HELP! Si Bayi Minta Digendong Terus

8c2f972f-94cd-4fbb-9cee-d57dec58fe46.jpg

Ingin rasanya mengatakan pada Mae bahwa waktu ibunnya bukan hanya untuknya. Masih ada papanya, masih ada pekerjaan rumah tangga, juga pekerjaan kantor ibunnya yang menuntut harus diselesaikan pada waktu yang sama. Tapi, Mae menangis terus tiada henti akhir-akhir ini, membuat aku semakin stres. 

Memasuki usia 16 bulan, Mae memang mandiri dalam hal makan, minum, main, bersosialisasi dengan orang lain. Tapi, entah kenapa dia langsung berubah begitu melihatku atau mendengar suaraku. Mandirinya tiba-tiba hilang. Mae yang awalnya lagi asik main langsung merengek setengah berlari ke arahku. Selanjutnya adalah minta digendong.

Mae seminggu terakhir semakin sulit lepas dariku. Sebelumnya, Mae cuma perlu digendong beberapa menit saja, kemudian dia akan sibuk dengan mainannya. Sering-sering dia berontak kalo aku gendong. Pengen jalan sendiri, pengen seliweran ke sana kemari. Kini? Dia selalu marah jika aku berdiri di dapur. Dia marah jika aku berjarak darinya. Dia marah setiap aku naik ke lantai atas bekerja. Dia marah jika aku tak mau menggendongnya. Dia marah jika aku tidak duduk di dekatnya. Alhasil rumah kami tak pernah lepas dari tangisan bayi sepanjang waktu.

Semua bayi memang senang dipeluk, digendong. Ini karena tubuh ibunya bisa merangsang hormon yang membuat mereka lebih rileks dan nyaman. Tapi, terus-terusan menggendong dan memeluk Mae sepanjang waktu semakin tidak realistis bagiku. Bisa mandi lima menit dan menghabiskan sarapanku dengan tenang saja sudah menjadi kebahagiaan tiada tara.

Aku yakin di luar sana banyak ibu yang menghadapi high-needs baby seperti Mae. Mereka juga pastinya lelah, kurang tidur, encok menggendong bayi sepanjang hari, dan terkadang juga bisa kesal. Ada juga yang nekat membiarkan bayinya nangis kejer karena sudah nyaris habis kesabarannya. Bahkan, aku sendiri pun sempat takut membayangkan punya anak kedua setelah selama ini menghadapi Mae dengan segala keinginannya.

Sayangnya, tak ada solusi bagus untuk situasi seperti ini. Meminta Mae untuk tidak digendong sepanjang hari, dipeluk setiap waktu, atau meminta waktu supaya ibunnya bisa ngetik berita barang 20 menit. Tidak mungkin. Semakin banyak aku berbicara, semakin tinggi tangisannya.

Setiap bayi memiliki cara berbeda mengungkapkan keinginannya. Pada fase high-needs seperti ini, bayi-bayi seperti Mae harus didekap dan pastinya menyita waktu. Gendongan dan pelukan membuat mereka aman nyaman secara emosional. Membiarkan mereka menangis tidak akan mengubah naluriah yang mereka miliki. Mungkin dengan rutin cuek membiarkan si bayi menangis dalam hitungan lebih dari sepekan, atau bahkan sebulan pada akhirnya akan membuat si bayi mengerti maksud atau pesan si ibu. Tapi, apa ibunya tega membiarkan selama itu? Berapa banyak kasih sayang, kepercayaan, rasa nyaman, dan kepercayaan si anak pada ibu yang harus dikorbankan?

Dalam kondisi seperti ini, ibu-ibu sepertiku mungkin bertanya, “Gimana dong caranya mengubah perilaku si bayi?”

Fiuh! Ini ternyata pertanyaan salah.

Trus, aku bertanya lagi, “Bagaimana caranya aku bisa menghadapi Mae yang serba minta diginiin, minta digituin, sekaligus ‘tetap waras’ dan bisa menyelesaikan pekerjaanku sekaligus?”

