Ajak Bayi ‘Batuta’ ke Bioskop

IMG_20170423_211439_326.jpg

Orang bilang, “Semakin banyak nikmat Tuhan yang kamu terima, semakin siap kamu melepaskan banyak hal.” Kalimat ini cocok dengan kondisiku saat ini. Menikah dengan Rifki, memiliki Mae, keluarga yang menyayangi, rasanya sempurna sudah hidupku.

Sayangnya menjadi ibu beranak satu tentunya tak sebebas melajang dahulu. Perjalanan spontan ke mall atau bioskop sebelumnya mungkin saja hal biasa, namun kini menjadi perjalanan langka. 

Ibu yang baru melahirkan berada di rumah selama berbulan-bulan. Ada masanya dia jenuh, bahkan stres, sehingga menginginkan hiburan, misalnya menonton ke bioskop. Sebagian ibu mungkin nyaman-nyaman saja meninggalkan bayinya berakhir pekan di rumah bersama pengasuh, sementara dia dan suami melipir 2-3 jam ke bioskop terdekat. Namun demikian, sebagian ibu lainnya, khususnya yang Senin sampe Jumatnya kerja pasti ingin terus bersama bayinya di akhir pekan. That’s me!

Problemnya sekarang, ini bioskop lho. Udah siap bawa gembolan bayi ke tempat relatif gelap, berisik, dan penuh orang gitu? Apa jadinya kalo tangisan Maetami tiba-tiba meledak pas scene-nya lagi adegan romantis atau adegan nangis bombay? Perasaan emak bapaknye pasti sama deg-degannya kayak maling kabur trus berhasil dikepung penduduk. Hahaha.

Sewaktu masih belum momong bayi saja, aku kadang suka risih melihat ibu-ibu membawa bayinya ke bioskop. Tiba-tiba di tengah pemutaran film yang lagi sinematik dan emosional meledak tangisan bayi, dan si ibu dengan entengnya menenangkan bayinya dengan bersuara ‘ssshhh ssshhh ssshhh’ alih-alih keluar studio dan bikin bayinya nyaman lagi. Whatttt? Emang ini lagi nonton TV di rumah sendiri, apa?

Ada pula ibu yang membawa anaknya yang masih batita atau balita, kemudian pas film lagi seru-serunya tiba-tiba ada teriakan, “Ma, toilet” atau “Buk, pipis.” Duuuuh, garuk-garuk kepala.

Memang ada benarnya juga bahwa setelah menjadi seorang ibu, kita tidak bisa melakukan semua hal yang kita inginkan sebagaimana sebelum mempunyai anak dulu. Tapi, every problem has a solution kan?

Membawa bayi ke bioskop bukan lah hal baru. Jangan takut dengan penilaian orang lain tentangmu. Selama kamu siap dengan risikonya, yaitu bersedia keluar teater jika si bayi menangis kencang, maka orang lain, khususnya penonton ibu-ibu yang pernah di posisi kamu pasti maklum.

Suami istri harus buat perjanjian dulu jika kondisi terburuk terjadi, yaitu bayi harus dibawa keluar dari teater. Pilihannya adalah keluar bertiga (suami, istri, anak), atau bergantian keluar, misalnya istri keluar dan suami menonton, atau suami keluar dan istri menonton. So, istri dan suami sama-sama dapat setengah bagian menonton film.

Bagiku, membawa bayi ke bioskop itu bergantung pada bayinya dan filmnya. Pertama, bayi sebaiknya sudah berusia di atas enam bulan. Asumsiku sih umur segitu badan bayi sudah tegak. Jadi, mau dipangku, ditidurin, dipeluk berbagai posisi juga gak masalah. Bayi di atas enam bulan juga sudah gak se-sensitif bayi 0-4 bulan yang kadang mendengar suara pintu berdecit aja langsung bangun dan nangis kencang.

Kedua, jika kamu menonton film yang ada adegan dewasanya dan kamu tak bisa mengondisikan si kecil tidak akan melihat adegan tersebut, sebaiknya jangan pernah membawa serta anak. Solusinya adalah tinggalkan anak di rumah bersama pengasuhnya atau titipin di rumah orang tua or mertua. Jika meninggalkan anak membuatmu sedih, ya sudah, sabar saja menunggu dvd bajakan atau link download-nya 😀

Salah seorang staf Departemen Telinga, Hidung, dan Tenggorokan Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Harim Priyono (dinukil dari Liputan6.com) mengatakan bayi boleh saja dibawa ke bioskop, tempat hiburan, area games dan lokasi lainnya dengan volume relatif tinggi. Syaratnya adalah tidak lebih dari tiga jam nonstop. Film bioskop kan gak melulu volume tinggi ya. Ada kalanya percakapan antara tokoh yang tidak bising.

