasa semua makanan sempurna masuk ke perutnya. Fairy ingin meninggalkan tenda oranye itu segera. Ia memanggil pelayan dan meminta daftar bayaran.

“Semuanya sudah dibayar mba,” kata si pelayan kepada Fairy.

“Siapa yang bayar mas?”

“Saya sendiri nggak tahu mba, tadi informasinya begitu,” jawabnya.

Fairy merasa tak perlu lagi menanyakan lebih lanjut siapa identitas orang yang sedari awal memberikannya begitu banyak kejutan untuknya malam ini. Setelah mengucapkan terima kasih, Fairy langsung meninggalkan tenda oranye itu menuju ke seberang jalan dengan langkah lebih cepat dari biasanya.

Sesampainya di seberang jalan, Fairy mengeluarkan kembali ponselnya bermaksud mengubungi Genta. Namun, dari belakang, Fairy mendengar suara yang memanggil namanya. Saat menoleh, Fairy melihat Genta tersenyum dan berjalan ke arahnya.

“Malam Fay,” sapanya.

Genta di sini? Pikir Fairy. Bagaimana mungkin dia tak menyadari diawal bahwa langkah dan perjalanannya diikuti diam-diam oleh sosok di hadapannya itu. Fairy menyunggingkan senyuman penuh tanda tanya.

“Jadi? Ini semua ide kamu? Kamu ngikutin aku diam-diam tadi? Ya ampun, Genta,” ucap Fairy dan langsung melanjutkan langkahnya.

“Kamu nggak suka?” ujar Genta dari belakang Fairy. Namun, gadis itu tak membalas ucapannya.

“Wow, kamu bahkan kelihatan makin cantik kalo sedang marah,” goda Genta sambil terus mengikuti Fairy.

Fairy sejenak menghentikan langkahnya. Ia kemudian menghadap ke kanan memandang Genta.

“Genta, main-mainnya cukup sampai di sini saja, aku mau pulang, jangan ikuti aku,” jawabnya.

“Kamu minta aku berhenti untuk terus mengikuti kamu atau minta aku berhenti untuk suka sama kamu?” ucap Genta.

Fairy terkejut mendengarkan perkataan Genta barusan. Dia menatap Genta dengan serius.

“Maksud kamu?”

Genta membuang pandangannya sejenak ke atas, kemudian kembali menatap Fairy.

“Fay, aku jatuh cinta sama kamu, ini serius,” ucapnya kali ini lebih lembut.

“Apa yang kamu suka dari aku? Memangnya ada apa dengan aku sampai membuat kamu suka sama aku? Berapa banyak yang kamu tahu tentang aku?” tanya Fairy bertubi-tubi.

Padangan Genta berubah seketika. Ia kemudian menunduk dan kembali memandang Fairy mencoba menerka mengapa Fairy menjadi begitu sensitif. Namun, akhirnya Genta tetap membisu.

“Aku tahu ini terlalu cepat buat kamu. Tapi aku merasa enam bulan terakhir kenal kamu, bahkan sejak awal di Citarik dulu, aku jatuh cinta sama kamu Fay,” jawabnya.

“Buat kamu semudah itu Ta. Buat kamu, cinta itu sesederhana itu. Tapi buat aku, cinta itu rumit. Aku harap cukup sampai di sini,” tutup Fairy. Ia kemudian berlalu dari pandangan Genta.

“Fay,” panggil Genta lagi. Dia kemudian setengah berlari menghalangi langkah Fairy.

“Dengar, aku minta maaf dengan perkataan konyolku tadi. Kamu boleh menganggap aku gila atau idiot. Tapi kamu memiliki hatiku Fay,” Genta mengucapkan setiap kalimatnya dengan nada lebih keras sehingga membuat langkah Fairy kembali terhenti untuk kesekian kalinya.

Genta menatap mata Fairy. Dia memandangnya lekat-lekat. Dilihatnya dahi gadis itu berkerut menandakan masih ada penjelasan yang harus dia paparkan. Genta kemudian tersenyum dengan pandangan mata tak terdeskripsikan.

“Satu-satunya alasan aku menyukai kamu adalah karena kamu memiliki hatiku. Dimana pun, yang bisa aku lihat cuma kamu. Apakah ini bisa jadi alasan? Sebab selain itu, aku tak punya alasan lain lagi.”

