Menikmati Chinese Food Halal di Kuta

Sate Kambing 2
Foto: Sulaiman Han

Cina memang tidak identik dengan Islam. Setiap kali berbicara tentang makanan Cina atau Chinese food, orang terutama Muslim akan mempertanyakan kehalalannya. Apakah tidak mengandung babi dan arak (alkohol)? Apakah hewan yang dagingnya digunakan dalam masakan telah disembelih sesuai tata cara Islam?

Jika kamu ingin bersantap atau berbuka puasa dengan masakan Cina, tapi tak ingin mengkhawatirkan hal-hal di atas, Sulaiman Resto mungkin bisa menjadi pilihan. 

Sulaiman Resto menjadi salah satu pionir restoran Cina halal di Jakarta yang berlokasi di Jalan Batu Ceper No. 73. Sang pemilik, Sulaiman Han (43 tahun) kini mengembangkan sayap dengan membuka cabang baru di Bali, tepatnya di Jalan Raya Kuta No. 62 sejak Maret tahun lalu.

Sulaiman Resto Kuta
Sulaiman Resto Kuta (Foto: Sulaiman Han)
Sulaiman Resto Jakarta
Sulaiman Resto Jakarta (Foto: Sulaiman Han)

Pemiliknya bernama Sulaiman Han, berasal dari Xian. Ini adalah kota dagang yang masuk ke dalam Jalur Sutra, jalur dagang sekitar seribu tahun lalu yang menghubungkan Cina dan Timur Tengah. Penduduk Xian merupakan campuran warga asli dan pendatang.

Komunitas yang melaksanakan ajaran Islam di Negeri Panda ini, salah satunya etnis Hui dan Han. Mereka tersebar di seluruh provinsi di Cina, seperti di Xian yang merupakan ibu kota Provinsi Shaanxi.

Dalam khazanah kuliner Cina, Xian disebut surga kuliner halal. Masakannya cukup khas, dan terbuat dari aneka bahan, mulai dari daging sapi, domba, kambing, ayam, ikan, serta aneka menu sayuran.

Masakan Cina halal di Indonesia bukan hal baru, namun masakan Cina yang membuat pelanggan benar-benar merasakan sensasi khas Xinjiang, Xian hanya bisa ditemukan di restoran ini.

Pengunjung bisa melihat sejumlah dekorasi bernuansa Islami, seperti kaligrafi Cina dan Arab, termasuk tulisan ‘Allahu Akbar’ menghiasi dinding-dinding restoran yang diinisiasi simpatisan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini. Ucapan ‘Assalamualaikum’ pun menyambut pelanggan yang datang. Pelayan wanita umumnya mengenakan seragam Muslim atau berhijab.

WhatsApp Image 2017-06-24 at 09.24.21

WhatsApp Image 2017-06-24 at 09.24.22

WhatsApp Image 2017-06-24 at 09.24.22 (2)

Sulaiman Resto Kuta tak hanya menerima pelanggan Muslim, namun juga nonMuslim, khususnya yang berasal dari Cina. Saat aku berkunjung ke cabangnya di Kuta, pengunjung terbanyaknya justru nonMuslim. Ini karena jumlah wisatawan mancanegara (wisman) asal Cina terbanyak di Indonesia ada di Bali.

WhatsApp Image 2017-06-24 at 09.24.22 (1)

Sulaiman Han bersama Dude Herlino
Sulaiman Han bersama Dude Herlino (Foto: Sulaiman Han)
WhatsApp Image 2017-06-24 at 09.24.21 (1)
Penulis bersama Sulaiman Han

Sulaiman Resto sudah mengantongi Sertifikat Halal Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sulaiman mengatakan peminat masakan Cina di Indonesia sangat banyak, sehingga kuliner menjadi bagian tak terpisahkan. Pemerintah Indonesia juga membidik wisman Cina untuk memenuhi target kunjungan 20 juta wisman hingga 2019.