Akhir pekan seminggu lalu adalah pengalaman perdanaku membawa Mae ke bioskop. Oya, Mae sudah 10 bulan dan tak lama lagi akan berusia 11 bulan. Film ‘The Fate of the Furious’ alias ‘Fast & Furious 8’ benar-benar bikin aku galau setiap hari menjelang rilisnya di bioskop bulan ini. Mas sepertinya mengerti dan mulai lah kami berpikir bagaimana ‘mengakali’ Mae supaya emak bapaknya bisa nonton sampe abis, tapi Mae-nya juga gak stres alias anteng di dalam studio teater.

Berikut beberapa tips yang bisa aku sharing buat ibu-ibu di luar sana yang mungkin udah ngebet banget mau nge-bioskop lagi, tapi anaknya masih ‘batuta’ alias bayi satu tahun atau di bawahnya.

1. Tempat duduk

Pilihlah tempat duduk yang memudahkan kamu untuk bisa langsung membawa bayi keluar jika si kecil benar-benar tak bisa dikendalikan lagi. Tempat duduk yang dimaksud adalah posisi paling pinggir, persis di sebelah tangga bagian tengah, atau disesuaikan dengan denah tempat duduk bioskopnya. Studio XXI misalnya, tempat duduk terbaik adalah kursi nomor 7-10 di setiap abjad (kalo gak salah).

2. Perhatikan barang bawaan

Jika tujuan kamu ke mal bukan hanya menonton, tapi juga shopping misalnya, maka kamu harus mengorbankan salah satunya. Ibu cukup fokus gendong bayi dan satu tas berisi perlengkapan bayi yang ‘ringkes’ mulai dari mainannya, popoknya, air minumnya, susunya, makanannya, biskuit bayinya. Jangan sampai kamu seperti mau pindah rumah dengan membawa banyak tas plastik belanjaan ke dalam studio teater. Siap-siap aja dirisihin penonton di kanan dan kiri kamu. Apalagi kalo barang belanjaan kamu bikin penonton lain susah lewat ke kursinya masing-masing.

3. Jam menonton

Untuk ibu rumah tangga yang ingin menonton tanpa suami, waktu menonton paling tepat menurutku adalah di hari kerja, Senin-Jumat. Ini karena bioskop relatif sepi, sehingga bayi bisa lebih anteng di dalam. Untuk ibu bekerja atau ibu rumah tangga yang ingin menonton bersama suami di akhir pekan, maka pilihlah jam tidur siang atau jam tidur malam si kecil, sekitar pukul 12 siang atau 9 malam. Aturan ini berbeda jika bayi ibu sudah berusia dua tahun ke atas atau bayinya sudah tidak meng-ASI langsung lagi, maka sebaiknya menonton film di luar jam tidur mereka. Aku mengajak Mae menonton pada pukul 12.45 siang menjelang jam tidurnya pukul 14.00.

4. Bioskop baby-friendly zone

Emang ada di Indonesia? Kayaknya belum ada sih ya. Kalo di luar negeri sih sudah ada studio teater khusus yang baby-friendly dengan kata lain volume suaranya lebih pelan.

Kalo di Indonesia, bioskop yang baby-friendly zone itu mungkin yang eksekutif ya, seperti Cineplex. Tempat duduknya jarang dan sedikit. Maklum, eksekutif dan mewah. Tapi yaaa harus bersedia bayar mahal. Harga satu tiketnya aja bisa 150k. Hihihi. Berhubung emak masih kepengen nonton film lainnya, jadi Mae cukup dibawa nonton ke studio reguler aja.

5. Lewatkan iklan dan trailer

Sebelum sebuah film diputar biasanya akan ada cuplikan trailer film lain atau iklan. Nah, kamu sebaiknya melewatkan yang satu ini. Mengapa? Suara trailer film atau iklan tersebut biasanya lebih berisik dibandingkan film yang akan diputar. Dalam kondisi kamu baru akan memboyong bayi masuk ke dalam, si kecil akan langsung kaget mendengar suara super keras itu dan bisa-bisa langsung trauma. So, skip it dan masuklah ketika film utama sudah dimulai.