Fairy tersentak. Dia tak memungkiri ada efek kejut di hatinya ketika mendengar ucapan Genta barusan. Fairy membuang pandangannya dari tatapan mata Genta. Ia mulai gugup melihat Genta menyatakan cinta kepadanya. Senyuman Genta yang dilihat Fairy barusan juga menjadikan laki-laki di hadapannya itu menjadi pribadi yang berbeda, lebih tulus. Dalam hatinya, Fairy masih sempat menyesalkan mengapa laki-laki yang dihadapinya saat ini bukan Daru yang menjadi cinta sejatinya selama ini.

Ketika Fairy mencoba membalas tatapan Genta, tiba-tiba gerimis berjatuhan kemudian rintik itu berubah menjadi hujan. Cuaca saat itu membuyarkan pikiran Fairy. Genta kemudian meraih tangan Fairy dan menuntunnya berjalan beberapa langkah untuk menepi. Keduanya kemudian berteduh di bawah sebuah atap toko jajanan ‘Woku Belanga’ di sekitar Jalan Kebon Sirih. Genta kemudian mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus sisa-sisa gerimis hujan yang menempel di kardigan Fairy.

Gadis itu kemudian menepis tangan Genta.

“Aku bisa sendiri,” ucapnya.

Fairy lalu membersihkan kardigannya dari percikan air dengan tangannya. Lebih dari lima menit keduanya diam tanpa kata. Hujan yang turun pun perlahan reda.

Genta kemudian menggenggam kedua tangan Fairy.

“Fay, aku hanya butuh satu kesempatan dari kamu. Aku janji, aku akan memperlakukan kamu dengan baik.”

Dengan pandangan kosong, Fairy melepaskan gengaman Genta dari tangannya. Ia meneruskan langkahnya pelan. Genta tetap mengiringi langkah Fairy dari samping.

“Terima kasih sudah memberitahukan perasaanmu padaku,” ujar Fairy.

Genta berusaha tersenyum dengan sambutan Fairy.

“Fay, kamu mau kasih kesempatan sama aku?” tanya Genta mengulang pertanyaannya.

Lagi-lagi, efek kejut yang sama timbul di hati Fairy. Pipinya mulai memerah dan ia belum tahu pasti apa yang dirasakannya saat itu. Suara lirih Genta kembali terdengar.

“Aku ingin jadi awal yang baru untuk kamu,” Genta terlihat menghadang langkah Fairy. Jarak keduanya kini kian berdekatan.

Ada yang bilang, awal yang baru dengan seseorang merupakan akhir kebersamaan dengan orang lain. Fairy teringat kembali, ia hanya butuh hitungan detik untuk bisa jatuh cinta dengan Daru. Namun, untuk mengakhiri perasaannya, ternyata tak cukup hitungan detik yang sama. Bertahun-tahun ia habiskan untuk meraih cinta Daru dan berulang kali gagal. Sampai kapan ini akan terus berulang?

“Nggak mudah mencintai aku Ta,” Fairy mengerjapkan matanya dan segera menghapus bulir air mata yang mulai jatuh di pipinya.

“Aku ingin mencobanya. Boleh?” ujar Genta. Keringat dingin mulai membahasi tangan Fairy.

Gadis itu kemudian meremas ujung kardigannya. Genta kembali mengenggam kedua tangan Fairy, membuat gadis itu semakin gelisah. Fairy tak memungkiri, perasaan nyaman ia temukan malam ini, pada sosok lain yang ada di hadapannya.

Sebuah pelukan diawali Fairy sebagai pertanda untuk kedua kalinya ia menyerahkan hatinya pada awal yang baru.

“Aku… Aku…” ucapnya terbata-bata.

“Aku nggak akan memaksamu mencintaiku secepat itu. Biarkan aku yang mencobanya. Aku ingin mencoba mendapatkan hati kamu dengan caraku sendiri. Terima kasih Fay.” Dalam pelukan Genta, Fairy tersenyum dan menganggukkan kepala.

Fairy bisa melihat, di hatinya, dia mulai menyukai Genta. Meskipun, masih terlalu dini memutuskan dia bisa bersama dengan orang yang baru. Fairy juga masih belum yakin bisa membalas cinta Genta seperti Genta mencintainya saat ini. Tapi setidaknya, Fairy sudah mencoba. New year, new love, new hope.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s