“Bisnis kami di Jakarta sudah stabil selama tujuh tahun. Kami kemudian geser ke Bali karena wisatawan Cina di sini lebih banyak, sehingga bisa mendukung target pemerintah,” kata Sulaiman kujumpai beberapa waktu lalu.

Sahabat Sulaiman yang juga pemilik Nusaraya Tour, Roy Wong (32) mengatakan kenaikan volume wisman Cina ke Indonesia rata-rata 30 persen per tahun. Karakter pasar di Jakarta dan Bali tentu berbeda, namun satu kesamaannya adalah mengedepankan standar halal. Tidak ada menu babi dan daging-daging yang disembelih di luar prosedur Islam.

“Daging sapi dan kambing kami peroleh dari Kampung Jawa (Kampung Muslim Denpasar),” kata Roy.

Restoran yang mempekerjakan 30 karyawan lebih ini mengombinasikan menu-menunya dengan selera masakan Xian yang banyak menggunakan lada. Salah satu menu populer adalah sate kambing.

Daging kambing ditusuk seperti sate dan dipanggang di atas arang. Sekilas ini mirip dengan sate kambing Indonesia. Perbedaan terletak pada bumbu yang menggunakan bumbu zi ran, dan potongan daging kambingnya juga besar-besar, ditusuk dengan batang besi, bukan lidi atau bambu.

Tusuk sate dari besi merupakan khas Cina dimana besinya bisa digunakan berulang kali. Sate kambing disajikan dengan roti panggang, sama seperti penyajian di negeri asalnya.

Sate Kambing 1
Sate Kambing khas Sulaiman Resto (Foto: Sulaiman Han)
Dapur Sulaiman Resto
Foto: Sulaiman Han

Masakan favorit lain di Sulaiman Resto adalah Da Pan Ji yang berarti hidangan ayam ditaruh dalam piring besar. Bahan dasarnya ayam, paprika, dan kentang yang berkuah seperti kari, bewarna kuning kemerahan. Ketiganya dimasak dengan bawang bombay, bawang putih, jahe, cabai rawit, dan aneka bumbu Sichuan. Hidangan ini rasanya rasanya gurih pedas.

Da Pan Ji
Da Pan Ji (Foto: Sulaiman Han)

Menu-menu di Sulaiman Resto disajikan dalam tiga bahasa, Inggris, Indonesia, dan Cina. Lebih dari 100 menu bisa dinikmati di sini, seperti Tang Cu Li Ji yang terbuat dari dada ayam, Tang Cu Yu Kuai yang berarti Ikan Gurame Pedas, Yu Xiang Qie He alias Terong Kotak, dan Gong Bao Ji Ding atau Ayam Gong Bao.

Yu Xiang Qie He (Terong Kotak)
Yu Xiang Qie He atau Terong Kotak (Foto: Sulaiman Han)
Iga Kambing
Iga Kambing khas Sulaiman Resto (Foto: Sulaiman Han)

Kisaran harga makanan yang dijual adalah Rp 100-200 ribu. Masakannya dalam porsi besar sehingga lebih cocok disantap bersama keluarga, sebagaimana budaya Cina yang suka makan dalam jumlah besar bersama keluarga. Meski demikian, Sulaiman Resto juga melayani pelanggan individu atau berdua.

Pengunjung Sulaiman Resto Kuta setiap harinya lebih dari 100 orang. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan 30 orang per hari saat awal buka dulu.

Mereka berasal dari berbagai negara, khususnya Cina, Turki, dan Arab Saudi. Selama Ramadhan, Sulaiman Resto Kuta juga bersedekah dengan memberikan nasi kotak ke beberapa masjid di sekitarnya.

Kuliner Cina yang nikmat, bercampur budaya Tiongkok dan Islam menjadikan pengalaman makan di Sulaiman Resto Kuta menjadi tak terlupakan. Rasa itu semakin berkesan karena restoran ini berada di Bali, Pulau Dewata yang mayoritas masyarakatnya memeluk Hindu. So, makan masakan Cina, halal, di Bali pula. Bineka Tunggal Ika banget kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s