Bogara Family 3-Days Trip to Karangasem

cymera_20170213_1906581

Kabupaten Karangasem terletak di Bali Timur dan kaya akan tempat-tempat wisata yang belum diketahui orang banyak. Sayangnya gak semua orang yang berkunjung ke Bali mau datang ke sini. Alasan utamanya sih jauh dari mana mana, terutama dari bandara atau pusat ibu kota Provinsi Bali.

Tapi, buat kamu yang udah bosan dengan Bali yang itu itu aja. Kuta, Sanur, Nusa Dua, Jimbaran, Uluwatu, Tanah Lot, Denpasar, wisata shopping ke mall di Bali, atau indoor activity melulu, gak ada salahnya pake lagi sepatu ketsnya, isi lagi tas backpack-nya, langsung cuss ke Karangasem. 

Beberapa hari yang lalu, aku, mas, dan Maetami coba traveling ke Karangasem. Tahun lalu saat Mae masih berumur 3,5 bulan udah ikut papa ibunnya explore Bali Timur. Cita-cita kita sederhana, kalo Bali aja belum semuanya didatengin, buat apa wisata ke luar kota apalagi ke luar negeri? Indonesia itu indah kawan. Memang sih, rumput tetangga selalu kelihatan lebih ijo. Kalo udah mikir kayak gini, coba deh kacamatanya dibuka dan lihat sekitar. Hehehe.

Kali ini aku lebih banyak sharing foto yang diselipin beberapa cerita singkat. Sebelum berangkat ke Karangasem, kami singgah dulu di Bali Zoo. Kebetulan lokasinya satu arah.

Bali Zoo adalah kebun binatang di Bali dan katanya sih salah satu yang terbaik di Asia Pasifik. Aku sendiri saat memasukinya kagum dengan penataan penempatan satwa di dalamnya. Sayang, banyak areal yang masih dalam proses pengerjaan. So far aku pribadi masih lebih mengunggulkan Taman Safari di Bogor. Hehehe. Kalo di-compare sama kebun binatang lain di Indonesia sih memang Bali Zoo menang banyak.

Bali Zoo beralamat di Jalan Raya Singapadu, Banjar Seseh Sukawati, Gianyar. Luasnya sekitar 3,5 hektare (ha) dan koleksinya lebih dari 450 jenis satwa langka asli Indonesia juga dari negara lain. Tiket masuk Bali Zoo itu sekitar 110k dewasa dan 85k anak-anak. Alhamdulillah kali ini kita masuk gratis karena dapet hadiah dari seorang sahabat di Bogor, Teh Lin sewaktu doi berkunjung ke Bali. Yippi yeaiii! Nuhun ya teh.

Kebun binatang ini stroller friendly loh. Jadi, ibu-ibu yang bawa bayi gak perlu repot gendong langsung anak-anaknya. Bahkan tur Elephant Safari pun, strollernya bisa dilipat dan dibawa naik ke mobil tur. Maap ya, kalo foto-fotonya bakal dipenuhi wajah kita bertiga. Ehehehe.

CYMERA_20170216_000335[1].jpg

P_20170213_112546[1].jpg

P1010636.JPG

P1010635.JPG

p1010649

P1010659.JPG

P1010640.JPG

p_20170213_112952

P_20170213_113256.jpg

P_20170213_113734.jpg

P_20170213_114907.jpg

20170213_113330[1].jpg

Menjelang jam makan siang, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Karangasem. Mampir dulu isi perut di Warung Lesehan Mertha Sari di jalan lintas menuju Padangbai atau Goa Lawah. Warung ini udah terkenal banget di kalangan pelancong yang berkunjung ke Pulau Dewata, gak heran kalo rame terus, mau week day atau pun week end.

Menu paket sate lilit, sate tusuk, baso semua berbahan dasar ikan, dilengkapi dengan sayuran kacang panjang, kacang goreng, dan sambal bawang merahnya super endes, plus dua gelas jeruk hangat. Makan berdua sampe kenyang cukup 60k saja.