Bertahanlah ibun! (menyemangati diri sendiri. Hehehe) Habis gelap, pasti ada terang. Ingat saja pesan pramugari di pesawat, “Pakailah masker oksigen untuk Anda, sebelum memakaikannya pada anak Anda.” Ibunya harus tetap waras, itu kuncinya. Hehehe. Aku harus tetap realistis, sebelum terlanjur emosi berlebihan menghadapi anak. Ini baru anak satu loh Muthe. Gimana dengan rencana kalian dulu pengen punya tiga anak? Wew. Belum berani membayangkan.

Ibu newbi sepertiku mungkin tak banyak bisa sharing saran menghadapi high-needs baby seperti Mae. Pastinya ada ibu-ibu di luar sana yang lebih senior. Kekeke. Sekadar berbagi, berikut beberapa tips yang bisa kuberikan.

1. Pake gendongan

Buat ibu yang punya energi besar, mungkin bisa memilih menggendong anak sambil melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku pun tak jarang tetap menggendong Mae sambil nyuci piring atau memasak. Nah, kain gendongan pasti membantu banget. Buat ibu-ibu yang tidak bisa pakai jarik, bisa pakai gendongan instan. Tips ini kulakukan jika tangisan Mae benar-benar tidak bisa diredakan dengan cara apapun.

2. Minta tolong

Mungkin masih ada yang suka gak enak minta bantuan ke suami gendong anaknya. Sama suami sendiri gak enak? Ada loh istri yang begitu. Hehehe. Suami kita kadang bukannya gak peduli, tapi kebanyakan laki-laki itu kan logis banget ya. Kalo istri gak minta tolong, mereka menganggap istrinya masih bisa handle. So, jangan malu minta tolong ke suami, atau PRT bagi yang punya.

3. Sesekali harus tega

Katakan pada si kecil, “Nanti ibu gendong lagi ya, ibu kerja sebentar,” kemudian bergegas selesaikan pekerjaan yang dimaksud. Jangan lupa kembali lagi menepati janji ke si kecil dengan menggendongnya kembali. Ini memberi kepercayaan pada anak, bahwa ibunya pasti kembali. Anak umumnya akan menangis karena itu, namun mereka lama kelamaan juga belajar cara menenangkan diri sendiri.

Jika ibu terus-terusan menuruti keinginan bayi, ini juga tidak bagus untuk perkembangan otak dan mental anak, khususnya mengembangkan kemampuan diri dan kompetensinya. Aku mungkin semakin terbiasa dengan membiarkan tangisan Mae selama beberapa waktu, namun hal yang sama sepertinya belum berlaku untuk mas. Papanya Mae sangat tidak tega melihat anaknya menangis. Entahlah, mungkin karena anaknya masih bayi kali ya? Kalo anaknya gedean dikit, mungkin papanya lebih tega dari ibunya 😀

4. Tidurkan bayi

Bayi tidur adalah surga terindah bagi ibu. Menidurkan bayi bisa juga menjadi solusi untuk mengulur waktu mengerjakan pekerjaan lain. Ibu bisa memegang pekerjaan lain untuk 30 menit atau satu jam selama si kecil pules.

Ibu harus ingat bahwa waktu tidur bayi sangat berharga detik demi detiknya. Jadi, upayakan selesaikan pekerjaan yang benar-benar membutuhkan konsentrasi atau deadline. Tahan godaan untuk menyelesaikan cucian piring, menyapu rumah, atau memasak. Untuk ibu pekerja sepertiku, waktu tidur bayi adalah waktunya menulis berita. Hehehe.

5. Libatkan bayi dalam pekerjaan

Tadi pagi, aku mengajak Mae membersihkan sayur. Dia begitu asiknya memindahkan tauge dari plastik ke mangkuk. Mae duduk di dapur bersamaku. Meski lantai sedikit kotor karena tauge berceceran dimana-mana, tapi aku bisa menyelesaikan pekerjaan mengupas dan memasak sayur dengan tenang.