6. Pakaian hangat

Studio bioskop biasanya dingin banget, sehingga bayi sebaiknya dipakaian pakaian hangat. Mae memakai baju dan celana panjang, kaos kaki, plus topi. Ini perlu diperhatikan banget ya bu. Jangan sampai si kecil sakit karena kedinginan di dalam. Jika perlu bawalah kain selimut halus, atau gendongan bayi yang bisa sekalian berfungsi sebagai selimut.

7. Stop talking, mom and dad!

Bayi di bawah setahun biasanya semangat banget kalo denger suara emak bapaknya. Bisa-bisa matanya langsung melek 100 watt pas dengar orang tuanya ngobrol. Jadi, suami dan istri perlu menahan diri untuk membahas film atau ngomongin apapun selama berada di studio. Percaya deh, si kecil bakal gampang bangun. Pun kalo mau ngobrol, saling kirim whatsapp saja, atau berbisik mesra. Cielah!

8. Earmuff atau earplugs

Bawalah penutup telinga berupa earmuff atau earplugs khusus untuk bayi. Alat ini sangat sangat membantu, sehingga menurutku ibu mana pun harus punya, minimal bisa nyewa.

Earmuff bisa digunakan setiap kali ibu membawa bayinya ke bioskop. Penutup telinga ini juga digunakan saat bayi bepergian dengan pesawat. Jika tak ada earmuff, pastikan ibu menutupi telinga bayi selama film diputar dengan cara satu telinga didekap ke dada, dan telinga lainnya ditutup pakai tangan. Beberapa studio suaranya lebih ribut dibanding lainnya. Tingkat kebisingannya mungkin berbahaya bagi bayi satu tahun ke bawah. Film aksi misalnya bisa memiliki level suara 90 desibel (db).

9. Menyusui langsung

Bayi yang disusui langsung oleh ibu biasanya lebih tenang dibandingkan bayi yang disusui lewat dot. Mengapa? Menyusu adalah kenyamanan luar biasa untuk si kecil. Dia bisa merasakan ibunya dekat, tenang, nyaman, aman, dan biasanya si kecil lebih lama tidur dan cepat pules. Ibu juga sebaiknya memakai baju yang nyaman untuk menyusui. Kalo bayinya nyaman pakai apron ketika disusui, maka bawa apron. Jika tidak, seperti Mae, ya susui langsung. Kondisi bioskop yang gelap sedikit banyaknya membantu ibu tidak risih atau takut kena intip.

10. Makanan, minuman, mainan

Ibu sebaiknya memastikan anaknya sudah kenyang sebelum berangkat ke bioskop, sehingga makanan yang dibawa ke bioskop cukup makanan ringan, bukan bubur atau nasi tim bayi. Aku membawa biskuit Yummy Bites kesukaan Mae. Minuman berupa susu botol (ASIP atau sufor) atau air putih juga perlu dibawa untuk berjaga-jaga jika si bayi lagi gak pengen mimik langsung. Mainan kesukaan Mae tak ketinggalan, yaitu teether, bola plastik, kertas biasa, dan botol bekas shamponya. Mainan yang aneh, bukan? Yaaa begitulah preferensi si anak kacang.

11. Pastikan bayi sehat

Tips terakhir ini wajib, kudu, harus diperhatikan. Ibu harus memastikan bayinya sedang dalam kondisi fit. Bayinya juga gak gampang alergi debu. Sebelum pergi, waspadalah terhadap kuman. Namanya juga tempat umum, bioskop bisa saja berubah menjadi inkubator kuman karena tertutup.

Jauhkan bayi dari tangan orang asing, orang batuk, bersin, pilek. Apalagi, semua orang tertarik pada bayi, sehingga berusaha berkomuniasi dengan dia, baik itu menyentuh, mencium. Jangan biarkan ini terjadi. Bawa pembersih tangan dan pastikan tanganmu tetap steril.

Alhamdulillah selama ‘The Fate of the Furious’ diputar Mae pulessssss. Dua jam pol dia tidur, cuma disela kurang dari tiga menit buat bangun pindah mimik dari mimik kiri ke mimik kanan. Hehehe. Terima kasih anak kacang, kamu lulus ujian pertama. Nak, please, 26 April ‘Guardians of the Galaxy 2’ juga bakal rilis di Indonesia. Semoga Mae bisa se-anteng nonton sekarang ya nak. Hadiahnya nanti Mae boleh mimik sepuasnya, anytime anywhere. Hihihi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s