Jangan Takut Demam, Nak!

CYMERA_20160914_110227 (1).jpg

Senin (12/9) malam Mae baru saja diimunisasi rotavirus dan diberi suntikan Invasive Pneumococcal Disease (IPD). Sudah empat kali dienjus dokter sejak lahir, Mae belum pernah panas tinggi, paling cuma rewel sebentar dan nempel terus ke ibunnya. Aku sudah menduga di imunisasi kelimanya bayi kacangku bakalan demam. Benar saja, keesokan harinya pas aku cek suhu tubuhnya menggunakan termometer, panas badan Mae sudah 38’C.

Mae masih ceria, tapi tidak aktif seperti biasa. Dia masih bisa tersenyum saat kusapa selamat pagi, namun tanpa disertai tendangan kaki dan tangannya. It’s heartbreaking to see Maetami is not well. 

Bayi demam memang bikin khawatir, apalagi demam perdana buah hati pertama. But, do not panic, mama!

Suhu tubuh yang mengindikasikan demam berkisar 37,6-38’C yang terjadi selama hampir 24 jam. Inget loh, demam pada bayi yang baru diimunisasi bukan penyakit.

Demam adalah proteksi tubuh melawan infeksi yang menandakan berkembangnya sistem kekebalan tubuh mereka. Demam itu harusnya reda dalam rentang waktu 24-48 jam saja karena biasanya ini efek samping dari vaksin yang sifatnya sangat umum. Demam yang membuat bayi perlu perlakuan khusus adalah demam yang menyebabkan kejang.

Demam bagiku juga bukan alasan untuk tidak memberikan Mae imunisasi. Bagaimanapun imunisasi merupakan prosedur pencegahan penyakit menular yang diberikan kepada anak sejak masih bayi hingga remaja. Imunisasi penting untuk memberikan anak kekebalan aktif. Memang, bayi sudah mendapatkan kekebalan tubuh dari ibunya sejak dari dalam kandungan plus ASI, tapi ASI tetap tidak bisa menggantikan imunisasi. Proteksi bayi setelah nanti dia berhenti meng-ASI baru akan terasa jika anak sudah diimunisasi, terutama mengurangi risiko infeksi penyakit menular di masa depan.

Imunisasi pada bayi itu pilihan, sama halnya dengan keputusanku mengonsumsi vitamin atau tidak sewaktu hamil. Rata-rata obgyn akan memberikan resep vitamin untuk pasiennya. Selanjutnya terserah si ibu mau menebus resepnya ke apotek atau tidak? Hehehe. Kalo udah yakin bisa memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh dari makanan biasa, ya gak perlu vitamin. Tapi, kalo gak yakin makanannya cukup, malah ibunya lemes aduhai, kan kasihan janinnya yang sedang berkembang. Kasihan juga si ibu yang kalsiumnya harus terus diserap habis-habisan untuk perkembangan si janin.

(FYI, aku tetap menghargai ibu-ibu yang memilih tidak memberikan imunisasi untuk anaknya. Imunisasi itu pilihan, jadi gak ada maksud membahas lebih jauh tentang pro-vaksin dan anti-vaksin. Hehehe)

Balik lagi ke pemberian obat pada bayi yang sedang demam, aku sedikit mengutip pernyataan American Academy of Pediatric atau Ikatan Dokter Anak Amerika Serikat yang intinya tidak merekomendasikan pemberian obat penurun panas pada anak, meski suhu tubuhnya tinggi.

“Fevers generally do not need to be treated with medication unless your child is uncomfortable or has a history of febrile convulsions. The fever may be important in helping your child fight the infection. Even higher temperatures are not in themselves dangerous or significant unless your child has a history of seizures or a chronic disease. Even if your child has a history of a fever-related convulsion and you treat the fever with medication, they may still have this kind of seizure. If he is eating and sleeping well and has periods of playfulness, he probably doesn’t need any treatment.”

Artinya kurang lebih begini, “Demam tak perlu diobati kecuali anak rewel atau pernah punya riwayat kejang atau step sebelumnya. Demam penting membantu anak melawan infeksi. Suhu tubuh tinggi pun bukan berarti berbahaya dan berdampak signifikan, kecuali anak Anda pernah kejang atau punya penyakit kronis. Anak yang pernah punya pengalaman kejang pun, ketika diberikan obat-obatan, mereka masih mungkin bisa kejang lagi. Jika anak makan dan tidur dengan baik, masih lincah berman, dia tak perlu pengobatan apapun.”

Demam yang positif pada gilirannya menguntungkan tubuh bayi secara langsung dan tidak langsung, khususnya menangkal bakteri atau virus. Beberapa manfaat demam pada bayi, antara lain pertama, meningkatkan antibodi karena sel tubuh dilatih secara khusus menyerang sumber penyakit. Kedua, sel darah putih mulai diproduksi tubuh sehingga berperan menghancurkan bakteri dan sel-sel yang terinfeksi penyakit.

Ketiga, memproduksi interferon, sebuah antiviral dan antikanker yang membantu tubuh memblokir penyebaran virus ke sel-sel sehat. Keempat, peningkatan suhu tubuh secara langsung membunuh mikroba yang sebagian besarnya berupa bakteri dan virus yang mudah berkembang dalam tubuh manusia pada suhu rendah atau normal. Kelima, demam mengganggu proses replikasi sejumlah bakteri jahat dan virus sehingga membatasi perkembangannya dalam tubuh.