Kadang bayi menangis karena ibunya tak berdiri sejajar dengannya. Ini juga yang membuat Mae terus marah setiap aku berdiri di dapur. Tapi, dia akan diam ketika kududukkann di meja dapur dan bisa melihat pekerjaan yang kukerjakan.

Itu contoh sederhana untuk membuat bayi lupa untuk menangis. Libatkan mereka dalam pekerjaan yang sedang ibu lakukan. Jika ibu menyapu rumah, berikan juga sapu pada si kecil. Jika ibu melipat kain cucian, libatkan juga si kecil seolah dia diminta membantu. Be creative, mom!

4. Bayi adalah ‘pasien’ pribadi ibu

Ibu mungkin membutuhkan waktu lama, bahkan berbulan-bulan untuk membiasakan bayi tanpa gendongan. Anggap saja bayi adalah pasien pribadi dan langganan. Ibu perlu dengan sabar dan penuh kasih sayang menunggu mawar kecil itu tumbuh mekar menjadi dewasa. Beri bayi sedikit waktu untuk mengenal dirinya, dibanding memperlihatkan sikap temperamen yang akan diikutinya.

5. Abaikan kritik

Hal tersulit menjadi ibu yang kurasakan adalah mendengarkan kritikan dari kanan kiri. Bayi kita yang sering menangis, tapi orang lain yang menilai hal itu pasti turunan orang tuanya. Mereka berkata seakan tak pernah merasakan menjadi orang tua. Oke, sebagian dari yang suka ngomel itu belum menjadi orang tua, tapi suatu saat juga akan tertatih menghadapi seribu satu perilaku anak.

Anak menangis di tempat umum, bikin berisik, ibu yang menahan malu minta maaf pada orang-orang sekitar yang merasa terganggu. Biarkan orang tua menangani anaknya sendiri, tidak perlu bersikap suportif yang lebay, seperti menjadi pembisik si anak, yang bukannya membantu, malah membuat si anak kontra dengan ibunya. Orang tua mana pun mempunya gaya pengasuhan sendiri. Anda orang luar tak perlu ikut campur.

6. Ajak anak keluar rumah

Nah, cara ini ampuh bangetttt buat menghentikan tangisan Mae dan membuatnya lupa untuk minta gendong. Mae suka sekali melihat pemandangan luar rumah. Aku atau mas pasti mengajaknya keluar rumah setidaknya sekali sehari. Mas mengajak Mae jalan pagi 10-15 menit setiap hari, atau aku mengajak Mae menikmati sore, sekadar main keliling kompleks, atau main ke vihara dekat rumah.

7. Jangan membandingkan anak

Suatu hari anak kita akan menjadi satu-satunya anak yang memanjat meja di kelas, di saat anak-anak lainnya duduk manis di kelas. Suatu hari anak kita akan menjadi satu-satunya anak yang membuang makanannya ke tanah di saat anak-anak lainnya makan dengan anteng dan menghabiskan makanannya.

Fokus pada potensi diri anak kita. Jangan mencap si kecil ‘buruk,’ alih-alih membandingkan mereka dengan anak lain. Tak perlu terpaku dengan gaya pengasuhan umum. Ini semua hanya mengurangi rasa percaya diri kita sebagai ibu. Hati-hati pilih tempat curhat soal anak. Dengan kata lain, pilih sekutu yang baik. Hehehe. Nenek Mae saja kadang tidak selalu mengerti dengan gaya pengasuhan cucunya, apalagi orang luar? Terima semua komentar positif, dan jangan terlalu masukkan ke hati komentar negatif.

Dengan bersikap obyektif pada anak, pekerjaan menjadi ibu tidak lagi terasa sulit. Kita tidak lagi menghakimi diri sendiri dan menjadi lebih realistis. Bukanlah jutaan bintang di atas sana punya cahaya masing-masing? Demikian juga buah hati kita 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s