P_20170213_135937.jpg

Perjalanan langsung berlanjut 1,5 jam berikunya sampai kami tiba di Karangasem. Usai Shalat Dzuhur, istirahat sebentar di penginapan, kami langsung menuju obyek pertama di Karangasem, yaitu Virgin Beach.

Pantai ini masih terbilang baru di Bali Utara. Salah satu hidden paradise. Selain view-nya yg keren, berwisata ke sini bakal bawa kenangan tersendiri, juga sangat ramah di kantong. Semua harga, tarif, dan pelayanan sangat wajar dan worth it. No tipu tipu.

Pengalaman pribadi, awal tinggal di Bali main ke Kuta, duduk di kursi plastik sambil pesen satu buah kelapa muda di pinggir pantai, kena charge 75k. Whattt? Gak lagi lagi deh. Di Virgin Beach, kisaran harga makanan rata-rata 15-35k. Cuma mau santai? Sewa kursi malas buat jemuran atau tidur di pantai cukup 15k dipake sepuasnya. Kalo beli makanan atau minuman, kursi malasnya gak perlu disewa alias gratis.

Pantai ini terletak di Jalan Raya Bugbug, disebut juga Pantai Pasir Putih atau Pantai Perasi. Pantai ini unik, diapit dua bukit karang. Di tengah lautnya bakal terlihat pemandangan indah, sebuah pulau kecil. Di tengah pulau itu ada sebatang pohon tinggi menjulang, persis seperti melihat ikan paus muncul ke permukaan air sambil menyemburkan air dari lubang kepalanya.

Dari tempat parkir ke pantai ini musti jalan kaki 200 meter, atau kalo gak kuku, bisa naik ojek dan bayar 10k saja. Karena kiri kanannya sejuk dan berhutan, aku dan mas putuskan jalan kaki menuju pantai.

Tiket masuk ke Virgin Beach 10k per orang. Kamu bakal bertemu banyak bule berbahasa Rusia di sini. Setelah melihat data pengunjung di penginapan dan beberapa obyek wisata di Karangasem, pengunjungnya memang rata-rata bule Eropa, mulai dari Prancis, Rusia, Belanda, Inggris, juga Ukraine.

CYMERA_20170215_235439[1].jpg
Gak ada yang nyangka kalo 200 meter di balik jalan ini ada pantai keren
cymera_20170215_2357361

CYMERA_20170215_235838[1].jpg
Anak kacang girang amat ke pantai sore hari. Secara, sejak di perut diajakin jalan ke pantai terus sama papa ibunnya.
p1010679

P1010677.JPG

Kami bermain di pantai sampai sore. Malamnya langsung istirahat ke penginapan. Saving energy buat petualangan esok hari.

Mas sengaja memilih penginapan di sekitar Jalan Raya Perasi. Aksesnya dekat kemana-mana.

Kami menginap di Jepun Didulu Cottage. Ini penginapannya paling strategis. Harganya juga terjangkau untuk family trip. Bisa hubungi langsung Bapak Ngurah Suardana 081337375512 atau Ibu Ayu Praniti 081337549994. Ke Virgin Beach cuma 10 menit, ke Taman Soekasada Ujung (Water Palace Karangasem) cuma 20 menit, ke Rumah Pohon Temega cuma 20 menit, ke Tirta Gangga Karangasem cuma 25 menit. Palingan yg lumayan jauh itu ke Rumah Bambu di Kubu, bisa makan waktu 50 menit, dan ke Pantai Amed sekitar 1 jam.

Jepun Didulu ini menyediakan kamar tipe kipas angin dan AC. Cuma ada empat unit karena milik keluarga. Berasa private gitu deh. Hahaha. Karena cottagenya dari bambu dan lantai kayu, akhirnya kami cukup pilih yg tipe kipas angin aja. Apalagi, Bali masih masuk dalam musim hujan. Terbukti, malamnya kita teteup kedinginan bobok di sini.

Yang paling emak syukuri banget adalah cottage ini punya dapur mini. Ada kompor gas, kulkas, dan semua perlatan masak, sampai sabun cuci piring pun disediakan. Alhamdulillah, makin enteng nyiapin makan buat Mae.

