Romantisme Ibu di De’dapoer Kuta

20170819_104916

Setiap orang memiliki memori masa kecil akan sosok ibu. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa masakan rumahan alias masakan ibu adalah bagian terindah dari cerita kehidupan. 

Alasannya, masakan ibu pasti disajikan penuh cinta, sehingga selalu terasa nikmat juga istimewa di lidah anak-anaknya. Masakan ibu sering menjadi standar rasa, sehingga kelezatannya sulit dijumpai di luar, khususnya restoran.

Cafe de’dapoer Kuta, Bali mencoba menepis pendapat tersebut. Restoran populer di tengah kota wisata yang sudah mendunia ini menyajikan makanan-makanan yang mampu membangkitkan kenangan pada koki super yang tak lain adalah ibu.

“De’dapoer ini penuh dengan cerita ibu saya,” ujar Rainier H Daulay, pemilik de’dapoer Kuta ketika kujumpai beberapa waktu lalu.

20170809_134705-01
Bapak Rainier H Daulay, Owner de’dapoer (tengah)

Sang Ibunda bernama Raden Ayu Kalsoem Hoesin yang kini berusia 92 tahun. Makanan yang kerap disajikan beliau untuk anak-anaknya menjadi menu andalan di de’dapoer, yaitu masakan Nusantara dengan sentuhan otentik modern. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi turis-turis asing yang berwisata kuliner di Bali.

Outlet pertama restoran halal ini berada di Jalan Raya Kuta 88R, Badung, persis di area lobi Hotel Rhadana, hotel yang menjawarai ajang World Halal Tourism 2016. Outlet kedua terletak di depan area The Oasis Lagoon Sanur Hotel di Jalan Danau Tamblingan Nomor 136A.

General Manager Oasis Hospitality Management, Budiman Tanto Widjaja mengatakan Cafe de’dapoer mempertahankan konsep dapur rumah Indonesia. Menu-menu de’dapoer sudah ada sejak 20 tahun lalu.

Resepnya kemudian disempurnakan oleh koki-koki handal dengan menggabungkan konsep asli resep masakan Indonesia tempoe doeloe yang disajikan dengan gaya modern. Tujuannya memuaskan seluruh pelanggan, baik tua maupun muda.

“Ada cerita dan nostalgia di restoran ini, misalnya pada penamaan menu-menu masakannya,” kata Budiman.

Beberapa contoh menu andalan de’dapoer adalah Sop Buntut Si Mpok, Ayam Goreng Mamie, Nasi Goreng Kambing, dan Nasi Campoer Tamblingan. Sop Buntut Si Mpok menjadi makanan favorit pengunjung. Menu ini sering habis sebelum waktunya, sehingga banyak pelanggan yang kehabisan.

Sop Buntut Si Mpok 2
Sop Buntut Si Mpok (Foto: de’dapoer)

Daging sop buntutnya sangat empuk karena dimasak dengan metode slow cooking. Daging sapi dimarinasi beberapa jam untuk mendapatkan kaldu terlezat.

Bumbunya terdiri dari racikan berbagai macam rempah yang menggoda selera. Cita rasanya kuat, tidak hambar, dan membuat lidah siapapun yang menikmatinya ingin menambah porsi kedua. Sop buntut ini dihidangkan cantik dalam dua versi, kuah dan goreng.

“Satu porsi seringnya tidak cukup,” kata Budiman.

Hidangan de’dapoer belum lengkap tanpa minuman pelepas dahaga yang tak kalah Indonesia-nya, seperti kopi, teh, bandrek, dan bajigur. Segelas teh hangat disajikan dalam cangkir gerabah dari tanah liat asli. Lagi-lagi ini juga merupakan koleksi Ibu Kalsoem.

ols - bandrek 2
Aneka minuman tradisional sajian de’dapoer (Foto: de’dapoer)

Cristina Brasov adalah salah satu pengunjung de’dapoer dari Romania. Awalnya Brasov tak sengaja datang ke restoran ini. Ketika lapar, wanita berusia 73 tahun ini ditawari Sop Buntut Si Mpok.

“Baru kali ini saya menemukan sop buntut yang rasanya menakjubkan. Makan malam saya menjadi istimewa,” ujarnya.

Brasov memilih mengeksplorasi masakan-masakan Asia selama berpelesir di Bali. Cita rasa pedas hingga sangat pedas adalah pesona kuliner Indonesia yang paling disukainya.

“Jika Anda ke Eropa, Anda belum tentu menemukan yang seperti ini,” ujarnya.

Brasov juga memuji ramah tamah pelayan Café de’dapoer yang tak segan menyapa dan menyenyumi pengunjung. Sederet artis dan tokoh papan atas Indonesia pernah bersantap di sini, mulai dari Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Rima Melati, Samuel Rizal, hingga Ustad Felix Siauw.

Aku juga berkesempatan mencoba menu de’dapoer lainnya, yaitu Mie Goreng Mommy. Rasa mie-nya sangat Indonesia, tampak sederhana, namun menyulut kerinduan untuk menikmatinya lagi.

Mie Goreng Mommy kaya sayuran, bakso, udang, telur, ditaburi bawang merah goreng dan acar sebagai pelengkap. Tak heran jika restoran yang pada dasarnya ditujukan untuk pelanggan menengah ke atas ini memilih jalur berbeda dari kebanyakan restoran mewah lainnya di Kuta, yaitu memprioritaskan sajian makanan khas Nusantara, dan menjadikan menu-menu Barat sebagai ala carte.

Paket menu de’dapoer dibanderol di kisaran harga Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu per porsi. Tim kuliner restoran ini memasak dengan passion. Mereka mengolah menu-menu tetap original, bisa masuk ke lidah orang Indonesia dan asing.