Berikut adalah tips sekaligus hal-hal yang kulakukan untuk menangani demamnya Mae:

Cek kondisi

Bayi yang usianya masih 3 bulan ke bawah, seperti Mae idealnya sih diukur suhu tubuhnya dengan termometer rektal. Tapi aku rasanya tidak tega memasukkan termometer ke anus Mae. Jadi ya tetap cek pertama di ketiak, leher, dan lipatan kaki. Suhu tubuh Mae 37,7’C. Ya, ini positif putriku demam.

Kulihat Mae memang lesu, gak bersemangat, gak ngoceh seperti biasa, gak nendang-nendang dan angkat-angkat tangan seperti biasa, mimik susu kurang semangat, pokoknya dia cuma merem atau sesekali buka mata, lesu menatap ibunnya. Pengecekan suhu tubuh anak yang sedang demam biasanya berkala setiap satu jam, tapi aku sendiri nyaris melakukannya setiap 10 menit. Yah, namanya juga anak pertama, mau dikata bilang “jangan panik, jangan panik,” tetap saja tanganku gatel mau mastiin suhu tubuh anak kacangku sudah normal apa belum?

Kasih obat atau tidak?

Beberapa dokter, termasuk Dr Prayoga percaya bahwa jika bayi yang sedang demam tidak rewel, tetap bisa tidur, tidak menangis sejadi-jadinya, itu masih bisa dikatakan normal. Demam sehabis imunisasi adalah cara tubuh membentuk antibodi memerangi infeksi. Dr Prayoga memang meresepi Mae obat antipiretik, namun beliau lebih menyarankan obat diberikan jika si bayi sudah tampak rewel, panas sudah di atas 38’C.

Naluri kepo si emak pun datang dan akhirnya abis diskusi di grup ibu-ibu menyusui Tarsius42, kuputuskan menunda pemberian obat untuk Mae, meski suhu tubuhnya satu kali sempat menyentuh 38,3’C.

Oya, ibu-ibu mungkin tahu banyak merek obat penurun demam untuk bayi, mulai dari paracetamol, sanmol, hingga ottopan drop. Dr Prayoga merekomendasikan yang terakhir dengan dosis 0,6 ml setiap enam jam. Tapi, ibu yang anaknya masih di bawah 3 bulan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter si kecil untuk mengetahui dosis tepat. Biasanya dokter akan bertanya usia dan berat badan bayi untuk memberi tahu dosis pemberian obat penurun panas ini.

ottopan drop.png

Mandi air hangat dan kompres

Pagi itu kuputuskan untuk merendam Mae dalam air hangat kuku supaya badannya enakan dan tidurnya bisa nyenyak. Awalnya kuusap badannya menggunakan waslap, baru merendam seluruh tubuhnya di bak mandi. Sehabis mandi, Mae kupakaikan baju tipis tanpa singlet, celana panjang, namun tidak berkaos kaki. Sesekali Mae juga kukompres dengan air biasa untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya.

Sentuhan langsung

Sentuhan langsung atau skin to skin adalah obat mujarab lainnya saat bayi demam. Berapapun angka yang diperlihatkan termometer, sentuhan ibunda bisa membuat bayi nyaman dan mempercepat penyembuhannya. Saat Mae demam, aku memperbanyak frekuensi menggendongnya, apakah itu gendongan kangguru dengan cara mendekapnya di dada, atau gendongan samping. Tubuh ibu dan bayinya itu bagaikan kembar siam. Jika salah satunya sakit, tubuh lain ikut merasakan. Aku bahkan sempat menanggalkan pakaian bagian atas, membuka setengah baju Mae dan membiarkannya menyentuh tubuh ibunya langsung sambil menyusui.

Jaga suhu kamar

Cuaca di Denpasar sangat panas. Semua rumah rata-rata memiliki AC, apalagi rumahku yang tidak ada ventilasinya sama sekali. Suhu pendingin ruangan aku setting di 24’C. Ini karena termometer ruangan yang ada di kamar tidurku menunjukkan angka 20’C saat AC dipasang pada suhu 24’C. Jadi, ingat ya ibu-ibu, suhu ruangan yang dijadikan patokan bukan suhu berupa angka yang tertera pada remote AC, tapi termometer ruangan. Suhu ruangan ideal untuk bayi di atas 1 bulan sebaiknya 16-20’C.

Pastikan tetap terhidrasi

Aku mengerti sekarang bahwa kunci dari demam pada bayi adalah menjaganya tetap terhidrasi. GEMPUR ASI obatnya. Biarlah si kecil sering menyusui. Biarlah ibu sering gonta ganti popok karena si kecil banyak pipis. Biarlah ibu mengganti baju si kecil beberapa kali karena badannya basah berkeringat. Jangan lupa, ibunya juga harus banyak minum. Jangan sampai lemes karena nutrisi tubuhnya habis untuk memproduksi ASI. Kalo ibunya malas minum, yang ada pasokan ASI ikutan seret.

Mae terus kususui setiap jam agar dia tak dehidrasi. Sedotannya kadang melemah. Mungkin karena dia lemas, sehingga lebih memilih tidur dari pada mimik susu. Aku tak ingin kondisi yang sama terus terjadi, sehingga kuputuskan memompa sebagian ASI untuk diberikan ke Mae menggunakan dot. Benar saja, makannya menjadi lahap.

Aku harus begadang malam itu supaya Mae rutin menyusui setiap jamnya dan buat jaga-jaga jika tiba-tiba suhu tubuhnya naik tajam. Alhamdulillah, semakin malam panas tubuh Mae semakin berkurang. Rabu pagi sekitar pukul 02.00 dini hari aku kembali mengecek dengan termometer dan di sana tertulis 35,9’C. I am very happy that my little baby is already back to normal. We did it, cang!

CYMERA_20160914_014452.jpg

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s