IMG_20170215_210100_489[1].jpg

IMG_20170214_075039_581[1].jpg

No cake, no candle for our 3rd marriage anniversary, but my husband and my daughter give me a beautiful jepun. Jepun is one of flower that is identical to Bali. We can find it everywhere in this island as a symbol of love. Love them both.

Bangun pagi sarapan nasi goreng dan teh hangat. Maetami juga udah kelar sarapan puree kentang wortel. Kami siap menuju destinasi berikutnya, yaitu Rumah Pohon Temega, Rumah Bambu Tulamben, Pantai Amed, dan Tirta Gangga.

Rumah Pohon Temega buka dari jam 7 pagi sampe jam 7 malam. Karena kami datang ke sini sebelum jam 9 pagi, jadinya berasa seolah rumah pohon ini punya sendiri 😀 Aku sempat berkenalan dan ngobrol bareng empu-nya rumah, Bapak Komang Satrana Budi. Makin excited deh dengar ceritanya.

CYMERA_20170215_233527[1].jpg
Bersama Pak Komang Satrana Budi, pemilik Rumah Pohon Temega

Rumah Pohon Temega ini awalnya milik keluarga yang akhirnya berubah menjadi tempat wisata. Buat yang mau tes nyali, boleh main ke sini. Ada rumah pohon terbuat dari bambu yg disusun hingga empat tingkat ke atas (udah kayak rusun aja. Hihihi). Pak Komang berencana mau mengembangkan areal ini sampai 10 shelter rumah pohon. Rumah alam ini berdiri di atas tanah seluas 20 are. Ada areal semi-camping ground, tempat makan, bahkan kolam renang mini.

Tiket masuk Rumah Pohon Temega 10k per orang. Jangan takut soal safety, insya Allah aman dan tetap nyaman. Jembatan bambunya berangka baja loh. Lapar? Ada kantin di atas. Mau es krim? Ada juga di atas. Bahkan, ada tenda yg dipasang di atas pohon. Warbyasak!

Hal yg perlu kamu ketahui. Pak Komang, sang pemilik super ketat mengawasi pengunjung. Biar pun rumah pohon, CCTV-nya standby di tiap sudut. Kalo ada muda mudi yg ketahuan berbuat tidak sopan, bakal diusir dan dilarang berkunjung kembali ke sini. Pak Komang bahkan menempatkan banyak papan peringatan yg mengimbau pengunjung menjaga etika di Rumah Pohon Temega.

cymera_20170215_2350291

cymera_20170214_1101481

CYMERA_20170215_233247[1].jpg

CYMERA_20170215_233610[1].jpg

CYMERA_20170215_233709[1].jpg

CYMERA_20170215_233332[1].jpg

P_20170214_111845[1].jpg

Pak Komang dan ponakannya, Bli Putu kemudian mengundang kami untuk berkunjung ke Rumah Bambu miliknya di daerah Kubu, sekitar Tulamben. Lokasinya cukup jauh dari Temega. Tapi, karena kami sudah terlanjur kagum dengan Rumah Pohon Temega miliknya, mas pun langsung tancap gas ke sana.

Baru nyampe gerbangnya aja, si mas udah excited banget, apalagi aku? Masya Allah indahnya. Ini tempat ‘menang’ banget lah pokoknya. View-nya langsung ke Pantai Amed. Rumah bambu ini lebih luas, 60 are. Ada satu rumah pohon dua tingkat di sana. Ada sebuah candi yg mengeluarkan doa-doa umat Hindu. Religius banget.

Hanya satu yang disayangkan. Pak Putu ternyata memelihara sebagian satwa dilindungi di sini. Ada sepasang rangkong, seekor merak, kasuari, juga gagak. Karyawannya bilang, burung-burung tersebut dibeli dari pasar burung sejak belasan tahun lalu. Yang bikin aku makin heran, itu burung gak dirantai atau dikandangin sama sekali. Lepas bebas.