Kebanyakan pelanggan yang datang kedua kalinya ke restoran ini akan kembali memesan menu sama, Sop Buntut Si Mpok. Cafe de’dapoer mulai buka sejak waktu sarapan hingga makan malam, atau sekitar pukul 06.00-23.00 WITA setiap harinya.

rkb
(Foto: de’dapoer)

Menu-menu sarapan de’dapoer setiap harinya berbeda, namun tetap mengedepankan suasana rumahan. Ada nasi goreng, nasi kuning, opor ayam, hingga tumis sayur campur. Anak-anak juga disajikan menu familiar, seperti mi goreng, fish and chips, kentang goreng, bubur ayam, hingga puding karamel.

Bersertifikat halal

Seberapa halal restoran-restoran di Bali? Pertanyaan tersebut tak perlu muncul di de’dapoer. Restoran yang merupakan bagian dari grup Rhadana Hotels dan Resorts ini sudah mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak awal berdirinya.

Tidak ada daging babi di dapur restoran ini. Tidak ada alkohol atau anggur yang ditambahkan dalam masakannya. Tidak ada kandungan gelatin atau bahan-bahan nonhalal lain di puluhan botol bumbu dapurnya. Inilah yang membuat de’dapoer disukai banyak pelanggan setia Muslim, bahkan nonMuslim di Pulau Dewata.

Cafe de’dapoer Kuta baru berdiri setahun terakhir. Meski demikian, tempat ini sudah menjadi lokasi langganan pertemuan dan perjamuan berbagai komunitas, blogger, perusahaan, dan pengunjung luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Jepang, dan Korea, serta negara-negara Eropa, seperti Prancis, Italia. Persentasenya 60 persen asing dan 40 persen domestik.

De’dapoer dirancang untuk lebih dikenal publik, bukan hanya tamu Hotel Rhadana saja. Meski restoran halal, de’dapoer tak menghilangkan unsur tradisional Bali. Seluruh pelayannya berpakaian Bali. Ini juga karena sebagian besar karyawan de’dapoer adalah masyarakat lokal, terutama beragama Hindu.

Pemilik tak melakukan promosi berbayar untuk mempopulerkan restoran ini. Budiman bercerita banyak blogger, komunitas, hingga bos perusahaan besar menghubungi langsung de’dapoer untuk melakukan reservasi. Mereka sangat senang mengetahui restoran ini sudah disertifikasi halal.

De’dapoer Kuta bisa menampung pengunjung hingga 40 orang didukung 20 orang karyawan. Ada ruangan khusus merokok, serta ruangan pertemuan berkapasitas besar. Berbagai aktivitas menarik digelar di sini, mulai dari reuni, arisan, ulang tahun, perjamuan kantor, private gathering, buka puasa, kumpul komunitas hijabers, hingga pengajian bersama.

Pernak-pernik unik

Pemandangan Cafe de’dapoer terbilang unik. Warna-warni interior di dalamnya sangat hidup. Pernak-pernik yang menjadi dekorasi ditempatkan dengan sangat hati-hati di sejumlah rak dan dinding. Seluruhnya adalah benda-benda antik yang bernilai sejarah bagi pemiliknya.

20170819_104725

De’dapoer Kuta juga restoran kasual dengan penataan cerdas yang bisa dilihat mulai dari pintu masuknya. Sebuah sepeda ontel milik tuan rumah menyambut pengunjung di teras depan.

20170819_104856

20170819_104903

20170819_104837

20170819_104845

Dekorasi de’dapoer Sanur di sisi lain dirancang dengan konsep luar ruangan (outdoor). Becak antik dan plat nomor mobil aneka daerah menghiasi pintu masuk restoran.

IMG_20170809_210634_613
De’dapoer Sanur
IMG_20170809_210634_616
De’dapoer Sanur
20170809_134401-01
De’dapoer Sanur
20170809_134346-01
De’dapoer Sanur

Kursi-kursi makan di de’dapoer Kuta terbuat dari kayu dicat warna-warni, seperti membangkitkan semangat dan menggugah selera makan. Furnitur kayu-kayu tua ini memberi kehangatan dan kenyamanan untuk semua tamu.

20170819_104802

20170819_104753

20170819_090654

20170819_090646

Pengunjung bisa melihat aneka alat masak koleksi Ibu Kalsoem di salah satu sudut restoran, mulai dari sendok masak, cetakan kue, kompor dan timbangan antik, hingga botol-botol kecil tempat garam, gula, bumbu jinten, pala, dan merica. Di sudut lainnya terpampang koleksi berbagai mata uang asing dan Rupiah zaman dahulu dibingkai kaca.

20170819_104809

20170819_104644

20170819_104707

Aktivitas wajib selain makan di de’dapoer Kuta adalah berswafoto. Ini karena banyak spot menarik bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen makan bersama.

Restoran ini dipenuhi energi positif Ibu Kalsoem dan sulit untuk tidak terjebak di dalamnya. Tak jarang keluarga empunya melayani langsung pengunjung. Sebagian dari mereka tertarik mengetahui seluk beluk sejarah de’dapoer. Keluarga pemilik dengan senang hati menceritakan latar belakang usaha mereka, sehingga pelanggan merasakan unsur heritage dari restoran ini.

De’dapoer bukan hanya tempat makan. Menurut pemilik, restoran ini adalah dunia kecil mereka. Romantisme dan segala kenangan manis tentang masakan ibunda disimpan rapi di tempat ini. De’dapoer pun menjelma sebagai permata kuliner halal tersembunyi di tengah Kuta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s