Ekosistem sekitar rumah bambu ini memang sangat mendukung, sangat hijau, banyak pakan burung. Gak heran, sejauh apapun burung-burung ini terbang, tetap saja akan kembali ke sini. Karena kedatangan kami untuk wisata dan bertamu, pembicaraan lebih jauh urung dilakukan tentang satwa-satwa ini.

Tiket masuk ke rumah bambu lebih mahal dari Temega, 20k per orang. Tapi dijamin worth it. Ada banyak shelter bambu yang bisa jadi tempat refreshing keluarga. Ada hammock di beberapa titik untuk anak-anak bersantai.

Harga makanan di sini juga miring, sepiring nasi goreng cukup 10k, plus teh tawar hangat 5k. Ada juga nasi pecel, dan mi goreng. Hati-hati kalo makan, sebaiknya jangan di shelter atas karena seekor gagak bernama Putu suka mencuri makanan pengunjung. Duh serem tuh lihat paruhnya.

P_20170214_125233[1].jpg

P_20170214_125104[1].jpg

P_20170214_125141[1].jpg

P_20170214_125542[1].jpg

P_20170214_144139[1].jpg

P_20170214_144252[1].jpg

Rumah Bambu Tulamben ini dekat dengan Pantai Amed. Kami menghabiskan dua jam di sini, sembari nemenin mas buka laptop karena masih diteror kerjaan (hehehe). Cuaca kemudian berubah menjadi hujan. Mas tetap melanjutkan perjalanan menuju Amed, berharap reda sesampainya di sana. Namun, yang ditunggu-tunggu ternyata tak kunjung tiba, akhirnya kami balik kanan menuju penginapan, dan menyempatkan mampir di Tirta Gangga. Kami gak sempat ambil foto di sini karena kembali hujan.

Keesokan harinya sebelum pulang kembali ke Denpasar, kami mengunjungi Taman Ujung Soekasada yang jaraknya cuma 20 menit dari Jalan Raya Perasi. Taman ini paling sering nongol jadi tempat foto pre-wedding calon pengantin.

Lokasi ini disebut juga Water Palace, milik Puri Raja Karangasem. Tamannya luas, hijau, adem. Disebut Istana Air karena memang dikelilingi kolam air yang bersih dan indah. Pengunjung gak bakal nemu satu sampah pun di kolam. Petugas kebersihan yang bertugas cukup banyak.

Tiket masuk ke taman ini 15k per orang. Kalo mau berkeliling naik perahu angsa, cukup bayar 10k per orang untuk 15 menit. Jangan lupa beli makanan ikan. Jadi, naik perahu sambil kasih makan ikan, banyak mujair dan bawal. Lumayan gempor kaki kalo kudu jalan keliling taman. Sejarah tentang keluarga kerajaan juga diceritakan dalam bentuk foto di salah satu sudut istana ini.

CYMERA_20170215_232000[1].jpg

CYMERA_20170215_232057[1].jpg

CYMERA_20170215_232249[1].jpg

CYMERA_20170215_232214[1].jpg

P_20170215_095128[1].jpg

Anak kacang selalu menjadi tokoh sentral di perjalanan ini. Hehehe. Si Mae gak mau ketinggalan. Dia teteup rajin latihan merangkak, kali ini di Bale Bengong.

Bale Bengong ini adalah bangunan yg terletak di tengah kolam Istana Air ini. Bale ini tidak memiliki tembok, hanya ada tiang beton untuk menopang atap bangunan. Dahulu bangunan ini diperuntukan untuk menjamu tamu-tamu kehormatan di Kerajaan Karangasem.

P_20170215_100455[1].jpg

IMG_20170215_181334_643[1].jpg

Perjalanan pun kami sudahi. Kami mensyukuri tiga tahun kebersamaan ini. Semoga Allah SWT senantiasa mengharmoniskan keluarga ini, menjadikan kami hamba-hamba-Nya yang sabar dan pandai bersyukur. Thank God for a daughter like you, nak. Semoga Maetami tumbuh menjadi putri kami yang solehah. Amin Ya Rabbal Alamin.

 

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s